
Acara Lamaran dadakan yang sudah diseting Dokter Damar pun sudah selesai.Semua orang yang tadi ikut antusias melihat pertunjukan gratis ini pun satu persatu membubarkan diri,dan tentunya tak lupa memberi ucapan selamat kepada kami berdua.
Senyum menggembang diantara kami pun terus memancar jelas bau bau Rona kebahagiaan diantara kami berdua.tak lama ibunda Mas Damar pun berpamitan pulang.dengan hangat dia memberikan cium pipi kanan kiri padaku sambil memberi beberapa ungkapan nasehat kecil pada kami berdua sebelum dia memasuki mobil Ferarri bewarna hitam miliknya.
" Mama pamit dulu ya Damar,bulan." ucapnya
" Iya tante,tante hati hati dijalan ya." jawabku dengan seulas senyum penuh rasa kesopanan sambil mencium punggung tangan miliknya.
sedangkan beliau pun membalas dengan anggukan kepala sambil mengelus bahuku.
" Iya mah,maaf Damar nggak bisa antar mama.karena masih ada jadwal piket." kata mas Damar
" Iya nggak apa apa." jawabnya." mama pulang dulu ya." pamitnya dan beliau pun langsung masuk kedalam mobil bagian belakang.tak lama kemudian mobilnya pun pergi meninggalkan Area rumah sakit ini.
" Gimana sudah lega kan sekarang.?" tanya Dokter Damar sambil berjalan beriringan denganku untuk kembali masuk kedalam rumah sakit melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda.
" Hemm sedikit sih,tapi tetap saja aku merasa belum percaya diri mas." jawabku pelan sambil diiring senyum tipis ,jujur itu yang sedang ku rasakan saat ini
" Kenapa?" tanya Mas Damar ketika kami saling sama sama berhenti,dan dia menatapku dengan sangat dalam
" Karena statusku yang,-----"
" Ssssttt." Satu jari miliknya menempel tepat di bibirku supaya aku tak melanjutkan ucapanku." Aku mencintaimu tulus Bulan,aku tidak pernah mempersalahkan dengan statusmu,bagiku itu tidak penting,karena aku benar benar mencintaimu." sambungnya lagi dengan tatapan penuh keseriusan.
sehingga beberapa detik kemudian kami saling berpandangan satu sama lain,hingga suara Kyla putriku terdengar memanggilku tepat dibelakang kami,sehingga membuyarkan lamunan kami berdua.
" Bundaaaaa."
Aku dan Mas Damar pun membalikan badan kami kebelakang,dan kudapati Putriku Kyla sedang berlari kearahku dan langsung memelukku,sedangkan Saga putraku berada dalam gendongan ibukku yang juga berdiri tak jauh dari hadapanku bersama sosok wanita muda yang tak lain adalah Zahra,mantan maduku.
" Ada apa sayang?Kok kyla tiba tiba datang ke tempat bunda kerja?Kyla kesini sama siapa?" tanyaku sebelum aku melihat Ibuku dan juga Zahra
" Sama Nenek,adek,sama tante itu bunda." Cetuanya sambil menunjuk kearah tepat kearah Wanita muda bergamis hijau muda yang berdiri samping ibuku
" Zahra,untuk apa dia kemari." Gumamku setengah kaget melihat kedatangannya kesini bersama ibuku.
" Lebih baik kita temui dia dulu bulan." ajak Mas Damar
" Iya mas." jawabku
Mas Damar pun meraih tubuh Kyla kedalam gendongannya,sambil berjalan beriringan bersamaku menghampiri Zahra dan Ibukku.
" Zahra..Ada perlu apa ya kamu kesini.?" tanyaku saat kami sudah saling berhadapan sedang Saga putraku langsung merengek minta ku gendong
" Mas Adrian saat ini sedang sekarat mbak,Dia mau ketemu sama mbak,Kyla dan juga Saga." Jawabnya langsung membuat ku sukses terkejut bukan main
" Apa maksudmu Zahra." kataku tak mengerti dengan ucapannya
" Dia memintaku untuk menjemput dan Anak anak mbak,mungkin saja dia mau berpamitan padamu untuk yang terakhir kalinya." Katanya yang langsung membuatku melotot
" Kenapa kamu berucap seperti itu Zahra,seharusnya kamu tidak bicara seperti itu,itu sama sama kamu menyumpahi suamimu meninggal." kataku yang langsung saja emosiku tiba tiba memuncak
" Tapi memang kenyataannya mbak,Harapany untuk hidup kian Hari semakin menipis mbak,semakin hari kondisinya semakin Drop." Jawabnya dengan wajah Gusar sambil sekilas melirik kearah Dokter Damar yang masih Diam menyaksikan Argumen kami berdua
" Seharusnya kamu sekarang disana Zahra,memberi dukungan dan Support supaya dia bisa berjuang melewati masa masa sulitnya saat ini,bukan malah datang kesini dan berucap yang tidak tidak." kataku sedikit emosi mendengar penuturan dan sikapnya saat ini.
