Perusak Rumah Tanggaku

Perusak Rumah Tanggaku
Semakin Parah


__ADS_3

" Bulan..."


" Ya dok.?" aku menoleh kearahnya


" Ini aku ada suplemen vitamin untukmu,untuk menjaga Kebugaran Kesehatanmu." Ujarnya dengan senyum meneduhkan dan menyodorkan Satu kantong plastik berisikan kotak tablet vitamin ,aku pun membalas dengan tersenyum


" Aduh Mas ,Jadi merepotkan nih..emm tapi Terimakasih ya."Ujarku


sementara beberapa teman kerjaku yang melihat posisi kami,pun ada yang menoel noel lenganku sambil mengedipkan mata kearahku. lalu melempar senyum senyum menggodaku ketika melihat Dokter Damar yang memberi perhatian padaku.


" Sama sama bulan,oh ya Bagaimana kabar kedua Orang tuamu?" Tanyanya dengan Senyum khas Ramahnya.


" Ahamdulilah ba baik dok,emm kok tumben tanya Dok?" Ujarku Ragu ragu dan sedikit salah tingkah


Dia pun tertawa kecil melihat Aku yang terlihat sedikit gugup."Memangnya nggak boleh gitu hanya sekedar bertanya tentang Calon mertua.?" kelakarnya dan dan Semua teman temanku menimpalinya dengan senyum meledek dan menggoda


Melihat Sorot matanya yang penuh berkharisma membuatmu semakin gugup dan salah tingkah apalagi tatapan tatapan jahil teman temanku semakin membuatku gugup.


" a anu dok itu,ya aneh saja gitu." Ucapku terbata bata


"Lhoh bukannya wajar antara pasien dan dokter saling memperhatikan dan berkomunikasi?ku kira tidak ada kok yang berlebihan." pungkasnya


"Tapi saya yang merasa sungkan dok anda sudah sangat baik dan perhatian kepada saya dan keluarga saya." Jawabku sambil menyembunyikan Rona merah dipipiku.


Perlahan Dokter damar pun mendekatkan wajahnya lalu berbisik kepadaku." kalau begitu mulai sekarang kamu bisa membalas perhatian untukku." Ujarnya lalu menarik wajahnya kembali dan mengulas senyum manisnya,membuat kedua bola mata ini melotot mendengar penuturannya


" Tapi dok,dokter kan tau sendiri statusku sekarang kalau aku masih mempunyai suami,dan aku pun juga belum siap dengan....." aku tak kalah berbisik menjawab pertanyaan dokter itu dengan suara pelan


"Ssssstttttt."Aku tertegun saat satu jari Dokter damar berada tepat didepan Bibirku meski jaraknya hanya beberapa centi dan tidak menyentuh dibibirku."Heeiii jangan salah paham,siapa yang memintamu membuka hati secepat ini." Ujarnya." Emm tapi berhubung kamu sudah menyinggungnya maka."Dia menjeda Ucapanya sambil menatap lekat lekat kedua manik mataku."Oke jadi ku putuskan Aku akan menunggumu." Tuturnya dengan suara lembut.


" Me menunggu?"tanyaku padanya,dan dia menganggukan kepalanya."Tapi kenapa harus aku?"Desisku dengan wajah tak percaya dan menatapnya lekat lekat.


Dia pun Menggaruk kepalanya yang tak gatal dan wajahnya berubah menjadi salah tingkah.


" Emm Entahlah mungkin karena ikutin kata hati Aja."


" Lalu kenapa Harus aku?"


Dia lalu diam dan menatapku tanpa menjawab pertanyaanku,lalu tangan kanannya pun terangkat dan memegang daguku lalu mengarahkannya


pada panel pantulan kaca pembatas dinding,mengisyaratkan supaya aku melihat kearah kaca tersebut.


Aku melihat Pantulan Diriku dibalik kaca tersebut.lalu dia pun mengulas senyum hangatnya kearahku.sungguh hal itu membuatku sedikit bingung dan Canggung


"Apa sih?" tanyaku dengan wajah heran


" Semoga suatu Hari kamu bisa mengerti semua ini." Jawabnya sambil tersenyum lalu berlalu dari Hadapanku.


" Ettt Ciye Ciyeeeeee...."


Seketika itu pula teman sekerja pun serempak menggodaku sambil mengulas senyum jahilnya.


aku pun menggelengkan kepalanya sebagai sebuah protes akan kejahilan mereka


" Sudahlah bulan terima saja dokter tampan itu."


cetus salah satu temanku.Irma


" Kamu cantik juga baik,pasti kamu cocok sama dokter tampan dan tajir itu." timpal salah satu temanku lainnya Mia


" isssshhh apaan sih udah dong jangan bikin gosip yang aneh aneh deh." tukas membela diri dan menahan malu


" Yaelah bulan,gimana sih kamu ini kok nggak banget,dokter tampan itu suka sama kamu Bulan." Ujar Mia


Aku membulatkan kedus bola mataku mendengar penuturannya." Ah jangan Menilai dengan asal deh mbak."


