
Beberapa saat kemudian.
Zara tidur dalam dekapan suaminya, seolah dirinya menemukan tempat ternyaman, apalagi aroma khas parfum milik Andra yang tentunya membuat Zara kian lengket dan menempelkan pipinya pada dada sang suami.
Andra memeluk Zara sembari mengecup puncak kepala sang istri, Ia pun mulai memejamkan matanya setelah sebelumnya mereka baru saja selesai melanjutkan sesuatu yang belum tuntas, karena kedatangan Mommy Hasna dan Mama Dahlia.
Namun, Zara juga belum bisa memejamkan matanya juga, Ia pun masih kepikiran tentang Daddy Harun yang bertemu dengan Papanya Tina.
Zara mendongak kan kepalanya menatap wajah sang suami yang sedang memejamkan matanya.
"Pak! Bapak udah tidur, ya!" mendengar Zara berkata kepada nya, Andra pun membuka kedua matanya dan melihat ke arah Zara yang sedang menatapnya.
"Kenapa belum tidur juga? Ini sudah malam, Zara." ucap Andra sembari mengusap lembut rambut sang istri.
"Saya masih kepikiran Daddy, Pak! Kira-kira kenapa ya Papanya Tina ingin bertemu dengan Daddy, Saya khawatir saja."
Andra pun beranjak duduk dengan tetap memeluk Zara, "Kenapa kamu berpikiran seperti itu, apa yang kamu khawatir kan?" tanya Andra serius.
"Dulu! Papanya Tina tuh mengklaim bahwa tanah yang buat sekolah itu tanah miliknya, Pak! Daddy membeli tanah itu dari saudaranya Pak Bento dan ada sertifikat nya, tanah itu sebenarnya milik keluarga besar Pak Bento yang dijual, dan Daddy membelinya dengan harga lima ratus juta waktu itu. Nah! Pak Bento ini nggak terima jika tanah itu sudah dijual ke Daddy, makanya sampai sekarang Pak Bento itu masih mempermasalahkan tentang kepemilikan tanah itu." ungkap Zara yang seketika membuat Andra mengerutkan keningnya.
"Tapi, Daddy dapat sertifikat asli, kan? Dan dapat tanda tangan para ahli waris nya, kan?"
"Iya, Pak! Daddy dapat semua. Makanya itu Daddy yakin dan mulai lah rencana untuk membangun sekolah itu, dan Saya khawatir saja jika Pak Bento meminta ganti rugi atau meminta hak tanah itu kembali, soalnya dia mengklaim jika dia juga punya sertifikat asli tanah sekolahan itu, Pak."
__ADS_1
Andra pun mulai berpikir, mungkin dia harus mencari tahu bagaimana status tanah yang kini sudah berdiri bangunan untuk sarana pendidikan itu.
"Hmm ... kamu jangan khawatir, Aku akan mencari tahu tentang kebenarannya. Mungkin sedikit bisa membantu Daddy untuk mencari titik terang masalah sengketa tanah ini."
Zara tampak menatap wajah sang suami dan berkata, "Emang bapak bisa? Gimana caranya? Bapak kan cuma seorang guru jadi nggak mungkin punya kemampuan untuk mencari kebenaran ini, apalagi Pak Bento itu bukan orang sembarangan, Pak! Tuh si Tina aja yang udah sering banget jadi langganan bapak, nggak juga dikeluarkan dari sekolah, mereka masih merasa memiliki tanah itu, bahkan Tina pernah terciduk minum minuman keras, tapi kepala sekolah tidak memberi hukuman dan tetap diam, seolah tidak tahu apa-apa, karena kepala sekolah udah dikasih duwit tebal pastinya."
"Oh ya! Jadi seperti itu rupanya. Oke Aku mengerti sekarang. Jadi, ini yang membuat istriku diem mulu sedari tadi. Tapi, ngomong-ngomong kamu tahu darimana cerita tentang tanah sengketa itu?" tanya Andra.
"Ya tahu lah Pak, meskipun saat kejadian itu Zara masih kecil dan masih ingusan sekali, tapi Zara diberitahu Mommy saat Zara mulai kelas sepuluh SMA." ucapan Zara membuat Andra tertawa lepas.
"Idiiih kok malah ketawa sih, Pak?
"Aku nggak bisa bayangin masa kecil mu dulu seperti apa, pasti seru banget! Pecicilan, pasti itu, pasti dulunya kamu tuh suka manjat pohon sama manjat genteng, iya kan?" tanya Andra sembari menatap wajah sang istri yang tampak mengerucutkan bibirnya.
"Jadi, kamu nggak jauh beda dengan kalong, dong!" sahut Andra.
"Kok Kalong sih, Pak! Tepatnya codot. Au ah bapak ini ketawa mulu, biarpun Saya suka pecicilan. Tapi, saya kan masih imut, Pak! Masih kinyis-kinyis, tapi sayangnya sekarang nggak sekinyis-kinyis dulu lagi, semua itu gara-gara bapak!" ucap Zara sembari mengerucutkan bibirnya.
"Aku lagi yang disalahin, jangan nyalahin Aku dong! Salah sendiri pakai baju gituan, kamu tahu kan mata laki-laki kalau lihat gituan nggak bisa nahan, ya jangan salahkan si Joni dong!" balas Andra yang tak terima cuma dirinya yang disalahkan. Tentu saja ucapan Andra membuat Zara mengerutkan keningnya dan penasaran.
"Joni siapa, Pak? Perasaan cuma kita berdua saja deh waktu itu, nggak ada tuh yang namanya Joni, dasar guru aneh. Orang cuma kita berdua saja kok pakai menyebut Joni segala."
Rupanya Zara masih belum mengerti dengan yang dimaksud 'Joni' oleh suaminya.
__ADS_1
"Kalau nggak ada si Joni, kamu nggak bakalan bisa merem melek, si Joni tuh yang paling kamu suka, masa sudah lupa sih, dasar murid payah."
"Eh Pak guru aneh! Ngomong yang jelas dong! Jona Joni Jona Joni, mana mana si Joni itu. Jangan bikin Saya gila deh, plis!" sahut Zara sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Oke! Kamu mau tahu keberadaan si Joni, nih buka aja selimut nya, pasti kamu akan tahu."
"Idihhh! Ngapain buka selimut."
"Katanya mau tahu si Joni? Ya udah sini tak beritahu."
Andra pun membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, hingga terlihat dengan jelas si Joni yang dimaksud oleh Andra.
"Tuh si Joni, dia sedang bobo, jangan diganggu lagi, nanti dia bangun kamu yang harus bertanggung jawab."
Sekarang Zara mengusap-usap matanya saat melihat benda yang terletak di antara paha Andra.
"Itu bukan si Joni, Pak! Tapi si Otong!" ucap Zara tampak menyentil si Joni, sehingga membuat Andra meringis kesakitan.
"Aduhhh kok disentil sih, Zara! Awas ya nggak ada ampun!"
"Eh eh slow Pak, slow Pak! Aduuhhh!" pekik Zara saat Andra mulai menerkamnya lagi.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1