" Tapi Mas Adrian sendiri sudah seperti menyerah akan kondisinya mbak,setiap hari dia merintih kesakitan dan selalu menangis." katanya dengan sudut matanya yang sudah berkaca kaca
" Ya Allah Zahra,kenapa bisa seperti itu." keluhku."aku juga sedang bekerja Zahra." sambungku lagi sambil menghela nafas dalam dalam
" Tadi aku juga sempat melihat mbak dan Dokter Damar mengadakan Acara lamaran bukan?setidaknya mbak juga harus bisa dong menyempatkan waktu untuk melihat kondisi Mas Adrian,karena Bagaimana pun dia itu ayah dari anak anak mbak." Cetusnya dengan gamblang enteng sekali dila berucap seperti itu.
" Kamu tidak perlu mencampuri hidup dan pekerjaanku Zahra,lagi pula aku juga sudah tidak punya hubungan apa apa lagi dengan kalian." ketusku yang langsung emosi mendengar ucapannya.
" Tapi Mas Adrian terus saja mencarimu mbak bahkan terus memanggil manggil namamu,aku juga sudah berada disampingnya,tapi dia sama sekali tidak menganggapku ada mbak." ucapnya disertai dengan air matanya yang sudah lolos dipipinya.
" Itu masalahmu bukan masalahku.!" Sentakku marah
" Sudah nduk sudah,lebih baik kita kesana saja,ibu takut terjadi apa apa disana." potong ibu menengahi perdebatan kami berdua.
" Sebaiknya aku kesana dulu ya mas,nanti aku akan izin sama mbak tia." ucapku pada Mas Damar
" Aku antar kamu ya bulan.?" tawarnya
" Nggak usah mas,mas masih banyak pasien yang harus mas tangani." tolakku halus
" Baiklah nanti kalau ada apa apa hubungi aku." katanya dengan penuh kekhawatiran
" Aku pergi dulu ya mas,Assalamualaikum."pamitku bersama ibu dan juga Kedua anakku bersama Zahra
" Hati hati walaikumsalam." Jawab Mas Damar sambil menatap kepergianku yang langsung masuk mobil Zahra bersama ibu dan juga kedua Anakku meninggalkan Halaman Rumah sakit itu.
Sesampaianya dirumah sakit kami pun langsung bergegas menuju Tempat Ruang perawatan Mas Adrian.dari ujung koridor tak jauh dari ruangan mas Adrian,terlihat beberapa santri yang tengah berjaga jaga diruangan Mas Adrian pun mondar mandir dengan Raut wajah penuh kecemasan dan Sedih.Didalam ruangan yang tampak berukuran besar,Kudapati kedua mertua Mas Adrian sudah menunggu disana,terlihat Uminya Zahra berulang kali menyeka air matanya,sambil menatap putra angkatnya itu yang tengah berjuang untuk hidup diatas brankar.
Ku lihat Saat ini Mas Adrian dirawat menggunakan alat bantu pernafasan yang lebih banyak lagi di tubuhnya.terlihat sekali Wajahnya sangat pucat lemah dan tak berdaya.
" Assalamualaikum." sapaku saat baru saja masuk kedalam ruangan tersebut
" Walaikumsalam ." jawab mereka semua bersamaan
Aku pun langsung menghampri Ranjang Mas Adrian dirawat dengan menggendong saga dan tangan sebelah kiriku menggandeng Kyla ,kedua anaknya.Aku tau saat ini aku tidak boleh membawa anak kecil masuk kedalam ruangan itu,tapi karena aku memohon untuk pengecualian akhirnya dokter dan perawat pun mengijinkan dan mendampingi kami masuk kedalam ruang tersebut.