" Halah,bilang Aja juga suka bul,tuh lihat pipimu sudah merah seperti kepeting rebus gitu." Timpal Irma yang tak kalah menggodaku.


" Ih irma Apaan sih."ujarku malu malu.mereka pun tertawa riang karena berhasil menggodaku.


Segera ku langkahkan kakiku untuk segera pergi ke loker menghindari keusilan teman temanku,setelah sampai disana kuambil kaca Rias yang berukuran sedang yang selalu ku bawa kemana mana didalam tas kerjaku.lalu aku bercermin dan menatap wajahku dibalik pantulan kacaku.apa benar wajah ku terlihat merah merona setelah bertemu dengan Dokter Damar.

__ADS_1


Dan ternyata benar wajahku bersemu merah pipiku menjadi merah merona."astaga apa apaan ini." batinku.tidak tidak .tidak mungkin ini terjadi aku segera menepis perasaanku itu.otak kewarasanku muncul kembali aku ini masih berstatus sah istri Orang,karena Aku belum resmi bercerai dari suamiku.


Jika memang Dokter Damar menyukaiku kenapa dia tidak memberiku Jeda untuk menuntaskan urusanku terlebih dulu,paling tidak terlepas dari masalaluku.emm apa mungkin hanya perasaaniu saja,atau aku saja yang terlalu menunda menunda tentang keadaan ini,tapi Bukankah Gugatan ceraiku Masih tahap proses kan Harus bersabar lebih dahulu.


" Astagfirullahaldzim tidak,aku tidak boleh mikirin yang nggak nggak,aku sama dokter Damar cuma sekedar teman tidak lebih,jangan sampai menimbulkan Fitnah diantara Kami." Aku bergumam sendiri dan menghalau perasaanku yang sudah mulai gelisah tak menentu.


Tidak bisa ku pungkiri memang selama ini Mas Damar semakin terang terangan menunjukan perhatiannya bukan hanya untuk diriku saja tapi dengan Kedua anakku dan juga Orang tuaku juga sama,dia memperlakukan kami dengan lembut dan penuh perhatian,hal itu membuat fikiranku menari nari memenuhi otakku.Perlakuanya membuat perasaanku menghangat namun segera kutepis rasa itu ,ingin ku hindari dirinya,namun aku cukup tau diri,berkat bantuannya lah aku bisa mendapatkan pekerjaan ini dan bisa memenuhi kebutuhanku dan kedua anak anakku.


Tapi Manusiawi kan jika aku juga ingin merasakan Bahagia seperti Orang lain?bukankah aku pun juga Punya Hak sama seperti orang lain diluaran sana yang juga ingin dibahagiakan


Ya Allah maafkan Aku jika aku terlalu menuntut berlebih padamu tentang keadilan ini.


Jika Aku benar benar sudah hati Dengan dokter tampan itu maka Secepatnya aku harus menuntaskan dulu urusanku dengan Mas Adrian agar tidak menjadi bumerang dalam setiap keputusan yang kuambil.


*****


Rabu 29 April


Ku langkahkan kakiku untuk menuju dipengadilan Agama,tempat dimana aku mengutarakan Gugatan perceraianku,ku temui pusat Bantuan Hukum guna menanyakan berkas berkas yang masih kurang untuk segera kulengkapi.dan ternyata beberapa waktu lalu saat aku mendaftarkan Gugatanku aku lupa memasukan surat buku nikah Asliku.sehingga mau tidak mau aku harus mengambilnya dirumah Mas Adrian karena aku lupa membawanya.


Mereka memberikanku daftar biaya yang harus kubayarkan,serta menawarkan jasa pengacara namun aku menolaknya dan mengurusnya sendiri supaya Proses perceraianku semakim dipercepat.


"baiklah kalau begitu saya akan segera lengkapi berkas berkasnya yang masih kurang lengkap.kalau begitu saya pamit permisi dulu."Ucapku pamit sambil berdiri


"Silahkan bu." Ucap pihak hukum


Lalu segera kulangkahkan kakiku keluar dari tempat pengadilan itu,dan Segera menuju kerumah mas Adrian untuk mengambil buku nikahku,sebenarnya aku merasa Canggung untuk pergi kesana,tapi tidak ada pilihan lain supaya Proses perceraianku segera dipercepat dan Sidang segera digelar.


