
Setelah Velin memberikan kue kepada kedua orang tuanya. Setelah itu Ia pun tampak memberikan potongan kue selanjutnya kepada seseorang yang istimewa, tentu saja sang Master Ceremony sangat pintar membuat dag dig dug, sehingga membuat Velin malu-malu.
"Oke Mbak Velin, Mama Papa Mbak Velin udah mendapatkan potongan kue pertama dari Mbak Velin malam hari ini, dan untuk selanjutnya kepada siapakah Mbak Velin harus memberikan potongan kue berikutnya, tentu saja potongan kue kali ini adalah untuk seseorang yang paling berkesan untuk mbak Velin, apakah untuk buat teman, sahabat atau pacar barangkali?" seketika Velin menggelengkan kepalanya karena dirinya diberikan pertanyaan itu, karena dirinya memang belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Namun, ada satu nama yang akhir-akhir ini membuat hati nya terusik.
Velin bergerak maju sembari membawa potongan kue yang akan Ia berikan kepada seorang yang spesial, tentu saja semua orang sangat penasaran dengan sosok siapa yang mendapat potongan kue dari putri seorang pejabat itu.
Sementara di sisi lain, Dokter Irwan yang sedang berdiri di sebelah Andra, tampak gugup ketika Velin berjalan menghampirinya.
"Waduh Bro! Si Velin kayaknya jalan ke arah kita deh!" bisik Dokter Irwan lirih.
"Eh iya loh! Kayaknya tuh anak mau nyamperin kamu Dokter! Siap-siap ditembak kamu!" sahut Andra dengan mata yang tertuju pada Velin yang sedang membawa potongan kue dengan senyum manisnya.
"Di tembak apaan, masa dia punya tembak sih, yang ada Aku yang punya tembak, harusnya Aku yang nembak duluan, pasti kejet-kejet tuh anak, klepek-klepek!"
"Dasar kamu nggak lebih dari Aku mesumnya." sahut Andra sembari tertawa kecil. Dokter Irwan pun ikut tertawa, kedua pria tampan itu pun sama-sama saling membayangkan tembak mereka masing-masing.
Hingga akhirnya, Velin pun telah sampai di depan kedua pria itu, sang Master Ceremony pun segera mengatakan kepada Velin kepada siapa Velin akan memberikan kue yang Ia bawa.
"Waaahhhh ternyata teman kita Mbak Velin, telah berdiri di depan dua orang tampan. Pak guru yang tampan dan Pak dokter yang keren. Hmm! Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan potongan kue selanjutnya, ayo Mbak Velin kita semua sangat penasaran."
Semua yang hadir pun ikut pemasaran siapa yang sebenarnya Velin sukai, Guru olahraga nya ataukah dokter Irwan yang Ia kenal secara tak sengaja saat dirinya mengira jika Zara berada di klinik dokter Irwan.
Velin mulai mengangkat kue tersebut dan akhirnya Ia memberikannya kepada sang dokter.
"Ini untuk dokter Irwan!" ucap Velin sembari tersenyum malu. Tentu saja dokter Irwan sangat terkejut dan bahagia, dia pun tampak tersenyum malu-malu apalagi sang sahabat yang berada tepat di sampingnya terus meledeknya.
"Cie cie ... tuh kan apa kubilang, udah gas pol aja!" ucap Andra yang terus menyemangati Dokter Irwan untuk mendekati Velin. Dokter Irwan pun semakin tersenyum lebar mendengar bisikan dari teman nya itu. Kemudian dokter Irwan menerima kue itu dengan malu-malu.
"Terima kasih Velin! Aku nggak nyangka bisa mendapatkan potongan kue dari gadis secantik kamu." ucap sang dokter.
"Sama-sama dokter!" balas Velin sembari tersipu malu dan segera beranjak pergi ke tempat semula.
__ADS_1
Terdengar suara riuh tepuk tangan para undangan, tentu saja Zara pun ikut bahagia menyaksikan dokter Irwan dan Velin.
Dokter Irwan tampak bersemu merah, Ia pun sangat terharu mendapatkan perlakuan khusus dari Velin merupakan teman istri sahabatnya itu.
*
*
*
Setelah acara tiup lilin dan juga potong kue. Kini saatnya melanjutkan keseruan pesta yang diawali dengan pemberian nomor kepada teman-teman sekolah Velin. Semuanya mendapat nomor masing-masing, tak terkecuali para guru juga mendapatkan nya.
Setelah semua mendapatkan nomor masing-masing, tiba saatnya Velin mengumumkan jika nomor tersebut adalah nomor untuk mencocokkan nomor pasangan dansa. Jadi, tidak ada yang bisa mengganggu gugat dengan siapa mereka berpasangan dalam lantai dansa itu.
Tentu saja momen ini sangat membuat Anita berharap bisa mendapatkan pasangan dansa sang guru yang tak lain adalah Andra. Sementara itu Zara pun memegang nomor yang sudah ada di tangan nya. Dirinya sendiri juga penasaran dengan siapa Ia akan berpasangan dalam lantai dansa itu.
"Nomor dua belas, hmm sama siapa, ya? Aduuhhh Velin ada-ada saja, Aku kan nggak bisa dansa, kalau salto aku bisa. Mampus kamu Zara!" batin Zara gugup, karena sejatinya dirinya tidak pernah melakukan dansa dengan siapa pun.
Sekilas Andra melihat Tina dan Anita yang tampak senyum-senyum kepadanya. Spontan Andra menelan ludahnya susah payah saat melihat siswinya si Tina mengenakan pakaian yang mengekspos cukup terbuka bagian dadanya.
"Shiiit! Semoga saja Aku tidak bergandengan dengan Tina, bisa-bisa sesak nafas kalau sama dia!" ucap Andra lirih, hingga tak sengaja dokter Irwan mendengar nya.
"Apa Bro? Kamu ngomong apa? Sesak nafas? Siapa yang sesak nafas?" tanya dokter Irwan penasaran.
"Tuh lihat murid ku yang memakai baju merah." tunjuk Andra pada Tina yang berdiri sekitar sepuluh langkah darinya.
Spontan dokter Irwan mengikuti petunjuk Andra. "Woww astaga! Itu murid kamu?" tanya dokter Irwan sembari membelalakkan matanya melihat Tina yang sedang tebar-tebar pesona.
"Iya dia itu Tina, yang Aku pernah bilang sama kamu!" balas Andra.
"Ohhh dia toh, ck ck ck pantas saja Zara suka jail sama dia, kalau Aku jadi Zara mungkin Aku juga bakalan kayak Istrimu, bahkan Aku pasti cari jarum untuk pecahin tuh balon!" ucap dokter Irwan sembari cekikikan.
__ADS_1
Keduanya tampak tertawa kecil melihat penampilan Tina, sementara Tina terlihat salah tingkah saat kedua pria itu membicarakan dirinya.
"Ihh Pak Andra sama dokter Irwan pasti sedang membicarakan Aku, uhh senengnya jadi perhatian dua pria tampan." ucap Tina percaya diri yang secara tak sadar jika Anita mendengarnya. Anita pun tampak tersenyum sinis dengan memutar bola matanya.
"Diiih PD banget jadi cewek silikon!" batin Anita.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
Rahim Sengketa
Author Asri Faris
Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.
"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng
"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo
Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?
Haruskah Ajeng terima?
Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?
__ADS_1
...CUSS KEPOIN CERITANYA 🥰...