
Setelah Kepergian Mas Adrian untuk selama lamanya,aku merasakan sesak nafas ditubuhku seakan separuh hilang begitu saja.Didalam mobil ku lirik kembali cincin pemberian dari mas Damar yang sudah melingkar dijemariku.cincin itu pertanda mengikatku kedalam sebuah jalinan yang lebih serius kedalam ikatan suci pernikahan.
Kemarin suasana hatiku begitu gembira dan penuh dengan tawa haru,tapi hari ini semuanya berubah menjadi hampa dan Hambar setelah kepergian sosoknya dalam hidupku.
Ku tatap wajah Kyla dan saga yang tengah tertidur pulas di kursi sebelahku,mereka tertidur pulas karena tadi lelah menangis dan memanggil manggil ayahnya.
Drrrrrttt drrrrttt
tiba tiba saja ponselku bergetar,dan ternyata ada sebuah pesan dari nomor baru yang tidak kukenal.
( Mbak bulan dimana,saya harap mbak bulan bisa ikut datang ke pemakamam mas Adrian mbak.untuk memberinya ucapan yang terakhir kali,aku akan pesankan tiket sekarang lalu mengirimkan kodenya ke mbak supaya mbak bisa berangkat secepatnya sekarang)
Kubaca pesan itu berkali kali dan aku yakin pengirimnya adalah Zahra.sejujurnya ingin rasanya aku pergi menyusul,tapi aku takut hatiku semakin tak tega dan tak kuasa ikhlas melepas kepergian mantan suamiku itu.dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak membalas pesan dari zahra dan memasukan kembali kedalam Tasku.
"Sudah lah sebaiknya aku tidak usah kesana,sangat tidak baik lagi karena saat ini aku bukan istrinya lagi." Gumamku dan kembali fokus mengemudikan mobilku.
Biarlah semuanya ku titipkan doa lewat angin yang berhembus dan mulai menjatuhkan rintik rintik hujan yang mulai membasahi kebut disore hari ini.semoga untaian doaku sampai padanya lewat sang pencipta.
Lalu ku turunkan kaca mobil dan mulai merasakan hembusan angin senja yang perlahan ku hirup untuk membungkus kepergiannya.sambil posisiku menyetir dengan sangat pelan pelan.
" Apa kau sedang merindukanku." tiba tiba saja aku merasakan sosoknya hadir,saat sapaan hangat suaranya tiba tiba saja hadir didekatku.ku tolehkan wajah sebelah kanan dan dia duduk disebelah sana menggantikan posisi duduk kedua anakku,sedangkak kedua anakku sudah duduk di kursi belakang dengan posisi tertidur seperti semula.
Terlihat sekali dia sangat tampan dengan mengenakan kemeja warna abu abu kesayangannya.senyumnya pun terlihat mengembang dan menawan menatapku.membuat tatapanku sedikit mengabur oleh Air mataku yang perlahan sudah mulai jatuh dipipiku.
" Sekali lagi maafkan aku ya,kamu harus kuat dan tegar demi anak anak kita,jangan lupa untuk tetap terus bahagia menjalani hidupmu." ucapnya sambil membelai pipi kananku dengan lembut sambil tersenyum hangat padaku.
Air mataku jatuh lolos begitu saja,sambil kukedipkan kelopak mataku,seketika itu pulang bayangan mas Adrian pun menghilang tanpa bekas,dan kini sudah berganti dengan posisi kedua anakku yang masih tertidur pulas disebelahku.
hatiku pun mulai gelisah sambil kutolehkan kekanan dan kekiri mencari sosoknya yang tiba tiba saja menghilang,sampai aku tidak fokus dan hampir saja menambrak seseorang yang sedang menyebrang jalan.untungnya aku dengan sigap mengerem mendadak Mobilku.
Srakkkkkkkk
" Astagfirullahaldzim." pekikku kaget saat mendapati soso pria paruh baya yang hampir saja tertabrak olehku.
aku pun langsung membuka kaca jendela ku dan meminta maaf pada beliau.