Setelah sampai disana ku ketuk pintu Rumah yang dulu sebelumnya tak perlu ku ketuk dulu dan langsung menyelonong masuk kedalam,namun semuanya kini sudah berbeda aku sekarang menjadi Tamu bukan Tuan Rumah lagi dirumahku sendiri,benar benar miris bukan?


Terdengar langkah kaki dari dalam sana menuju kearah pintu,dan Pintupun tak lama terbuka menampilkam sosok wanita cantik Bergamis pink muda itu yang tak lain adalah Zahra.nampaknya dia sedikit terkejut dengan kedatanganku kemari,namun dengan cepat wanita itu mengubah ekspresi keterkejutannya.


" Eh mbak bulan,ayo silahkan masuk mbak." Dia mempersilahkan aku masuk dengan wajah canggungnya


" Mana mas Adrian?" tanyaku tanpa basa basi


" Anu ada didalam mbak lagi makan." Ucapnya setengah gugup


namun Adik maduku itu hanya terdiam sambil mengangguk lemah dan memilin ujung jilbabnya terlihat wajahya malu dan Resah.aku pun menarik sudut bibirku ingin sekali aku tertawa keras saat ini.


Dulu Rumah ini akulah yang menjadi nyonya satu satunya dan Berkuasa di rumah ini,sekarang Ada Zahra yang sudah menggantikan memposisiku dan bahkan untuk bertemu dengan mas Adrian pun sekarang Aku harus berhadapan dulu dengannya


" Zahra,siapa sayang yang datang.?"


terdengar suara Mas Adrian memecah kecanggungan kami dari dalam dalam sana dan langkahnya mendekat kearah kami,ada Rasa ngilu mendengar Sebutan sayang tersemat di bibir Mas Adrian saat memanggil Istri barunya itu,segera ku tepis rasa sesak didadaku,kali ini aku harua kuat dan tidak boleh Lembek dihadapan mereka


" Eh ini mas Ada mbak bulan datang."Jawab zahra saat tak lama mas Adrian sudah muncul dibelakang Zahra


"Bulann...." Ucapnya lirih,dia begitu terkesima melihat kedatanganku.


" Kamu datang kembali?" tanyanya dengan sorot binar kebahagian.


"Aku datang kesini cuma mau Ambil buku nikas saja mas." Jawabku setengah ketus dan tanpa basa basi lagi.


" Untuk Apa?" Sorot matanya mulai meredup


Aku tak menjawab diapun terlihat tertegun dan mulai berpikir dengan kedatanganku kemari.


" Aku sudah mendaftarkan surat gugatan cerai kita mas dan aku datang kesini untuk mengambil buku nikah untuk melengkapi berkas berkasnya." jawabku


" Tapi aku tidak mau bulan,aku tidak pernah menyetujuinya." Ucapnya dengan tegas sambil menggelengkan kepalanya cepat.


" Mau tidak mau mas harus terima itu,meski kamu tidak setuju sidang perceraian kita akan segera terlaksana mas." Ujarku tak mau kalah darinya


" Tapi aku tidak pernah setuju untuk bercerai darimu bulan." Ujarnya penuh berapi api


" Semua Alasan gugatanku sudah terpenuhi dan diterima oleh pihak pengadilan." Jawabku


" Aku tidak setuju." Dia masih keukeh dalam pendiriannya


Aku pun tak ambil pusing dan tak menghiraukannya,lalu beralih menatap kearah Zahra yang masih berdiri disamping suamiku

__ADS_1


" Zahra tolong cepat Ambilkan buku nikahku di laci lemari Mas Adrian."


" I iya mbak." jawab Zahra dengan gugup


" Tahan Zahra,aku tidak mengizinkanmu mengambil buku itu."Bentak Mas Adrian dan sontak membuat langkah Zahra terhenti


" Baiklah kalau begitu aku sendiri yang Akan mengambilnya." Aku pun langsung melangkahkan kakiku menuju kamar utama kami dulu.


" Tunggu bulan,kau jangan Lancang!" teriaknya sambil menghalangiku masuk kedalam kamarnya


" Jangan mengundang perhatian tetangga mas!"sentakku." Awas minggir."


Mas Adrian pun mengalah dan membiarkan aku masuk kedalam kamarnya.betapa terkejutnya aku dengan pemandangan baru di kamar ku dulu bersamanya.Air mataku sudah meleleh secara tiba tiba.kamar kami dulu untuk berbagi cinta pun kini dalam waktu singkat sudah berubah.sprai diganti Badcover dengan warna merah menyala,furnitur semua serba baru,bunga mawar harum semerbak dan menggantung di vas kaca,semua serba baru,fotoku yang dulu menempel didinding pun kini sudah berganti dengan Foto milik Zahra dan Foto foto kemesraan mereka berdua.


