
Sedari Pulang rumah sakit pikiranku sekarang benar benar kacau,memikirkan Nasib Mas Adrian yang kini sedang berjuang melawat maut.meski tadi Dokter bilang Operasi Mas Adrian Sudah berjalan lancar,namun Hingga kini Aku belum mendapat kabar mas Adrian sudah Sadar dan siuman.
Akhirnya Selang dari itu Aku pun mengajak ibu dan juga mas Damar besarta kedua anakku untuk pamit pulang.
Dan Dokter Damar yang mengantarkan kami pulang sampai ke Rumah.
" Terimakasih ya dok." ucapku setelah mobil mas Damar sudah sampai didepan rumah kami
" Kamu lupa bulan aku ini sudah resmi jadi calon suamimu." Bisik Dokter Damar ketika ibu sudah keluar duluan dari mobil dan masuk kedalam Rumah sambil menggendong Saga yang tengah tertidur.sedangkan Kyla kini masih tertidur dipangkuanku yang kini duduk didepan samping kursi kemudi
Aku pun mengulas senyum tipis kearahnya.
" Iya mas aku inget kok." ucapku
" Kamu baik baik saja kan bulan.?" tanyannya kembali
" Iya mas aku baik baik saja." ucapku dengan raut wajah sedikit gusar.terlihat sekali tatapan dokter Damar begitu khawatir melihat wajahku yang sedikit tegang karena fikiranku memang saat ini sedang di penuhi dengan kondisi Mas Adrian
" Ya sudah kamu jangan lupa istirahat ya." tuturnya lembut
" Iya mas makasih perhatiannya." jawabku sambil beranjak keluar dari mobil sambil mengangkat tubuh kyla untuk ku gendong,namun mas Damar langsung menahannya dan mengambil alih tubuh Kyla untuk digendongnya
" Biar aku saja yang gendong Kyla.aku antar sampai rumah." katanya dan aku pun menganggukan kepalaku.
Akhirnya kami pun Keluar dari mobil dan masuk kedalam,mas Damar langsung membaringkan tubuh putriku di ranjang tempat tidur bersebelahan dengan Saga yang sudah terlelap terlebih dahulu.
" Kalau begitu saya pamit dulu ya pak bu." ujarnya pada kedua orang tuaku sambil menyalami mereka berdua bergantian
" Hati hati ya nak Damar,sekali lagi ibu dan bapak ucapkan terimakasih pada nak Damar." kata ibu yang memang masih penasaran dengan Acara lamaran yang tadi dibilang oleh Mas damar didepan keluarga Zahra.namun ibu tak berani bertanya dulu karena menunggu penjelasan ku setelah ini
"Sama sama bu.kalau begitu saya permisi pulang dulu.Assalamualaikum." ucap mas damar dengan sopan
" Walaikumsalam." jawab ibu dan bapak kompak.sedangkan aku mengantarkan Mas damar sampai didepan Rumah
" Jangan terlalu banyak fikiran ya,jangan lupa istirahat setelah ini." ucap mas Damar
" Iya mas." jawabku
" jangan lupa makan sama minum vitamin." ucapnya lagi hah aku baru sadar ternyata dokter tampan ini ternyata bawel juga
" iya iya mas.sudah gih pulang udah malam." jawabku
" Jadi diusir nih?tega bener ngusir calon suaminya sendiri."Celetuk dokter Damar
" Ya Allah mas bukan begitu,kasian kalau terlalu malam kamu pulangnya,mas Damar kan juga capek butuh istirahat ." Ucapku tak enak dengannya
" Aku kalau udah lihat kamu tuh capeknya hilang,bawaannya malah pengen cepet cepet halalin kamu supaya bisa bersama kamu terus." Ujarnya disertai dengan Menyengir kuda
" Mulai kumat deh modusnya." Aku jadi salah tingkah akan ucapannya dan sedikit beban pikiranku jadi berkurang
" Lhoh serius ini." tatapannya begitu dalam sehingga membuat wajahku sedikit malu malu
" Iya iya udah ah dah sana masuk mobil gih." kataku menyuruhnya segera masuk mobil
" Iya iya bulan Sayang..."
