
Andra membawa Zara ke belakang gedung, sementara Zara mencoba melepaskan tangannya dari genggaman sang suami. Tapi, rupanya Andra sedari tadi ingin sekali membuat perhitungan kepada sang istri.
"Aduh mau dibawa kemana sih, Pak!" gerutu Zara sambil mengekor di belakang Andra, Pria itu hanya terdiam tanpa berkata apa-apa. Setelah mereka sampai di belakang gedung, Andra tampak menyandarkan tubuh Zara pada dinding.
"Kenapa membawa Saya kemari?" tanya Zara sembari melihat sekeliling dimana tempat itu begitu sepi dan tidak ada orang yang lalu lalang di sana.
"Sudah cukup kamu mengerjai suamimu Seneng, kamu sudah tega membuat suamimu keracunan?" ujar Andra dengan tatapan matanya yang tajam.
Zara sangat terkejut saat mendengar Andra mengatakan hal tersebut, "Apa? Keracunan apa maksud Pak Andra yang Budiman?" balas Zara sembari menatap balik mata Andra dengan tajam.
Andra pun semakin gemas dengan sikap Zara yang pura-pura tidak tahu, Ia pun menunjuk ke arah bibirnya dan berkata, "Kamu lihat ini!"
Spontan Zara melihat kearah bibir sang suami, "Memangnya kenapa? Tidak ada apa-apa." jawabnya sembari beranjak pergi meninggalkan Andra.
"Ehh mau kemana kamu? Aku belum selesai bicara." Andra menahan Zara yang hendak pergi darinya.
"Ya ampun Pak Andra ini manja banget sih, orang bibir nggak kenapa-kenapa kok, udah ah saya mau pergi, nanti dicari teman-teman, Saya nggak mau ya mereka curiga kalau kita ada hubungan, aduuh malu banget pasti."
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, kamu harus tanggung jawab atas apa yang terjadi dengan suamimu ini."
"Hah tanggung jawab? Tanggung jawab apaan? Orang saya nggak ngapa-ngapain kok." mendengar jawaban dari Zara, Andra pun semakin mendekati Zara dan memepetnya ke dinding, sontak membuat Zara berusaha untuk menahan tubuh Andra dengan kedua tangannya.
"Kamu sudah membuat Aku menyentuh bibir Agus yang ndower itu, sekarang kamu harus membersihkan nya." ucap Andra yang terus mendekati wajah sang istri.
"Ihhhh itu udah resiko dong sebagai guru yang bertanggung jawab terhadap muridnya, bapak nggak boleh ngeluh dong, tadi Anita yang pingsan aja cepat banget tanggapnya, giliran Agus yang benar-benar membutuhkan, bapak kayak ogah-ogahan. Apaan!" jelas Zara yang jelas-jelas cemburu.
__ADS_1
"Loh bukannya Anita juga membutuhkan? Dia pingsan loh, lagipula dia itu kan cewek, masa iya aku tega ngebiarin dia gitu, kasihan!" mendengar ucapan dari sang suami, Zara pun membalasnya dengan kesal, "Oh ... jadi gitu, rupanya Pak Andra yang terhormat lebih membela Anita daripada istrinya sendiri, keterlaluan! Bapak nggak menghargai perasaan saya banget!" Zara terlihat memukul dada Andra berkali-kali. Sungguh Zara sangat kesal mendengar jawaban itu.
"Eh eh bukan begitu, Sayang! Kamu jangan marah dulu, dong! Sekarang kamu pikir, bagaimana kalau kamu jadi Aku, melihat murid nya tak sadarkan diri dan butuh pertolongan nafas buatan, masa iya kita diam saja. Keburu mati tuh anak."
"Halah alasan!" Zara menyela dengan cepat.
"Alasan bagaimana sih? Kamu melihat sendiri dengan mata kepala bagaimana Anita membutuhkan pertolongan. Masa kamu tega melihat sahabatmu sendiri seperti itu." jelas Andra yang sebenarnya dirinya belum tahu jika Anita sudah mengerjai nya.
"Masalahnya, Anita itu cuma berbohong, Pak! Dia itu cuma pura-pura pingsan, dia sengaja melakukan hal itu agar dia bisa menyentuh suamiku, tentu saja Aku tidak suka. Wajar kan!" terang Zara sembari menundukkan wajahnya.
Sontak apa yang dikatakan oleh Zara membuat Andra tersenyum dan akhirnya Ia tahu kenapa istrinya melakukan hal itu.
"Hmm ... jadi begitu, bilang dong dari tadi."
"Oke! Aku minta maaf, ternyata istriku mulai cemburu buta, ya!" balas Andra dengan menahan tangan Zara dan menyandarkan nya pada dinding.
"Cemburu? Diiihhh GR." jawaban Zara yang masih malu untuk mengakui jika dirinya sangat cemburu.
"Kalau tidak cemburu? Kenapa harus cemberut? Senyum dong!" Andra terus menatap wajah sang istri dan mulai merayu gadis itu.
"Malas!" jawaban Zara yang lagi-lagi memaksa Andra untuk mendaratkan ciumannya pada bibir mungil itu.
"Emmm ...!"
Dengan tangan yang dipegang oleh sang suami, Zara tidak bisa mendorong tubuh suaminya, terpaksa Ia pun menerima kecupan manis itu dan merasakannya. Ciuman itu cuma beberapa detik. Namun, cukup membuat Zara terdiam dan malu-malu.
__ADS_1
"Sudah! Jangan marah lagi, Aku minta maaf, senyum dong!"
Di balik kemesraan Zara dan Andra, tampak sepasang mata yang sedang mengintai mereka berdua.
"Ini tidak mungkin, Zara! Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?"
...BERSAMBUNG...
*
*
*
Yuk mampir dulu ke karya punya kak Nazwatalita yang berjudul Takdir. Cus kepoin segera 🏃🏃🏃
Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.
Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.
Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?
Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang.
__ADS_1