
Seperti biasa saat ini aku sedang melakukan rutinitas kerjaku,menyiapkan makanan untuk beberapa pasien.lalu satu persatu menyusunnya di lemari dorong makanan untuk diantarkan ke bangsal bangsal perawatan.
Ketika aku sedang sibuk menyiapkan semuanya,tiba tiba sosok Mas Damar datang menyapaku membuatku sedikit kaget.karena sudah berada di belakangku sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok.
"Assalamualaikum calon istriku." sapa Mas Damar sambil tersenyum menggoda menatapku
" Mas Damar."pekikku."walaikumsalam mas,bikin kaget aja." sambungku lagi sedangkan dia hanya terkekeh melihat tingkahku
" Ya merindukanmu lah mau apa lagi." selorohnya dengan santai
" Ngapain sih mas kesini,nanti kalau ada yang lihat gimana." seruku sambil mengedarkan pandanganku memastikan tidak ada siapa siapa yang melihat kami dalam Kondisi masih jam kerja seperti ini
"sssttt.."Dia meletakan jarinya diatas bibirya supaya aku bisa memelanku suaraku.
" Ada apa sih mas.?" tanyaku
" Sini deh,deketan dikit." ujarnya sambil menarik tangan ku supaya lebih mendekat kearahnya.lalu diapun mengambil ponselnya dari dalam saku kantong celananya
" Apa sih mas." tanyaku penasaran
" Aku cuma ingin menunjukan Beberapa gambar undangan pernikahan kita,aku ingin kamu sendiri yang memilihnya bulan,kamu pilih yang mana.?" tanyanya sambil menunjukan beberapa macam model foto undangan digaleri ponselnya
"Memangnya harus sekarang mas?" tanyaku
" Iya dong bulan,memangnya harus kapan lagi,kamu kan tau kalau kita juga sama sama sibuk." ucapnya
" tapi kan nggak harus sekarang juga mas,lagian ini masih jam kerja." tuturku
" udah pilih salah satu yang menurutmu pas buat undangan kita." desaknya dan mau tidak mau aku harus menuruti keinginannya.
" Ya sudah aku pilih yang desain sampul warna Gold itu aja mas,kasih lem bening dan ditambah hiasan bunga kering pasti kelihatan indah dan elegant." ucapku menunjuk salah satu gambar undangan yang berwarna Gold itu
" Oke jika kamu milih yang itu." ujarnya."Kalau begitu aku pergi dulu ya sayang." sambungnya lagi sambil melangkah pergi meninggalkanku yang hanya bisa menggelen gelengkan kepala selepas kepergiannya.
Kalau dipikir pikir memang tidak ada salahnya jika pernikahan kami di percepat.supaya tak menimbulkan fitnah,terlebih mas damar tak sedikitpun melewatkan waktu luang untuk terus mengunjungiku.aku takut orang orang yang tidak suka denganku akan menyebarkan isu yang tidak sedap sehingga memperumit keadaan.belum lagi godaan yang lagi ,apalagi jaman sekarang lagi musim perebut atau pelakor,ada rasa takut menghinggap dibenakkku jika calon suamiku akan berpindah haluan dan aku akan kehilangan untuk kedua kalinya,hal itu membuatku sedikit trauma,hingga memutuskan untuk menerima keinginan mas damar untuk mempercepat persiapan pernikahan kami.
****
" Kamu tau nggak nduk.?" tanya ibu padaku saat kami sedang menonton televisi diruang Keluarga setelah makan malam,Kyla dan Saga sudah tertidur pulas dipangkuan bapak.
