Perusak Rumah Tanggaku

Perusak Rumah Tanggaku
Terbakar


__ADS_3

Aku pun berlari Keluar dari rumah yang penuh manusia manusia laknat itu,aku sudah tidak bisa membendung Leleran Air mataku yang sudah deras jatuh di Kedua pipiku,sungguh aku sangat sakit Hati sama mereka.bayangkan saja mereka nyaris ingin membuatku tidak memiliki sepeserpun yang tersisa bahkan untuk kedua anakku pun mereka tidak peduli itu.


Mereka terus menghujamiku untuk mematikan langkah serta percaya diriku.bahkan mereka belum puas untuk terus mengintimidasiku di titik terakhirku.


Sungguh Rasa Benci itu kembali menyeruak batin sanubariku untuk mereka,aku benar benar tidak habis pikir dengan modelan manusia seperti mereka,bahkan yang aku sangat sayangkan adalah Ayahnya Zahra,seharusnya dia tau jika dia adalah tokoh masyarakat itu bisa memberi Contoh dan teladan yang baik,namun ini malah sebaliknya,penampilannya tidak mencerminkan sifat aslinya.


Hal itu tentu saja menimbulkan sudut pandanga pikiranku terhadap Beliau menjadi Negatif dan hilang sifar kewibawaannya.semua ambisi dan ketidakpuasannya seolah menutup mata batinny dan menghalalkan segala macam cara demi membahagia kan putri satu satunya,meski dengan Cara yang kotor dan Keliru seperti ini.


" Nyonya bulan tunggu nyonya."


Aku pun menoleh kearah belakang yang dimana sudah ada sosok pria yang tadi datang ke rumahku.


" Anda Akan kami antarkan pulang." Ucapnya lagi saat pria tersebut berhasil menghadang jalanku


" Tidak perlu!,Menjauhlah dariku !awas minggir." ucapku dengan ketus


" Anda akan kami kawal sampai Tujuan Anda Nyonya,dan ini sudah menjadi perintah dari Haji Qashim." Ucapnya


" Tidak perlu karena saya tidak butuh dikawal,lebih baik kalian urus saja nyai dan nyonya muda kalian." Semburku


" Tapi nyonya ini perintah."


" Saya tidak butuh itu." balasku dengan setengah berteriak membuat mereka terdiam


Lalu tak lama kemudian,tiba tiba ada suara wanita menghentikan langkahku.


" Tunggu Nak bulan." Aku pun berhenti dan membalikan badan menangkap sosok Yang ada dibelakangku.


"Ada Apa lagi?" tanyaku pada seorang Wanita berjilbab Ungu senada dengan gamisnya itu


" Nak bulan ummi cuma meminta maaf sama kamu atas kekeliruan kami,selaku orang tua dari Zahra nak bulan.mungkin tanpa sengaja kami sudah salah langkah karena melihat kondisi putri kami yang sekarang terpukul setelah kehilangan calon bayinya nak bulan." Ujar wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ummi Atun uminya Zahra.


Aku hanya mampu menghela nafas kasar dan menelan saliva ku yang Terasa tercekat di tenggorakan.


" Sejujurnya saya tidak ingin berbuat kasar pada Suami anda bu hajah,namun-----"


Dia pun langsung meraih kedua tanganku dan mengumpulkan dalam genggamannya.


" Ummi minta maaf dari Lubuk hati ummi yang terdalam sama kamu nak bulan,jujur Ummi sangat malu nak,maaf kan Keluarga ummi terutama suami Ummi nak bulan,dari kemarin saya tidak punya kesempatan untuk bicara,kali ini tolong ijinkan saya berbicara denganmu nak."Tuturnya dengan Wajah Gusar


" Maaf bu hajah Ini sudah terlalu malam,dan saya harus segerapulang." ucapku sambil melepas tanganku dari genggamnya.