" Woi hati hati dong kalau nyetir,hampir saja menabrak orang." teriaknya sambil menatap tajam kearahku
" maaf pak maaf saya tidak sengaja." ujarku sambil menundukan kepala dan mengatupkan kedua mataku,lalu Orang itu pun langsung pergi dan aku kembali menutup kaca jendela mobilku dan kembali Fokus melanjutkan mengemudi mobilku.
Entahlah apakah saat ini aku sedang depresi atau sudah mulai Gila.ataukah ini hanyalah gambaran dari rasa cinta yang dulu pernah membuatku bahagia hidup bersamanya,sehingga tak lama kemudian Retak tanpa bisa dicegah lagi.
" Ya Allah kuatkan hatiku." aku mendesah pelan sambil menitikan air mataku.
Setelah sampainya dirumah,aku pun membangunkan Kyla putriku dan Saga putraku ku gendong untuk masuk kedalam.
Tiba tiba saja aku mencium bau kapur barus yang menyeruak di indera penciumanku yang entah dari mana arahnya.sejenak aku berpikir apakah ini suatu isyarat dari mas Adrian supaya aku datang di acara pemakamannya.atau hanya gangguan syaraf hidungku saja,sehingga membuat indera penciumanku sedikit terganggu.
Ku lihat ibu dan bapak sudah menungguku didepan teras rumah dengan wajah penuh kecemasan.
" Dari mana saja nduk kamu,setelah menyuruh ibu dan bapak pulang duluan bersama Dokter Damar.?" tanyanya ketika aku baru saja tiba masuk kedalam rumah
" Tadi bulan mampir ke tempat kerja dulu bu." jawabku dengan wajah lesu
" Lhoh kok kerja sih nduk?"
" Nggak kok bu,tadi bulan hanya pamit minta izin tidak masuk bu,setelah itu membawa Kyla dan saga ke taman untuk jalan jalan sebentar." jawabku
" Bapak tau bulan perasaanmu sekarang bagaimana,dalam keadaan sedih sebaiknya kamu tidak usah buru buru melupakan ataupun berpura pura bahagia.biarkan hatimu menerima dengan sendirinya." bapak menimpali percakapan kami
Mendengar ucapan bapak,mau tidak mau Aku sudah tidak bisa membendung lagi air mataku yang jatuh lolos di kedua pipiku.
"Bulan benar benar tidak tahu pak,perasaan apa ini yang jelas bulan merasa sedih sekali.." Aku terduduk dikursi Ruang tamu bersama bapak sedangkan kedua anakku sudah masuk kedalam kamar.
" masuklah ke kamar,bersihkan dirimu,dan beristirahatlah." ujar bapak dan aku menjawab dengan anggukan kepala
__ADS_1
Dengan langkah gontai aku pun masuk kedalam kamar,dan membersihkan diri.setelah itu aku pun mulai membaringkan tubuhku disebelah kedua anakku.
" mengapa wajahmu begitu terlihat lesu sekali?haruskah aku menggendongmu supaya membuatmu semangat kembali.?"Tiba tiba saja suara yang sering dulu ku dengar dari mulut mas adrian begitu terdengar jelas ditelingaku.
Kedua mataku yang tadi sempat terpejam pun kini mulai terbuka lagi,dan mencari arah sumber suara berada.
Deg
seketika kudapati sosok mas Adrian sudah Berdiri tepat di depan sisi ranjangku sambil mengulas senyum diwajah tampannya.aku pun mulai mengucek ngucek kedua mataku memastikan ini mimpi atau hanya halusinasiku saja
" Mas." Desahku pelan sambil menatapnya penuh tak percaya,tangan kanannya pun kini terulur menyentuh Pipiku sambil menatapku begitu dalam
" Kamu kenapa.?" tanyanya dengan lembut
" Tidak mas,aku hanya sedikit merasa sedih saja,tapi jangan khawatirkan aku,beristirahatlah dengan tenang mas." Aku berbisik pada diriku sendiri seolah tengah berbicara dengannya
" Kamu wanita hebat kamu terbaik." ucapnya dengan senyum lembut dan perlahan bayangan sosoknya pun pudar dan lenyap dari pandanganku
Drttt Drrrrt
Tiba tiba saja ponselku bergetar,dan ternyata panggilan masuk dari Mas Damar.
