
Keesokan Harinya,kami pun berkumpul kembali di Ruang Makan,sambil memberitahu Keputusan kami berdua setelah semalam kami memutuskan langkah apa yang terbaik untuk Zahra.
" Zahra,boleh kami bicara sebentar." kataku sambil melirik kearah ibu supaya membawa anak anak masuk ke ruang keluarga terlebih dulu supaya tak mendengar perbincangan kami,karena kebetulan hari ini hari weekend jadi semua pada berkumpuo dirumah.
" Kyla,Saga yuk ikut Nenek kita lihat acara doraemon kesukaan Kalian." Ajak ibu pada kedua anak
" Oke nek." jawab Kyla dan Saga kompak.lalu bangkit dari tempat duduknya bersama ibu menuju ke ruang tamu.
Kini hanya tinggal aku,mas damar,bapak dan juga Zahra yang masih diruang meja makan tersebut.
" Gimana mbak.?" tanya Zahra menatapku dan Mas Damar secara bergantian
" Gini Zahra,sebelumnya saya minta maaf bukannya kamu membenci atau tidak mau mengajakmu untuk tinggal di rumah mama atau pun bersama kami disini,tapi masalahnya ini sangat serius,kami tidak ingin terlibat lebih jauh lagi ,mengingat ini masalah yang cukup serius jika kami memaksakan kamu tetap tinggal disini." ucapku dengan Tegas sedangkan raut muka zahra sudah mulai berubah tegang.
" Tapi bukannya tadi malam mbak dan mas bilang mau menampungku disalah satu rumah kalian.?" tanyannya dengan sorot matanya yang mulai terlihat sangat cemas
" Aku tadi sudah membooking kamar disebuah Hotel yang tak jauh dari pusat kota ini,untuk sementara waktu kamu tinggal disana,jadi mungkin mereka tidak akan tau jika kau tinggal disana.!" kata suamiku tanpa diganggu gugat.
" Tapi kan mereka bakalan cari informasi mas tentang keberadaanku,apalagi sekarang semuanya serba online,belum lagi Abiku juga banyak punya jaringan disini,aku takuf mereka bakalan tetap menemukanku,dan itu bukan hal sulit untuk abiku mbak mas." Bantah Zahra dengan tatapan memohon pada kami.
" Kau tenang saja aku tidak akan membooking atas namamu atau nama siapapun yang menyangkut dirimu termasuk namaku atau ama istriku,aku akan membooking atas nama orang lain." ujar mas damar dengan tegas,sedangkan aku dan bapak hanya diam menyimak perdebatan mereka
" Tapi mas.---"
" Aku tidak suka dibantah Zahra.!" kini kata kata yang keluar dari mulut suamiku terdengar begitu tegas dengan menatap tajam ke zahra,aku yang duduk disampingnya mengelus pundaknya untuk menenangkannya.
" Baiklah jika memang begitu keinginan kalian,aku akan menerimanya." ucap Zahra ,dia hanya msmpu menghela nafas lelahnya sambil tertunduk lemah.
Kemudian Suamiku pun mengambil Ponselnya dan menghubungi salah satu temannya untuk datang kesini.untuk menjemput Zahra istri dari mendiang alm mas Adrian.
tak lama kemudian datang lah satu orang laki laki ke rumah kami yang ternyata adalah teman mas damar.
" Saya titip saudara istriku ya Ren,antar kan dia ke Hotel yang sudah ku pesan tadi atas namamu." ujar mas Damar pada temannya yang bernama Reno
" baik lain dam."jawab Reno sambil melirik sekilas kearah Zahra dan aku secara bergantian
" Thanks ya bro."
" Oke siap." jawab Reno menganggukan kepala
" Zahra sekarang kamu pergi sama Reno,dia temanku dia yang akan mengurusmu beberapa hari kedepan." ucap mas damar
" Mbak aku takut." Ujar Zahra padaku
" Nggak apa Zahra semuanya akan baik baik saja." jawabku meyakinkannya.
Setelah itu Mas Damar menyuruh Reno dan Zahra segera berangkat supaya tidak terlalu lama mengulur waktu,takutnya sesuatu Hal yang tidak diinginkan terjadi.dan mereka berdua pun akhirnya segera pamit untuk pergi dari rumah kami.
" Terimakasih atas bantuannya ya mbak ,mas." kata Zahra berpamitan sama kami,setelah tadi berpamitan Dengan ibu dan bapak
" Kamu hati hati Ya Zahra,aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua." jawabku sambil memeluknya sebentar
" Semoga saja mbak." jawabnya lesu
" Kami pamit dulu ya,Assalamualaikum." Ujar Reno
" Walaikum salam." Jawabku dan mas Damar kompak
Setelah itu Mereka berdua berjalan Menuju mobil Reno yang tak sudah berada dihalaman Rumahku,aku dan mas damar pun langsung Masuk kedalam,namun baru saja kami berada didepan Rumah sudah mendengar Keributan didepan halaman Rumah kami,ternyata Ada beberapa pemuda yang turun dari Mobil SUV yang tepat di depan mobil milik Reno.Aku dan mas Damar terkejut saat beberapa pemuda tersebut sudah menyerang Reno,dan Reno pun sudah terkapar disana.