" Ummi benar benar tidak tau jika selama ini Adrian sudah memperlakukanmu tidak adil nak,ini semua memang salah ummi dan Abinya Zahra nak."tuturnya dengan raut wajah penuh kesedihan.


"sudahlah bu hajah,lagian saya dengan mas Adrian juga sudah berpisah." jawabku


" Justru karena itulah nak puncak dari Dosa dosa kami,karena Putri kami Rumah tangga kalian menjadi Retak,ummi sangat berdosa sekali nak." Ucapnya dengan tatapan wajah penuh Penyesalan


" Mungkin ini sudah takdir kehendak yang maha kuasa." Desahku pelan.


" Saya Mohon sama kamu nak bulan tolong maafkan Zahra ya nak." Pintanya memohon


" Insyaallah,saya hanya bisa Qona'ah menerima apa yang sudah terjadi sama saya,meski saya juga sangat menginginkan kehidupan Rumah tangga yang bahagia,Qodarullah,semua bisa berbalik kapanpun,pilihan satu satunya hanya mencoba Sabar dan ikhlas menerima takdir ini bu hajah." Kataku lirih menekan segala rasa sesak didalam dada


Dia pun Terdiam sambil merenung sedih mendengar ucapanku,tanpa pikir panjang lagi langsung ku tinggalkan saja wanita paruh baya itu yang sedang Berdiri didekat pintu gerbang itu


" Kalau begitu saya permisi dulu,Assalamualaikum ." pamitku dan beliau hanya menjawab salamku dengan gumaman pelan sambil menatap kepergianku yang sudah masuk kedalam mobil dan meninggalkan halaman Rumah menantunya itu.


Aku pun mulai menghidupkan Gas mobilku untuk melesat pergi dari rumah itu,Rumah yang penuh kenangan Didalamnya,baik maupun buruk.ku pandangi rumah minimalis bercat Putih kuning kemaasan itu,dibalik kaca spion mobil dari samping.sungguh Air mataku kembali meleleh dan mengucur deras kembali,membuatku segera melajukan mobilku lebih cepat lagi,karena tidak sanggup melihat itu semua.

__ADS_1


" Ya Allah Akhirilah semua kesedihan ini dengan kebaikanmu,hamba yakin dibalik ini semua tersimpan Hikmah didalamnya,kuatkan hati hamba Ya Robb."


*****


Sesampainya di rumah,aku pun segera turun dari mobil dan masuk kedalam,bapak dan ibu langsung menyambutku dengan berbagai pertanyaan,ternyata mereka belum tidur karena menunggu ku pulang.


" Bulan Gimana nduk,kamu baik baik saja kan disana,ibu sama bapak cemas mikirin kamu nduk,sampai tidak bisa tidur." Ibu pun langsung menyerbu dengan pertanyaannya dengan mimik wajah penuh ke khawatiran.


" Ibu tenang ya,bulan baik baik saja bu."


" Syukurlah kalau begitu nduk,ibu sama bapak sudah was was dari tadi,karena kamu kesana sendirian."


" Bulan nggak apa apa kok bu." Ucapku berusaha menampilkan Wajah baik baik saja." Oiya bu Saga sama kyla kemana?"


" Udah tidur dari tadi mereka bulan." Jawab ibu


" Ya sudah kalau begitu bulan kekamar dulu ya bu nyusul anak anak,bulan mau istirahat dulu." pamitku yang ingin langsung bergegas menuju kamar.namun Tiba tiba suara bapak menahanku.


" Bulan..Apa kamu yakin sedang baik baik saja." tanya bapak dengan suara Lirih dan pelan


Aku pun berbalik dan menatap kearah bapak yang masih duduk disofa,lalu kuhampiri beliau.