" Masyallah cepat sekali kamarku ini berubah,wanita ini sudah benar benar bisa menguasai kamarku yang dulu bahkan sebelum aku resmi bercerai." Kuremat dadaku yang terasa sesak sambil menatap nanar isi dalam kamarku dulu


" Bulan maafkan Aku,aku dan Zahra tidak bermaksud untuk,----"


" Cukup mas!" sentakku sambil mengangkat tanganku untuk menghentikan ucapannya


Kuhampiri Lemari pakaian dan membukanya untuk mengambil beberapa berkas yang ku butuhkan.isinya pun sudah berbeda pakaianku pun sudah berganti dengan pakaian tidur seksi milik Zahra,hatiku nyeri dan ngilu melihatnya.


Ku buka laci kotak tempat menyimpan perhiasanku yang tersisa dan beberapa dokumen lainnya dan ternyata sudah berganti dengan Perhiasan milik zahra dan barang barang penting lainnya milik Zahra.


" Dimana baju bajuku Zahra.?" tanyaku pada istri mas Adrian


" i itu mbak anu..." dia terlihat panik dan gugup


" Zahra,kau taruh dimana pakaian Bulan?" Mas Adrian ikut menimpali pertanyaanku.


" a a anu mbak maaf." Cicitnya pelan sambil menunjuk kearah belakang kamar.


Lalu dengan langkah cepat ku buka pintu gudang kecil tempat dimana aku menaruh beberapa barang bekas yang sebelum aku berikan ke tukang loak.kebetulan gudang itu bersebelahan dengan kamar Mas Adrian


Dan benar saja semua pakaianku teronggok begitu saja bagai sampah bekas yang tak berguna didalam gudang tersebut.dan di ditumpuk di karton bekas yang tidak tertutup,sehingga kecoal maupun tikus bisa Bersarang disana.kedua bola mataku membulat begitu mas Adrian yang ikut tertegun melihat pemandangan menyesakan dada itu.


" Astagfirullahaldzim mas Adrian pakaianku kenapa begini.!"sentaku dengan penuh Amarah."kalian benar benar keterlaluan.!" Semburku sambil menatap tajam kearah mereka.


Terlihat mas Adrian sangat panik melihat aku memekik penuh amarah,tangannya mencengkram kedua bahu Zahra dan mengguncangnya.


" Zahra!siapa yang memintamu untuk melakukan semua ini.!" sentaknya dengan nada suara yang sudah meninggi.


" Maa maaf mas."Lirih wanita itu diiringi isak tangisnya.


Dengan Amarah yang masih meletup letup kupungut satu persatu pakaianku yang sekiranya layak aku pakai.beruntung beberapa pakaianku sudah ku pindah dilemari Milik Kyla dan sudah kuambil beberapa waktu lalu.Airmataku semakin deras dan membanjiri kedua pipiku.beberapa kali aku menyerkanya sambil memunguti pakaianku.


Mereka dengan terang terangan mendepakku dari Rumah ini,sengaja merendahkanku dengan cara melempar sisa pakaianku ke gudang bagai sampah bekas yang sudah tidak layak pakai.


mungkin ini cara mereka menunjukan jika sudah tidak membutuhkanku.Aku benar benar tidak bisa memaafkan dua manusia itu yang sudah merendahkan harga diriku.


"Terimakasih atas semuanya mas." Sengaja kutekan suaraku meski dengan suara lirih.


Terlihat mas Adrian menelan ludahnya dan menatapku nanar penuh rasa bersalah


" Bu bulan a aku benar benar minta maaf." Desisnya sambil ingin meraih tanganku namun segera ku tepis dan menghindarinya


" Sampai ketemu lagi disidang perceraian kita mas." Cetusku lalu aku beralih menatap zahra yang hanya bisa menundukan kepalanya." Dan kamu Zahra semoga suatu Hari Anakmu tidak merasakan Hal yang sama seperti itu,ingat Karma itu ada,dan aku percaya."Aku menarik sudut bibirku dengan mata memerah." selamat kamu pemenangnya.." ucapku dan langsung berlalu meninggal dua manusia tidak tahu diri itu.


Aku memang pergi dan meninggalkan semuanya,


Namun ingat Hati yang sudah tersayat sampai kapanpun akan tetap aku ingat,dan sampai kapanpun aku akan tetap tidak ikhlas .aku bersumpah akan tetap terus menyimpan luka ini.semoga kelak mereka merasakan Apa yang kurasakan saat ini.


_bersambung_


Happy reading


semoga suka


aku udah panjangin babnya ya jangan lupa tinggalkan jejaknya.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2