" Hallo assalamualaikum bulan,apa kamu baik baik saja." tanyanya dari seberang sana
" Iya mas aku baik baik saja." jawabku
" Kamu sudah makan belum?mau aku antarkan makanan kesana sekalian lihat keadaanmu." tawarnya dari seberang sana dengan suara khawatir.
" Nggak usah mas,tadi aku udah makan."
" baiklah kalau begitu kamu istirahat saja ya,nanti malam aku akan datang kerumah"
" Nggak usah mas, Sebaiknya aku sendiri saja dulu mas." tolakku halus
" baiklah kalau begitu kamu istirahat ya ,nanti kalau perasaanmu sudah membaik hubungi aku kembali ya,nanti kita bisa pergi makan malam bersama ." ucapnya dengan lembut
" Ya sudah kalau gitu Assalamualaikum. "
" walaikumsalam." jawabku
Ku tutup ponselku dan berusaha memejamkan mata kembali untuk mengistiratkan diri supaya pikiranku agak tenang.aku sengaja tak ingin menunjukan kesedihanku padanya. aku tidak mau bertemu dengannya saat ini disaat aku sedang bingung dengan perasaanku sendiri.biarlah aku melupakan massalaluku terlebih dahulu saat ini.aku tidak ingin Mas Damar menjadi korban pelampiasanku saat ini.setelah hati dan pikiranku tenang,baru akan Menemuinya kembali dengan perasaan jiwa yang baru.
******
Saking lelahnya tubuhku kemarin sore hingga aku terlanjur tidur dan baru terbangun dipagi ini.
aku pun mulai bangkit dan menyibak selimutku.
ternyata kedua anakku rupanya sudah bangun duluan dan diurus keperluannya oleh ibuku.
Tiba tiba saja ada sebuah notive pesan masuk dari ponselku,dan ternyata sebuah pesan Gambar Foto pusara Mas Adrian terpampang jelas disana.
Ku raba layar ponsel yang menampilkan gambar foto Pusar mas Adrian dengan Hati penuh gejolak,
aku berusaha menguatkan perasaanku sendiri,
aku harus sadar seharusnya aku tidak terlalu sedih berlebihan seperti ini karena secara teknis dia bukan suamiku lagi.
Aku seharusnya malu pada diriku sendiri dan keadaan,bahkan aku yakin istrinya sendiri pun belum tentu segila aku selepas kepergiannya.lantas kenapa aku yang harus bersikap seperti ini.
"Bunda..." tiba tiba saja Kyla putriku datang menghampiriku dengan penampilan sudah rapi dan sudah bersih sehabis mandi
Ku raih dia lalu ku kecup keningnya dengan lembut." iya ada apa sayang.?" tanyaku lembut
"Kyla kangen sama ayah." cicitnya polos
__ADS_1
"Emmm gini deh bunda mandi dulu ya sayang habis gitu kita main ke waterpark sama adek." ujarku mengalihkan pembicaraan
" Kyla nggak mau ayah,kyla maunya ketemu ayah." rengeknya pelan sambil menggelengkan kepalanya cepat.
" Nggak bisa sayang,saat ini Ayah sudah istirahat dengan tenang disurganya Allah.kita nggak boleh ganggu ayah,cukup kita kirim doa saja sama ayah." ucapku
" Aku mau ayah bun mau ayah hiks hiks hiks huwahhhh." Ucapnya disertai dengan tangisnya yang pecah
" Kyla tidak sayang dengarkan bunda." ujarku mencoba menenangkan putriku yang tengah menangis tersedu sedu." lagian kuburan ayah jauh sayang,jadi kita tidak bisa datang kesana."sambungku lagi
" kenapa tidak bisa bunda." cicitnya
" tempatnya jauh diluar kota nak,kita tidak boleh sedih dan terus mencari ayah nak,nanti ayah nggak tenang disana." kataku sambil berusaha menenangkannya.
