
Setelah dokter Irwan menuliskan resep untuk Zara, Ia pun memberikannya kepada Andra.
"Ini resepnya, Aku rasa Zara pasti baik-baik saja, biarkan dia beristirahat dulu, dia harus memulihkan kondisi tubuhnya, untuk sementara jangan masuk sekolah untuk beberapa hari, bisa jadi efek obat bius itu masih ada, takutnya Ia menjadi lelah dan mengantuk saat pelajaran."
Andra menerima resep itu dan mengucapkan terima kasih. "Thanks Bro! Aku lega Zara baik-baik saja, sekarang tinggal menyelidiki siapa yang sudah melakukan itu kepada Zara, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Andra terlihat geram kepada siapapun yang sudah berani melakukan itu kepada istrinya.
"Ya sudah kalau begitu! Aku pergi dulu." pamit dokter Irwan kepada Andra. Namun, rupanya Andra belum mengizinkan Sang sahabat untuk pulang. "Buru-buru amat, kita ngopi dulu yuk! Kita ngobrol di luar. Biarkan Zara istirahat, Aku akan menyuruh pelayan untuk menjaga Zara." ajak Andra sembari keluar dari kamar mereka.
"Ngopi? Ya ... boleh lah." balas dokter Irwan mengiyakan.
Setelah kedua pria itu keluar dari kamar, Zara pun mulai membuka matanya. Ia lihat keadaan sudah aman, Andra sudah keluar dari kamar tidur mereka. Ia pun bergegas untuk bangun meskipun kepalanya masih terasa pusing, sementara seorang pelayan yang menemaninya tampak terkejut melihat Zara yang sudah siuman.
"Non Zara! Non sudah siuman, Syukurlah!" .
Zara tersenyum dan mengatakan kepada Sang pelayan untuk tidak memberi tahukan kepada suaminya jika dirinya sudah sadar.
"Jangan bilang sama suamiku jika Aku sudah siuman, ya! Aku mau mandi dulu."
"Baik, Non! Ini Saya udah siapin makanan buat Non Zara, dimakan ya Non!" ucap pelayan tersebut sembari menunjukkan makanan untuk Zara.
"Iya, nanti Aku makan, terima kasih banyak! Bibi bisa menyelesaikan tugas yang lain, Saya bisa sendiri kok." balas Zara dengan senyumnya yang meneduhkan.
Pelayan itu pun akhirnya keluar atas permintaan Zara. Kemudian Ia pun menuju ke arah dapur untuk menyelesaikan tugas yang lain. Setelah keluar dari kamar Zara sang pelayan melanjutkan dengan menyiapkan minuman untuk tamu majikannya.
Sementara itu Andra dan dokter Irwan tengah berbincang mengenai bisnis Andra.
"Eh bro! Terus kalo kamu jadi guru olahraga di sekolah, bagaimana nasib bisnis dan kantor mu, apa selamanya kamu akan menjadi guru olahraga?" tanya dokter Irwan yang mengetahui bagaimana peran Andra dalam dunia bisnis, pria yang memiliki banyak kompetensi, itulah yang menyebabkan Daddy Harun, Papanya Zara sangat menyukai jiwa tanggung jawab Andra selain Andra adalah anak dari sahabatnya. Daddy Harun sangat yakin Andra adalah pria yang sangat mengemong anak gadisnya yang berjiwa tomboi itu.
"Ya nggak lah bro! Aku menjadi guru olahraga Zara, hanya karena permintaan Daddy mertua, beliau ingin Aku menjaga Zara, ya walaupun awalnya Aku keberatan dan suka ilfil saat tahu Zara memiliki sifat kayak cowok, tapi lama-lama tuh anak manis juga, kocak!" ungkap Andra saat mengingat saat dirinya bertemu dengan Zara untuk kali pertama.
"Itu artinya saat Zara lulus nanti, kamu akan kembali ke kantor mu?"
__ADS_1
"Iya, itu sudah pasti." jawab Andra yakin.
"Hmm kisah kalian memang sangat unik, eh ngomong-ngomong apa Zara tahu jika kamu adalah eksmud di kantor Daddy-nya?" pertanyaan yang membuat Andra tersenyum.
"Ya nggak lah, Aku tidak pernah menunjukkan siapa diriku pada nya, yang dia tahu jika Aku adalah guru olahraga nya, Aku ingin dia memandang ku dengan apa adanya, bukan karena Aku adalah orang kepercayaan Daddy-nya, dan lama-lama Aku sadar, jika Zara sudah membuat ku nyaman, dia memang sedikit kocak, konyol, keras kepala, tapi sebenarnya dia sangat tulus dan penyayang, meskipun dia tidak pernah bilang padaku, tapi dari tatapan matanya saja Aku sudah tahu jika Zara sangat mencintaiku."
Mendengar pengakuan dari Andra, dokter Irwan pun tersenyum, "Apa kamu juga mencintainya? Itu artinya kamu sudah benar-benar move on dari Vina?"
Andra menatap wajah sang dokter dan berkata, "Rasa sayang yang Aku rasakan pada Zara, sangat berbeda dengan rasa yang aku pernah rasakan pada Vina, gadis itu sudah membuat ku menjadi pria yang paling hebat, aku merasa menjadi seorang pria yang sempurna, dia tidak pernah menentang ku, dia selalu menuruti apa yang Aku minta meskipun sebenarnya dirinya tidak bisa, tapi Zara selalu berusaha untuk menyenangkan Aku." Andra berkata sembari berdiri di depan pintu jendela, menatap hari yang kian sore.