" Bulan baik baik saja pak,bukankah bapak sendiri yang selalu mengajarkan bulan untuk menjadi wanita yang kuat dan tidak lemah,pintar,berani sekaligus tangguh dan mandiri pak,saat ini bulan sedang berusaha menjadi sosok seperti itu pak." Ucapku dengan bibir bergetar menahan tangis didepan Orang tuaku


" Bapak mengerti nduk,tapi kalau bisa jangan sembunyikan sendiri Kesedihanmu nduk,bapak takut nanti kamu semakin Rapuh,berbagilah dama kami nduk." ujar bapak dengan Mata berkaca kaca


" Insyaallah bulan Kuat pak,bulan baik baik saja."Ucapku meyakinkan


" Bapak tahu saat ini perasaanmu yang sedang kamu rasakan,bersabarlah bapak yakin suatu saat kamu akan bahagia Anakku." Ucapnya


Kuraih punggung tangan milik bapak dan kuciumi dengan penuh rasa Hormatku sebagai seorang putri mereka


" Semoga Air matamu suatu nanti dibalas dengan pahala kebaika nduk." Ujar bapak sambil mengusap pipiku yang sudah banyak leleran Air Mata.


" Makasih pak ,karena sudah menjadi sosok ayah yang baik untuk bulan selama ini,bapak selalu menjaga perasaan bulan dan tidak pernah menghakimi bulan selama ini." ucapku dengan isakan tangis


" Sampai kapanpun kamu adalah putri satu satunya kesayangan bapak nduk,bapak tidak akan pernah rela Melihat kami disakitin oleh siapapun." ucap bapak


" Ya sudah kamu masuk kamar ya nduk,istirahat." Ujar ibu menyuruhku kembali ke kamar,dan aku pun menganggukan kepalaku


Sebelum masuk kekamar aku pun menyempatkan Dulu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badanku karena sehabis dari Luar,setelah itu aku kembi masuk kekamar.


Ku pandangi wajah wajah polos kedua anakku yang sedang tertidur pulas di Ranjang tempat tidur.saat ini hanya mereka berdualah satu satunya harta yang paling berharga dalam hidupku.ada rasa tidak rela jika harus membayangkan berpisah dari mereka,meski aku harus mengorbankan Segala yang ada dunia demi mereka berdua,karena sampai kapanpun Harta yang paling berharga dalam hidupku adalah kedua anakku,buah hatiku,permata hatiku.


Ku kecup kening kedua anakku secara bergantian,hingga akhirnya aku pun mengambil tempat berbaring disamping mereka.lalu aku pun mulai memejamkan kedua mataku.namun sudah beberapa detik kemudian mata ini sulit terpejam,pikiranku masih melayang kemana mana memikirkan sikap Abinya Zahra dan sikap lembut umminya,apalagi memikirkan sikap Mas Adrian malah semakin sulit aku untuk memejamkan mata membuatku Tetap terjaga hingga larut malam seperti ini.


Rasa Resah dan Gelisah pun mulai mengusikku sehingga membuat perasaanku mulai tidak nyaman.berkali kali ku lafalkan Doa dan istighfar berharap semoga tidak terjadi Sesuatu hal yang tidak diinginkan bagi kedua anakku dan kedua Orang tuaku.


Hingga Akhirnya tepat pukul empat pagi,tiba tiba ponsel bergetae berkali kali diatas Nakas,membuatku Terbangun dari Tidurku yang dibilang bisa masuk kealam bawah mimpi beberapa menit lalu.


Dengan Rasa ngantuk yang tersisa aku pun langsung meraih ponselku dari atas nakas untuk segera menjawab panggilan itu


" Hallo." Sapaku dengan mata yang masih sedikit memejam


" Apq benar ini saya bicara dengan mbak bulan.?" tanyanya dari seberang


" Iya benar ini siapa.?"


" Ini saya dengan salah satu asisten Ibu Zahra mbak."

__ADS_1


" Oh ada apa pagi pagi buta menghubungi saya.?"


" Saya cuma ingin memberitahukan sama mbak bulan,jika saat ini bu Zahra sekeluarga sedang tertimpa musibah mbak."


" Apa?Musibah?" Pekikku Kaget dan langsung saja kedua mataku terbuka lebar


" Betul mbak kami sedang mendapat musibah."


