
Saat ini Pikiranku benar benar kacau,setelah menunaikan ibadah sholat subuh tadi,aku tidak bisa lagi memejamkan mataku hingga matahari terbit.sampai Kepalaku rasanya sedikit pusing.tapi tidak aku rasakan,karena yang ada difikiranku sekarang bagaimana keadaan mas Adrian saat ini.Jujur Aku masih menyimpan rasa Marah padanya,tapi bagaimana pun juga Dia adalah Orang yang pernah ku cintai tempat dimana aku mencurahkan segala kasih sayangku,dan Dia juga adalah Ayah dari Kedua anakku.
Tiba tiba Putriku Kyla Terbangun dan Menangis dari Tidurnya,sedangkan Adiknya masih tertidur pulas.
" Kyla sayang Kenapa sayang,mimpi apa nak?" tanyaku sambil menghampirinya yang tengah duduk di atas ranjang.Kyla pun langsung memelukku erat dengan isakan tangisnya
" Ayah bun Ayah...."
" Iya nak Ayah kenapa?Kyla mimpi ayah apa?" tanyaku
" Kyla takut kalau ayah meninggal bun..huuhuhh." Kyla kembali menangis tersedu sedu,sedangkan aku tercengang mendengar ucapannya.
" Tenang ya sayang,ayah baik baik saja kok nak.cup cup udah ya.." Jawabku mencoba menenangkan
" Tapi tadi Kyla mimpi Ayah Meninggal bun.Kyla takut...."cicitnya
" Kyla tenang ya nak,Kyla cuma mimpi saja sayang."
" Tapi Kyla bener bener takut ayah meninggal bun." Isaknya lagi
" Memangnya tadi Kyla mimpi apa sih nak.?" tanyaku penasaran
" Tadi Kyla mimpi Ayah sesak nafas bun,dan teriak minta tolong katanya panas...huhuhu Kyla takut bun." Jawabnya disertai isak tangis
" Ya Allah...." Desahku pelan lalu kupeluk putriku dengan Erat,dengan seperti ini menambah Rasa kegelisahaku semakin meningkat.
Tak lama kemudian ibu pun datang menghampiri kami.
" Anakmu kenapa nduk?"
" nggak tau bu mungkin Kyla hanya mengigau saja." Jawabku
" Tadi Kyla mimpi Ayah nek,ayah teriak minta tolong karena kepanasan,lalu ayah meninggal nek,Kyla takut ayah ninggalin Kyla sama Adek nek." Cicit Kyla menyaut
Ibu pun menatap Cucunya itu dengan sedih dan prihatin juga tidak tega.
" Mungkin Anakmu rindu sama Ayahnya nduk." Ujar ibu
Dengan sedikit ragu aku pun mulai memberi tahu ibu tentang kejadian yang menimpa mas adrian dan keluargannya
" Tadi bulan dapat kabar jika Mas Adrian baru saja dapat musibah bu."
" Apa nduk musibah,Musibah Apa?" Tanya ibu antusias
" Rumah yang ditempatin Mas Adrian sekeluarga tadi malam mengalami kebakaran bu."
" Astagfirullah,lalu bagimana keadaan Adrian nduk?"
" Belum tahu bu,tapi katanya Mas Adrian mengalami Luka bakar yang cukup serius bu." Jawabku sambil menghela nafas beratku
" Ya Allah nduk." Pekik ibu dengan wajah terkejut."terus Rencanamu sekarang apa nduk?apa kamu mau melihat keadaannya.?" sambung ibu lagi
" Entahlah bu,soalnya salah satu kerabat mereka tadi menghubungi bulan."
" Terus gimana dengan Istri dan mertuanya Adrian.?" tanyanya lagi
" Istri dan mertua Mas Adrian dirawat yang berbeda sama Mas Adrian bu,katanya istrinya tadi sempat kejang dan Shock ditambah lagi luka trauma pasca keguguran,sedangkan Mertuanya mengalami serangan jantung." tuturku
" Astagfirullah,terus rencanamu sekarang gimana nduk?"
" Bulan sendiri juga bingung bu,karena tadi bulan sempat dihubungi dan dimintai tolong untuk datang menjaga Mas Adrian bu." Jawabku dengan mimik wajah gelisah
" Saat ini kamu masih dalam masa iddah nduk,itu artinya mantan suamimu masih berhak melihat dan bertemu denganmu,setelah lepas dari tiga bulan,kalian harus benar benar lepas darinya nduk.jika kamu ingin sekedar menjenguk tidak apa apa,jika tidak ingin tak apa karena itu Hakmu." Tiba tiba bapak menimpali perbincangan kami.rupanya bapak dari tadi menyimak perbincangan kami.
