
Aku pun Mengeryit Heran dan Menatap mobil Berwarna putih yang tidak Asing bagiku itu,tengah berhenti didepan mobil kami.
Tampak sosok Pria bertubuh Tegap Tinggi lengkap dengan Jas Warna putih keluar dari Mobil tersebut.Siapa lagi kalau Bukan Dokter Tampan yang akhir akhir ini selalu mengundang Debaran Cinta padaku terus menerus saat ini.
" Mas Damar." Aku bergumam ketika Mas Damar melangkahkan kakinya menuju mobil kami.Dia pun mengetuk jendela pak Supir.
" Ini saya bayar ongkosnya pak,bapak bisa turunkan penumpang bapak,karena penumpang bapak saya ambil alih." Ujarnya sambil memberikan Tiga lembar uang kertas berwarna merah pada pak supir.
" Terimakasih tuan." Ujar supir taksi
Dia pun langsung beralih kebelakang dan membuka pintu mobil bagian penumpang,dimana aku duduk disana,lalu dia pun Meraih tanganku dan mengajak keluar dari mobil taksi tersebut.
" Mas."
" Sudah Ayo."ajaknya sambil terus menggandengku sedangkan mobil taksi tersebut sudah pergi.
" Lhoh bukannya tadi mas masih banyak Pekerjaan.?" tanyaku Heran
" Untuk memastikan calon istriku Aman,jadi Harus aku sendiri yang mengantarkan pulang,soal pekerjaan selama tidak darurat aku masih boleh minta izin untuk pulang cepat." Ucapnya
" Lhoh kok gitu sih mas,Rumah ku jauh lhoh nanti bisa menyita waktumu jika harus bolak balik mengantarkanku pulang mas." ujarku
" udah biarin,ayo cepetan masuk." katanya sambil membuka pintu mobil bagian Depan sedangkan aku masih diam Mematung
" Mau ku gendong nih." Kelakarnya sambil memberi ancang ancang menggulung lengan bajunya.
" Eh enggak enggak,aku bisa masuk sendiri." cegahku dan langsung masuk kedalam mobil,sedangkan Dia terkekeh melihat tingkahku.
Setelah itu dia pun memutar tubuhnya beralih masuk di kursi kemudi.tak lama kemudian Mas Damar langsung melajukan Mobilnya
" Bisa nggak mas kalau kamu jangan terlalu sering menyebutku calon istri." Ucapku setelah beberapa menit kami saling terdiam satu sama lain.dan Kini tengah berhenti di lampu merah
" Kenapa?kamu belum siap menerimaku?" tanyanya sambil menatap dalam Kearahku.
" Bukan seperti itu maksudku mas." Jawabku gugup
" Itu berarti tandanya kamu setuju kan?"
Hening
Hening
Hening
Sesaat kami saling terdiam satu sama lain,pandangan kami terus mengunci satu sama lain.Hingga akhirnya aku kembali membuka suara.
" apa lebih jangan terlalu terburu buru mas." Cicitku pelan
" Aduh maaf tadi ada nyamuk nakal dipipimu." Ucapnya sambil mengusap lembut pipi kananku.
Ku tampik segera tangannya dari pipiku,sedangkan Dia Terus mengulas senyum menggodanya kepadaku.
" Apaan sih mas,mana ada coba nyamuk didalam mobil." Cetusku sambil bibir mencebik
" Sengaja Aja." Ujarnya santa sambil terus tersenyum jahil kearahku." Habisnya gemes pengin cubit pipimu." sambungnya lagi disertai kekehannya
" Huhh dasar Modus." Cetusku sambil memalingkan wajah karena menahan malu.
" Cie gitu aja ngambek." Godanya sambil menjawil pipi sebelah kiriku.
" Apaan sih mas,nggak usah mulai deh." Kataku setengah merajuk
" Marah Aja cantik,apalagi kalau Senyum duh rasanya buat Hati Abang meleleh Dekkkkk.hihihi." Cetusnya yang terus menjahiliku
" Dih Gombal.inget Umur Dok.."
