Perusak Rumah Tanggaku

Perusak Rumah Tanggaku
Calon Istri


__ADS_3

Setelah sekian banyak sekali kejadian kejadian yang Allah berikan padaku,aku jadi berfikir mungkin Allah punya Hikmah tersendiri dibalik ini semua,sedangkan Aku harus bisa dengan Legowo menerima ini semua,aku Yakin Allah tidak Akan memberikan Umatnya Cobaan diluar batas kemampuan umatnya.


Mungkin saja Allah Akan Memberikanku Kejutan Diesok Hari lagi?entahlah sebagai Manusia aku hanya bisa Bertawakal dan berserah diri pada_Nya.


Kini Sudah Hari Kedua Mas Adrian Dirawat dirumah sakit itu,tapi aku terus saja mendapatkan Kabar dari Keponakan Ayahnya Zahra yang kemarin datang ke rumahku itu.entah kenapa pemuda itu terus saja mengabariku tentang kondisi mantan suamiku.apa memang sepeduli itu dia dengan Mas adrian,atau mungkin dia punya Rencana sesuatu yang lain?entahlah yang jelas Aku tidak mengerti dengan semua ini.


( Maaf mbak bulan kalau sebelumnya saya mengganggu aktivitas mbak bulan,Hari ini saya mau mengabarkan jika barusan saja Pak adrian sedang menjerit kesakitan,karena luka yang kemarin kini berubah menjadi nanah dan berbau busuk dan anyir mbak.)


"Astagfirullahaldzim." Pekikku pelan dalam gumamanku.


( Lalu apa dokter sudah memberikannya obat ) balasku


( sudah Mbak,tapi tetap saja pak Adrian merintih kesakitan terus mbak.)


( Terus dimana Zahra)


(Tadi sempat kesini mbak,tapi karena kondisinya yang tidak bisa berbuat lebih,akhirnya Dia pulang)


Aku menghela nafas mendapat balasan pesan dari sepupu Istrinya Mas Adrian.


( Lalu apa sekarang Mas Adrian sudah dikasih makan) aku membalas pesan itu kembali


(Belum sama sekali mbak.beliau tidak ingin memakan apapun,termasuk makanan dari pihak rumah sakit)


( Kalau begitu coba kamu suruh istrinya membuatkan bubur nasi dicampur dengan labu kesukaannya dikala dia sakit,atau Tumis Wortel Ampela ati Goreng,nanti biar ku beri resepnya)


(Siap mbak bulan,sekarang juga saya akan menghubungi Mbak Zahra)


Setelah mengakhiri percakapan chat pemuda itu,entah kenapa ada perasaan sesak yang tiba tiba muncul.Rasa iba dan kasihan pada Mas Adrian kini menyeruak dibatinku,Harusnya saat ini istrinyalah yang mestinya mendampinginnya,dan merawatnya sampai sembuh,bahkan disaat detik detik seperti ini mas Adrian sangat butuh perhatian banyak dari istrinya,Apa Zahra Lupa ketika Terakhir Kali Mas Adrian sakit aku sudah memperingatkannya,jika Disaat Sakit Mas Adrian tidak bisa memakam sembarangan dan terkesan pemilih dalam soal makanannya.


sebagai seorang istri seharusnya dialah yang telaten merawatnya bukan malah membiarkannya sendiri dirumah sakit.entahlah aku sendiri tidak mengerti jalan pikiran mereka saat ini.ingin sekali aku tidak memperdulikannya,tapi Jauh dilubuk hatiku aku sangat tidak tega melihat kondisinya sekarang yang semakin memprihatinkan.


aku pun masih terus berfikiran,lalu mengirim pesan kembali pada Keponakan ipar Mas Adrian


(Mas saya minta tolong ya,tolong jaga Mas Adriannya,dia kalau sakit memang Agak sedikit butuh perhatian ekstra dan Selalu merasa Haus,jadi minta tolong tetap sediain Air putih didekatnnya ya.) Ku kirim pesan itu dan langsung dibuka oleh pemuda itu.