Ketika melihat Kedua putra putrinya,raut wajah Mas Adrian sedikit berubah Ceria dengan mengulas senyum tipisnya meski aku yakin dia sedang menahan rasa sakit yang begitu dalam saat ini.
" Ky Kyla, Saga An anakku." Ucapnya pelan dan lirih dia begitu bersusah payah menyebut nama kedua anaknya.
" Bunda,Ayah kenapa?" tanya putriku dengan mimik wajah sedikit ketakutan memeluk perutku melihat kondisi tubuh Mas Adrian,yang terlihat hangus dan sebagian dagingnya mengelupas mengeluarkan Aroma bau nanah dan darah tanpa kulit.sedangkan Saga putra kecilku Langsung menjerit dalam tangisannya dan memalingkan muka kebelakang dalam gendonganku
" Huwaaaahhhhhh.yahhhhhh." Tangis Saga pun pecah.
__ADS_1
Lalu ibukku segera mengambil saga dari gendonganku dan mengajaknya keluar,menyisakan aku bersama Kyla ,Zahra dan juga kedua orang tuanya yang kini berada didalam Ruangan Mas Adrian.
( Astagfirullah ya Allah tolong beri kesembuhan pada Mas Adrian )
" Ayah Sakit Nak." Aku pun menjawab pertanyaan putriku dengan susah payah karena dadaku saat ini mulai sesak melihat kondisi Ayah dari kedua anakku.
" Ayah..ayah kyla kangen yah.." Putriku merengek dan ingin memeluk ayahnya,namun aku segera menahannya.bukannya aku tak memperbolehkannya memeluk ayahnya tapi aku khawatir Mas Adrian semakin kesakitan melihat kondisinya saat ini.
" Mas kamu mau apa mas?Biar Adek yang ambilin.?" tanya seseorang yang tak lain adalah Zahra istrinya.
Mas Adrian pun menanggapi dengan gelengan pelan,sambil beralih menatapku kearahku bersama kyla.terlihat dari tatapannya semakin gelisah sambil mengeluh dadanya sakit ..
Ayah mertuanya pun meminta santri sekaligus keponakannya yang bernama Aqlan untuk segera memanggil dokter kemari.
" Aduh u ummi sa sakit..bu bulan tolong sakittt." keluhnya pada kami,uminya pun datang menghampiri sisi ranjang sebelahnya lagi sambil menggenggam tangannya,sedangkan aku tidak bisa berbuat apa sambil berdiru mematung disampingnya sambil memeluk erat Kyla
" Bentar ya nak sebentar lagi dokter datang,istighfar ya putraku." Balas sang ummi dengan lembut.
Dan tak lama Dokter yang menangani Mas Adrian pun datang bersama beberapa perawat untuk segera memberi penangan pada mas Adrian.lalu kami pun Disuruh untuk keluar ruangan untuk sementara.
Namun disaat suasana genting seperti ini tiba tina saja ponselku bergetar.Dan ternyata Mas Damar yang tengah menelponku menanyakan keberadaanku sekarang,karena dari tadi aku belum mengabarinya.
" Hallo Assalamualaikum mas." Sapaku saat aku menjauh sedikit dari ruangan dan mengangkat teleponnya
" walaikumsalam bulan,kamu dimana sekarang,kenapa belum memberiku kabar?" tanyanya dari seberang sana
" Maaf mas,aku belum sempat menghubungimu soalnya waktunya sekarang lagi genting mas." Jawabku
" Apa genting?maksudmu gimana bulan?gimana keadaan Adrian.?" tanya diseberang sana dengan cemas
" Kondisinya drop lagi mas,saat ini dokter sedang menanganinya." ucapku
" Sepertinya Adrian harus secepatnya dioperasi bulan" jawabnya dari seberang
" Apa mas Operasi?" tanyaku terkejut
" Iya bulan,pencakokan Kulit.dia harus segera diberi perawatan lebih serius lagi,luka bakar Adrian sudah termasuk luka bakar tingkat akhir bulan,yang sangat membutuhkan treatment ekstra untuk pemulihannya,ini tidak boleh dianggap remeh." terangnya panjang kali lebar dari seberang sana
" Yang kamu katakan ada benarnya mas,karena sejauh ini yang kulihat belum ada penanganan serius pada Mas Adrian." kataku pada mas Damar
" itulah sebabnya bulan,kenapa Adrian merasa kesakitan terus,hipotermia bahkan merasa kekurangan cairan dalam tubuhnya.jika terus dibiarkan saja hal ini bisa menimbulkan dia shock,bahkan bisa menyebabkan kematian mendadak bulan." katanya
" Astagfirullahaldzim." pekikku
" Kemarin tempo hari aku tak bisa bicara hal ini pada Ayahnya,karena khawatir membuat beliau tersinggung.lagi pula aku yakin dan berfikit jika mereka akan memberikan perawatan yang terbaik buat adrian seperti yang dikatakan beliau waktu itu,tapi kenyataaanya aku tidak menyangka jika sampai saat ini Operasi pun belum dilaksanakan." keluhnya dari seberang sana
" Kalau begitu aku minta bantuan padamu mas.?" jawabku
" Apa bulan?"
