
" Ba bagaimana maksudnya...?" tanyaku pada Aqlan yang kini ku lihat gestur wajahnya setengah panik di balik dia mengemudi
Namun pria muda itu pandai sekali menyembunyikan wajahnya dan menetralkan kembali keadaannya dengan tenang dan santai menjawab pertanyaanku.
" Sebelum pak Adrian meninggal beliau pernah menitip pesan pada saya,supaya saya memastikan keadaan mbak bulan dan anak anaknya hidup bahagia,tapi ternyata yang kulihat malah sebaliknya...." jawabnya dengan santai dan mengulum senyumnya
" Itu berarti selama ini kamu diam diam memantau keadaan kami dong..?" tanyaku penuh selidik.
Aqlan pun mengangguk." Iya mbak,saya hanya sekedar ingin menepati janji saya pada alm pak adrian,supaya memastikan keadaan Anak anaknya hidup dengan baik dan wanita yang masih tetap dicintainya bahagia,itu semua sebagai perwujudan rasa penyesalannya karena telah menyakiti mbak bulan dan anak anak." Jawabnya dengan memberi Alasannya padaku
Aku menghela nafas kasar,mendengar penuturan dari Aqlan tentang alm mantan suamiku yang ternyata punya penyesalan karena telah menyakitiku,hatiku seakan teriris,bayangan masalalu bersamanya kini kembali melintas,biar manapun 7 tahun bersama mengarungi rumah tangga bukanlah waktu yang sebentar,jujur saja mungkin penghianatan yang dilakukan oleh mas damar juga sebagian dari kesalahanku juga.
karena semasa aku masih berstatus istri mas damar,terkadang bayangan masalaluku bersama mas adrian datang,dan aku mungkin memang terlalu naif,tapi aku tidak bisa memungkiri jika terkadang aku masih suka ingat kenangan bersama mas adrian meski statusku sebagai istri mas damar,tapi aku tak mengira ternyata aku mendapat balasan dengan cara ditumbangkan kembali rumah tanggaku lewat kehadiran masalalu mas damar.
entahlah apakah ini disebut karma untukku atau tidak yang jelas aku merasa seperti itu,walau aku tak pernah sedikitpun punya fikiran untuk menyeleweng meskipun alm mas adrian masih ada,hanya saja soal melupakan bagiku juga butuh proses,tapi Allah memang maha adil dia menegurku lewat apa yang sedang kualami saat ini,memang benar adanya jika apa yang kau tanam maka itulah yang akan kau tuai.
" Mbak bulan...?" panggilnya yang seketika membuyarkan lamunanku
" Iya." jawabku dengan sedikit canggung
" Anda baik baik saja kan.?" tanyanya memastikan dan ku jawab dengan anggukan kepala.
" Iya aku baik baik saja." jawabku sambil tersenyum
" Syukurlah,saya berharap setelah ini mbak bulan bisa menata hidup baru dan membuka lembaran baru bersama anak anak mbak bulan." ucap Aqlan
" Iya,mulai sekarang aku akan berusaha bangkit dan menata kehidupanku supaya lebih baik lagi,aku akan membuang semua masalaluku demi menyongsong masa depanku bersama anak anak." jawabku dengan yakin
" Alhamdulilah,apa pun keputusan mbak bulan dengan senang hati saya akan tetap mendukungnya." jawabnya membuatku terenyuh
" Makasih Aqlan."
" Untuk sementara mbak bulan tetap tinggal di apartemen saya terlebih dulu,sampai mbak bulan menemukan tempat tinggal yang baru,maaf bukannya saya sok lancang,tapi ini semua demi kebaikan anak anak juga." tuturnya.
" Tapi saya merasa tidak enak sekali sama kamu Aqlan." ucapku hati hati.
" Saya sama sekali tidak keberatan mbak,jusru saya senang karena bisa membantu mbak bulan kembali ." jawabnya sambil mengulas senyum
" Tapi saya juga harus cari kerja,untuk membiayai kedua anakku."
