Perusak Rumah Tanggaku

Perusak Rumah Tanggaku
Prahara mobil


__ADS_3

Setelah seminggu Dirawat dirumah sakit,Akhirnya kesehatan Bapak semakin membaik.Nafasnya bapak kini sudah tidak terasa sesak,perlahan bapak sudah bisa Mulai Bisa Berjalan walau terkadang masih mengeluh kelelahan.selang selang Infus pun mulai dicopot dari Tubuhnya sesuai SOP pihak Rumah sakit.


" Terimakasih Nak Dokter,atas segala bantuannya selama ini sehingga Suami saya sekarang sudah dinyatakan sembuh." Ucap Ibuku pada Dokter Damar,ketika dokter Damar Terakhir kali Mengontrol Keadaan bapak yang sudah cukup membaik,dan Hari ini bapak sudah dinyatakan bisa pulang.


" Sama sama ibu,semua berkat kuasa Allah,Dan berkat Doa ibu dan mbak Bulan juga,sehingga Pak Malik bisa sembuh." Ujar Dokter Damar diiringi senyum Tulus


" Ya Allah Nak Damar anda baik sakit." Kata ibu sambil Mata berkaca kaca." Andai saja Ibu punya menantu sepertimu.." Gumaam ibu Lirih namun suaranya masih bisa terdengar Oleh Kami


" Buuuuuu......." Seruku pelan


Sedang Dokter Damar hanya Mengulas senyum tipisnya,sedang Aku menahan Rona Malu diwajahku.


" Ehem.."Dokter Damar berdehem mengusir kecanggungan." Oh ya kapan mbak bulan bisa mulai bekerja?" Tanyanya


" Emm besok insyallah saya siap dok." Jawabku


" Baik kalau begitu,saya pamit permisi dulu ya bapak,ibu,mbak bulan." Pamitnya sambil menyalami punggung tangan kedua orang tuaku.


****


Tak lama Kemudian kami semua sudah sampai Dirumah,Lalu Ku ajak bapak untuk masuk ke kamarnya dan kubaringkan ditempat Tidur yang posisinya menghadap Kearah Jendela,supaya bisa menikmati udara dan rindangnya pepohonan Di depan Rumah.


" Bulan."


" ya pak.?" jawabku sambil duduk disamping bapak


" Kamu nggak pulang ke rumah suamimu nduk,kamu sudah lama Lhoh Ngerawat bapak." tanya bapak dengan lembut dan juga Lirih


Seketika itu pula aku langsung Terdiam,memikirkan Jawaban Apa yang sekiranya bisa diterima oleh bapak,mengingat keadaan bapak yang baru saja pulih,Rasanya ingin sekali ku beritahu beliau tentang Apa yang sebenarnya terjadi,jika Rumah tanggaku kini sedang diterpa Masalah dan mungkin sedang Berada di ujung tanduk.namun Aku sadar Aku tidak boleh egois jika tidak pasti keadaan Bapak Akan Anfal lagi.jadi ku putuskan untuk Sementara waktu Menutup Rapat rapat masalahku dari bapak.


" Mas Adrian Ngerti kok pak,jika Bulan Harus berbakti dan merawat bapak." Kataku sedikit Ragu


" Tapi Kasian juga suamimu nduk.dia juga butuh bantuanmu." Ucap bapak yang mungkin Dia lupa jika mas Adrian Sudah punya istri lagi yang bisa mengurusnya


" Sudah ya pak,bapak tidak boleh banyak fikiran,bapak harus Banyak istirahat supaya cepat segera pulih dan sehat kembali keadaanya."Pintaku sambil menaikan Selimut bapak sampai ke dada untuk menutupi Tubuh Rentanya supaya selalu hangat


" Assalamualaikum. "


tiba tiba ada suara seseorang mengucap salam didepan pintu Rumah,suara yang kurasa tak asing,ya siapa lagi kalau Mas Adrian yang sudah masuk kedalam Rumah dan kini berdiri diambang pintu Kamar milik bapak ,sambil membawa Sekeranjang Buah buahan ditangannya.


" Assalamualaikum pak." Ucapnya


" walaikumsalam Adrian.masuk nak." Seru bapak lalu mas Adrian masuk kedalam lalu meraih punggung tangan bapak dan menciumnya


" Apa kabar Adrian.?"


" Alhamdulilah baik pak." Jawab mas Adrian


" Saya datang kesini untuk menjemput bulan dan juga Anak Anak pak." ucapnya pada bapak


" Oh ya tentu saja Boleh." Balas bapak sambil mengulas senyummya." Terimakasih Sudah mengijinkan bulan untuk merawat bapak Nak."