" Hei hentikan." Teriak mas Damar menghampiri mereka yang tengah mengkroyok temannya itu,aku pun juga mengikuti langkah mas damar dibelakangnya.
" Lo nggak apa apa Ren.?" tanya mas Damar yang membantu Temannya Berdiri.
" Nggak Apa apa dam,sebaiknya Lo tolong wanita itu." tunjuk Reno pada Zahra yang sudah diseret paksa untuk masuk kedalam mobil kelima pemuda tersebut
Terlihat Zahra berusaha memberontak dan menoleh kearah kami lalu berteriak karena merasa dirinnya sedang terancam.
" Mas Damar mbak bulan Tolong Aku,Tolong." Teriaknya keras
Aku dan Mas Damar lantas berjalan cepat menghampiri Zahra yang tangannya kini tengah ditarik paksa oleh kelima pemuda tersebut
" Mbak Zahra,tolong jangan memberontak dan tetap ikuti kami,atau kami akan lebih memaksa mbak zahra lagi." Ancam salah satu pemuda itu
" Tidak mau aku tidak mau ikut kalian." Teriak Zahra." Lepas kan Aku Lepassss." Hardik Zahra sambil mencoba menarik tangannya dari kedua pemuda yang telah mencekal lengannya dengan kuat.
" Jangan menyulitkan kami mbak."
" Lepassskan Akuuu." teriak Zahra
" Hei Lepaskan Dia." Ucap Mas damar dengan lantang lalu menghampiri pemuda pemuda itu
__ADS_1
" Maaf Anda jangan terlalu ikut campur,karena ini urusan Kiyai pimpinan kami dan ini perintah." jawab salah satu pemuda itu dengan tegas
" Tapi kalian salah jika terlalu kasar dan memaksa Zahra seperti ini,terlebih Dia adalah putri pimpinan an kalian." Ujar Mas Damar
" Tolong Aku mas aku tidak mau ikut mereka pulang Ke rumah Abi." Zahra merengek dengan tatapan mengiba pada Mas Damar
" Lepaskan dia,kalian menyakitinya,karena terlalu keras mencekalnya." Hardik Mas Damar
" Jika kami Tidak mencekalnya keras,maka mbak Zahra akan memaksa kabur dari kami,dan itu akan menyusahkan kami pak,karena disini kami hanya menjalankan perintah." Tegas pemuda itu.
" Tapi tindakan kalian sudah terlalu kasar,kalian ini menjemput anak kiyai dari Pimpinan kalian,bukan menjemput seorang Penjahat." tuding Mas Damar pada mereka,lalu menarik tangan zahra yang sudah terlepas dari mereka
" Tolong mas Bantu Aku." Kini Zahra sudah berada dibelakang suamiku dengan wajah ketakutan memohon perlindungan,terlihat sekali raut wajahnya begitu tertekan.
Aku bisa memahami keadaan Zahra yang begitu masih terlihat sangat trauma selepas kepergian Mas Adrian,ditambah lagi sekarang dipaksa menikah lagi oleh Abinya,membuatku iba melihatnya.
" Kalau begitu Kalian Hubungi Haji Qosim,aku akan bicara padanya." kata Mas Damar
Kelima pemuda itu saling Pandang satu sama lain,lalu salah satu dari mereka meraih ponselnya dan menghubungi Pimpinan mereka
" Assalamualaikum Pak Haji."
" Walaikum salam,gimana apa kalian sudah menemukan Zahra Putriku?"
" Mbak Zahra kini sedang Berada dirumah mbak Bulan pak,kami sedang Menjemputnya,tapi mbak Zahra menolak untuk kami jemput,bagaimana ini pak?"
" Tetap kalian paksa pulang,dan usahakan cepat naik ke mobil ."
" Hallo Assalamualaikum pak Qosim ini saya Damar suami bulan." tiba tiba saja Mas Damar merebut ponsel itu dari tangan pemuda itu
" Kau ternyata,apa maksudmu."
