
Kini Zahra sudah selesai menjalankan Oprasi pengangkatan janinnya,yang memakan waktu kurang Lebih dua jam.Aku pun Masuk kedalam ruangannya setelah dokter dan perawat keluar memberi tahu jika Zahra sudah bisa dijenguk.
Ku hampiri Mantan maduku itu ditempat pembaringannya,terlihat sekali tubuhnya nampak kuyu dan lemah,serta kedua matanya masih tertutup.mungkin karena pengaruh obat bius tadi dia belum Sadar.
Aku pun mengambil sebuah kursi dan ku geser tepat disebelah brankar milik Zahra,aku pun menungguinya sampak Mas Adrian datang.karena tadi pamit keluar sebentar untuk menjemput mertuanya di bandara.
tak lama kemudian pintu ruangan Zahra pun diketuk lalu dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah mas Adrian.diikuti dibelakangnya oleh seorang Wanita paruh baya sedang mendorong kursi roda milik pria paruh baya,yang ku yakini mereka adalah mertua mas Adrian,orang tua dari Zahra.
Sesaat aku beradu pandang dengan kedua orang tua Zahra,mereka terlihat Saling melempar pandangan satu sama lain,mungkin sedikit Heran karena keberadaanku di sini yang tengah menunggu putri mereka.
" Bagaimana keadaan putriku Zahra nak.?" pertanyaan itu terlontar dari bibir ayahnya Zahra.
" Insyallah Keadaan Zahra sekarang baik baik saja pak,buk.tapi Saat ini Zahra harus menerima kenyataan jika dia kehilangan calon bayinnya." Jawabku dengan sedikit Ragu
" Ya Allah pak,Anak kita." Terdengar suara lirih ibunya menandakan kesedihan yang amat dalam
" Zahra tadi mengalami jatuh dari tangga bu,pak."jawabku sambil menatap kedua orang tua yang Usianya sudah lansia secara bergantian
terlihat pria paruh baya dihadapanku itu terlihat sangat mempunyai kharisma dan aura yang kuat.mungkin karena dia seorang Haji sekaligus Guru dipondok pesantren dimana mantan suamiku dibesarkan dulu.
" Apa kamu perempuan yang bernama Bulan.?" tanyanya
" Benar pak,saya bulan." jawabku
" Atas nama putriku aku meminta maaf padamu,karena sudah menghadirkan putriku ditengah tengah rumah tanggamu." Ujarnya dengan Suara lirih dan sorot mata yang tidak bisa kubaca." Aku mengira dan juga berharap jika Adrian menantuku bisa berbuat adil dan mengurus kalian dengan baik,tapi sayangnya harapan saya tak Sesuai dengan ekspetasi saya." sambungnya lagi ditengah tengah helaan nafas beratnya
Aku hanya bisa tersenyum tipis mendengar penuturannya,karena aku berfikiran jika tidak ada satupun orang tua yang tidak ingin melihat anaknya hidup bahagia,meski terkadang harapan mereka tak sesuai dengan kenyataan yang ada.tapi jika difikir fikir lagi seharusnya mereka juga memirkan Perasaan orang lain sebelum bertindak,sudahlah toh sudah tidak ada gunannya meratapi nasib karena ibarat pepatah nasi sudah berubah jadi bubur.
" Nak bulan,ummi boleh bertanya padamu.?" Wanita paruh baya berhijab Putih senada dengan gamisnya itu membuka suaranya.
" Boleh bu silahkan." Jawabku dengan sopan
" Apa selama tinggal satu atap denganmu,putriku Zahra telah banyak menyusahkanmu nak?" tanyanya
Sekali lagi aku hanya bisa membungkan bibirku dan memberi seulas senyum tipis tanpa mau banyak menjawab pertanyaan mereka,aku yakin mereka sudah bisa menebak dan mengira sendiri bagaimana perangai Putri tercintannya ketika masih gadis,apakah putri kesayangannya itu seorang gadis mandiri apa gadis manja yang apa apa minta dilayani dulu.
" Aku sangat paham betul bagaimana perasaanmu saat ini nak bulan,Ummi sekali lagi minta maaf padamu." Ujar wanita paruh baya yang kutaksir umurnya sekitar lima puluh lima tahun keatas itu.
" Saya dan Mas Adrian sekarang sudah resmi bercerai bu pak." jawabku sambil tersenyum tipis
Sontak membuat pasangan paruh baya itu terkejut
mendengar penuturanku,keduanya pun saling melempar pandangan ketika melihat kearahku.
" Apa itu semua Gara gara Anak kami?" tanya Abinya
aku pun kembali menatap kearah beliau berdua sambil mengulas senyum tipis." Sepenuhnya bukan kesalahan Anak bapak,hanya saja Mungkin suami kami perlu belajar lagi tentang adab poligami pak,karena jujur dari Awal mas Adrian tidak terlebih dulu mempersiapkanku untuk menghadirkan adik madu untukku,minimal dia meminta ijin dariku mungkin saya masih bisa menerima dengan ikhlas." Jawabku sambil menghembuskan nafas beratku
" Tapi karena semua diluar kuasa saya,saya pun syok karena tiba tiba waktu itu Mas adrian membawa istri barunya datang ke rumah,sehingga membuat saya tidak nyaman dan memilih untuk pisah Rumah,sampai di puncaknya saya dan Mas adrian memilih untuk berpisah demi kebaikan kita semua pak." Sambungku lagi mencoba menjabarkan segala unek unekku tanpa membuat salah satu diantarannya tersinggung.