"Ayah kyla mau ketemu ayah.huwahhh hiks hiks."
bukannya diam tetapi putriku semakin menangis tersedu sedu dan menjadi jadi.membuatku sedikit kesal dan terbawa emosi
" Kyla diamlah jangan nangis terus bunda mohon." bujukku
" Gak mau Kyla mau ayah hiks hiks. ayahh."
"Kyla diam! bunda bilang diam."aku tak sengaja membentaknya
Lalu ibu pun datang dengan langkah tergopoh gopoh dan langsung menggendongnya
" Owalalah nduk jangan marahin kyla nduk kasihan." tutur ibu setengah panik
Aku pun tersadar dan terduduk lesu dipinggir ranjang.
" ibu mengerti nduk pikiranmu sekarang masih kacau,kalau perasaanmu masih belum tenang,lebih baik kamu sendiri saja dulu nduk tidak usah pikirkan anak anakmu dulu." ujar ibu dengan lembut
Aku hanya menghela dan membuang nafas kasarku." mungkin pikiran bulan masih sedikit kacau bu."
" Iya nduk,tapi jangan terlalu dibuat kacau,yang sudah biarkan berlalu,kamu harus mulai bangkit dan talta hidupmu kembali nduk,apalagi Nak Damar dan juga Kyla Saga nduk,mereka sedang menunggumu untuk bersamamu,kasihan mereka nduk." ucap ibu dengan segala nasehatnya
" Apa mungkin saat ini sedang mengalami tekanan mental ya bu." desahku pelan sambil mengusap wajahku
"Lebih baik kamu pergilah untuk mencari tempat menenangkan diri nduk,kamu harus bisa berdamai dengan keadaan nduk,hidup itu terus berjalan,kita
tidak akan pernah bisa mengembalikan apa yang sudah pergi nduk,kamu harus segera bangkit dan menyongsong massa depan menjadi lebih baik nduk." kata ibu
" seandainya dulu bulan lebih bersabar dan tidak meminta pisah,mungkin semuanya tidak akan sekacau ini bu."Desahku merutuki penyesalan.
" tidak nduk ini bukan salahmu,kau melakukan ini semua karena terpaksa menyelamatkan perasaanmu sendiri dan juga harga dirimu nduk." ujar ibu mulai menenangkan pikiranku
" Aku yang egois bu aku,seandainya saja aku tetap bertahan padanya,mungkin rumah itu tidak akan mengalami kebakaran dan berubah fatal seperti ini bu." Rancauku sambil menerawang jauh
" Sudahlah nduk jangan terus bergumul dalam sebuah penyesalan." Ujar ibu." Sekarang istirahatlah ibu akan siapkan sarapan untukmu." sambung ibu lagi lalu menjauh dan menutup pintu kamarku dan keluar dari dalam kamarku
Aku pun kembali tercenung kembali sendiri didam kamar,mungkin yang dikatakan ibu benar jika sepatutnya aku tidak peerlu lagi memikirkannya.
semuanya sudah berakhir dan berubah menjadi kenangan untuk selama lamanya.
Drrrt Drrtt
tiba tiba ponselku bergetar kembali dan ternyata sebuah notif pesan Wa dari Zahra,ketika aku membuka pesan itu.
( mbak bulan aku hanya ingin menyampaikan satu lagi bahwa seluruh harta warisan mas adrian termasuk gaji mas adrian semuanya akan aku serahkan kembali pada Mbak bulan dan anak anak.)
Begitu lah isi pesan Wa nya,setelah itu aku mematikan ponselku dan memilih sementara waktu saat ini aku tidak terhubung dengan mereka teelebih dulu dari saat ini.sampai aku benar benar merasa lebih baik lagi.
_Bersambung_
Semoga suka ya
__ADS_1
happy reading