
Ketika sore Hari telah tiba, senja mulai meredup dan Berubah dengan pekatnya malam.kulihat Layar ponselku ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor ibuku.
" Hallo Assalamualaikum bu." Sapaku setelah mengangkat telpon dari ibu
" Nduk kamu dimana,bisa pulang sekarang ?" terdengar suara ibu cukup panik
" Ada Apa bu,ibu kenapa?apa penyakit Ayah kambuh lagi.?" Aku pun ikut panik mendengar suara ibu
" Bukan nduk,tapi Saga badannya tiba tiba panas."
" Apa bu saga sakit." Pekikku terkejut
" Iya nduk cepet pulang ya nduk." Pinta ibu
" Baik buk,bulan pulang sekarang juga."
Ku langkahkan kaki ku lebar lebar setelah menutup telpon ibuku,aku pun bergegas menyusuri koridor rumah sakit dan langsung Menuju ke Parkiran Mobil,karena Hari ini Kebetulan Aku membawa mobil sendiri.tanpa pikir panjang lagi aku pun langsung melesatkan kendaraan mobilku meluncur Ke rumah.
sesampainya Dirumah,aku pun bergegas menuju kamar Kedua Anakku,kutemukan Putri sulungku tengah ketiduran menemani putraku yang tengah berbaring lemah Ditempat tidur.
" Kyla, Saga...."
" Bunda.adek Bunda..." Rengek Kyla saat terbangun dari tidurnya
" Tenang sayang,Adek kenapa nak.?"
" Adek badanya panas bunda,tadi katanya ngeluh pusing." Cicitnya dengan wajah polos yang mengiba
" Bundaaaa..." Kini Saga si kecil yang ikut bingung dan merengek padaku
" Iya nak,ini bunda.kita ke rumah ya nak,biar nanti dikasih obat sirup sama pak dokter." Tuturku mencoba membujuk.
" Saga maunya ketemu Ayah bunda,Saga nggak mau ke rumah sakit." Cicitnya
" iya bunda mungkin saja Adek kangen sama ayah,makannya Adek badanya panas,tadi aja adek mengigau panggil ayah terus." Kyla menimpali ucapan Adeknya yang hanya mengangguk lemah
Aku dan Ibu saling berpandangan satu sama lain,aku bingung sekali apa yang Harus kulakukan saat ini,kemarin saja Zahra sudah menelponku memintaku menjenguk mas Adrian,dan sekarang putraku Sakit ingin bertemu dengan Ayahnya,apakah karena Hubungan batin antara ayah dan Anak sehingga mereka sakit secara bersamaan.atau mungkin ini salah satu Cara Allah mengatur pertemuan kita supaya bisa bersama lagi?Tidak tidak segera ku tepis pemikiran itu.
Meski ada Rasa Sedikit bimbang namun apakah keputusanku memilih jalan perceraian ini benar atau Malah akan jadi bumerang buat kami.
Sedangkan Putraku terus saja merengek meminta untuk bertemu Ayahnya,begitupun Juga Kyla putri sulungku itupun juga ikut merengek dipertemukan dengan Ayahnya,membuatku menjadi bingung karena Harus kewalaha membujuk mereka berdua.
Aku pun segera mengambil kota obat dan mengambil obat penurun panas sementara,sebelum Saga mau ku bujuk ke rumah sakit.
" Saga sayang,saga minum obat dulu ya kalau gitu,nanti kalau sudah sembuh nanti baru kita ketemu Ayah " Bujukku
" Gak mau bunda,Saga maunya ketemu Ayah,pokoknya ketemu ayah.!" Ujarnya sambil menangis tersedu sedu
" Iya bunda kasihan Adek,Kakak juga kangen sama ayah ,bun." Kyla pun menimpali Ucapan Adeknya
" Yoweslah nduk bawa aja anak anakmu ketemu Ayahnya,kasihan juga." Kini ibu yang angkat bicara memberi masukan
" Tapi kan buk.----"
" Tahan dulu ego dan rasa sakit Hatimu nduk,kedua Anakmu sekarang lagi membutuhkan ayahnya,mereka merindukan Ayahnya,setelah Putramu sembuh baru kau memikir Rasa Sakit hatimu nduk." Ujar ibu
" Yasudah baiklah kalau begitu."
Dan Akhirnya Aku pun pasrah mengiyakan Ucapan ibu untuk Mengiyakan permintaan mereka.
Keesokan Harinya aku memutuskan Untuk pergi kerumah sakit bersama kedua Anakku,untuk mengunjungi Mas Adrian Dirawat.ku susuri Koridor Rumah sakit dengan Hati bimbang.Saga Berada dalam gendonganku sedangkan Kyla berjalan Sambil kugandeng tangannya.