" Itu sudah kewajiban kami sebagai seorang Anak pak,dan saya tidak pernah mempermasalahkan itu." Ucap mas Adrian dengan kata kata manisnya


sedangkan Aku mulai tidak tenang dan gelisah mendengar percakapan mereka


" Lhoh nduk kenapa diam saja disitu,ayo bikinin minum suamimu." titah bapak yang langsung membuyarkan lamunanku yang sedikit tegang tadi,sedang Mas Adrian terlihat mengulas senyum simpulnya melihat Wajah gugupku


" i iya pak." Jawabku sambil kulangkahkan kakiku


menuju Dapur,namun diambang pintu aku berpapasan dengan ibu


" Ada Apa Nduk.?" tanya ibu setengah berbisik

__ADS_1


Namun Aku tak menjawab melainkan memberi isyarat pada ibu supaya melihat kearah Kamar bapak,tak lama kemudian aku pun kembali sambil membawa Nampan yang berisikan segelas Air putih yang dingin.


" Lhoh nduk mana tehnya kok cuma Air dingin.?" tanya bapak


" Nggak usah Repot repot pak,Adrian kesini cuma sebentar saja." Potong Mas Adrian dengan cepat


" untuk apa kamu datang kesini.?" tanya ibu dengan ketus,dan seketika membuat bapak mengeryitkan dahi bapak karena Heran.


" Saya mau jemput bulan bu." Jawab mas Adrian singkat ,tapi Membuat emosiku serasa naik turun


" Lhoh buk,kenapa toh buk?Kok ibu kelihatan Tidak suka.?" tanya bapak dengan wajah bingungnya


" nggak ada Apa apa pak,sebentar ibu mau bicara dulu sama Bulan." Ujar ibu mengalihkan pembicaraan." Ayo bulan." Ajak ibu sambil menggiringku keluar dari kamar bapak dan mengajaknya ke dapur


" Gimana ini nduk,bapakmu nanti bisa kambuh lagi jika tau kamu dipukul dan dipermalukan didepan tetangga dan madumu."ucap ibu khawatir


" Bulan nggak tau buk,bulan bingung apa bulan harus memberitahu sekarang ....?"


" Sabar nduk jangan dulu." Cegah ibu


" Kamu ada uang nduk.?" tanya ibu lagi


" Uang bulan sudah habis buk,kemarin buat nebus obat bapak,sebagian juga dibantu dokter damar,sehingga bulan hanya membayar seperempatnya saja untuk biaya perawatan,semuanya ditanggung dokter Damar bu."


" Ya Allah baik sekali ya nduk Dokter itu." Ujar ibu" Lalu gimana dengan kamu nduk,ibu takut kalau kamu ikut Adrian ibu takut nanti kamu ada masalah lagi." Tutur ibu dengan sorot mata penuh kekhawatiran


" Entah lah buk,aku juga bingung." Aku menunduk dengan pasrah


" Tunggu sebentar nduk." ibu pun menyerahkan Gelang Emas miliknya


" Ibu,ibu nggak usah bulan bisa Atasi semuanya ini kok bu." Tolakku ,namun ibu tetap memaksaku untuk mengambil gelang pemberiannya itu


" Sudahlah nduk,mungkin sementara wakty kamu bisa gunakan ini dulu,buat jaga jaga nduk." Seru ibu


setelah ku pikir pikir mungkin yang dikatakan ibu benar buat jaga jaga,aku bisa menjualnya jika dalam keadaan darurat.sedangkan BPKB mobil sudah kugadaikan kemarin untuk tambahan biaya rumah sakit bapak.


" Ya Allah semoga engkau membantu hambamu ini." Ucapku dalam hati


Kuraih punggung tangan bapak dengan penuh kasih sayang,mencurahkan Segala gundah dan keresahanku.


" Ndak usah nangis nduk,kan kamu mau pulang ke rumahmu sendiri sama Anak suamimu." Tutur bapak dengan lembut


Aku hanya bisa menyunggingku senyumku yang terasa Getir.


" Bulan Pamit Ya Pak." Aku menarik diri lalu beralih memeluk ibu kembali.


" Jaga dirimu baik baik ya nduk." Ujar ibu dengan Lirih." Kalau udah nggak kuat,pulanglah ibu siap untuk menjaga Kalian." Bisik ibu dengan suara pelan ,aku hanya menganggukan kepalanya sedang ibu merasa berat untuk melepaskan kami


******


Sepanjang Perjalanan Aku hanya diam dan meratapi Suasana Rintik Hujan disore hari yang menyusuri sudut jalan lewat jendela mobil.sedangkan kedua Anakku sudah tertidur pulas di bangku belakang.


