
Kini ada kebahagiaan yang menyempurnakan rumah tangga Andra dan Zara, kedua bayi kembar mereka yang sangat lucu dan menggemaskan. Andra memberikan nama untuk kedua putranya sang kakak bernama Zahran Putra Aditya dan sang Adik bernama Zayyan Putra Aditya.
Zara menggendong kedua bayi kembarnya, Ia menatapi wajah putranya yang begitu tampan, benar-benar perpaduan kedua wajah orang tuanya, sangat pas dan tidak terlalu berlebihan.
"Kamu lihat mereka, anak-anak kita benar-benar tampan, bukan? Matanya, hidungnya sangat mirip denganmu, Sayang!" seru Andra kepada sang istri tercinta.
"Hmm ... mereka anak-anak yang manis," balas Zara saat melihat kedua putranya tersenyum.
Bukan hanya mereka berdua yang bahagia, Daddy Harun dan Mommy Hasna juga tak kalah bahagia, Mama Dahlia pun turut menjenguk cucu pertamanya. Semua keluarga besar berkumpul untuk menyambut kedatangan baby twin Zara dan Andra.
Zahran dan Zayyan berada di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayangi mereka, kakek dan neneknya semuanya menyayangi putra Andra dan Zara tersebut. Melihat kebahagiaan keluarga besar Zara, Tante Desi yang juga Ibu dari Niko, turut mengucapkan selamat untuk kelahiran cucu keponakan kembarnya, meskipun Ia masih bersedih atas apa yang terjadi kepada putra nya, Sang Tante tetap sudi meluangkan waktu untuk menjenguk sang keponakan.
"Selamat ya, Zara! Tante ikut bahagia melihat kelahiran putra-putra Kalian, semoga kelak anak-anak kalian menjadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya." ucap Tante Desi.
"Terima kasih, Tante! Oh ya bagaimana keadaan Niko?" Zara balik bertanya.
"Keadaan Niko sudah lebih baik, dia sudah sadar, tapi istrinya ...." Tante Desi tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia tahu jika kondisi sang menantu sangat memprihatikan.
__ADS_1
"Vina! Vina lumpuh karena kakinya sudah diamputasi oleh dokter dan wajahnya sebagian besar terluka karena pecahan gelas itu. Tante tidak tahu mengapa kejadian ini terjadi bertubi-tubi." seru sang Tante yang bersedih dengan apa yang menimpa anak dan menantunya. Zara pun berusaha untuk menenangkan sang Tante.
"Tante yang sabar, ya! Zara yakin semua ini pasti ada hikmahnya. Tidak ada manusia yang diuji oleh Allah diluar batas kemampuannya."
"Iya Zara! Kamu benar, semoga ini juga pelajaran buat Vina agar kedepannya dia menjadi lebih baik."
*
*
*
Dengan suara yang sangat kecil sekali, Vina meminta minum karena Ia merasa begitu haus.
"Air ... air ... aku mau minum, tolong! beri Aku minum." suara Vina terdengar begitu lemah, hingga akhirnya seorang perawat yang saat itu sedang berada di dalam kamar perawatan Vina langsung menghampiri Vina dan bertanya kepada wanita muda itu.
"Iya, Nyonya! Ada yang bisa Saya bantu?" tawar seorang perawat.
__ADS_1
"Saya haus Suster! Saya ingin minum." pinta Vina dengan suara lemahnya.
"Baiklah! Tunggu sebentar."
Kemudian sang perawat pun mengambilkan minuman untuk Vina. Ia membantu Vina untuk minum dengan cara mengangkat kepala Vina sedikit dan setelah itu sang perawat memberikan sedotan agar Vina bisa minum dengan mudah.
Setelah itu, Vina mengucapkan terima kasih kepada sang perawat, dan Ia pun mulai merasa jika kakinya tidak bisa digerakkan.
"Suster! Kenapa kaki saya terasa berat, apa yang sudah terjadi kepada Saya? Katakan suster!" desak Vina kepada sang perawat. Sang perawat pun tidak punya pilihan lain, mau tidak mau pasien harus mengetahui kebenarannya jika memang kenyataannya sangat menyakitkan.
"Nyonya Vina harus sabar, ya? Dokter terpaksa mengamputasi kaki Nyonya, karena luka di kaki Nyonya tidak bisa diselamatkan, tulang kaki Nyonya remuk dan Dokter memutuskan untuk mengamputasi untuk meminimalisir terjadinya infeksi yang lebih parah lagi,"
"Apa? Kakiku ... tidaaakkkkk."
Seketika Vina menjerit sekeras-kerasnya, seolah tak percaya apa yang telah terjadi pada dirinya. Jeritan Vina begitu menggema hingga ke ruangan sebelah, ruangan perawatan Vina dan Zara letaknya tidak terlalu jauh sehingga Zara dan lainnya bisa mendengarkan jeritan Vina itu dengan jelas.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1