
"Enggak! Nggak pusing cuma sedikit pening." jawab Andra cepat.
"Ya elah sama aja kali, ketahuan banget nih kalo bapak bahasa Indonesia nya nggak lulus." celetuk Zara dengan santainya.
"Apa kamu bilang?" Andra tampak melototkan matanya kepada Zara.
"Ya ampun biasa aja dong, nggak usah melotot segala, astaga! Punya Suami satu bikin kepala mumet aja." seketika Andra mulai kesal dengan ucapan Zara.
"Apa? Terus kamu mau punya Suami berapa?" pertanyaan Andra membuat Zara semakin ingin menggoda suaminya.
"Hah ...? Memangnya saya tadi ngomong apa, Pak?"
"Zaraaaaaa! Kamu sudah membuat ku ingin hmm!" Andra tampak menahan rasa ingin mencengkram erat istrinya. Sayangnya mereka sedang berada di dalam bus, beruntung tidak ada yang mendengar mereka berbincang-bincang, Karena murid-murid yang lainnya sibuk berbicara sendiri.
Keseruan Andra dan Zara tampaknya menjadi perhatian Anita yang sedari tadi terus melihat ke arah belakang, dimana Andra dan Zara tengah berdebat ria di kursi belakang.
"Mereka ngomongin apa, sih? Serius banget! Ihh Pak Andra juga, ngapain duduk bersama Zara, bikin males aja." ucap Anita lirih. Rupanya ucapan Zara tanpa sengaja didengar oleh Tina yang juga ikut melihat ke arah kursi belakang. Tina melihat Andra yang sedang mengobrol dengan Zara. Dan ia pun semakin mempengaruhi Anita untuk membenci Zara.
"Ya ampun! Menjijikkan banget nggak sih tuh Zara! Nggak sopan banget bicara sama gurunya seperti itu, pasti dia tuh lagi merayu Pak Andra, Aku yakin itu. Tuh tuh mereka kayak deket banget!" ucap Tina yang terus mempengaruhi Anita agar semakin membenci Zara.
Anita pun terlihat semakin kesal dan Ia pun tidak akan pernah memaafkan Zara.
"Aku benar-benar sangat kecewa, Zara! Aku tidak menyangka sama sekali kamu tega melakukan itu padaku."
Rupanya Zara tahu jika dirinya sedang diperhatikan oleh Anita dan Tina. Ia pun berkata kepada Andra untuk duduk sedikit menjauh darinya.
"Sebaiknya bapak geser agak ke sana deh!"
"Loh emangnya kenapa? Kamu nggak suka ya duduk di samping suamimu sendiri?" tanya Andra penasaran.
__ADS_1
"Bukan begitu, Pak! Tuh si Anita ngelihatin kita terus." mendengar ucapan dari istrinya, Andra pun mulai memperhatikan Anita yang terus melihat ke arah mereka.
"Memangnya kenapa kalau Anita melihat kita? Apa yang kamu takutkan?"
"Ya ampun! Dari kemarin bapak guru ini nggak ngerti-ngerti juga, ya! Anita itu suka sama Bapak, sampai kirim surat cinta itu sama Bapak." Andra pun menyikapi apa yang dikatakan oleh Zara dengan santai. Karena bagaimanapun juga Anita hanya Ia anggap sebagai muridnya tidak lebih. Apalagi sekarang Zara sudah menjadi istrinya.
"Ayolah Zara! Ngapain kamu harus takut dilihat sama mereka, ya udah katakan saja kalau kita ini sudah menikah. Beres, kan?" balas Andra yang tidak perduli jika Anita dan Tina sedang memperhatikan dirinya. Seolah Andra justru menunjukkan keakraban dirinya dengan Zara.
"Ya nggak bisa gitu dong, Pak! Mentang-mentang Saya ini anaknya pemilik sekolah. Jadi, seenak jidat menikah saat masih mengenyam pendidikan. Bagaimana dengan citra sekolah yang susah payah dibangun oleh Daddy, seketika hancur saat ada berita. Salah satu anak Daddy sudah menikah dengan guru olahraga nya. Dan ternyata itu adalah Saya. Nggak-nggak, pokonya pernikahan ini akan tetap dirahasiakan hingga saatnya lulus sekolah nanti."