" Lhoh serius ini bulan." Ujarnya sambil sesekali menoleh kearahku dan terus tetap fokus menyetir
" Mas."
__ADS_1
" Hmmm.kenapa?"
" Bisa nggak kamu jangan terlalu memberi Harapan padaku,aku takut nantinya akan sama sama kecewa mas." Ucapku sambil menundukan pandanganku
" Berhentilah Dalam kesedihanmu bulan,mulai sekarang aku akan menghapus lukamu,percayalah Aku akan selalu ada bersamamu." Ucapnya sambil tangan kanannya meraih jemariku lalu digenggamnya erat
Aku mencoba menarik tanganku,tapi Dia malah semakin Menggenggam Erat tanganku sambil menatapku dalam.
" Aku Mencintaimu Bulan,Kali ini saja izinkan aku lebih lama menggenggam lebih erat lagi,supaya aku yakin jika cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." Aku pun diam mematung dan membisu mendengar kata katanya.
Tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi sudah berada didepan Rumah,aku segera melepaskan Tangan Mas Damar yang sedari tadi menggenggam Erat tanganku sambil terus fokus menyetir.ku lepaskan sabuk pengaman lalu ku tekan Handle pintu,namun tiba tiba saja dokter Damar menahanku
" Aku masuk dulu ya mas." Ucapku setengah Gugup
" Tunggu bulan." cegahnya
" Kenapa Mas?"
Perlahan dia mencodongkan Tubuhnya kearahku,dan pandangan kami pun bertemu kembali.
" Mas..."
" Aku butuh jawabanmu bulan,aku sangat mencintaimu,maukah kamu menerima cintaku?" tanyanya dengan sorot mata sendunya
" A aku..."
" Katakan bulan,katakan jika kamu mau menerima cintaku." Desaknya lagi dengan wajah serius
" Emmm."
" Tatap mataku bulan,katakan jika kau mau menerimaku,aku janji selepas massa iddahmu aku akan Melamarmu dan menjadikanmu istriku."
" aku takut nanti kamu menyesal mas,apa kata keluargamu,aku hanyalah seorang janda mas."
" Aku tidak peduli bulan yang jelas aku serius tulus sayang kamu dan juga Anak anak." ucapnya penuh ketegasan
" beri aku waktu mas." ucapku dengan Gugup
" Aku masuk dulu ya Mas ,terimakasih sudah mengantarkanku pulang,Assalamualaikum." pamitku dan Mas Damar pun menganggukan kepalanya
" Walaikumsalam." Jawabnya lirih sambil memandangi kepergianku yang sudah keluar dari mobilnya dan masuk kedalam Rumah
----
" Ya Allah aneh sekali tingkahku ini." ku pejamkan mataku untuk menetralisir getaran yang masih gemuruh didalam dada
Ku intip dibalik Gorden jendela,mobil Mas Damar perlahan pergi meninggalkan Halaman Depan Rumah.dan perlahan lenyap dari pandanganku
" Hayo lagi ngintip siapa sih nduk?" Suara ibu tiba tiba mengagetkanku dari belakang ,membuatku sedikit berjingkat kaget.
" enggak kok bu bukan siapa siapa." Dustaku
" Terus pipi kamu kelihatan merah merona gitu nduk kayak tersipu gitu?" Tanya ibu dengan selidik
" Apaan sih bu,enggak ada apa apa." elakku.
" Alah jangan bohong kamu,apa ada seseorang yang sedang menggodamu?" tanya ibu menahan tawa dan mengulum senyumnya
" Ya Allah bu nggak ada bu." aku tetap mengelak sedang ibu menatapku dengan tatapan jahilnya
" Tadi Ibu lihat Didepan ada mobil dokter Damar Lhoh." Goda ibu
" Ih bukan bu itu taksi Online."
" Hehe ibu Tau dan paham betul dengan perasaanmu mu nduk,karena kamu anak ibu." ucapnya
" Buuuu.."