" Tolong Kamu sampaikan perihal operasi ini pada Ayah mertua mas Adrian,aku yakin beliau akan lebih mempercayaimu mas." Ucapku
" Baik mas sebentar aku kasih dulu ponselnya ke beliau."
" Jangan lupa nanti kamu kirim sharelok rumah sakitnya ya bulan."
" Iya mas "
Aku pun beringsut menghampiri Ayah Zahra,dengan sopan ku minta perhatiannya sebentar untuk berbicara dengan Mas Damar.
dan memberikan Ponsel yang kupegang padanya.
Pak haji pun Kini mulai berbicara dengan mas Damar lewat sambungan telpon.tak lama kemudian Pembicaraan mereka selesai dan ponsel pun diberikan padaku.
"Hallo bulan."
" Iya mas sudah kukirum lokasi rumah sakitnya." jawabku
" baiklah kamu tenang ya,aku akan segera kesana.Assalamualaikum."
" walaikumsalam." Dan sambungan telpon pun terputus
Setelah berbicara Dengan Dokter Damar,pak Haji pun kini berbicara dengan dokter yang menangani mas Adrian dan berunding supaya menantunya segera cepat mendapatkan penanganan.dan akhirnya setelah mereka sekeluarga berunding maka Operasi mas Adrian diputuskan dilakukan malam ini juga.
Setelah dokter itu pergi tak lama kemudian beberapa perawat datang menjemput Mas Adrian
ke ruang Operasi.
Kini brankar Mas Adrian mulai didorong keluar dari ruangan sebelumnya menuju ruang Operaasi.
lalu perlahan melewati kami semua.terlihat tangan mas Adrian melambai lambai pelan ingin menggapai supaya bisa menyentuh tanganku.
Ku hampiri dia sambil mengikuti kemana brankar itu didorong.sedangkan putriku terus saja memanggil ayahnya dengan tangisan penuh kepiluan.
" sabar ya sayang,ayah mau diobati dulu.kyla yang pintar ya doakan ayah." bisikku pada putriku sedang putraku kini sudah terlelap dalam tidurnya didalam gendongan ibu karena mungkin kelelahan menangis.
Putriku mengangguk pelan tanda dia mengerti dengan ucapanku,lalu dia pun beralih menatap pada ayahnya kembali.
"ayah ayah harus kuat ya,ayah yang pinter gak boleh nangis ya ayah.nanti ada Om dokter juga yang akan obati ayah supaya ayah cepat sembuh dan bisa main lagi sama kyla dan saga." Cicit polos putriku diiringi dengan Air matanya yang jatuh dipipi
Sedangkan Mas Adrian Terlihat terenyuh mendengar ucapan putrinya sehingga sukses membuat air matanya kembali meleleh.dengan tatapan sayu dan sedih serta bergetar lalu berkali kali mengucapkan kata maaf dan menyebut nama anak anaknya.
" Ma ma maafin A ayah Ya Ky Kyla.jika na nanti ayah nggak bisa bu buat Ky kyla dan Sa saga senang,to long ja jaga bu bunda ya nak." ucapnya dengan susah payah.
Putriku pun mengangguk pelan tanda patuh dan mengerti apa yang dikatakan ayahnya.
" Bu bulan maafkan a aku,ji jika aku ma mati to tolong am ampuni aku dan ja jaga an anak anak..."