" Jadi kalian berdua sudah bercerai.?" Tanya Abinya Zahra
"betul pak kami sudah bercerai,tepatnya siang tadi." ucapku
Umminya terlihat sekali bersedih dan menatap suaminya berharap meminta berucap sesuatu
__ADS_1
" Lalu bagaimana kejadian yang sebenarnya sehingga membuat putri kami terjatuh.?" tanyanya lagi
" Tadi hanya Berpapasan dan sempat saling mengucapkan salam perpisahan,namun setelah itu tak lama Putri bapak tiba tiba terjatuh." jawabku
Pria itu hanya memanggut manggutkan kepalanya lalu melontarkan pertanyaannya kembali.
" Apa pada waktu itu putri kami telah menyakiti perasaanmu.?"
Seolah olah Abinyanya bisa menerawang tentang kejadian tadi,maka dari itu Beliau melontarkan pertanyaan lagi padaku,membua aku tak bisa menjawab dan hanya mampu menundukan kepalaku saja.
Sesaat kemudian aku pun memecah kecanggungan diantara kami lalu berpamit untuk segera pulang.
" Bapak ,ibu kalau begitu saya mohon pamit dulu ya,soalnya sudah terlalu malam ,takut anak anak saya mencari saya." Ucapku
" Bulan,kamu mau pulang sekarang.?" Saut Mas Adrian yang sedari tadi hanya bungkam saja
" Iya mas,pasti anak anak sudah menungguku dirumah karena ini juga hari sudah terlalu malam,aku pergi sekarang ya mas." Jawabku
" Kalau begitu saya permisi dulu ya pak,bu."Pamitku sambil mencium punggung tangan mereka berdua bergantian
" Maafkan putri kami ya nak,saya harap kamu bisa mengikhlaskan dan meridhoi putri kami bersama Adrian,supaya hidup mereka tidak merana." pinta pria paruh baya itu yang tak lain adalah ayahnya Zahra
Aku hanya bisa menghela nafas dalam dalam mendengar penuturan beliau yang memintaku untuk meridhoi pernikahan putrinya,tanpa memikirkan perasaanku disini yang sangat terluka.
" Insyaallah pak." Jawabku singkat meski menahan Kesal untuk tidak terpancing emosi
" Sebagai gantinya saya akan memberimu sejumlah uang sebagai penggantinya nak,saya mohon maaf karena saya benar benar tidak tau kejadian yang sebenarnya terjadi,karena selama ini putri kami tidak pernah bercerita yang aneh aneh,setiap kami menelpon anak kami hanya bilang jika Rumah tangga kalian baik baik saja." Terangnya panjang lembar dengan gamblang.
sekali lagi aku hanya bisa menghela nafas kasarku mendengar penuturan pria paruh baya yang terdengar aneh bin ajaib,dia pikir semua bisa diselesaikan dengan uang.
" Sekali lagi kami minta maaf nak atas nama putri kami." Ujarnya lirih dengan raut wajah sendunya.gurat gurat penyesala sempat nampak terlihat diwajah tuannya
" Kalau begitu saya pamit dulu ya pak ,bu.assalamualaikum." Aku segera berpamitan untuk segerq pergi dari Ruangan itu yang bisa saja membuat suasana hatiku semakin panas
Namun baru saja aku melangkah kearah pintu dan ingin meraih gagang pintu ,tiba tiba terdengar suara sayup sayup memanggilku dari belakang.
" Mbak mbak mbak bulan....." Suara Zahra yang memanggilku terdengar dengan lirih
aku pun mengurungkan niatku untuk membuka pintu itu,dan membalikan badanku dan menatap kearah Zahra yang masih terbaring lemas diRanjangnya rengan beberapa cairan selang infus yang menempel ditubuhnya,ternyata dia sudah sadar
" Iya.." Jawabku Tertahan
" Dimana Anakku mbak.?Mana dia?apakah Dia masih bisa diselamatkan mbak?apakah dokter berhasil menyelamatkan anakku dan kini sedang berada di ruang bayi.?" Tanyanya dengan memberondong dengan suara yang terdengar lirib dan paraunnya
Sejenak aku hanya terdiam ,aku sendiri bingung mau jawab apa,lagian kenapa juga harus bertanya padaku,kenapa tidak bertanya pada suaminya saja.
" Emm i itu Zahra." Aku gugup dan tidak bisa menjawab sedangkan dari sorot mata zahra menuntutku untuk menjawab pertannyaannya.
" Apakah Anakku sudah tidak bisa diselamatkan mbak..?" Dia kembali menodongku dengan pertanyaannya
" Apapun penjelasan dokter nanti kamu harus ikhlas dan tabah menerimanya Zahra." Jawabku setengah ragu
Tiba tibw saja tubuhnya terlihat lemas,dan buliran bening sudah membanjiri wajahnya sambil mendekam perut ibunya yang kini berdiri disebelahnya.
