
Episode 109
...Happy Reading Guuyyss ❤️📖...
To be continue
☆☆☆☆☆
Fio,Ninda dan Nino sudah sampai di rumah Prince. Ninda dan Nino terkagum dengan rumah Prince yang megah, walau pun Nino juga orang berada tapi rumahnya tak sebesar ini.
Di depan pintu gerbang, seorang satpam siaga membuka kan pintu untuk mereka.
" Pagi pak " sapa Fio.
" Pagi Non, sudah ditunggu oleh Tuan dan yang lain di dalam " ujar satpam tersebut ramah.
" Oke pak saya masuk dulu ya " pak satpam hanya mengangguk ramah.
Ketiganya pun masuk ke dalam,
Ting tong
Ceklekkk
" Ehh neng Fio, mari masuk neng " ajak Bi Inah.
" Ini siapa atuh neng? " tanya Bi Inah.
Fio yg paham langsung menjawab,
" Yang cewek ini Ninda, yang cowok Nino mereka temen Fio di sekolah Bi "
" Ohh ya udah mari masuk, Tuan Nyonya dan yang lain di ruang tamu " ajak Bi Inah mempersilahkan mereka masuk.
" Assalamualaikum " salam Fio,Nino, dan Ninda.
" Waalaikumsalam " jawab semua orang yang ada di ruang tamu.
" Ayah, Bunda, Ma, Pa " Fio sambil menyalami tangan para orang tua. Begitu juga dengan Nino dan Ninda.
" Duduk sini sayang " pinta Bu Amira pada Fio agar duduk di sebelah nya.
" Kalian teman temannya Fiona ya, silahkan duduk jangan sungkan " ucap Bu Amira yang melihat Ninda juga Nino sungkan untuk duduk.
Setelah dipersilahkan, keduanya duduk di sofa dekat dengan Al dan Devan.
Tak lama Prince datang dengan wajah datarnya. Duduk di sebelah Pak Renald.
" Honey, itu pak Prince mukanya jutek gitu ya " bisik Ninda di telinga Nino.
" Sutt jangan keras keras honey, entar pak Prince denger ini juga lagi di rumah dia " peringat Nino.
" Tapi iya juga si gak di sekolah atau di rumah tetep serem gitu " bisiknya lagi
Al dan Devan yang duduk dekat dengan kedua manusia tadi mendengar bisikan mereka. Diam diam tersenyum jahil.
" Prince, loe senyum dikit napa tu murid murid loe pada takut katanya " ujar Al sambil menahan tawa.
Yang lain hanya geleng geleng kepala mendengar ucapan Al. Fio hanya diam sambil menahan tawa karna dia tau apa maksud Al.
Sedangkan Ninda dan Nino keringat dingin mendengar ucapan pria yang mereka tau adalah teman gurunya, mungkin.
" Iya tuh, katanya muka loe serem iya kan " sahut Devan sambil menatap Nino dan Ninda minta jawaban.
__ADS_1
" Ehhh e e e enggak kok pak kita gak bilang gitu iyakan? " jawab Nino sambil menatap Ninda.
" I i iya nggak kok hehehe " jawab Ninda sambil cengengesan.
Sedang Prince hanya tetap diam memasang wajah datar.
" Pa lihat anakmu dia masih aja bikin murid muridnya takut " ujar Bu Amira pada Pak Renald.
" Iya Prince Bunda baru tau kalau kamu ternyata guru yang cukup ditakuti murid " sahut Bu Arsih sambil tersenyum.
" Iya Bunda Ma, Pak Prince emang guru killer di sekolah. Fiona aja pernah dihukum " ujar Fio buka suara dengan sedikit dramatis. Mendapat tatapan tajam dari Prince, tanpa diketahui Prince tersenyum smirk.
" Beraninya kamu gadis kecil, lihat saja nanti " batin Prince sambil tersenyum smirk.
Yang lain tertawa mendengar ucapan Fio. Gadis itu ternyata ingin menggoda Prince.
Sedang Ninda dan Nino sedikit lega karna yang lain juga menggoda Prince.
Prince hanya diam sambil menghela nafasnya kasar.
" Itu karna gadis nakal ini terlambat mengumpulkan tugas yang Prince berikan Ma Bund, jadi sebagai guru Prince benar kan? " ucap Prince sambil menatap Mama dan Bunda bergantian.
Fio melotot kan matanya, ditatap Bundanya membuat dia tersenyum kikuk.
" Eehehehe iya Bund betul kata Pak Prince gak salah kok " ujarnya.
" Sudah sudah, sekarang kita bicarakan hal penting dulu " ujar Pak Renald serius.
" Nah benar, karna Fiona sudah disini bisa kita bicara serius " ujar Pak Gandi.
Wajah semua orang pun langsung menunjukkan raut serius. Membuat Fio, Ninda dan Nino bingung.
" Eee Bunda Ayah, Om Tante kayaknya kami pergi dulu " ujar Ninda.
Pak Gandi dan Pak Renald saling melirik. Lalu Pak Gandi mengangguk.