" Musibah apa?Katakan dengan Jelas." Cercaku


" Rumah pak Adrian dan Mbak Bulan saat ini sedang Mengalami kebakaran mbak." ucapnya dari seberang sana yang sukses membuatku syok seketika


Jlebbb


Jantungku seolah olah berhenti berdetak,serasa tubuhku menjadi lemas,antara percaya dan tidak percaya,kucoba bertanya untuk memastikan kembali tapi tetap jawaban sipenelpon itu sama.bahwa Rumah impianku dulu yang ku bangun bersamanya dengan penuh ekstra kerja keras kini Harus hangus terbakar.


" Bagaimana Ceritanya kok bisa sampai Terbakar?apa yang terjadi?" tanyaku mencercanya


" Kami belum tau penyebab sebenarnya mbak,untuk sementara dugaan dari Tim kepolisian dan Tim pemadam adalah akibat konsleting Arus Listrik mbak."


" Lalu bagimana kondisi penghuni Rumah itu?"


" Ummi sama Abinya Mbak zahra selamat mbak,cuma Abinya mbak Mbak Zahra langsung dilarikan ke rumah sakit karena terkena serangan jantung,sedangkan Mbak Zahra tadi sempat terjebak dikamarnya,lalu Pak Adrian datang menerobos dan menyelamatkan mbak Zahra,sehingga beliau......" ucapnya menggantung


" Beliau kenapa?" Tanyaku penuh kekhawatiran


" Pak Adrian mengalami Luka bakar yang Cukup serius mbak."


Deg


" Astagfirullah Ya Allah." Aku pun Reflek membungkam Mulutku.


Bagai Disambar Petir aku mendengarnya,Tanpa sengaja Buliran bening pun jatuh lolos di Kedua pipiku.


" Hallo mbak,apa mbak bulan masih disana?"


" I iya Saya masih tersambung."Jawabku yang langsung sadar dari Lamunannku.


" Saat ini saya mohon bantuan mbak untuk segera datang menjaga Pak Adrian dirumah sakit mbak."


" Lhoh kok kenapa Harus saya.?" Tanyaku terkejut


" Mbak Zahra tadi sempat kejang dan mengalami shock berat mbak,dan terpaksa harus dilarikan di rumah sakit international bersama Haji Qashim mbk.karena beliau juga mengalami serangan jantung,jadi pak adrian Tidak ada yang menjaga saat ini mbak." Tuturnya dari seberang yang membuatku tercengang


" Astagfirullah Mas Adrian." Gumamku Pelan Sambil beristighfar berungkali dan tanpa sengaja aku menyebut nama mantan suamiku.


Untuk kedua kalinya aku tercengang dan Shock mendengar kabar yang menimpa mereka.yang sama sekali tidak pernah terduga olehku.


Aku mulai berfikir apakah kejadian ini ada kaitannya dengan Sikap mereka yang ingin merebut Rumahku dengan Paksa,dan mencoba terus mengintimidasiku,sehingga Allah pun Murka dan membalas perbuatan mereka?atau mungkin ini sebuah Cobaan dan Ujian untuk keluarga mereka?entahlah aku merasa bingung karena setiap ada kejadian di keluarga mereka kenapa aku harus dihubungi kembali dan dikait kaitkan,padahal aku sekarang sudah tidak punya hubungan apapun dengan mereka.


Aku pun saat ini menjadi Bimbang dan Ragu,apa aku harus kesana dan melihat Keadaan mas Adrian,tapi untuk apa?kami sudah tidak punya hubungan Apa apa lagi?tapi disatu sisi Dia adalah Ayah kandung dari Anak anakku,rasa Kemanusiawi itu muncul dan mengatakan Jika aku harus melihat keadaannya tapi aku bingung.


Haruskah aku melihat kondisinya sekarang?????.


_Bersambung_


Happy Reading.


Jangan lupa kasih dukungannya ya jika suka

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2