" Nanti Saya akan coba bantu mbak bulan cari pekerjaan buat mbak bulan,barang kali dikantor saya masih ada lowongan."
" Di kantor?kamu bukannya pengacara?" tanyaku sedikit terkejut
Aqlan pun menganggukan kepalanya dan tersenyum." Cuma sekedar buat sampingan saja mbak,tapi aslinya basic saya tetap seorang pengacara." tuturnya
" Oh.." aku manggut manggut mendengar penuturannya.
" Bunda.." panggil Kyla yang kini duduk dibelakang
" Ya sayang kenapa.?"
" Kyla kangen nenek sama kakek,main kesana ya bun,kan udah lama nggak berkunjung ke rumah nenek." Cicit Kyla yang spontan membuatku berfikir sejenak
Karena jujur sampai saat ini aku belum bertemu sama bapak dan ibu,malu harus berkata apa karena lagi lagi aku gagal dalam membina rumah tangga,apalagi dalam posisiku sekarang keadaan lagi hamil.tapi kalau tidak sekarang memberi tahu mereka.
"bun..."Kyla lagi yang langsung membuyarkan lamunanku
" Kenapa sayang.?" tanyaku sedikit gugup
" Kok bunda malah ngelamun sih,kyla pengen main kerumah nenek bun." Celetuk kyla
" Menurutku nggak masalah juga kok mbak nuritin Kyla,toh cepat atau lambat Orang tua mbak bulan pasti bakalan tau dengan keadaan mbak bulan sekarang." Saut Aqlan disela sela kebimbanganmu
" Tapi aku masih belum siap dan malu harus berhadapan dengan bapak dengan keadaan yang sama,yaitu gagal membina rumah tanggaku kembali Lan." Jawabku lirih
" Percaya sama saya mbak,inayaallah kedua orang tua mbak bulan pasti bisa menerima,mbak bulan tinggal jelaskan apa adanya saja dan tidak ada yang ditutup tutupi,insyaallah mereka pasti paham." jawabnya dengan mantap." toh mau sampai kapan mbak bulan akan menutupi keadaan mbak bulan terus menerus,pasti cepat atau lambat mereka pasti akan tau,dan tidak mungkin mbak bulan menyembunyikannya sampai bayi mbak bulan lahir,malah akan membuat mereka marah dan merasa tidak dihargai bukan." sambungnya lagi dan ku pikir memang ada benarnya apa yang dia katakan,bijak sekali dia.
__ADS_1
" Kamu yakin orang tuaku bakalan nerima keadaanku.?" tanyaku memastikan
" Sesusah apapun keadaan anaknya pasti orang tua akan dengan senang hati membuka pintu rumahnya lebar lebar untuk anaknya,apalagi untuk mbak bulan yang cuma putri semata wayangnya." ujar Aqlan
" Benar juga katamu,tapi jujur saya bingung harua memulai dari mana menjelaskannya,aku malu karena harus gagal lagi dalam mempertahankan rumah tangga,dan bapak nanti pasti shock sekali,apalagi bapak punya riwayat penyakit jantung,saya takut nanti beliau anfal lagi." Ujarku dengan wajah gusar
" Saya akan mendampingi mbak bulan,dan ikut menjelaskan jika mbak bulan perlu bantuan saya,dan memastikan semuanya akan baik baik saja." ucapnya dengan tersenyum
Aku pun menghela nafas." baiklah kalau begitu,saya nurut saja sama katamu."
" Ya jangan terlalu nurut sama saya mbak,entar malah jadi kecanduan lho,kan saya bukan imam mbak.." Goda Aqlan sambil tersenyum kecil
" Ishhhh apa sih." ucapku mengulum senyum
" Becanda mbak." ujarnya sambil tersenyum manis padaku.
