Perusak Rumah Tanggaku

Perusak Rumah Tanggaku
Kau Masih tetap Istriku


__ADS_3

Pantulan Mentari senja disore hari Yang Jatuh Diatas dedaunan cahayanya tembus tepat diatas Hijabku.Sebagian Sinarnya yang menyilaukan mata mampu membuatku tersadar Dari lamunanku.aku yang sedari Tadi masih didalam Mobil masih Tidak bergeming Di Area parkiran Rumah sakit.


Sejak beberapa jam Lalu Waktu jam kerjaku Telah usai,aku hanya bisa menerawang dan memikirkan Apa yang Bisa ku lakukan setelah ini.


ada sedikit kebimbangan dan Keraguan Untuk mengakhiri prahara Rumah tanggaku ini.


Benarkah Jalan yang kupilih nantinya bukan jalan yang salah?apakah semuanya Akan berakhir Bahagia jika kami benar benar berpisah?lalu bagaimana Dengan kedua Anaku,Syakila dan Saga.Apakah mereka bisa menerima dengan ikhlas,apa Mereka nanti Terguncang jiwanya menerima kenyataan jika kedua orang tua mereka tidak bisa Hidup bersama sama lagi.


Setelah lama terdiam didalam mobil.ku masukan kunci mobil dan mulai menyalakan mesinnya,


meluncur menuju Dirumah bapak,karena untuk beberapa Hari ini aku memang memutuskan Menginap dirumah beliau.


Namun tiba tiba saja pikiran terbesit Tentang Rumahku dulu Rumah dimana kami membangun mahligai Rumah tangga yang penuh kebahagiaan hingga akhirnya berujung dengan Penuh penderitaan.sehingga tanpa sadar Aku langsung mengemudikan mobilku menuju Rumah Mas Adrian.


Sesampainya disana,ku buka pintu Gerbang Rumah setelah aku keluar dari Dalam mobil dan meninggalkannya didepan Pintu gerbang,sedangkan Aku mulai masuk kedalam rumah dengan berjalan perlahan lahan.


Kudapati Rumah sedikit Rapi dan tidak berantakan seperti kemarin meski lantainya agak kurang mengkilat.perabotan sebagian juga terlihat sehabis di Lap dan tidak berdebu.


Ku susuri Ruang Keluar dan Ruang Tamu,lalu Kearah Dapur,dan Kudapati disana Zahra sedabg mencuci Piring,sudah tidak Ada cucian Piring yang menggunung seperti dulu,atau beberapa Tumpukan Kertas Kartun bekas yang menggunung dari pembelian sisa makanan Online.


Zahra Nampak terkejut saat membalikan badannya dan mendapati diriku sudah berdiri dibelakangnya.lantas dia langsung buru buru membenahi diri dan segera mencuci tanganya.


" Mbak bulan,sejak dari kapan mbak sudah Ada dirumah mbak.?" tanyanya dengan mimik wajah gugupnya.


" Barusan saja,kamu lagi bersih bersih?" tanyaku


" I i iya mbak,aku merasa Aku malu sendiri jika terus membiarkan Rumah dalam keadaan kotor seperti ini." jawabnya Takut takut sambil menundukan kepalanya


" Ya Baguslah kalau begitu.kamu bisa lanjutin lagi saja,aku datang kesini cuma mau ngambil beberapa pakainku dan Anak anak yang sebagian masih tertinggal disini." Ucapku santai sambil keluar arah dapur dan melangkahkan kakiku masuk kedalam kamar Kedua Anakku yang beberapa waktu lalu aku sengaja menaruh semua baju bajuku dilemari Milik Syakyla dan Saga


Zahra semakin terkejut mendengar Ucapanku,lalu dia pun dengan Cepat segera menyusulku.


" Mbak bulan jangan pergi mbak." Sesampainya didepanku dia mencoba menahanku


" Zahra,dengarkan Aku ya...." Aku menarik nafas sebentar lalu sejenak menatapnya." Hati manusia itu tidak Akan bisa Cenderung menyukai Dua hal dalam waktu bersamaan.minimal ada salah satu yang mengalahkan yang lain dan menjadi Prioritas utama." ucapku penuh bijak." Dan ternyata memang Aku yang kalah,dan kamulah sekarang yang jadi prioritas penting untuk suamiku,semua itu bukan salahmu atau salahku,namun sebuah Pilihan dari Mas Adrian."


" Aku tau Aku sadar mbak,aku disini yang salah,ku pikir kita nanti bisa hidup berdampingan dalam kebersamaan." jawabnya dengan lirih


Ku Ambil nafas nafas dalam untuk menekan Emosiku supaya tidak Memuncak,lalu ku raih beberapa helai pakaianku dan Juga pakaian Kedua Anaku dan ku masukan kedalam Tas cukup besar yang ku bawa tadi.