" Tapi pak ,bulan bimbang dan bingung harus berbuat apa." Ujarku dengan Sorot mata penuh kebimbangan.meski aku mencemaskannya,tapi aku juga enggan bertemu Mas adrian apalagi bertemu dengan keluarga mertuanya.
" Kalau kamu ragu,sebaiknya kamu pergi sama ibumu saja nduk." Usul bapak
" Gimana bu?" tanyaku pada ibu
" Yasudah kamu ganti baju dulu nduk,ibu tunggu kamu didepan sekaligus siap siap." Kata ibu
" Iya bu." ucapku lalu bergegas mengganti bajunya Kyla dan Saga Bergantian
Setelah semuanya siap dan Berpakaian lengkap dan Rapi.aku menggandeng Kyla sedang Saga berada dalam gendongan ibu.Kami berempat pun masuk kedalam mobil.
Ku lesatkan Kendaraan mobilku membelah jalanan di pagi Hari.tak membutuhkan waktu lama,sekitar 30 menit Mobil yang ku tumpangi sudah sampai dirumah sakit tempat dimana mantan suamiku mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Setelah itu aku pun bergegas menuju ruang resepsionis untuk menanyakan Ruangan tempat dimana Mas Adrian dirawat.setelah mendapatkan Ruangan Mas Adrian aku dan kedua anak dan juga ibuku pun bergegas menuju Ruangan tersebut.
Terlihat didepan Ruang Inap Mas Adrian banyak beberapa pemuda yang berjaga jaga didepan pintu,aku pun segera bergegas menghampiri mereka,dan mereka pun langsung mempersilahkan aku bersama ibu untuk melihat dibalik Kaca Ruangan Mas Adrian.
Terlihat sosok mantan suamiku kini tengah terbaring lemah disana,dan diselimuti dengan selimut kain yang anti lengket hingga menutupi Tubuhnya sampai atas dada.seluruh tubuhnya pun terlihat melepuh mungkin akibat dari luka bakar.terdapat juga berbagai macam selang infus yang menempel ditubuhnya mungkin obat pengurang Rasa panas.termasuk Ventilator yang menancap ditubuhnya guna alat bantu pernafasannya.
Kini Pria yang dulu pernah menjadi bagian hidupku itu terlihat Tergolek Lemah tak berdaya,dengan kondisi belum sadarkan diri.
" Kenapa Lukanya tidak ada yang diperban.?" tanyaku pada salah satu pemuda yang Kemarin datang ke rumahku.
" Dokter menyarankan supaya lukanya tidak boleh diperban dulu mbak.jika diperban maka lukanya menjadi lengket dan menimbulkan rasa sakit jika nantinya dilepas." Ujar pemuda itu
" Lalu kemana Istri dan mertuanya?apa mereka belum datang?" tanyaku
" Belum mbak bulan." Jawab pemuda itu
" Astsgfirullah." Gumamku pelan,kini Rasa iba dan prihatin kembali menyeruak melihat keadaan mantan suamiku itu,kasihan sekali dia ,disaat dia lagi berjuang untuk tetap hidup,malah tak ada satupun Orang terdekatnya berada mendampinginya.
" Apa sedari tadi keadaanya sama seperti ini,belum sadar diri?" tanyaku kembali
" Tadi sudah sempat sadar mbak,tapi karena Pak adrian Terus berteriak karena kepanasan,akhirnya dokter menyuntikan obat penghilang Rasa sakit dan obat penenang supaya kembali tidur."Jelasnya
" Lalu apa kami sudah bisa boleh masuk.?" tanyaku
" Sebaiknya mbak bulan menemui dokter dulu diruangannya untuk meminta ijin untuk menjenguk kedalam." tuturnya menyarankanku
" Baik kalau begitu."
Segera ku langkahkan kakiku menuju Ruangan dokter yang menangani mas adrian berada.Guna menanyakan keadaan mas Adrian dan meminta izin untuk membesuknya.
****
" Bagaimana keadaan beliau dok.?" tanyaku pada Dokter Erik dokter yang menangani Mas Adrian
" Begini bu saat ini pak adrian mengalami Luka bakar yang cukup serius,hampir 75 persen bagian tubuhnya mengalami luka bakar,hanya beberapa bagian saja serti Lengan dan Atas lutut saja yang tidak ikut terbekar,selebihnya...." Dokter Erik menjeda Ucapannya sambil menggelengkan kepala tanda sedikit keterputusasaan.
" Selebihnya Luka bakar ditubuhnya sangat parah."desahnya pelan
" Lalu apa Dia masih dibisa disembuhkan dok?" tanyaku dengan wajah serius
" Insyaallah pak,kalau begitu apa kami sudah bisa menjenguknya.?"