Blussssssshhhhhhh
Mendengar ucapannya yang memanggilku dengan embel embel sayang seketika membuat Wajahku merah merona.sedangkan Mas Damar malah tersenyum menggoda kepadaku
" Cieeee pipinya langsung merah." Godanya lagi sambil menarik turunkan alisnya
" aduh apaan sih mas,udah cepetan masuk." ucapku sedikit salah tingkah karena mas damar terus saja tersenyum jahil padaku
" Dah malu malu dia.iya iya aku masuk." katanya sambil membuka pintu mobil namun langkahnya urung masuk kedalam mobil.
" Ada apa lagi.?" tanyaku sedikit Heran
" Oh ya aku lupa minggu Depan aku akan datang kerumahmu bersama mama untuk menemui orang tuamu." Ujarnya lagi
" Minggu depan.?" aku terkejut karena menurutku mendadak sekali." apa nggak terlalu kecepetan mas.?" tanyaku lagi
" Nggaklah bagiku itu malah sudah agak kelamaan,pengennya setelah ketemu orang tuamu besoknya langsung nikah." jawabnya santai
" Ya Allah mas.kok kelihatannya kamu itu udah ngebet banget pengen nikah." timpalku
" lah ngapain harus ditunda lama lama semakin cepat kan malah lebih baik,supaya aku bisa selalu bersama kamu dan juga menjagamu beserta Calon kedua anakku." jawabnya yang langsung sukses membuatku terenyuh kembali.
aku sangat bersyukur sekali atas kehadiran dokter damar Dihidupku pria yang menyayangiku dengan tulus dan menerimaku apa adanya beserta kedua anakku.
" Hei kok ngelamun." Tuturnya lembut saat aku baru tersadar dari lamunannya.
" Iya mas maaf." cicitku pelan
" Ya sudah aku pulang dulu ya." ucapnya lalu mencondongkan tubuhnya tepat di telingaku." Assalamualaikum Bulan Calon istriku." Bisiknya tepat ditelingaku
" Wa Walaikumsalam mas." jawabku dengan sedikit gugup karena tiba tiba saja jantungku berdesir hebat.sedangkan mas Damar malah tersenyum sanyum sambil masuk kedalam mobilnya
Setelah itu Mas Damar langsung melesatkan Mobil fortuner miliknya meninggalkan Rumahku.Sejenak perasaanku menjadi tak karuan akan sikap manisnya aku tau mungkin ini salah satu cara dia menghiburku supaya bisa sedikit lupa dengan beban pikirku tadi.Entahlah Dokter tampan itu selalu saja menggetarkan Hatiku.akhirnya aku pun masuk kedalam rumah ku dengan perasaan yang bahagia.
******
Drrrtttt Drrrrt
__ADS_1
" Hallo." Sapaku dengan mata yang masih terpejam
" Assalamualaikum mbak bulan,maaf malam malam saya mengganggu dan menelpon mbak,saya hanya ingin memberitahukan bahwa kondisi pak adrian sekarang sedang Gawat mbak." ucap suara dari seberang sana yang tak lain adalah Aqlan
" Apa?Gawat!?" pekikku setengah kaget lalu kedua mataku langsung melebar sempurna
" Benar mbak,pak adrian sudah gawat sekali kondisinya,sebaiknya mbak bulan datang kesini membawa kyla dan Saga." sambungnya dari seberang sana
Ku lirik sekilas jam Dinding,dan Waktu masih menunjukan pukul Setengah Dua dini hari.aku pun melihat kedua anakku yang kini masih terlelap disampingku,rasanya tidak tega sekali membangunkan mereka berdua.tapi Keadaannya sangat genting seperti ini.
" Mungkin Dia seperti biasanya,cuma down sebentar pasti kondisinya sebentar lagi akan stabil lagi." kilahku mencoba menghibur diri sendiri saat berbicara dengan Lawan bicara ku.