" Tau apa bu.?"tanya bapak
" Tadi Pagi pas ibu belanja di warung mang toha,denger denger Si Zahra mau di khitbah lagi."seru ibu dengan antusias
aku dan bapak pun terkesiap mendengarnya
" Yang benar bu,ibu tau darimana.?" tanyaku sedikit penasaran
" Iya tadi ibu dapat kabar dari Yuk Marti tetangga ujung sana,yang kebetulan punya komplek perumahan yang satu kota dengannya.dia bilang jika Anak pemimpin pondok pesantren Al hikmah tidak lama lagi akan menggelar acara pernikahan.ibu mikirnya siapa lagi kalau bukan Zahra."kata ibu
"Bulan nggak tau sih,ya mungkin saja benar." ucapku menimpali sambil menengguk just jeruk buatanku
" ibu nggak habis pikir ya nduk,kok bisa ya secepat itu,mereka tidak menunda Lagi,padahal Adrian juga belum genap empat bulan meninggal." ujar ibu
" Mas Adrian sudah empat bulan kok bu meninggalnya." ucapku memberitahu ibu
" Oh ya benarkah itu nduk?" tanya ibu
" mungkin ibu yang salah hitung." timpal bapak."sudahlah bu lagian bentar lagi bulan kan juga mau menikah." sambung bapak lagi
"Iya pak maafkan ibu,mungkin ibu yang salah hitung." ujar ibu
" Tapi apa ibu yakin dengan kabar itu.?"tanya bapak memastikan
" Iya pak,yuk murti sendiri yang bilang tadi pagi." jawab ibu meyakinkan
__ADS_1
" Syukurlah bu,bulan cuma bisa berdoa semoga saja Zahra bisa bahagia dengan pernikahannya kali ini." ucapku tanpa beban
" Iya semoga saja ibu berharap seperti itu supaha tidak terus menerus ganggu hidupmu nduk." ujar ibu
" Hust bu,tidak baik berkata seperti itu." bapak menimpali ibu dan memperingatkan ucapan ibu
" Lho ya kan memang kenyataanya benar toh pak,selama ini kehidupan anak kita terus dirong rong oleh gadis itu demi kepentingannya sendiri,ibu kan jadi kesel sama gadis itu pak." ucap ibu dengan emosi meledak ledak
" Ya sudah lah bu,yang sudah terjadi biarkan semua terjadi,yang penting anak kita sebentar lagi juga akan menemukan kebahagiannya,dan juga gadis itu biarin saja dia kan juga punya orang tua yang masih bisa mengurusnya." ujar bapak
" tetep saja ibu tidak terima pak jika mengingat perbuatan mereka terhadap anak kita." sungut ibu
" sudah bu sudah." ucap bapak sambil menepuk bahu ibu supaya mengontrol emosinya
******
Drrrt Drrrrt.
[Assalamualaikum mbak bulan,maaf mengganggu,aku hanya ingin memberitahu mbak bulan jika hari ini aku akan melangsungkan pertunangan,sekaligus mengundang mbak bulan datang,apa mbak bulan bisa datang]
Ya pesan itu ternyata dari Zahra mantan adik maduku.
[Walaikumsalam Zahra,Aku ikut senang mendengarnya,selamat ya semoga kamu bahagia]balasku
[Mbak,apa mbak masih marah padaku?]
[Tidak Zahra,rasa dendam dan sakit hati kini sudah ikut terkubur dengan perginya mas Adrian,cukup hanya kenangan yang manis manis saja yang perlu kita ingat.] balasku menahan sesak didada
[Maafkan aku ya mbak,jujur sampai saat ini aku masih sangat merasa bersalah padamu,andai saja mas Adrian tak menikahiku mungkin sekarang...]
[Jangan terus merasa bersalah Zahra,sekuat apapun kita melawannya jika sudah menjadi kehendak Allah pasti semuanya akan terjadi] balasku
[ Jadi Apa Mbak Bulan sudah Ikhlas memaafkam kesalahanku?]
[ Iya Zahra,insyallah aku sudah ikhlas menerima semuanya,lagian kamu juga masih sangat muda massa depanmu masih panjang,kamu berhak hidup lebih baik lagi dan bahagia] balasku
[Maaf Zahra sepertinya aku tidak bisa,karena aku masih banyak pekerjaan dan harus tanggung jawab dengan pekerjaanku.]
[ Jika memang seperti itu,aku minta mohon doakan aku ya mbak] balasnya
[Insyallah Zahra aku akan mendoakanmu semoga lancar sampai Hari pernikahanmu]
[ Terimakasih Asssalamualaikum]
[walaikumsalam]
Kuakhiri percakapan pesan dari Zahra,lalu kupejamkan mataku sejenak mengingat renteta kejadian yang dulunya membuatku benci setengah mati pada Zahra,dan semua hal tentangnya.aku hanya tidak ingin melihat lagi mukannya,hal itu akan membuatku tambah sakit,maka dari itu aku memustuskan untuk tidak bisa datang kedalam acara apapun tentangnya,karena jika dipikir pikir tidak baik aku menyimpan dendam padanya,toh semuanya sudah terjadi dan tugasku hanya bisa mengikhlaskan semuanya,aku yakin dibalik ini semua tersimpan hikmah yang besar,aku sadar selama ini aku juga bukan orang yang baik dan masih banyak kekurangan dan dosa jadi aku tidak sepantasnya mengjudge orang selamanya.biarlah semuanya berlalu tugasku hanya sabar dan ikhlas demi kedua buah hatiku.
Namun tiba tiba Bayangan sosok pria yang dulu sangat amat aku cintai itu sekelebatan muncul dihadapanku.seolah hadir dan duduk diseberangku
" Kamu harus tetap menjalani hidupmu dengan Bahagia."