Lagi lagi pria muda ini membuatku sedikit salah tingkah dan canggung,namun secepat mungkin aku menepis perasaanku supaya tidak terlalu baper dalam berbicara dengan lawan jenis,karena mulai sekarang aku hanya akan fokus pada anak anak saja,dan memikirkan masa depan anak anak,aku harus menunjukan pada keluarga mantan suamiku bahwa aku harus bisa jadi wanita sukses supaya tidak terus menerus mereka merendahkan harga diriku.
" Kyla saga sekarang kita on the way ke rumah nenek ya." Seru Aqla
" Hore...kerumah nenek." Wajah kedua anak anakku pun kembali ceria,dan kini mobil Aqlan pun sudah melaju arah ke rumah kedua orang tuaku.
_______
Setelah sampai didepan rumah bapak,kami pun segera turun dari mobil,terlihat bapak dan ibu sudah menyambut kedatangan kami
" Nenek...." Seru kyla
" Kakek...." Seru Saga
Kedua anak anakku langsung berlari kearah kedua orang tuaku yang sudah berada didepan rumah menyambut kedatangan kami,karena sebelum kami sampai,aku terlebih memberi pesan jika kami akan berkunjung,terlihat raut wajah ibu dan bapak sedikit heran dengan kedatangan kami
" Kyla saga ucap salam dulu dong."Seru Aqlan mengingatkan dengan suara lembut
" Siap Om.." Kata Kyla dan saga kompak
" Assalamualaikum nek,kek." Seru Kyla dan saga kompak
" Walaikum salam cucu cucu nenek dan kakek." jawab ibu dan bapak,dan langsung menggendong cucu cucunya
" Assalamualaikum bu pak." ucapku sambil menyalaminya bergantian.
" Walaikum salam." jawab ibu dan bapak." Lhoh kok kalian cuma bertiga mana suamimu nduk?" tanya bapak,sambil melirik kearah Aqlan yang kini ikut mendekat dan memberi salam dan menyalami ibu dan bapak bergantian
" Lhoh ini.?" tanya bapak lagi sedangkan aku masih belum menjawab pertanyaannya
" Assalamualaikum pak bu.." ucap Aqlan dengan sopan
" Walaikum salam." jawab bapak dan ibu
" Kamu bukannya,----"
" Saya Aqlan pak,keponakannya haji Qosim yang dulu pernah datang kerumah ini." jawab Aqlan dengan sopan
" Iya saya tau,terus ngapain kamu kesini." Tanya bapak dengan ketus dan wajah yang tak ramah
Aku yang melihat kecanggungan diantara mereka langsung memotong pembicaraan.
" Pak,bu izinkan kami masuk kedalam rumah dulu,nanti bulan jelasin pak." sahutku sedangkan bapak terus menatap tajam pada Aqlan dengan wajah tak bersahabat.sedangkan aqlan nampak sekali tenang
" Tenang dulu pak,benar kata bulan lebih baik kita ajak masuk dulu." ucap ibu
" Ya sudah kalian masuk dulu." ibu mempersilahkan kami masuk dulu sedangkan bapak sudah masuk dulan bersama cucu cucunya
Kami pun akhirnya masuk dan kini duduk di ruang Tamu.
" Jelaskan apa ini semuanya bulan,kenapa kalian berdua bisa bareng satu mobil,lalu dimana suamimu?" bapak langsung memberondong pertanyaan membuatku menghela nafas dalam dalam sebelum akhirnya aku membuka suara
__ADS_1
" sabar pak,tenang dulu,dengarkan dulu penjelasan anak kita." ucap ibu mengingatkan
" Bagaimana bapak bisa tenang melihat anak kita datang bersama pria lain sedangkan dia sudah punya suami bu,itu tidak baik dipandang orang lain." Jawab bapak dengan nafas yang mulai terengah engah
" Pak bu,Aku dan mas damar sudah resmi bercerai." Sahutku dengan suara penuh ke hati hatian
" Apa? Cerai.?" Pekik ibu dan bapak dengan wajah terkejut
Aku pun meringis melihat wajah mereka yang terbelalak,dengan pelan aku menganggukan kepala." Iya pak kami baru saja resmi bercerai.beberapa jam yang lalu."