" Anda tidak bisa seenaknya memperlakukan anak anda seperti seorang tahanan yang dijemput paksa oleh santri santrimu." Cetus mas Damar
" Itu bukan Urusanmu Anak muda." Bentak Abinya Zahra dari seberang sana
" Saya tau itu memang bukan urusan saya,tapi karena Zahra Anak anda datang kesini dan meminta perlindungan dirumah kami,maka mau tidak mau kami harus ikut Terseret untuk tanggung jawab atas perbuatan anda pada anak anda." jawab mas damar dengan tegas
" Kamu jangan sok menjadi pahlawan anak muda,karena saya jauh lebih tau yang terbaik untuk masa depan anak saya!"
" kalau begitu bisakah anda menyuruh santri anda untuk tidak terlalu berbuat kasar padanya?"
" Apakah anda Memberi jaminan,jika anda tidak akan memaksa Zahra untuk menuruti keinginan anda menikahkan Zahra dengan pria lain?" tanya Mas Damar memastikan
" Hahaha memangnya apa urusanmu?jika aku tidak bisa menjamin,apa kamu yang mau jadi Suaminya?"
Aku dan mas Damar pun terkejut mendengar ucapan Abinya Zahra yang terdengar sangat frontal membuatku dan mas Damar menggelengkan kepalanya.
" Kenapa diam saja,Apa kamu takut menjawan?baiklah jika kamu tidak bisa memberi jawaban cepat kembalikan putriku.!" sambungnya lagi
Aku melihat Mas Damar menghela Nafas lalu memberi Isyarat pada Zahra untuk menurut saja apa kata ayahnya ,lalu memberikan ponsel itu kembali pada pemuda tadi.
" Kamu dengar kan Zahra permintaan Konyol dari abimu itu,sekarang lebih baik kamu turuti saja keinginan Abimu." Tutur mas Damar
" Tapi mas,----"
" Maaf Aku tidak bisa membantumu." Mas Damar angkat tangan soal ini,Zahra pun beralih menatapku.
" Mbak kumohon bantu aku,bukankah tadi mbak Bulan mau membantuku?" ucap Zahra dengan tatapan memohon dan mengiba
Mas Damar memberi isyarat gelengan kepala kearahku." Maaf Zahra aku tidak bisa." jawabku
" Tapi mbak. ." Rengek Zahra
" Bagaimanapun Kami tidak bisa terlalu ikut campur Dalam masalah mu ini Zahra,Karena ini menyangkut urusanmu dengan Orang tuamu,kami harap jangan memaksa kami.!" Tutur mas Damar dengan tegas
" Baiklah kalau begitu." ucap Zahra dengan sorot mata putus Asa
Akhirnya dengan perasaan Dongkol dan menyerah Zahra pun beranjak mengikuti Kelima santri abinya itu Untuk masuk kedalam mobil tersebut.
" Lepaskan tanganku,aku bisa jalan sendiri." Hardik Zahra lalu beralih menatap kami berdua sebelum masuk kedalam mobil." Aku takut mbak." katanya lirih
" Kamu pasti bisa zahra." ucapku menyemangatinya
" Lagian kenapa Abi dan ummi terlalu memaksaku menuruti keinginan mereka,tanpa memperdulikan perasaanku mbak." ujarnya lagi
" Sabar Zahra,mungkin Ini pilihan yang terbaik yang diberikan Abimu,semoga suatu hari hidupmu jauh akan lebih bahagia..." tuturku meyakinkannya
"Tapi aku tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaanku ,jika bukan aku sendiri yang mencarinya mbak." ucapnya lirih
" Jaga dirimu baik baik zahra."ucapku dan di jawab anggukan kepala lemah oleh Zahra
__ADS_1
Baru saja kakinya akan naik mobil,namun terurungkan dan Dia membalikan badan untuk lari kabur kearah jalan Raya, kelima pemuda tadi pun terkejut dan ikut mengejar Zahra yang telah berlari kabur dari mereka.
" Mbak Zahra Tunggu Jangan kabur." teriak mereka dan mengejar Zahra
Aku dan Mas Damar pun juga ikut terkejut melihat Zahra yang telah lari ketakutan menyusuri jalan Raya,akhirnya kami pun juga ikut menyusul mengejar mereka
" Ayo mas cepat tolong Zahra." pintaku pada suamiku yang masih belum ada reaksi
" Tapi bulan."
" Ayo mas cepat kita kejar." ucapku mengajak ikut mengejar Mereka
" Zahra tunggu Jangan Lari." Teriaku dengan langkah ngos ngosan.
Aku dan Mas Damar nyaris tidak bisa mengejar langkahnya karena Zahra lari terlalu kuat dan cepat.