" Kamu Tahu Zahra,sebelumnya aku sangat ingin marah sekali padamu,tapi setelah ku pikir ulang kemarahanku padamu tidak Akan ada Artinya,dan merubah keadaan ,jadi Akhirnya kuputuskan untuk tetap melepas semuanya." Ujarku menahan gejolak sesak di Dadaku


"Tapi mbak Akan terluka jika memilih seperti ini mbak." Terlihat mimik wajahnya sangat gusar

__ADS_1


" Bertahanpun seperti menggenggam Bara,Zahra.kelembutannku perlahan Luntur karena setiap Harus bergelut dengan Amarah yang terus membelenggu jiwaku jika Harus Berurusan denganmu dan Juga Mas Adrian,semuanya percuma karena aku terus di geluti Oleh perasaan cemburu Akan kedekatan kalian berdua Zahra,ibadahku serasa Sia sia karena terus memikirkan mas Adrian dan Kamu saat bersama penuh dengan Rasa was was." Ucapku dengan Menahan genangan mataku yang mulai mengembun sedangkan Zahra menatapku dengan wajah mengibanya


" Mbak,---"


" Setidaknya jika Aku memilih mundur maka aku bisa terbebas dari Hal Hal negativ memikirkan tentang kalian,dan Kalian berdua bisa hidup dengan leluasa."


" Maafkan Aku mbak,karena Sejujurnya aku memang sudah jatuh cinta sama Mas Adrian terlebih dahulu,sehingga Akibat perbuatanku menikah dengannya membuat hubungan kalian menjadi Renggang,mungkin disini Aku yang terlalu naif menyukai lalu ingin memiliki tanpa memikirkan Resiko." Ujarnya


Dia terlihat menyerka Air matanya dan menatapku kembali." Abi terlalu memanjakanku sedari kecil mbak dan selalu memberi sejuta kenyamanan untukku,apapun yang Aku minta semampu dia bakal beliau penuhi, sehingga dia lupa dibalik hasrat keinginanku,ada kepentingan Orang lain yang Harus dikorbankan." ucapnya lagi yang mulai membagi Kisah hidupnya sebagai seorang Putri dari Seorang terpandang


" Menjadi Putri satu satunya dikalangan keluarga beliau yang Notabennya keluarga terpandang membuatku tumbuh menjadi Gadis yang manja,dan Apapun keinginanku harus terpenuhi mbak." Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya sambil sesenggukan lalu mendekatkan diri di sisi Tepi Ranjang.


" Jujur Aku merasa tidak bahagia mbak jika Akhirnya Harus seperti ini mbak,mbak bulan Harus Keluar dari Rumah hanya karena demi diriku mbak,aku benar benar menyesal." Sambungnya lagi entah itu ucapan tulus atau Bualannya saja karena aku tak dapat membaca fikiran seseorang


" Memang kenyataanya bukan seperti Ini akhir Rumah tangga yang selama ini kuimpikan.akhir dari kepingan kepingan surga yang kami susun dan kami bangun bersama kini harus Lenyap dalam waktu sekejap,tapi biarlah mungkin Semua ini sudah menjadi takdirku dan bukan rezekiku,mau tidak mau aku harus melepaskannya dan berusaha mengkhilaskan meski Kenyataannya memang sangat sulit untukku,tapi aku akan tetap berusaha." Ucapku dengan senyum Getir


" Aku pergi dulu ya Zahra,jaga Mas Adrian baik baik." Ucapku dengan Hati getir dan Perasaan sakit mengucapkannya


" Ouiya satu lagi,mas Adrian jangan sampai telat makan ya,dia memang sedikit manja dan tidak pernah mengurus keperluannya sendiri,semua serba disiapkan mulai dari sarapan,bekal untuknya dan pakaiannya,karena dia tidak terbiasa menyiapkannya sendiri,andai pun bisa pasti semua berantakan dan kacau,dan ujung ujungnya dia terlambat bekerja,ku mohon bantu dia ya." Aku memberi tahu kebiasaan Suamiku pada Istri barunya dalam kesehariannya


Air mata Zahra langsung meleleh saat pandangan kami bertemu,sebisa mungkin Aku tetap menahan Air mataku dan berusaha tegar dihadapannya


setelah itu Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari kamar anakku dan ingin segera pergi meninggalkan Rumah ini.namun baru saja hendak ingin keluar dari pintu Rumah,tiba tiba tangan kokoh Milik Mas Adrian mencekal lenganku hingga membuat langkahku berhenti.


Aku pun melepas tangannya perlahan yang mencekal lenganku lalu tersenyum padanya,


" Aku memang masih tetap istrimu mas,sampai nanti Hakim yang menyatakan kita berpisah."