" Ya Allah nduk kamu gagal lagi nduk.apa alasannya?" tanya bapak dengan matanya mulai memerah
" Mas damar menikah lagi karena harus bertanggung jawab pada janin yang dikandung oleh wanita masalalunya pak bu." jawabku dengan hati hati
" Apa?menikah lagi?"pekik bapak sedangkan ibu hanya bisa menangis dan memelukku yang terlihat mulai mulai gemetar
" Iya pak,mas damar menghamil wanita lain disaat aku juga tengah hamil anaknya." jawabku dengan gamblang ku iringi dengan isak tangisku
" Jadi kamu bercerai dengannya dalam keadaan hamil?" suara bapak mulai naik satu oktav dan terlihat sekali dimatanya ada kilatan kemarahan disana
" i iya pak,bulan terpaksa mengambil langkah iru,karena bulan tidak mau di madu untuk kedua kalinya pak."
" Dengan cara mengorbankan calon bayimu yang tidak berdosa begitu?" tuding bapak sambil menatap tajam padaku
" Maafkan bulan pak.lagi lagi membuat malu keluarga ini." Ucapku lirih
" Astagfirullahhh....." Pekik bapak sambil memegangi dadanya yang mungkin mulai sesak dan........
Brukkkk
" Bapakk...." Aku dan ibu menjerit ketika melihat tubuh bapak ambruk dengan nafas yang sudah tak beraturan,karena jantung bapak kambuh lagi
" Mari kita bawa kerumah sakit." Seru Aqlan sambil membantu membopong tubuh bapak keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil
Dan akhirnya kami pun membawa bapak kerumah sakit supaya mendapatkan penanganan medis.sesampai disana Aqlan pun memanggil perawat untuk membawakan brankar,dan lagi lagi Aqlan membantu menaikan bapak diatas brankar dan bapak pun dibawa masuk ke ruang UGD
sedangkan kami menunggunya didepan ruang Tersebut
Terlihat Mantan suamiku mas damar berjalan tergopoh gopoh menghampiri kami dengan memakai sragam dinasnya sebagai dokter.
" Bulan apa yang terjadi.?" tanyanya sedikit panik dan ingin menyentuh tanganku namun segera ku tepis,jujur aku masih sakit hati tentang perkataannya beberapa jam lalu waktu di kantor pengadilan
" Jantung bapak kambuh lagi." jawabku singkat tanpa menatap wajahnya
" Oke kamu tenang ya,jangan panik,biar aku periksa dulu keadaanya." jawabnya sok baik,namun aku membuang muka tak ingin larut oleh perkataan manisnya
" Iya.tolong beri penanganan yang terbaik buat bapak saya." jawabku terkesan ketus,namun di malah menampilkan wajah simpatinya dan tersenyum kearahku dan ibuku bergantian
" Pasti pasti,aku akan beri yang terbaik untuk bapak,kamu tunggu disini ya." tuturnya dengan lembut
Cuiiihhh rasanya kupingku gatal dan jijik melihat perlakuannya yang sok manis didepan ibuku,membuatku membuang nafas kasar ketima dia masuk kedalam ruangan dan memberi penanganan pada bapak.
" Anda baik baik saja kan mbak.?" tanya Aqlan memastikan
" Iya aku baik baik saja." aku pun menoleh kearah aqlan dan menjawab dengan tersenyum getir.
" Ya Allah semoga Bapak mu baik baik saja ya nduk." ujar ibu dengan wajah cemasnya,aku pun segera memeluknya dan memberi ketenangan pada ibu
" Kita doakan saja ya bu,semoga bapak baik baik saja." jawabku yang sebenarnya juga ikutan panik dan cemas ,namun sebisa mungkin aku harus bisa bersikap sedikit tenang supaya ibu juga ikut tenang
_Bersambung_
jangan lupa kasih dukungannya jika suka..
Terimakasih
happy reading
__ADS_1