" Nggak mbak,kondisi pak adrian saat ini memang sudah gawat,beliau sudah kehilangan kesadarannya,denyut jantungnya pun sudah sangat lah lemah,lebih baik mbak segera datang kesini." pinta santri itu dengan suara bergetar dan panik dari seberang sana
" Benarkah seperti itu.?" tanyaku terperangah
" Demi Allah mbak,sungguh saya tidak bohong.
mbak Zahra dan kedua orang tuanya kini sedang menangisi kondisi pak adrian,setelah dokter memberi kode Gelengan kepala tanda semuanya akan berakhir." jawabnya terus mendesak
" Dari mana mereka bisa secepat itu menyimpulkan bahwa mas Adrian sedang meregang nyawa.?" bantahku tak percaya
" Sudahlah mbak,lebih baik mbak datang kesinj dan melihatnya sendiri sebelum semuanya terlambat."
Tutttttttttttttt
Aku pun langsung menutup panggilannya sepihak karena sungguh dadaku tiba tiba terasa sesak tak mampu lagi mendengar ucapan pemuda itu tentang kondisi Mas Adrian saat ini.
Aku pun tercenung sesaat memikirkan Tentang Mas Adrian,tiba tiba saja sekelebatan wajahnya muncul seolah ingin mengucapkan selamat tinggal padaku dan juga Kyla dan Saga.tiba tiba semua kenangan tentangnya pun tiba tiba datang bergulir,membuat semakin merasakan firasat tak nyaman.
Tanpa pikir panjang lagi,dengan masih menggunakan piyama lengan panjang dan juga celana panjangku,ku raih jilbab dan tasku yang diatas meja.Ku gendong Saga dan Kyla secara bergantian dan memasukan mereka kedalam mobil bagian depan.tak lupa aku pun memakaikan sabuk pengaman pada kedua anakku yang masih tertidur lelap itu.
Mendengar sedikit keributan diluar,ibuku pun langsung bangun dan menghampiriku yang memang niatnya akan berpamitan pada beliau
" Bulan ada apa nduk.?" tanya ibu ketika melihatku sedikit panik
" Bulan mau lihat keadaan Ayahnya Kyla bu.kayaknya Firasatku tidak enak bu." ucapku sambil mencium tangannya
" Lhoh nduk malam malam begini toh nduk.?" tanyanya dengan ekspresi cemas
" Iya bu,siapa tahu saja ini kesempatan terakhir kami bertemu bu." ucapku tanpa ku sadari
" Owalah nduk kok bisa begitu.terus kamu mau nyetir sendiri jam segini? ibu khawatir nduk? apa nggak sebaiknya kamu hubungi Dokter Damar dulu nduk.?" tanya ibu
" Nggak usah bu,bulan nyetir sendiri aja,lagian ini masih tengah malam." ucapku dan aku pun segera masuk untuk menyalakan mesin mobilku.
" Hati hati ya nduk."
" iya bu Assalamualaikum."
" Walaikumsalam." jawab ibu
Sebisa mungkin aku menepis rasa yang masih bergetar untuknya,bagaimanapun dia adalah Ayah dari anak anakku,seorang mantan suami yang dulu sangat aku cintai dan sayangi dengan sepenuh Hatiku.
berulang kali aku mencoba membohongi diri sendiri bahwa aku telah berhasil move one dan mampu melupakan dia namun jauh direlung hatiku sama sekali itu tidak mampu menghapus bayang bayangan dalam ingatanku.
jika boleh jujur masih sangat banyak ruang rindu untuknya yang masih membekas dihatiku.meski aku sadar jika aku salah telah membiarkan perasaan ini.apalagi mengingat statusnya yang kini hanya mantan suami dan mempunyai istri,sedangkan aku juga sudah resmi dilamar pria lain.namun tetap dalam situasi seperti ini aku tidak bisa memungkiri jika rasa khawatirku begitu dalam untuknya,meski Rasa sakit yang ditorehkannya juga dalam.tapi entahlah yang jelas aku sulit memahami perasaanku sendiri.
Kulirik Saga dan Kyla yang kini masih tertidur pulas di kursi sebelahku,putri pertamaku begitu cantik dan menggemaskan dengan alis lentik dan bibir tipisnya serta hidung minimalis karena tertumpuk oleh pipi gembilnya.sedangkan Saga putraku Dia seperti Fotocopy Kecil mantan suamiku.wajahnya rupawan dengan kulit putih bersih dan hidung mancung serta mempunyai mata sipit seperti Mas Adrian,Mereka berdua adalah bukti cinta dan komitmen kami ketika mengarungi biduk rumah tangga selama 7 tahun lamanya,dan berharap meraih massa depan bersama,sebelum Akhirnya kandas menghancurkan harapan kami semua.