" Sabar Ya sayang Bunda tanya petugas dulu."
Lalu ku temui Seorang Suster dibagian petugas Informasi,dan menanyakan dimana Ruangan Mas Adrian dirawat.dan Ternyata Ruangan mas Adrian tidak jauh dari sini.setelah mendapatkan Info di mana kamar Inap Mas Adrian kami pun langsung bergegas kesana.
Setelah sampai disana,lalu ku buka handle pintu ruangan mas Adrian,sambil ku ucapkan bismillah dan menahan nafasku dalam dalam,entah kenapa akhir akhir ini Pertemuan dengan Mas Adrian sengaja Aku hindari.Setiap Kali berpapasan dengannya Hatiku kembali berdesir,mungkin Ada sedikit Rindu yang membuncah,namun segera ku tepis karena nyatanya Lebih banyak Rasa sakit Hati yang kudapat jika bertemu dengannya,untuk itu sebisa mungkin Aku menghindar darinya,tapi kali ini Aku tidak bisa menghindarinya demi Kedua Anakku,dan Aku pun Harus menyiapkan mental sekuat baja untuk Bertemu dengannya kembali.
" Assalamualaikum." Ucapku pelan saat Menyapa mereka setelah Aku dan kedua Anakku masuk ke dalam Ruangan itu.
Mas Adrian pun langsung menoleh kearah kami,dengan Ulasan senyum dibibir pucatnya.
" Bulan..." Suaranya terdengar lirih namun sorot matanya terpancar Kerinduan yang Amat mendalam saat melihat kedatangan kami.
Dengan langkah sedikit Berat kupaksakan untuk melangkah Menghampiri Brankar miliknya yang disana sudah ada Dirinya sedang tergolek Lemah dengan beberapa selang Infus yang menempel di tangannya.
__ADS_1
" Bagaimana mas keadaanmu?" Tanyaku tanpa basa basi
" Aku baik baik saja bulan." Jawabnya dengan suara lemah
" Syukurlah kalau begitu." Jawabku
" Aku sangat senang sekali akhirnya kau mau menjengukku." Ucapnya lagi
" Anak anak meminta bertemu denganmu mas." Jawabku singkat dan padat
"Ayah.." Seru kedua Anakku
" Sini sayang,ayah rindu Sama saga dan Kyla." ucapnya sambil mendekap Tubuh kedua Anakku yang sudah terlepas dariku dan mencium kening mereka berdua bergantian
" Sama Kyla juga Rindu Ayah." Cicit Kyla
" Saga Juga yah." Saut Saga
" Iya sayang,kalian berdua Anak Anak ayah yang sangat Ayah rindukan."
lalu mereka bertiga pun saling Berpelukan dan melepas Rasa Rindu Yang selama Beberapa hari ini Tidak pernah bertemu,jujur Hatiku linu sekali melihat pemandangan didapanku ini.
" Mas Adrian mengalami Kelelahan dan Anemia yang Cukup parah mbak." Imbuh Zahra ditengah tengah kecanggungan diantara kami
" Kamu kok demam Nak.?" Tanya Mas Adrian saat memegang kening Saga
" Iya yah Adek Demam,mungkin Rindu Ayah." Saut Kyla
" Aku Rindu Sama Ayah." Cicit Saga menimpali.
Putriku Kyla pun beralih menatap suamiku bersamaan Air matanya yang sudah meleleh dipipinya." Ayah Aku mau sama Ayah sama bunda juga sama adek,aku ingin bareng bareng kayak dulu lagi,kenapa Kita nggak bisa satu rumah lagi." cicitnya polos dan diiringi dengan tangisan adiknya juga.
Mas adrian diam membisu tak kuasa menjawab pertanyaan putrinya,hanya ada buliran matanya yang jatuh dipipinya.lalu mengecup kedua kening Anakku bergantian,lalu beralih menatapku dengan mata nanarnya.
" Bulan..tolong biarkan Kyla dan Saga bersamaku."pintanya dengan nada lirih
" Tidak masalah,mas bisa bertemu dengan mereka kapan pun mas mau,aku tidak akan melarangnnya." Ujarku
" Maksudku Aku mau setiap waktu bersama mereka,seperti Dulu." imbuhnya
" Nggak Apa apa kok mbak,aku bisa mengerti itu."Zahra menimpali seolah dia mengerti isi hatiku dan memberi respon sebelum Aku menjawab
" Tapi Aku belum siap,dan aku tetap pada keputusan Awalku mas,karena Aku telah mendaftarkan Gugatanku ke pengadilan kalau kita tetap akan........" Aku sedikit menahan ucapanku karena ada kedua anakku disitu
" Saga ,Kyla yuk ikut tante keluar kita beli jajan."