Aku terpana menatap bayangan wajah mantan suamiku yang begitu tampak seperti nyata,terlihat aura wajahnya tampak begitu tenang sambil tersenyum kearahku
" Mas Adrian."Gumamku dengan tak percaya akan kehadiran sosoknya dihadapanku
" Jaga kedua Anak kita ya..maafkan aku yang tidak sempat membuat kalian hidup bahagia." Ucapnya
" Tidak mas,jangan bicara seperti itu." ucapku dengan lirih entah kenapa setiap mengingat bayangannya membuat Air mataku lolos begitu saja
" Selamat tinggal ..maafkan aku."
" Mass.." Lirihku dengan mata nanar
lalu tiba tiba bayangannya mulai mengabur,seiring dengab ku usapnya air mataku dipipi.lalu kurebahkan kembali diri ini untuk menetralisir rasa aneh yang menjalar dihati.sebelum akhirnya aku ikut tertidur pulas bersama Kedua Anakku kembali.
__ADS_1
Keesokan Harinya aku pun mendapat pesan dari Dokter damar calon suamiku
[Assalamualaikum calon istriku yang cantik] begitulah pesan singkat manis dari mas Damar
[Walaikumsalam mas]
[Besok ada waktu luang nggak,kita lihat gedung dan cari cathering yuk buat persiapan pernikahan kita lusa.]balasnya
[Insyaallah mas kalau nanti kerjaanku udah kelar aku usahain ya]balasku
[Bagaimana kalau kita ambil cuti pernikahan kita]
[Tapi aku yang nggak enak mas,apalagi aku baru bekerja dirumah sakit ini,nggak enak sama atasan mas]
[ Tapi Pernikahan kita tinggall dua hari lho sayang,kalau begitu biar aku saja yang ngomong ke kepala dapurmu]
[ Emmm jangan mas,biar nanti aku saja yang ngomong.] tolakku
[Nah gitu dong itu baru calon istriku.] balasnya ditambah emoji senyum
******
Keesokan Harinya seperti kesepakatan kemarin akhirnya aku sudah meminta ijin pada kepala dapur untuk libur hari ini.dan akhirnya diijinkan.setelah itu kami pun pergi ke pusat kota untuk mencari Wedding organizer sekaligus gedung yang sesuai dengan keinginan kami.
setelah memilih *W*O yang sangat terkenal dengan budget fantastis beserta gedungnya,mas Damar pun kini mengajaku menuju Restoran bintang limap dimana kami akan memesan cathering untuk acara pernikahan kita
" Kamu mau menu apa sayang,yang modern atau tradisional.?" tanya mas damar melihat beberapa menu direstoran tersebut
"Perpaduannya aja mas,asal cukup dengan budget kita sih." ucapku polos dan mas damar menjawil hidungku sambil terkekeh
" Kita ambil dua duanya ya sayang.lalu bagaimana dengan undangan pernikahan kita?" tanya nya lagi.
" Terserah mas saja,karena aku yakin mas lebih banyak jaringan pertemanan dan rekan kerja mas,
yang terpenting acaranya berjalan dengan lancar."
" Baiklah kalau itu maumu." ucapnya sambil memesan cathering makanan pada pelayan resort tersebut
"lalu bagaimana dengan souvenir.?" tanya mas Damar
" Aku belum sempat memikirnya mas,bingung juga." jawabku
" terus kamu maunya yang seperti apa?"
"Gimana kalau mama saja yang menentukan mas."jawabku singkat
"Hehehe kelihatannya pernikahan kali ini akan sedikit banyak menguras pikiran kita ya."ujarnya
" makanya kan dari awal aku sudah bilang,pakai konsep nikahnya sederhana saja,dirumahku dan hanya mengundang keluarga dekat kita saja." ucapku menawarkan ide pertamaku
"Ya nggak bisa gitu dong sayang,aku nggak mau,karena ini adalah momen sekali seumur hidup,jadi aku mau bikin yang berkesan buat kamu dan aku.nanti kita akan tersenyum bahagia mengenang hari pernikahan kita dihari tua kelak." ucapnya penuh dengan keseriusan
" Ya sudah lah mas,aku nganut aja sama kamu,asalkan kamu bahagia." jawabku
" Kamu bahagia tidak.menikah denganku?" tanyanya sambil tersenyum menggodaku
" Insyaallah mas,aku akan selalu bahagia bersamamu dan akan terus begitu."
" Terimakasih sayang." ucapnya sambil tersenyum manis padaku....
_ Bersambung_
Jangan lupa dukungannya jika suka.
insyaallah hari ini double Up.ditunggu ya
__ADS_1
Happy reading