Sesampainya dirumah sakit,aku pun membangunkan kedua anakku dengan lembut untuk menjenguk Ayahnya.Kyla putriku sedikit Heran saat bangun dari tidurnya,karena sudah berada didalam mobil dan berada dibangunan rumah sakit.sedangkan saga masih terlelap hingga mau tidak mau aku harus menggendongnya.
" Bunda kita dimana?" tanya Kyla sambil mengucek ngucek matanya
" Kita dirumah sakit sayang,ayok kita lihat ayah."ajakku
" Tapi Kyla masih ngantuk bunda,lagian kenapa mesti malam malam kesini,memangnya ayah kenapa.?" tanya Kyla
" Makanya kita jenguk ayah sekarang ya,supaya kita bisa tau ayah kenapa." jawabku sambil mengelus pipi gembil putriku,dan dia pun menganggukan kepalanya.akhirnya kami pun turun dari mobil dan segera melangkah cepat menuju Ruang perawatan mas Adrian.
Dari ujung koridor telah kulihat kerumunan beberapa santri yang berjumlah sekita dua puluh orang telah menunggu didepan pintu ruangan mas Adrian,setelah tiba disana mereka pun datang menyambutku lalu mempersilahkan aku segera masuk kedalam
" Assalamualaikum."sapaku
" walaikumsalam."jawab mereka kompak
" Silahkan masuk mbak bulan." ucap Aqlan pemuda yang sekilas wajahnya mirip dengan mantan suamiku itu,dia mempersilahkan aku masuk kedalam dan membukakan pintu untukku dengan tatapan iba dan tatapan yang sulit kujelaskan
" Terimakasih." jawabku lalu langsung masuk kedalam sambil menggendong saga dan menggandeng tangan Kyla
" Assalamualaikum." sapa ku lagi ketika aku sudah masuk kedalam Ruangan mas Adrian.dan terlihat Zahra yang berdiri tak jauh dari brankar mas Adrian pun mendongak lalu menangis..
" Mbak bulan,mas Adri mbak." Serunya yang langsung menghampiriku lalu memelukku
" Kamu yang sabar Zahra,jangan menangis kasian Mas Adrian." kataku sambil menepuk pundaknya supaya bisa tenang.sedangkan Umminya kini tengah menangis disofa bersama abinya yang tak jauh dari brankar Adrian
Setelah Zahra melepaskan pelukannya,aku pun langsung mendekati sosok lemah yang sudah tergolek tak berdaya diatas ranjang itu.meski hasil oprasinya sebagian berhasil ditubuh Mas adrian sehingga tubuhnya kini sedikit Tidak terlihat bekas kebakar namun kini terlihat pandangannya mulai sayu,seolah sudah tak memiliki tenaga walau sekadar untuk membuka mata.
" Mas Adrian....."Ujarku dengan suara lirih dan sedikit berbisik tepat ditelinganya,kulihat wajahnya pun kini sudah berubah menjadi menguning sehingga membuatku tak mampu membendung lagi air mataku yang sudah lolos dipipiku
" Mas i ini aku....." Nada suaraku seakan tercekat seolah tak mampu lagi untuk melanjutkan ucapanku,lalu ku genggam tangannya seolah ingin menyalurkan sebuah energi untuk menyadarkannya dari kelemahannya.
" Bu bulan."bisiknya lirih dengan mata sedikit terbuka dan terus menggenggam erat tanganku
__ADS_1
" I iya mas."Aku pun merasa bahagia ketika dia berhasil membuka matanya walau sedikit susah dan mampu merasakan kehadiranku.
" A aku mi minta ma maaf bulan." ucapnya lirih dengan susah payah,terlihat dia mulai kesulitan bernafas dan tersengal sengal.
" Mas Istighfar Mas ucapkan Syahadat sebut nama Allah mas." aku pun sedikit panik melihat keadaanya seperti itu.