" Bulan,Aku minta maaf." Ucap Mas Adrian memecah keheningan dengan suara lirihnya


" Kamu memang sengaja ingin mengambil kesempatan ketika tau bapak sudah pulih mas,


sehingga kamu bisa mengambil kelemahanku dalam situasi ini,untuk menjemputku mas kamu benar benar licik." Seruku dengan menahan emosi


" Tak kusangka setelah berpoligami,sifat baikmu perlahan Luntur dan menghilang." Sambungku dengan nada Dingin


" Aku bukan licik,tapi Aku sedang Mengambil Peluang dengan Jeli." Tuturnya santai tanpa beban dan terus fokus mengemudikan mobilku,karena memang Mas Adrian sengaja tak membawa mobilnya supaya Aku mau tidak mau harus semobil dengannya.


" Turunkan Aku sekarang Mas.!" Sentakku dengan tegas

__ADS_1


" jangan gila kamu bulan,ini lagi hujan,jauh dari pemukiman Warga juga." Tolaknya sambil menoleh kanan kiri yang terlihat hanya hamparan area persawahan dan tuang tuang besar


" Lebih baik aku Basah kuyub kehujanan dari pada semobil denganmu mas.!"


" Ingat Bulan ini mobil kita,mobilmu dan juga mobil mas juga." Sanggahnya


" Siapa yang bilang,ini hanya mobilku.!" Sungutku tak terima


" Baiklah kita jual saja,kalau begitu.bagaimana Adilkan.?" katanya tanpa beban


Aku tertawa Sarkas mendengar ucapannya.


" Astagfirullah mas apa kau benar benar sudah putus Asa,sehingga mau jual mobil apa tabungan milikmu benar benar terkuras." Ujar ku dengan setengah mengejek


" Mau gimana lagi dari pada Jadi Rebutan,mending dijual uangnya bisa buat Beli motor untuk kita masing masing." ucapnya


" Lalu mobil mas satunya."


" kemarin Ditarik pihak Bank." Ucapnya


Apa ditarik bank....------ Aku tertawa puas mendengarnya walau sedikit ada rasa kasihan.


" Oh jadi Ini alasanmu mas, menyuruhku menjual mobil ini karena mobilmu yang satunya sudah kandas." Aku Tersenyum licik dan mas Adrian menoleh kearahku dan menatapku tajam


" Aku serius bulan,kecuali Kamu mau tetap kembali ke rumah maka mobil ini aman,dan kita bisa pergunakan sama sama." Ujarnya seenak jidadnya


" Enak aja jangan Harap.!"Tolakku tegas


" Oke kalau gitu kita jual mobil ini." Ucapnya tegas sambil tetap fokus lurus kedepan


" BPKB sudah ku gadaikan." ucapku santai


" Apa?kok kamu nggak tanyak dulu ke Aku,kenapa bertindak tanpa ijin. dan berdiskusi dulu,aku ini suamimu bulan!" Sentaknya dengan tatapan penuh menuntut.


" Kenapa tidak?kamu juga melakukan hal yang sangat besar tanpa minta ijin dan berdiskusi dulu denganku." Sautku kesal


" Itu lain lagi,Abinya Sakit dan Hampir Sekarat Bulan.!"


" Bapakku juga sakit.!" Aku menjerit sekencang kencangnya meluapkan emosiku yang sedari tadi di ubun ubun,sehingga dia terperanjat dan langsung mengerem mobilnya mendadak berhenti.


" Sekarang juga mas Turun dari mobil ini,atau kalau tidak Aku akan berteriak menuduh mas menculik kami ditengah kampung ini." ancamku


serta melirik pemukiman disekitar kami


" Kamu benar benar sudah gila Bulan.!" Ujarnya dengan tak kalah emosi terlihat urat urat diwajahnya menegang


" Turun kataku.!" Semburku


" Shittttt." Umpatnya sambil membuka pintu mobil lalu keluar dan kembali menutup Pintu mobil dengan membanting Keras


BRAKK


setelah Dia keluar,aku langsung pindah dikursi kemudi lalu kembali memacu mobilku membelah jalanan.jika Aku tak menemukan ketenangan di Suatu tempat maka zakan kucari ketempat yang lain.


beruntung kedua Anakku masih tertidur pulas hanya saja sedikit menggeliat saja tadi.


Hingga tak lama kemudian ku temukan bangunan berjejer yang menyediakan Tempat Kost dengan Area Parkir yang Cukup strategis karena Halamannya luas.Ku tepikan mobilku didepan bangunan itu ,kuputuskan untuk menyewa kost saja dari pada harus tinggal bersama Suamiku yang tak berprasaan dan tinggal dengan maduku yang selalu membuat tensi darahku tinggi.


Apalagi Aku juga sudah menerima tawaran dari Dokter Damar,untuk bekerja dibagian dapur Rumah sakit.Aku rasa bisa menjaga diri dan menghidupi kedua Anak anakku,pikirku.


_Bersambung_


Maaf Upnya Agak telat.tapi Insyallah Hari ini Up Dua kali,jangan lupa kasih dukungannya ya

__ADS_1


Semoga suka.


Happy Reading


__ADS_2