" Boleh bu,tapi tetap sesuai protokol ya bu,nanti akan ada perawat yang mengarahkan ibu untuk memakai pelapis dan masker." Tuturnya kemudian
" Baik Dok ,Terimakasih."
Aku bersama ibu dan kedua anakku pun masuk kedalam Ruangan sesuai anjuran dokter tadi,lalu perawat yang menangani kamu pun membantu kami untuk memakai kain pelapis masing masing dilengkapi dengan masker kami.setelah itu pun kami pun menuju Di ruang perawatan mas Adrian.
Ku buka pintu Ruangan Tersebut,lalu kami berempat pun masuk kedalam,Pertama kami masuk,kami langsung disuguhkan dengan bau Obat luka bakar yang langsung menyeruak diindera penciuman kami.
Kulangkahkan kaki dengan sedikit lemah menghampiri Brankar miliknya sambil menggandeng Tangan kyla dan ibu yang menggendong saga berdiri disampingku.
Putri sulungku Kyla pun langsung menangis memeluk pinggangku.sedangkan Saga putraku menangis memeluk ibukku.
Ku pandangi Mas Adrian yang kini tengah tergolek diatas Ranjangnya,dia benar benar terlihat sangat lemah dan Rapuh.wajahnya semua terbakar dan terlihat melepuh hingga ada sebagian dagingnya ikut mengelupas,menampilkan bagian lapisan daging yang dalam berwana Keputihan,serta urat uratnya ikut sedikit menyembul keluar,melihat siapapun yang melihatnya akan kasihan sekaligus ngeri melihatnya.bahkan sebagian telinganya pun juga hangus terbakar hingga warna kecoklatan.
" Ya Allah Mas kenapa jadi begini." aku bergumam lirih disertai buliran bening air mataku yang tak sengaja jatuh dipipiku.
Mantan Suamiku yang dulunya terlihat sangat tampan dam berkharisma kini telah kehilangan semuanya bahkan untuk bernafas pun dia harus dibantu dengan alat bantu pernafasan.sungguh malang sekali nasibnya.
" A ayah.." Rengek kyla encoba mendekat kearah ayahnya namun segera ku tahan supaya tak menyentuh tubuh mas Adrian
" Jangan dulu ya nak,Ayah sekarang Lagi sakit,lebih baik Kyla sama saga nunggu diluar sana ya sama nenek." Ujarku
" Memangnya ayah kenapa bun?" tanyanya dengan bibir bergetar sekaligus mulai menangis.
" Saat ini ayah sedang tertimpa musibah nak."
" Musibah apa bun?" tanyanya
" Emmm Musibah kebaran nak,lebih Baik Kyla banyak banyak doa ya supaya Ayah lekas sembuh." ujarku memberi nasehat.
" Kalau gitu kita jaga ayah saja ya bun disini,kasian Ayah kalau ditinggal sendiri bun." Cicitnya
" Nggak boleh sayang,nanti bisa dimarahin Pak dokter kalau kita disini,lebih baik kita pulang nak.
" Kyla nggak mau ninggalin ayah sendiri bun,kasihan ayah bun huhu huhu hiks hiks." Putriku kembali terisak
__ADS_1
" Kyla sayang kyla nggak boleh nangis ya,kita keluar dulu ya sayang." Ujarku sambil meraih tubuh putriku dan menggendongnya keluar ruangan mas Adrian.supaya tidak berisik diruangan itu.ibu pun mengekoriku dari belakang.
setelah Kyla sudah merasa tenang aku pun pamit masuk keruangan tu kembali.
Namun tiba tiba saja jari jemari Mas Adrian pun bergerak,bibirnya pun terdengar seperti sedang membisikan sesuatu.aku pun langsung menghampirinya dan memperhatikannya siapa tahu dia sedang membutuhkan sesuatu.
" Bu bu bulan.... Sa saga.....Ky Ky sakyla." terdengar suaranya lirih dan nyaris tak terdengar.
" Iya mas kenapa?apa kamu perlu sesuatu.?" tanyaku
" A A AA Aiir....A Aku Ha Ha haus.." Gumamnya lirih dan pelan
aku pun segera keluar dari ruangan itu,dan menghampiri salah satu pemuda itu dan menanyakan Apakah Mas Adrian sudah bisa dikasih minum apa belum.
" Ada apa mbak bulan?' tanya salah satu pemuda itu.
" Dia meminta Minum,apa boleh dia dikasih Air minum?" tanyaku pada pemuda tersebut
" Kata dokter,jika belum tersadar maka tidak boleh dikasih minum dulu,kalau nggak gitu beliau alan tersedak dan akibatnya bisa fatal mbak." Jawabnya
Aku pun kembali masuk dan aku pun mengambil inisiatif mengambil beberapa lembar tissu lalu kutuangkan Air dari botol.lalu aku pun mulai membasahi lalu ku seka bibirnya dengan tissu yang sudah ku basahi tadi.kulakukan berulang ulang hingga dia berhenti merintih.