Tangan Mas Adrian kurasakan mengeluarkan keringat dingin dan gemetar didalam genggamanku,terlihat dia amat sangat tersiksa dan kesulitan untuk bernafas
" Mas Ucapkan Lailahaillallah mas." bisikku tepat ditelinga kanannya dengan Deraian penuh air mata
Aku pun Berusaha membimbingnya untuk mengatakan Kalimat syahadat supaya keluar dari bibirnya.dan dengan susah payah dia mencoba mengikuti kalimatku dengan segala kemampuannya.
Zahra dan Kedua orang tuanya hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah sambil terdiam dan bercucuran air mata.lalu Zahra pun menghampiri suaminya dari arah berseberangan denganku.
" Mas Adri jangan tinggalkan aku mas Ya Allah ku mohon jangan tinggalkann aku.hiks hiks." terlihat Zahra sedikit mengguncang bahu mas Adrian seolah tak merelakan Mas Adrian pergi
lalu kedua orang tuannya memanggil dan ibunya mengajak Zahra untuk mundur karena waktunya sekarang sudah tidak tepat.
" Mas dengarkan aku ya ikuti ucapku." Seruku tepat ditelinga mas adrian dan diapun hanya menjawab dengan mengangguk lemah sembari terus menatapku dengan mata yang begitu sayu.
" Asyhaduallah ila Hailallah,wa asyhadu anna muhammadarrasulullah." tuntunku tepat ditelinga mas Adrian
Bibirnya pun seketika bergetar,demikian pula tubuhnya pun ikut berguncang kedual bola matanya kini sudah tidak memperlihatkan iris matanya lagi.dan kini dia mulai menghadapi sakaratul maut.semakin kencang tubuhnya terguncang,maka semakin kuat kubisikan kalimat sahabat ditelinganya.hingga akhirnya dia mampu mengucapkan kalimat syahadat tersebut disela sela kesakitannya.
" Asy-hadu-allah-ila-hailallah-wa-asyhadu-anna-mu-hammad-darrasu-lallah.A Allah Allah."
Sayup sayup ucapan itu mulai melemah diiringi dengan tarikan nafasnya yang juga ikut melemah lalu menghilang sama sekali.
" Innalilahiwainailaihi rojiun." ucapku pelan sambkl menutup kedua matanya
Ku tatap wajahnya yang kini sudah memucat dengan mata terpejam rapat.seketika itu pula aku sudah tidak mampu lagi membendung Isak tangisku yang sedari tadi ku tahan dada.
Adrian Firmansyah Sosok Yang dulu pernah menjadi imamku kini pergi untuk selama lamanya dengan status Sebagai mantan suamiku ayah dari kedua anakku.
" Ya Allah mas,kenapa harus pergi secepat ini." aku pun menangis dan sesekali mengingat ngingat semua lembar kenangan tentangnya
Lalu Zahra pun langsung berlari mendekat dan memeluk tubuh mas Adrian yang sudah tidak bernyawa lagi.terlihat dia begitu shock dan meraung raung menangis memanggil suaminya.
"Suamiku jangan pergi jangan tinggalkan aku kenapa harus suamiku , kenapa harus dia." dia pun menjerit dan meraung raung meratapi kepergian suaminya.
" Astagfirullah nak jangan seperti itu,relakan suamimu menghadap Allah,abi yakin Allah akan mengganti yang lebih baik lagi nak." ucap abinya yang berusaha menenangkan putri semata wayangnya.aku hanya bisa menggelengkan kepala lemah sedang umminya sudah tidak sadarkan diri dan dibawa keluar oleh santrinya
Mendengar hal itu membuatku Kyla putriku yang sedari tadi diam tersadar jika ayahnya kini telah pergi untuk selama lamanya.dan Tangisnya pun pecah diiringi dengan bangunnyap saga putraku yang juga ikut menangis.
"Bunda ayah meninggal ,ayah ayo bangun." Putriku memanggil manggil Mas Adrian sambil menggerak gerakan tangan ayahnya yang masih tertancap selang infus
" Ayah bangun,kemarin kan Ayah janji akan ngajak Kyla dan juga Adek main sambil jalan jalan beli es cream,ayo bangun yah bangun." ucap putriku diiringi isak tangisnya sedangkan aku menenangkan Saga yang sedari tadi menangis dalam gendonganku
Ku dekap putriku lalu kuajak untuk lebih mendekat kearah ayahnya.supaya memberikan kecupan terakhir dikening Ayahnya sebagai kecupan terakhir bersama saga adiknya.