Zahra menyela ucapanku dan mengajak Kedua anakku untuk pergi keluar beli jajan dan langsung diangguki kepala oleh Anakku
Lalu Diraihnya tubuh Saga kedalam gendongannya sambil menggandeng tangan Kyla dan keluar dari Ruangan,dan mengajak Kedua anakku Pergi ke kantin.
" Bulan...." Panggil Mas Adrian sepeninggal Zahra sambil melambaikan tangannya supaya aku mendekat kearahnya.
Dengan Langkah sedikit Berat karena hatiku kembali berdebar saat aku mendekat Kearahnya namun tetap Aku beri Jarak.
" Bulan,ku mohon dengarkan Aku,sungguh Aku benar benar tidak ingin berpisah denganmu." ucapnya dengan suara lirih dan Sorot mata mengiba dengan leleran Air mata
" Maaf mas,tapi aku sudah tidak bisa bersamamu lagi."
" Apa Pintu Hatimu sudah tertutup untukku.?" tanyanya dengan sorot mata sendunya
" Dari Awal kita menikah,bukankah aku sudah mengatakan padamu jika aku tidak akan pernah bisa berbagi cinta mas,dan keputusanku adalah menjadi milikku satu satunya atau tidak sama sekali." Ucapku dengan Suara tegas dan Lugas
" Tapi Kamu Tau Kalau Aku Terpaksa menikahi Zahra Dengan Alasan yang jelas bulan,aku juga sudah memberitahumu jika Ayahnya sedang sekarat,dan dia ingin menitipkan putrinya pada Orang yang dia percaya." Kilahnya berdalih sambil menatapku penuh arti
" Tapi tetap saja aku sangat keberatan mas!"
" Posisiku itu serba salah Bulan,antara Harus memilih Cinta,istri dan balas budi."sanggahnya
" Kalau kau memang mencintaiku,kamu pasti Tidak akan membawa Zahra pulang kerumah lalu dengan suka hati mencumbunya dirumahku." Ucapku dengan penuh penekanan.
" Aku hanya melakukan kewajibanku saja sebagai suaminya,bulan." Kilahnya
" Tapi kamu juga menikmatinya kan mas.?" Jawabku dengan Tatapan sorot mata dingin
Dia Hanya menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas kasarnya dan kembali menatapku dengan tatapan nanarnya.
__ADS_1
" Tapi sungguh Aku tidak ingin kehilanganmu bulan." ucapnya lirih kembali dia ulangi
" Apa permintaanmu pada Zahra untuk membawa Kyla dan saga pergi keluar,hanya modusmu saja untuk kembali membujukku mas?"
Dia mengglengkan kepalanya lemah." Maaf karena hanya kesempatan itu yang kulihat sekarang."
Tok tok tok
Tiba tiba pintu kamar pun terketuk sesaat sebelum Akhirnya terbuka dan Menampilka sosok yang ku kenal tengah muncul dari sana,membuat ku terkesiap melihatnya.
" Maaf permisi saya ditugaskan Untuk memeriksa Jadwal pasien hari ini dan memastikan kondisi jantung keadaan pasien apakah ada komplikasi atau,------" Ucapan Mas Damar menggantung diudara saat menyadari jika pasien.yang akan dia periksa adalah mas Adrian ketika dia mendongakan kepalanya,dan Aku menatapnya yang kini tengah mematung dihadapan kami.
" Bulan..." Suaranya begitu lirih dan tidak percaya bahwa aku yang ada didepannya sekarang
" Mas Mas Damar.." Balasku Ragu dan Merasa tidak Enak dengan perkataanku kemarin padanya tentang hubunganku dengan Mas Adrian yang tidak sinkron dengan Kenyataan yang dilihatnya saat ini.
" A aku bawa Anak Anak yang ingin bertemu Ayahnya kesini..." Ucapku terbata bata dan tak enak hati padanya,aku ingin memberitahunya jika ini tidak seperti yang dia lihat saat ini.namun Aku sedikit terkejut saat dia menganggukan kepalanya lembut dan memberi kedipan mata,memberi Isyarat seolah dia paham maksudku supaya aku tidak memberika penjalasan Apa apa.
" Subhanallah,dia sangat pengertian sekali." batinku menyeruak dan terus menatapnya yang kini mulai menjalankan perannya sebagai dokter.