" Jangan bicara seperti itu mas,kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa sembuh." kataku sambil terus mengikuti kemanapun brankar iku didorong hingga membuatku tak sadar dan Reflek telah menggengam tangannya untuk menguatkannya sambil air mataku sudah tidak bisa kubendung lagi.
Dan Akhirnya brankar milik Mas Adrian pun sudah masuk kedalam ruangan operasi dan tangan kami pun sudah saling terlepas seiring dengan ditutupnya ruang operasi tersebut.
__ADS_1
Zahra maupun keluarganya tidak bisa bereaksi apa apa,dan tidak banyak berkata mereka saling membisu dan sibuk dengan pemikiran mereka masing masing.namun sesekali kami saling bertemu pandang dan saling menghela nafas kami masing masing.
" Tante tante." tiba tiba saja putriku memanggul nama Zahra yang kini duduk tepat disebelah kami.
" Iya Kyla kenapa.?" tanya Zahra yang kini sedlang duduk bersampa umminya
" Ayahku celaka itu pasti gara gara tante kan.?" cetus kyla putriku yang langsung sukses membuat kami semua terkejut dengan ucapannya.
" Nak jangan bicara seperti itu." Tegurku pada putriku dengan berbisik
" Tapi benar bun,tante Itu tante Jahat seperti ibu peri hitam difilmya putri aurora.Kyla benci sama tante itu." Cetus Kyla dengan polosnya dan menatap Zahra penuh kebencian
" Kyla sayang nggak boleh ya ngomong seperti itu." peringatku dengan tegas
Sedangkan Zahra istri Mas Adrian disebut seperti itu hanya mampu terdiam dan menundukan kepalanya,sedangkan Aku malu sekali dengan Zahra dan orang tuanya kami saling memandangan satu sama lain melihat putri mereka dibilang begitu oleh kyla.
"Maaf Ya Zahra." ucapku pelan dengan rasa sungkan
Tak lama kemudian kudapati Sosok Pria tampan bertubuh tegap dengan baju kemejanya kami sedang berjalan tergopoh gopoh menghampiri kami,ya siapa lagi kalau bukan dokter Damar pria yang beberapa waktu lalu melamarku dan kini resmi menjadi calon suamiku.
Dia pun Langsung mendekat menghampiriku dan tak lupa mengucapkan salam pada kami semua.
" Assalamualaikum."
" Walaikumsalam." jawab kami semua
" Bulan kamu baik baik saja kan?" tanyanya menghampiriku
" iya mas aku baik baik saja." jawabku
" Adrian dimana?"
" sudah dibawa keruang oprasi mas." kataku sambil menunjuk ruang operasi didepan kami
" syukurlah." Desahnya pelan dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah sisiku.dia oun mengambil Kyla untuk duduk dipangkuannya.
kedua orang tua Zahra melihat dan memperhatikan kedekatan kami.mereka menatap kami dengan seksama dan melihat Gestur Mas damar yang sedikit berbeda perlakuannya pada kami.
Kulihat Ayah Zahra sedikit terkejut saat tak sengaja melirik jariku yang sudah terdapat cincin manis dengan Permata indah diatasnya.dan mungkin beliau paham dengan Gestur dokter damar yang tiba tiba datang lalu mengambil duduk tepat disisiku dan memberi perhatian padaku.
" Jadi kalian berdua sudah bertunangan.?" Tanya abinya Zahra pada kami
Mendengar ucapan Abinya,Zahra pun segera mendongakan kepalanya menatap kami dengan sedikit terkejut begitu juga umminya.terlihat sekali dari pancaran sorot mata Zahra terlihat tidak suka diliputi matanya yang terlihat memerah karena sedari tadi menangis
" Benar sekali pak,tepatnya tadi pagi saya resmi mempersunting Bulan sebagai calon istri saya,dan secepatnya saya akan menikahinya karena saya tidak mau berlama lama lagi untuk menjadikannya istri saya." Ucap mas damar dengan gamblangnya." Lagian Mendapatkannya butuh waktu lama pak untuk meluluhkan hatinya " sambungnya lagi diiring senyum mengembang dibibirnya
Hal itu membuat Haji Qosim terlihat gusar dan gelisah sambil membenahi kacamatanya,mungkin dia tidak nyaman dengan ucapannya.sedangkan aku menyenggol lengan mas damar supaya tak bicara aneh.hingga aku tak sengaja menangkap jelas tatapan berbeda dari Zahra pada kami berdua.entahlah aku sulit mengartikannya.