" Ayo kyla ucapkan selamat jalan ayah,sampai ketemu nanti di surganya Allah " ucapku membibing Kyla
" Selamat jalan sampai ketemu kami disurga." cicit polos Putriku diiringi dengan isak tangisnya
" Bunda kenapa Ayah secepat ini ninggalin kami,padahal ayah sudah janji sama Kyla akan ngajak kyla saga main." cicitnya lagi
"sabar ya sayang Allah lebih sayanv sama Ayah, Kyla harus ikhlas dan doakan Allah supaya pergi dengan tenang ya Sayang,semoga Allah bisa mempertemukan lagi dengan Kyla dan juga saga supaya bisa bertemu disurganya Allah nanti." ucapku memberinya pengertian
Sedangkan Ku lihat Zahra pun ikut tak sadar diri dan dibopong keluar oleh para santrinya.
Ku pandangi wajah wajah sedih yang tengah mengiringi kepergian Mas Adrian.tim dokter pun datang dan segera melepas alat bantu yang masih menancap ditubuh mas Adrian.setelah itu mereka menarik kain penutup itu keatas untuk menutupi seluruh wajah Mas Adrian.
Namun sebelum kain itu tertutup rapat rapat menutupi wajah mas Adrian aku pun sempat menahan dan meminta waktu untuk melihat jelaa wajah mantan suamiku untuk yang terakhir kali.
" Bulan,aku sungguh mencintaimu bulan aku berjanji akan mencintaimu dan menjagamu sampai tutup usiaku ."
samar samar aku mendengar selentingan bisikan suara mas Adrian,beserta aroma bau tubuhnya yang tiba tiba kurasa memelukku sebagai tanda kehadirannya.aroma bau tubuh itu seperti aroma bau wanginya ketika akan pergi kemasjid semasa hidupnyaa.
" Ya Allah Mas..."ku hapus bayangan itu dari fikiranku dan menyeka air mataku
Tak lama kemudian kedua orang tuaku datang menyusul bersama mas Damar yang beberalap menit lalu aku memberi kabar kepergian mas Adrian.kedua orang tuaku dan mas damar pun turut mengucapkan bela sungkawa atas kematian Mas Adrian
Ayahnya Zahra pun kini sedang mengurus administrasi mas Adrian dan bersiap membawa mas adrian kembali dikota asal mereka dan dimakamkan disana.
Ketika brankar itu didorong melewatiku,aku pun menghampiri sekali lagi,meski aku tahu tidak dapat lagi melihatnya kembali.ku sentuh tubuh yang sudah terbujur kaku dan tertutup kain untuk yang terakhir kali.
" Selamat jalan mas,selamat tinggal tenanglah disisi Allah aku Ridho dan sudah memaafkanmu serta merelakanmu dengan ikhlas." batinku
Dan tak lama kemudian perlahan mayit pun dimasukan kedalam mobil jenazah,pintunya tertutup setelah Zahra dan kedua orang tuannya ikut masuk dan duduk didekat kerandanya
Dan Akhirnya mobil ambulans itu sudah bergerak meninggalkan Halaman rumah sakit.dan meninggalkan sejuta kenangan tentang Ayah dari kedua Anak anakku.
" Selamat jalan mas,selamat beristirahat dengan tenang,semua kenangan darimu akan ku simpan dalam hati sampai nanti."
_Bersambung_
Sampai sini gimana Readers?apa masih mau tetap lanjut bacanya?bagi yang tanya kapan karma Zahra dan Abinya muncul,sabar ya semua bertahap dan tetap ikutin sesuai alur cerita.
pasti mereka akan dapat karmanya masing masing kok tenang saja ya.
Emm kira kira enaknya dikasih visual nggak ya? terus memang iya dikasih visual tokoh yang bagaimana?
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukunglannya ya.
__ADS_1
Happy Reading