Mas Damar pun berjalan menghampiri mas Adrian yang tengah berbaring diatas Brankar,lalu mulai memeriksa denyut jantung,dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan mas Adrian
lalu mencatatnya dibuku catatannya
" Baiklah karena saya sudah selesai memeriksa,dan Keadaanya Baik baik saja,maka saya Undur pamit dulu,terimakasih." ujarnya sambil menangkup kedua tangannya dan memohon Diri lalu segera berlalu dari Ruangan.membuat Kecanggungan diantara kami semakin Mengental.
Aku tidak Tahu,apakah Tingkah Mas Damar saat ini Hanya sekedar Formalitas saja atau Sebuah Ekspresi Cemburu dan tidak setuju dengan keberadaanku saat ini yang hanya berdua dengan Mas Adrian,yang jelas tadi aku menangkap Sesuatu yang beda dari Sorot mata dokter Damar.tapi kalaupun pemikiranku benar kenapa dia Harus cemburu,sedangkan Aku dan Dia tidak mempunyai Hubungan apa apa,tapi Ekspresinya tadi Entahlahh.....sulit ku mengerti
Atau jangan jangan Aku yang kurang Peka?
Lalu ku putuskan Untuk menyusulnya keluar setelah Aku memberi Alasan Ke Mas Adrian untuk pergi keluar sebentar untuk ke toilet.
Ku susul Dia dengan Langkah cepat Saat masih berada tidak jauh dari Ruangan Mas Adrian
" Mas Damar Tunggu."
Dia pun menoleh dan membalikan badanya saat Langkahku mulai mendekat kearahnya,lalu dia pun melemparkan senyum tipisnya kearahku.
" Aku lupa jika Aku Bekerja di Rumah sakit yang Berbeda namun hanya paruh waktu saja." Ucapnya To thepoin seakan paham apa yang menempel diotaku
" Mas Damar Aku minta maaf." Ucapku lirih dengan meremat jari jemari tanganku yang sudah mulai dingin
" Maaf untuk Apa.?" Tanyanya dengan sorot mata teduhnya dan membuat jantung ini mulai berdebar debar
" Maaf atas soal kemarin yang menolak tawaranmu untuk makan siang bareng mas." Cicitku dengan Ragu ragu
" Sudah nggak usah Dibahas lagi." Ujarnya dengan senyum lembutnya." Yasudah saya tinggal dulu ya
masih ada jadwal periksa pasien Lain." Ucapnya sambil menepuk pundakku pelan dan Lembut." kamu hati hati ya." sambungnya lagi sambil berlalu.
Aku tahu sikapnya kali ini sangat Jelas sekali lain dari kemarin,Biasanya sikapnya begitu Ramah meskipun tadi tetap bersikap lembut tapi tetap ada yang beda,biasanya sesibuk apapun pasti dia akan meluangkan waktu Untuk berbicara lebih sedikit lama denganku,tapi kali ini tidak.sikapnya sangatlah berbeda apalagi saat melihatku tadi sedang Berdua dengan mas Adrian didalam Ruangan Mas Adrian
entahlah aku pun tidak mengerti tentang apa yang dipikirkannya saat ini.
" Bulan..." Panggilnya lagi saat langkahnya sedikit menjauh dari Tempatku,aku pun menoleh kearahnya dan membalikan badan
" Percayalah Aku hanya ingin melihatmu bahagia." sambungnya lagi sambil melempar senyum tipisnya sebelum akhirnya dia segera berlalu meninggalkanku yang tengah melongo akan Ucapnya dan Aku belum sempat menjawab pertanyaanya dia sudah lenyap dalam pandanganku.
" Mas Damar." Gumamku Lirih saat menatap kepergiannya dari pandanganku.
Sedangkan Hatiku kini mulai bimbang,untuk mencerna persaanku sekarang apakah Rasa nyaman ketika bersamanya atau hanya sekedar Ilusi sesaat Lantaran pria itu begitu baik memberikan perhatiannya padaku.atau jangan jangan Aku sudah......
Ah entahlah yang jelas aku saat ini bingung memahami keadaanku ini.
akankah aku memilih Melabuhkan Hatiku kembali dengan sosok Baru yaitu mas Damar,lalu bagaimana dengan Kyla dan Saga apa mereka bisa menerimanya,atau aku Harus memilih membatalkan gugatan perceraianku dan kembali Pada mas Adrian demi Anak anak?Sungguh Aku bingung dan dalam dilema Besar saat ini
_Bersambung_
Gimana Gaes Kira kira Apa pendapat kalian????
Jangan lupa tinggalkan Jejaknya ya.
semoga suka
Happy Reading
__ADS_1