" Tidak perlu pergi kemana mana, karna kalian teman Fiona, kalian boleh ikut pembicaraan ini " ujar Pak Renald dengan wajah tenang dan serius. Ninda Nino langsung duduk kembali.
" Fiona putri ayah, kami ingin membicarakan mengenai pernikahan kamu dengan Prince sayang " ujar Pak Gandi.
" Ayah sama Bunda mengijinkan dan menyetujui jika pernikahan kalian dipercepat " .
Fio terkejut, begitu juga Nino dan Ninda.
" Dengarkan penjelasan kami dulu sayang " ujar Bu Amira lembut.
" Iya nak, Bunda minta Fiona jangan berfikir macam macam dulu dengan keputusan kami " ujar Bu Arsih.
Prince yang mengerti sikon, langsung berucap.
" Fiona, mas tau kamu pasti terkejut dan bingung. Tapi mas melakukan ini untuk melindungi kamu " ujar Prince.
" Maksud mas apa? sebelumnya kita gak pernah bahas soal pernikahan, dan aku juga masih sekolah masih kelas 12 " .
" Sayang, kami ingin mempercepat pernikahan kalian agar Fiona tidak terancam " ujar Bu Amira.
" Terancam gimana Ma? aku gak ngerti sama sekali " ucapnya.
Alex yang sedari tadi hanya diam berfikir cepat untuk melakukan sesuatu.
" Ekhem maaf sebelumnya jika Alex menyela percakapan ini. Alex punya saran agar Prince dan Fiona bicara empat mata " ujar Alex.
" Baiklah, ayo Fiona ikut mas " ajak Prince sambil berdiri mengajak Fio.
__ADS_1
Fio masih diam, enggan untuk berdiri, hatinya berkecamuk.
" Ikutlah sayang, kamu akan tau maksud dari kami " ujar Bu Amira lembut, akhirnya Fio berdiri dan mengikuti Prince.
" Semoga Fiona mau menerima ini jeng " kata Bu Amira pada Bu Arsih.
" Saya juga berharap begitu mbak, saya hanya ingin Fiona bahagia " jawab Bu Arsih.
" Ninda dan Nino, kalian pasti kaget kan dengan hal ini " ujar Bu Arsih.
Keduanya mengangguk.
" Iya Bund, kami kaget dan seneng juga " jawab Ninda .
" Maksud nya? " tanya Al.
" Iya kak, kami kaget karna Fio tiba tiba mau nikah, pas dia tunangan dan tunangannya Pak Prince aja kami kaget, cuma dari awal kami udah firasat kalo mereka ada sesuatu " jelas Ninda.
" Waktu itu kami ketemu Pak Prince sama Fio lagi duduk berdua di taman " sahut Nino.
Mereka semua mengangguk.
" Dan maksud kalian senang? " tanya Alex.
" Kami senang karna Fio bakal bahagia kak, kami yakin Pak Prince orang yang baik dan tepat untuk dia. Jujur aja aku sebagai sahabatnya seneng sama hal ini, karna setelah Raka meninggal Fio jadi berubah dan dengan hadirnya pak Prince merubah dia jadi kayak dulu lagi " ujar Ninda sambil menunduk.
Pak Gandi dan Bu Arsih yang mendengar pun menjadi sendu.
" Benar mbak, putriku jadi murung dan dingin sama orang setelah kepergian Raka " ujar Bu Arsih mengenang keadaan Fio dulu.
" Siapa Raka? " tanya Bu Amira yang raut wajahnya sedih sekaligus bingung,tetapi sebenarnya dia sudah mengetahui nya..
" Raka itu kekasih Fiona di sekolah, dia anaknya baik dan juga sopan. Kamipun dulu sempat bingung bagaimana mau memberi tahunya tentang perjodohan ini. Tapi Tuhan berkehendak lain, dan menjauhkan mereka sangat jauh " jelas Bu Arsih.
Mendengar nya membuat Bu Amira pun turut sedih. Begitu juga dengan Al dan Devan yang awalnya terkejut jadi kasihan dengan keduanya.
" Kondisi Fiona sempat drop setelah pemakaman Raka, dia mengunci diri di kamarnya. Tidak mau berinteraksi dengan orang lain, " lanjut Pak Gandi.
" Maka dari itu, saat Prince datang kami sangat senang. Berharap putramu dapat membantu putriku keluar dari kesedihan yang selama ini dia pendam" ujar Pak Gandi menatap harap Pak Renald.
" Aku tidak bisa menjanjikan apapun Gand, karna ini adalah kewajiban Prince yang akan menikah dengan Fiona. Tapi aku akan membantu agar Fiona bisa melupakan kesedihannya " jawab Pak Renald.
BERSAMBUNG....
.
.
.
.
.
.
.
Haii haiii jangan Lupa Like, Koment, Vote, dan kasih Rating terrrbaik kalian🤗💕
Biar Author tambah semangat buat updated next episode yaaa👍🏻🤭
Thanks All❤️📖
__ADS_1