" Zahra jadi kamu tahu kalau mereka sudah bertunangan.?kenapa tak memberi tahu abi.?" tanya haji Qosim pada putrinya
" Zahra gak seberapa tau bi karena saat aku tiba dirumah sakit.acara mereka sudah selesai." jawab Zahra sambil terus menatap lurus kearah kami
Mendengar hal itu ayahnya hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah sambil melempar pandangannya kearah ruang operasi
" kalau begitu saya mohon minta doanya untuk keselamatan Adrian." ucapnya lagi
" Kami semua senantiasa selalu mendoakan untuk keselamatan Adrian,tapi yang sungguh saya sesalkan adalah tentang kelambanan penanganan untuk adrian." Timpall Mas Damar dengan gamblangnya.
Pak haji pun sejenak mengangkat wajahnya pelan dan menghela nafas panjangnya dengan raut wajah penyesalannya.
" Maaf." ucapnya lirih dengan wajah sedihnya
" Disini saya tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun.tapi yang sangat sayangkan dan sedikit gemas tentang penanganan adrian yang begitu lamban.kemana dokter dan perawat yang menanganinya,setiap saya berkunjung menjenguknya,tidak ada satupun orang yang menemaninya bahkan dia terlihat sendiri merintih kesakitan.padahal anda sudah memindahkan dari rumah sakit sebelumnya.menandakan seolah olah dia dibiarkan sekarat perlahan lahan." Kata Mas damar
" Jaga bicaramu dokter." potong ayahnya zahra tak terima." Kami sama sekali tidak pernah menyerahkan anak kami pada orang yang tidak tepat untuk merawatnya,karena kami memberi yang terbaik untuknya. " sambung ayahnya zahra berkilah
" tapi yang saya lihat kalian tidak terlalu memperhatikan kondisinya,itu yang sangat saya sesalkan.padahal dimassa seperti ini pasien sangat membutuhkan dukungan dan kasih sayang serta perhatian sehingga mampu melawan rasa sakitnya dan bisa segera sembuh." imbuh dokter Damar tak mau kalah
" Cukup dokter.kami mohon anda tidak menyudutkan kami lagi.saat ini kami masih dam keadaan sedih dan syok.saya mohon dok."Ujar Zahra menyela disela sela perdebatan mas damar dan abinya sambil mengatupkan kedua belah tangannya.
" Baiklah." jawab mas Damar pelan
Meski Aku tau ucapan dari Mas Damar yang gamblang itu mampu menyinggung mereka tapi aku tetap membenarkanya,karena memang itu kenyataannya.
Tiba tiba tak lama kemudian Ruang operasi pun terbuka,dan dua orang perawat terburu buru keluar.kami pun semua bangkit dari tempat duduk kami dan menanyakan keadaan mas adrian pada salah satu perawat itu.
" Gimana suster?" tanyaku
" Kami mohon doanya untuk pasien,karena kondisi pasien saat ini kembali down dan detak jantungnya mulai melemah.pasien mengalami kekurangan banyak energi dan cairan." kata suster itu
" Apa operasi suami saya dilakukan dengan kondisi yang tidak tepat sus.?" tanya Zahra dengan panik
" Ini Darurat bu.maaf saya harus memanggil tambahan lagi." ucap sang perawat itu dan langsung bergegas pergi menuju Lorong tempat dimana dokter lainnya berkumpul
" Ya Allah Mas Adri jangan tinggalkan aku." Zahrq pun langsung terduduk lemas sambil airmatanya kini bercucuran kembali
Melihat Ekspresi Zahra yang seperti itu membuat Kyla yang tadi duduk dipangkuan dokter damar pun mendongakan kepalanya sambil menatapku dengan tatapan penuh kesedihan
" Bunda Apa ayah akan meninggalkan kita.?" cicitnya polos disertai tangisnya lagi
Aku dan Mas Damar hanya mampu menghela nafas berat sambil mengusap pucuk rambut Kyla pelan
_Bersambung_
maaf ya upnya telat lagi n gak bisa double Up karena waktunya nggak sempet.tapi udah aku panjangin kok babnya.
Semoga suka ya
jangan lupa kasih dukungannya.
Happy reading.
__ADS_1