" Aku tetap tidak ingin menceraikanmu Bulan." Banttahnya


"Aku mengalah supaya mas bisa Fokus mengurus Zahra,jangan Khawatirkan tentangku mas Aku bisa mengurus diriku sendiri." Jawabku tidak afa keraguan


" Tapi aku sangat membutuhkanmu bulan." Jawabnya dengan tegas sambil meremas jemariku


" Maaf mas tapi aku tidak bisa,terimakasih ya sudah berbagi banyak waktu untuk menghabiskannya denganku." Aku berkata dengan Hati getir


" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu bulan." Dia langsung menarikku kedalam pelukanya dan mendekapku erat


" Aku berjanji akan melakukan apapun yang kamu minta bulan,ku mohon jangan tinggalkan Aku." air mata Mas Adrian menetes disudut kedua bola matanya


"Jangan Berkata seperti Itu Mas,apa yang aku inginkan tidak akan pernah sesuai dengan apa yang kamu inginkan salah satu jalan terbaik untuk kita hanyalah perceraian mas aku hanya tidak terlalu membebanimu dan merepotkanmu." jawabku masih tetap bergeming didalam pelukan suamiku


"Kamu benar benar istri Yang baik Bulan." Desahnya dengan suara bergetar menahan Isak tangisnya

__ADS_1


" Aku yakin Wanita yang Baik Pasti untuk laki laki yang baik mas,begitupun sebaliknya mas,jika memang dengan jalan seperti ini pernikahan kita berakhir,mungkin memang kita sama sama belum pantas untuk satu sama lain mas." Ucapku lirih yang berusaha menahan sesak didada


" Aku yang tidak pernah memantaskan diri Untuk bersamamu,aku yang salah bulan." Gumamnya dengan suara beratnya


" Sudah mas sudah." Aku menepuk punggungnya memberi ketenangan." Cukup sudah Drama saling menyalahkan ini ambil saja hikmahnya mas,mari kita bangkit dan menata hidup kita masing masing." Ujarku lagi


Dia pun melepaskanku dari pelukanya,lama menatapku lekat lekat,sambil mengelus lembut pipiku,membuatku Merasakan perasaan Aneh yang luar biasa,mungkin Cinta untuknya masih tersisa,namun Rasa sakit lebih dominan menyelimuti Hati dan fikiranku


" Tanpamu Apalah Artinya Diriku Bulan." ucapnya penuh sesal sambil mengusap wajahnya kasar


" Jangan mengatakan seolah olah kamu meremehkan kehadiran Zahra mas,Dia juga wanita yang mas Nikahi,itu Artinya kamu harus tetap menghargai istrimu apapun itu mas."


" Astagfirullah ya Allah,kenapa semuany harus berakhir seperti ini." desahnya penuh sesal,tubuhnya Merosot kelantai dengan Rambut acak acakan tanda kefrustasiannya


sedangkan Aku hanya mampu memejamkan mataku sejenak,jujur Sakit sekali aku menerima kenyataan ini,Harus berpisah dengan perasaan yang masih sama sama tertinggal,namun aku tetap tidak boleg goyah aku akan tetap pada pendirianku.mungkin Ini jalan satu satunya Cara untuk kita tidak saling menyakiti satu sama lain.


Ku langkahkan kaki ku pergi meninggalkan Rumah impian kami dengan sejuta Kenangan Didalamnya selama Tujuh tahun Mengarungi Bahtera Rumah tangga kami.Semoga Allah Senantiasa memberi Yang terbaik untuk kami.


****


Saat ini Aku sedang Duduk Dikursi Ruang tamu bersama Bapak dan ibu,sedangkan Kyla dan Saga sibuk menonton Tv di Ruang tengah


" Apa keputusanmu untuk meminta Cerai suamimu sudah bulat nduk.?" Tanya bapak disela sela menyeruput secangkir Kopi ditangannya,lalu meletakan kembalo diatas meja


Aku berdehem sebentar sebelum akhirnya aku mulai mengutarakan niatku pada bapak dan ibu.


" Iya pak,Tekat bulan sudah Bulat." Jawabku penuh keyakinan


" Kalau begitu cucuku harus diberi pengertian." Ungkapnya dengan nada berat sedang ibu terus mengusa Pundak Bapak


" Sebiaa mungkin bulan nanti akan memberikan pengertian pada mereka pak." Jawabku


" Lalu kamu sendiri Apa sudah siap dengan status barumu nanti,serta tanggung jawab baru menyandang Sebagai Orang tua Tunggal dalam mengasuh kedua Anakmu?siap juga dengan bagaimana juga masyarakat akan menilaimu sebagai seorang janda.?" Bapak memberondong pertanyaan padaku


" Insyallah Pak ,Bulan siap.meski masih ada Rasa sedikit Takut.tapi bismillah saja Bulan yakin pasti bisa melewatinya pak." Ucapku dengan mantap


bapak menghela nafas kasarnya." Sebenarnya bapak ingin kamu berfikir ulang dengan menggunakan kepala dingin dan tidak buru buru emosi,andai kamu bisa ikhlas maka pahala dan surga untukmu nduk.tapi jika memang kamu sudah tidak sanggup,bapak sama ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu nduk." ujar bapak


"Insyallah Bulan sudah mantap untuk tetap berpisah dengan mas Adrian pak ,tolong Restui keinginan Bulan agar bulan tak salah dalam melangkah."Ucapku penuh Keyakinan


Ibu dan bapak saling menatap sejenak lalu menganggukan kepalanya,aku pun membalas mengulas senyum pada mereka berdua


_bersambung_

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2