" Manusia hanya bisa berharap dan merencanakannya nak,tapi Hanya Allah yang bisa menentukan,sabarlah anakku." Ujar umminya sambil membalas pelukan Putrinya dan mengusap punggung putrinya memberi ketenangan.
__ADS_1
" Jadi benar,Allah sudah mengambil bayiku ummi?" rengeknya
" Sabar Anakku,Allah hanya menitipkannya sebentar padamu,mungkin Allah Lebih sayang pada bayimu,untuk dari itu kamu harus bisa mengikhlaskannya putriku ....." ucap ummi
" Nggak mungkin ummi nggak mungkin,a aku yakin Bayiku masih hidup ummi ya Allah mana bayikuuu..." Zahra kembali merancau dan histeris
" Tenan Anakku tenang,ikhlaskan nak,jangan seperti itu." Ummi pun tak kuasa membendung Air matanya.Ibu dan Anak itu kembali menangis bersama dalam kepiluan.sedanhkan Abinya juga terlihat ikut menyeka air matannya.
Tak lama kemudian Mas Adrian pun menghampiri Zahra dan beralih membawa Zahra kedalam pelukannya,sambil membisikan kalimat kalimat yang membuat Zahra sedikit tenang dan berhenti dari isakannya.setelah merasa Sedikit tenang Zahra pun kembali menatapku.
" Mbak bulan."Panggilnya dengan suara lirih
" Iya kenapa Zahra?"
" Maafkan aku mbak,mungkin ini sebuah karma yang harus ku tebus karena sudah merebut suamimu mbak." Ucapnya dengan wajah sendu
" Sudahlah Zahra,jangan bicara seperti itu,semua sudah terjadi." Jawabku.
"tapi kenyataannya memang begitu mbak." balasnya dengan leleran air mata
" Sudahlah Zahra,jangan berfikiran yang tidak tidak,pikirkan kesembuhanmu dulu." Ucapku
" Ku pikir Hidupku akan ba baik baik saja mbak,setelah melihat mbak bulan dan Mas Adrian berpisah,tapi kenyataanya sebaliknya mbk,setelah kamu kehilangan suamimu,kini aku sendiri kehilangan bayiku." Ucapnya diiringi isak tangis
" Semua ini sudah ketentuan Allah,Meski Sebelumnya aku pernah memimpikan pernikahanku indah sampai Mau memisahkan tapi ternyata Allah berkehendak lain."
" Apa sakit Yang kurasakan saat ini,sama seperti sakit yang mbak bulan rasakan ketika aku pertama kali datang kerumahmu mbak.?"
Kembali dia melontarkan pertanyaannya yang tidak perlu ku jawab.biar dia sendiri yang merenungkan pertanyaannya sendiri.
Hening
Hening
Ruangan pun menjadi Hening seketika,semua seolah sibuk dengan pikiran mereka masing masing,begitupun aku yang merasa gamang dan Canggung menghadapi situasi seperti ini.melihat Zahra yanf belum bisa merelakan bayinya yang sudah meninggal dan diangkat dari rahimnnya.
" Sakit yang kurasakan saat ini dua kali lipatnya mbak,aku harus kehilanga bayiku,dan kini belum lagi aku harus merasakan fisik pasca oprasi mbak.ini semuanya karena salahku mbak salahku." Dia kembali merancau dengan suara paraunya dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
" Zahra tenangkan dirimu,saat ini kamu harus fokus untuk kesembuhanmu dulu.insyallah semoga Allah secepatnya menitipkan janin lagi dirahimmu,kamu hanya perlu ikhlas dan tidak terus menerus menyalahkanmu sendiri,jika kamu terus menerus seperti ini ,sama halnya kamu tidak menerima takdir dan ketetapan Allah,sehingga Setan dengan mudah membutakan hatimu dan memusuhi Tuhanmu." Ujarku yang mencoba melapangkan hati mantan maduku." betul begitu kan pak haji.?" sambungku sambil beralih menatap Abinya Zahra
" Betul sekali Nak Zahra,Karena Sunnah Rasullullah juga menjelaskan demikian." Timpal pria paruh baya itu.
" Kalau begitu,sekali lagi saya mohon pamit ya pak bu,Zahra Mas Adrian.permisi Assalamualaikum."
" Walaikumsalam." Jawab mereka serempak
Aku pun Pamit dan menangkupkan kedua telapak tanganku pada Ayah dan ibu mertua mas adrian,sebelum akhirnya aku melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Ku susuri koridor Rumah sakit ini dengan Perasaan Hampa,Dan cairan bening yang sedari tadi kutahan kini tidak bisa ku bendung lagi dan Meleleh di kedua pipiku.aku sadar selama ini aku juga manusia tidak luput dari Banya dosa sehingga Allah memberikan ujian didalam rumah tanggaku yang kini berujung dengan perceraian.
semoga Aku kuat menjalani takdir dan ketetapan Allah dengan Hati lapang dan Ikhlas.
_bersambung_
Happy reading
__ADS_1