Sementara itu datanglah sang pelayan membawakan minuman dan makanan ringan untuk Andra dan dokter Irwan.
"Silahkan Dokter!"
"Terima kasih."
Seketika Andra terkejut melihat pelayan itu ada di sana tengah menyajikan makanan ringan untuk dirinya, seharusnya sang pelayan masih berada di dalam kamar menunggu Zara.
"Loh Bibi kok ada di sini? Bukankah Bibi seharusnya menjaga Zara? Nanti kalau dia siuman bagaimana?" tanya Andra.
"Eh, Andra! Ya udah biarin aja Zara istirahat, lagipula dia tidak akan kenapa-kenapa, dosis obat bius itu tidak terlalu banyak, mungkin sekitar satu jam lagi, Zara pasti sudah bangun." mendengar ucapan dokter Irwan, Andra pun bisa bernafas dengan lega. Akhirnya Ia pun menyuruh sang pelayan untuk kembali ke dapur.
"Ya sudah! Bibi kembali bekerja."
"Baik Tuan!"
Tiba-tiba disaat Andra dan dokter Irwan sedang bercanda, terdengar dering telepon dari ponsel Andra, Ia pun segera melihat ke layar ponselnya.
"Velin!" melihat nama salah satu teman Zara, Andra pun segera mengangkat telepon nya.
"Halo Velin!"
__ADS_1
"Selamat sore, Pak! Maaf kalau ganggu Bapak, bagaimana dengan keadaan Zara, Pak? Apa dia baik-baik saja? Soalnya tadi kan Zara pulang bersama bapak, saya tanya Om Harun dan Tante Hasna, katanya Zara belum pulang."
"Oh iya, Zara baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir, oh ya Bapak berterima kasih kepada mu, kamu sudah mau membantu bapak untuk mencari keberadaan Zara, kamu memang teman yang baik."
"Iya pak sama-sama, saya juga kasihan sama Zara, pasti anak-anak pada ngerjain Zara, semoga saja mereka mendapatkan hukumannya dengan segera, oh ya Pak kalau boleh tahu, sekarang Zara ada di mana? Saya mau menjenguk dia."
Mendengar pertanyaan dari Velin, seketika Andra panik harus ngomong apa, tidak mungkin dirinya mengatakan jika Zara sekarang sudah berada di rumah mereka, Ia pun mulai berpikir untuk mencari alasan yang tepat agar Velin bisa percaya, sekilas Andra melihat dokter Irwan yang sedang meminum teh yang sudah disajikan. Andra pun mempunyai ide.
"Oh ... Iya sekarang Zara sedang berada di klinik dokter Irwan, dia baik-baik saja." balas Andra sembari menatap ekspresi wajah dokter Irwan yang mendengar Andra mengatakan jika Zara sedang berada di klinik miliknya. Seketika sang dokter menyemburkan minuman nya karena terkejut mendengar perkataan Andra kepada temannya Zara.
"Oh gitu ya, Pak! Terima kasih banyak atas informasinya, nanti Saya akan ke klinik dokter Irwan." ucap Velin sebelum gadis itu menutup ponselnya.
"Iya sama-sama."
Setelah Andra menutup teleponnya, Dokter Irwan pun tampak protes.
"Eh gila kamu, masa Zara dibilang sedang ada di klinik ku sih, ngibulin anak orang kamu, nanti kalau dia ke klinik ku beneran gimana hayo? Kasihan, kan?"
"Ya elah, bilang aja kalo Zara udah pulang. Udah pulang sana! Sebentar lagi ada anak gadis orang yang mau datang ke klinik mu, dia temannya Zara, Velin namanya. Eh lagipula Kamu katanya mau nyari jodoh anak SMA, nah si Velin nih pasti cocok sama kamu, dia anaknya anggota DPR, bapaknya tajir, si Velin sendiri anaknya manis, kalem. Pasti bapaknya suka tuh punya mantu seorang dokter. gas lah udah pulang-pulang sana!" seru Andra sembari menarik tangan temannya untuk segera pulang.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
*
"Kau adalah milikku, sebanyak apapun wanita yang berada disekitar ku. Kau adalah satu-satunya yang tak akan aku lepas sampai kapan pun," ketegasan dalam ucapan tersebut seolah menjadi bukti bahwa gadis yang kini berada dalam sangkar emas milik laki-laki yang tak lain adalah seoarang mafia tersebut adalah gadis yang begitu ia jaga. Dia, Eric Roymond. Laki-laki yang memiliki tatapan mematikan dengan aura penguasa. "Kau hanya menjadikan ku budak mu, lalu bagaimana bisa aku bertahan dengan segala rasa sakit yang aku rasakan?" wanita tersebut menatap penuh kebencian pada laki-laki yang telah dengan sengaja menjebak pamannya tersebut. Untuk mendapatkan gadis tersebut Eric sengaja menjebak paman gadis tersebut agar menjual gadis tersebut padanya. Dia,Evelyne Gregory. Gadis lembut yang penuh dengan keceriaan. Kedua orang tersebut malah terjebak dengan takdir yang membawa mereka untuk menjadi satu. Namun akankah mereka benar menjadi satu? atau justru semesta memiliki cara untuk menjadi pemisa?
__ADS_1
...Yuk capcuss 🏃🏃...