Andra pun bisa memahami apa yang dikatakan oleh sang istri, Ia pun mengalah demi untuk menjaga nama baik sekolah sang mertua. Ia pun beranjak sedikit menjauh dari tempat duduk Zara. Andra bergeser ke kiri sejauh sekitar lima jengkal. Mengingat bangku di belakang bus itu lebih panjang dibandingkan dengan bangku yang lainnya.
Hingga akhirnya bus itu sampai di sekolah. Semua siswa turun dari bus, sementara Andra yang sedang duduk di bangku paling belakang bersama Zara. Ia tampak santai sambil menunggu semua siswanya turun. Zara pun segera bersiap untuk segera turun. Namun, lagi-lagi langkahnya dihentikan oleh sang suami.
"Kamu mau kemana?"
"Ya turunlah!" jawab Zara sembari mengangkat tasnya.
"Tapi, Pak!"
"Nggak usah tapi-tapian, duduk!"
Zara pun duduk kembali di kursinya sambil menunggu semua teman-temannya turun dari bus. Setelah semuanya turun dan tinggal beberapa anak saja. Zara pun mulai beranjak untuk segera turun dari bus.
"Permisi! Minggir-minggir, Saya mau turun. Ihh nih orang ngalangin orang lewat aja." gerutu Zara sambil lewat di depan Andra yang masih duduk. Andra pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda istrinya. Melihat jika semua siswanya sudah turun dari bus. Andra pun memegang pinggang Zara dan menariknya ke arah pangkuannya. Al hasil, Zara pun kembali duduk tapi bukan pada tempat duduknya semula. Tapi di atas pangkuan Andra.
"Eh eh eh ... lepasin!"
"Ah kena kamu, Aku tidak akan melepaskan sebelum Aku mendapatkan ciuman dari kamu." goda Andra sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Zara.
__ADS_1
"Bapak gila, ya! Nanti ada yang lihat, berabe Pak!"
"Nggak bakal ada yang lihat, makanya cepetan, Kiss dulu nanti Aku biarkan kamu pergi."
Sekilas Zara memperhatikan sekitar, Ia pun melihat suasana aman, tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Zara pun membalikkan badannya dan menatap wajah sang suami yang terlihat cengar-cengir menanti ciuman dari Zara.
"Merem dulu!" titah Zara.
"Kenapa harus merem, enakan dibuka biar kelihatan." protes Andra.
"Merem nggak? Kalau nggak mau ya udah! Saya pergi saja."
"Oke oke, Aku merem nih!" Andra pun menuruti permintaan sang istri, Ia pun mulai memejamkan matanya dan mulai mengerucutkan bibirnya menunggu ciuman dari Zara.
"Idiiih bibirnya nggak usah di monyongin gitu dong! Jadi ilfil." ucap Zara yang tidak suka melihat bibir Andra dengan bentuk seperti itu.
"Ya udah! Sekarang cepetan, Aku sudah siap nih!"
Zara pun mulai melakukan rencananya dengan mencium Andra bukan pada bibirnya, tapi pada pipinya.
"Muaacchhh ... ! Dah ...!"
Setelah mencium pipi Andra, Zara pun segera beranjak pergi meninggalkan Andra yang masih duduk di kursi belakang.
"Loh Zara! Kok di pipi sih, harusnya di bibir." protes Andra sembari beranjak berdiri dan mengejar Zara.
"Nggak mau, kalau cium di bibir, yang ada Saya nggak bisa melepaskannya. Entar bahaya, Pak!" jawabnya sembari turun dari bus itu dengan senyum-senyum. Andra pun hanya tersenyum tipis melihat kekonyolan sang istri yang benar-benar membuatnya semakin ingin menggoda Zara.
Saat Zara tiba di luar Bus, Ia pun langsung dihadapkan dengan dua orang gadis yang saat ini menjadi musuhnya. Tak lain adalah Anita dan Tina.
__ADS_1
"Habis ngapain aja kamu di dalam? Kamu sedang merayu Pak Andra, ya?" tanya Anita sembari menyilangkan kedua tangannya.
...BERSAMBUNG...