" Sabar nduk,setelah urusanmu dengan Adrian selesai serta massa iddahmu sudah tuntas,sebaiknya kamu minta dokter damar untuk melamarmu supaya hubungan kalian segera disahkan." Ujar ibu yang sukses membuatku terkesiap mendengarnya
__ADS_1
" ibu salah paham bu,bulan sama dokter damar Cuma temenan saja bu nggak lebih." Ujarku tetap mengelak
" Tapi ibu melihata dari tatapan dokter damar ke kamu itu beda nduk,kelihatan kalau dia memang jatuh cinta sama kamu nduk."
" Haduh bu,bulan nggak tau ah maksud ibu."
" Ya Harus tau nduk." balas ibu sambil terkekeh pelan.
" Sudahlah bu jangan menggoda bulan terus,bulan jadi nggak nyaman bu." aku pura pura merajuk sedang ibu terus saja menggoda
" Dih anak ibu pipinya merona."
" Buuuù." Rengekku
" Yasudah Yuk kamu cuci tangan dulu,ibu sudah siapin Makan buat kamu,pasti kamu lapar." ujar ibu sambil mengajakku ke ruang meja makan." ibu sudah masakin sambil Korek ikan isin Terong goreng plus lalapan ditambah nasih anget kesukaanmu." sambung ibu lagi
" Makasih ya bu."
" Iya nduk."
Aku pun bergegas masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuhku yang sudah terasa Lengket,dan menyempatkan melihat Kedua buah hatiku yang kini sedang Menonton tv diruang tengah bersama bapak.
*****
POV AUTHOR
Prangggg
Terlihat Sosok Pria yang dulu sangat tampan kini tengah tergolek Lemah Di atas Brankar dengan Wajah yang sudah Tidak bisa dikenali lagi.Terlihat wanita berhijab Putih senada dengan Gamisnya itu hanya Bisa melihat saja dan mengeratkan tubuhnya didalam pelukan umminya.
" Ayo nduk bantu suamimu,mungkin dia Haus." Kata ummi menasehati
Zahra pun menggelengkan Cepat tanda penolakan darinya." Zahra takut ummi." Rengeknya
" tapi nduk dia suami kamu." Ucap ummi dengan nada memperingati
" Zahra nggak kuat Dengan Baunya Ummi,rasanya Perut Zahra ingin Mual."
" Zahra!" Hardik Ummi tak suka
tanpa basa basi lagi Dia pun langsung pergi meninggalkan Ruangan tersebut,sedangkan Umminya pun tidak habis pikir dengan sikap putrinya kali ini.
" Putri kita benar benar kelewatan kali ini abi." Ucapnya pada suaminya
" Sudahlah ummi,mungkin putri kita masih Syok.sebaiknya kita keluar saja dan menyuruh Aqlan Yang mengurus Adrian." jawab Abi dengan Ekspresi wajah Datarnya
" Tapi Abi kasihan mantu kita." ummi tetap keukeh
" Sudahlah ayo kita keluar,putri kita lebih membutuhkan kita." Ucap abi Dan langsung mengajak Keluar Ummi.
Tak lama kemudian Seorang Pemuda bernama Aqlan datang dan Melihat kondisi Adrian yang terus merintih kesakitan
" Pak Adrian ,apa anda baik baik saja.?" tanyanya dengan nada khawatir
" Bu bulann Bu lannn." Rintihnya dengan suara yang amat lirih dan pelan namun masih tetap bisa didengar oleh sosok pemuda itu
" Pak adrian butuh sesuatu.?" tanyanya
" A A Air Bu bulan." Rintihnya dengan suara lirih
" Sebentar ya pak saya ambilkan dulu." Ujar Pemuda itu dan langsung mengambil Segelas Air putih yang ada di atas nakas dan membantu Adrian untuk minum
" Pelan Pelan pak." ujarnya
Setelah itu tiba tiba saja tubuh Adrian menegang lalu Kejang kejang kembali,membuat pemuda itu semakin Panik.
" Astagfirullahaldzim." Pekiknya sambil menekan Tombol berwarna merah
Teeeeeeetttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
__ADS_1
_Bersambung_
Happy Reading