" Aaa Panaaass Sakitttt...."
Hatiku semakin terenyuh dan sedih melihat dia merintih kesakitan seperti itu,sedangkan aku tidak bisa berbuat apa apa.
" Aku sama Anak anak pulang dulu ya,kamu cepat segera sembuh." Bisiku pelan
Setelah itu aku pun segera beranjak pergi keluar dari ruangannya.aku akui aku memang sedih melihatnya,bukan berarti aku masih tersisa rasa cinta untuknya,aku sedih karena melihat nasibnya yang tragis.meski awalnya aku punya perasaan puas dengan balasan yang dia terima akibat dari keegoisan dan keserakahanya,tapi tetap saja naluri hatiku berkata tak harusnya aku merasa bahagia dan senang mendengar musibah yang terjadi.
Aku pun bergegas pulang dan menghampiriku yang sedari adi menungguku didepan.
" Bu sebaiknya kita segera pulang aja bu,soalnya besok bun juga harus kerja." tuturku
" Yasudah ayo kita pulang." Ajak ibu
Baru beberapa langkah kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit tiba tiba langkah kami dikejutkan dengan sosok wanita yang telah menikah sengan mas Adrian.Wanita itu juga terlihat lemah sedang berdiri diatas kursi roda yang didorong santriwati Abinya.
" Zahra..." Sapaku sejenak saat posisi kami dengan jarak dekat.
Terlihat sekali tatapannya kosong,sebelum akhirnya dia angkat bicara.
" Untuk apa mbak bulan datang kemari,?apa mbak bulan hanya ingin memastikan keadaan kami yang sudah menderita?atau datang kesini untuk melihat kami yang sudah menderita ?" Tanya Zahra dengan tatapan yang tak terbaca
" Astagfirullah Zahra,apa kamu sama sekali tidak bisa berperasangka baik sedikit saja pada orang lain.?"Desashku tak percaya.
" Tapi tetap saja aku tidak bisa menebak niat hati mbak bulan itu baik atau sebaliknya,bukankah hal bhal yang kemarin kemarin telah membuatmu sakit hati mbak.mungkin saja kamu senang sekali melihat Aku menderita seperti ini mbak." Pungkasnya dengan seenak hati.
" Astagfirullah Zahra,kenapa kau bicara seperti itu,kukira dengan kejadian ini kamu akan sadar dan berpasrah diri Pada Allah." Tuturku menahan sedikit emosi karena ucapannya." aku tau kau sangat terpukul atas kejadian yang menimpamu sekarang tapi kan tidak seharusnya kamu bicara seperti itu Zahra." sambungku pelan supaya tak menambah konflik Di rumah sakit ini.
" Kalau begitu aku permisi dulu " Pamitku tanpa basa basi.
" Apa aku juga harus meminta maaf padamu ?"
aku berhenti sejenak sambil menatapn5a kembali.
" Dengar Ya Zahra,asal kamu tau aku sama sekali tidak pernah mengharapkan permintaan maaf darimu,karena aku bukan tipe Orang yang Gila hormat...tapi sudahlah semua sudah terjadi.semoga kedepannya kalian baik baik saja." ujarku tak ambil pusing.
" Nggak usah mengejekku mbk.." Gertaknya
" Denger ya bulan,aku tau saat ini jika perasaanmu diliputi Rasa cemburu ,sehingga kebaikan orang lain menjadi berubah buruk di matamu. justru kau sebaiknya intropeksi diri akan posisimu semula Kar.karena awalnya kau berada dipihak perebut maka kau sendiri yang akan merasa was was jika orang lain pun nantinnya akan merebut apa yang kamu miliki saat ini." Ucapku menohok membuat wanita itu histeris.
" Keterlaluan kamu mbak "!...sentaknya. sambil mendelik marah kearahku.
Aku pun segera membalikan badan lalu segera mengajak ibu untuk pergi mwninggalkan tempat ini.berkali kali aku menghela nafas berat sambil terus beristigfar.
" Ya udah buk ayok,kita harus segera pergi dari sini." Cetusku.
" ayo nduk kita pergi saja,dan jangan pernah lagi datang kesini nduk." ujaran hidup
" Iya bu..." Jawab Alifa.
Kami pun bergegas melangkahkan kaki keluar dari Rumah sakit itu.tak lupa juga ku titipkan Doa supaya Sang Maha Kuasa mengurangi rasa sakit dari ayah kedua anakku.
_Bersambung_
Happy reading
__ADS_1