" Sayang biar aku saja yang mengejarnya." pinta mas Damar dan aku menganggukan kepala memelankan langkahku tapi tetap mengikuti langkah Mas Damar mengejat Zahra
" Zahra Tunggu berhentilah,aku akan membantumu." Teriak suamiku berusaha menghentikan langkah Zahra namun wanita itu tidak menghiraukannya dan sesekali menoleh kebelakang melihat suamiku dan para pemuda tadi mengejarnya sedangkan aku berlari dibelakang mereka
" Aku tidak mau,kalian semua bohong kalian Jahat." tolaknya sambil berteriak dan terus berlari kencang
Saat Zahra berlari menyebrang jalan raya tiba tiba sebuah Mobil yang datang melintas pun tak dapat menghindarinya,hingga menghantam dan menabrak tubuhnya dengan kencang.hingga terkapar tepat ditengah jalan Raya
Brukkkkkkk
Tubuh Zahra pun Terlempar dan terpental saat bampar mobio tersebut menghantamnya membuatnya terkapar tak berdaya dan jatuh berguling guling dijalan Aspal.
" Ya Allah Zahra...." Teriaku histeris melihat tubuh Zahra sudah terkapar diaspal dengan darah segar yang keluar dari tubuhnya
Mulutku menganga menyaksikan kejadian itu,begitupun Mas Damar dan kelima tadi juga ikut terkesiap.
" Mas cepat bantu Zahra." Teriakanku menggema menyadarkan semua orang disana
Beberapa mobil mobil yang tengah berlalu lalang melintas pun berhenti,dan menepi untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan wanita yang masih lengkap menggunakan gamis kebaya berwarna putih itu tengah terkapar dengan posisi telungkup mengeluarkan darah segar diaspal.
" Permisi permisi Awas minggir " Mas Damar mencoba membelah kerumunan orang orang yang telah mengelilingi tubub Zahra yang sudah tak sadarkan diri itu. dan menemukan zahra yang wajahnya sudah bersimbah darah itu.
aku pun ikut syok dan Terkejut melihat Keadaan zahra,yang membuat jantungku untuk senam dipagi hari ini.
" Bulan Kita Harus segera membawanya ke rumah Sakit." Teriaknya lalu berusaha menggendong tubuh Zahra janda berusia dua puluh satu tahun itu
" I iya mas ayo cepat." ucapku gugup dan mengikuti langkah mas Damar yang tengah sigap membopong tubuh Zahra masuk kedalam mobil reno yang sudah menghampiri tepat didepan kami.sedangkan pemuda santri tadi masuk kedalam mobilnya dan mengikuti mobil kami.
" Apa yang harus kita lakukan mas?" tanyaku yang saat itu aku ikut masuk kedalam mobil dan ikut memangku tubuh Zahra yang sudah terbaring lemas di kursi bagian belakang bersama Mas Damar.
" Bangun Zahra bangun,buka matamu." Ujar mas Damar sambil mengguncang tubuh Zahra dan menepuk pipi Zahra supaya membuka matanya.
namun tetap tidak ada respon sama sekali dari wanita tersebut dan matanya masih terpejam
"Aku khawatir Nyawanya tidak bisa diselamatkan Bulan." ucap Mas Damar yang juga ikut membuatku khawatir
" Coba periksa detak jantungnya mas apakah dia masih hidup?"
Suamiku pun mencoba merabs denyut nadi dipergelangan tangannya." Masih bulan,tapi sangat lemah." ucapnya
" Ya Allah Zahra ku mohon bertahanlah." Desahku
" Reno tolong lebih cepat lagi mobilnya ren." pinta mas damar pada temannya
" Sabar Dam,jalanan lagi macet." ucap Reno sambil berusaha menerobos jalanan yang cukup ramai pagi ini
Tiba tiba saja tubuh Zahra terguncang lalu terbatuk batuk menyemburkan darah segar hingga mengenai baju kemeja suamiku
" Bangun Zahra ayo bangun buka matamu." Teriak mas Damar sambil mengguncang guncangkan tubuh zahra,yang berusaha membuka matanya namun setelah itu kembali tak sadarkan diri.
" Allahu akbar,cepat mas suruh cepat temanmu." pintaku dengan Nada suara khawatir
terlihat tubuh Zahra semakin lemah dipangkuan kami,membuat kami begitu panik dan khawatir.
" Hhsssss hsssgggg hahhhhhh."
Zahra berusaha mengais udara lebih banyak lagi meski dengan mata yang memejam dan setengsh kesadarannya.membuat kami semakin panik melihanya sedang meregang nyawa didepan mata kami
_Bersambung_
Maaf ya kalau Beberapa part bakalan Ada senam jantung terus ke depannya,bagi yang tidak suka othor tidak memaksa untuk tetap membacanya lagi,terserah para readers.yang jelas Othor akan tetap pada Awal alur ceritanya.mohon bersabar dan tetap ikutin alurnya ya.
buat yang tetap mengikuti Cerita ini Othor Ucapkan banyak terimakasih atas dukungannya memberi Like,komentar,favorit dan juga poinnya.
Happy Reading.
__ADS_1