(sebelumnya saya minta maaf,Mbak jangan memanggil saya Mas kesannya saya terlalu tua,karena umur saya diatasnya mbak Zahra dua tahun mbak.) balasnya di sertai emot membungkam


( Oh ya benarkah?kalau begitu saya minta maaf,saya mengira anda pria dewasa) balasku sedikit canggung


(tidak masalah mbak,emm sebenarnya semenjak saya bertemu pertama kali dengan mbak bulan,saya sudah bisa menebak jika mbak bulan adalah sosok wanita yang baik,dan saya juga minta maaf jika saya sudah lancang mengambil nomor wa mbak bulan dari ponsel pak adrian,saya terpaksa melakukan itu,karena sejak Pak adrian dibawa masuk ke ruang UGD beliau terus memanggil nama Mbak bulan dan juga Kyla.dan berujar kata maaf,maka dari itu saya berinisiatif untuk menghubungi mbak bulan,karena tidak ada satupun kerabat dekat yang datang mendampinginya)


(Tapi Maaf Ya,mulai sekarang saya sudah tidak bisa dekat dekat dengannya lagi)


(Tapi yang Ku lihat Mbak bulan Orangnya tulus dan masih mau membesuknya,saya bisa melihat ketulusan dari mbak bulan saat memberi perhatian pada pak adrian)


( Sudah lah jangan dibahas lagi,aku hanya sekedar membantunya saja Dek.)


( Semoga suatu nanti Mbak Zahra dan Pak adrian bisa melihat ketulusan Hati mbak bulan)


Aku tak ingin melanjutkan percakapan konyol itu,ku akhir Percakapan pesanku itu dengan tidak membalas pesannys tadi,hal itu akan membuatku semakin Pusing,aku tidak ingin Terjadi salah paham dalam bentuk apapun.


Aku pun Segera lekas bangun dari tempat tidurku dan bersiap siap untuk berangkat kerja,dan mengantarkan Kyla bersekolah.sedangkan Saga pun sudah Rapi memakai baju santainnya setelah ku mandikan bergantian dengan kakaknya.tak lama kemudian suara klakson mobil milik seseorang yang ku kenal pun sudah tiba di depan Rumahku.


" Mas Damar." Seruku saat keluar dari rumah dan melihat siaps yang datang.


" Hai bulan,maaf ya mungkin aku sedikit mengejutkanmu." Tuturnya pelan,lalu tak lama Putri Kyla yang sudah memakai lengkap Sragam sekolahnya pum tiba tiba ikut keluar dan menghampiri Kami.


" Lhoh om dokter?" Cicit putri sulungku


" Hai Kyla Cantik." sapanya


" Hai juga Om dokter." balas putriku sambil melempar senyum dan lambaian tangan ke Mas Damar


" Lhoh Dok kok tumben pagi pagi udah kesini?" tanyaku sedikit Heran


" Iya.kan udah berhari hari kita jarang ketemu,makanya aku putusin buat datang kesini untuk jemput kamu berangkat bareng dan Nganterin Kyla ke sekolah. " Kata Mas Damar


"Terimakasih mas ,tapi apa nggak merepotkan nantinya." Jawabku sungkan


" Buat kalian sama sekali tidak merepotkan.Yuk berangkat." Ajaknya disertai senyum Ramah


" Yasudah aku Ambil tas dan pamit dulu sama ibu ya mas."


" Yasudah yuk sekalian pamit sama ibu bapak kamu dan juga Saga." Ujarnya." Yuk kyla om gendong." Sambungnya lagi


" Oke om."


aku pun sedikit terkejut saat putriku sudah berada dalam Gendongan Mas damar dan langsung mengapitkan lengannya di leher dokter tampan itu.Mereka terlihat sangat Akrab layaknya ayah dan Anak kandung sendiri.


Dan Akhirnya kami pun masuk kedalam sebentar lalu pamit pada ibu dan bapak juga Putra bungsuku.


Disepanjang Perjalanan Kyla banyak bercerita tentang kesehariannya disekolah,sedangkan Mas Damar dengan suka cita mendengarkan Celoteh Anak pertamaku itu,dengan sesekali mengajak bercanda Ria,hal itu membuat Putri Sulungku terlihat bahagia karena merasa mendapatkan perhatian figur seorang ayah yang selama beberapa bulan ini tidak dia dapatkan dari Ayah kandungnya,hal itu membuatku sedikit Terharu dan tersayat hatiku melihat keadaan ini.kenapa disaat Anak anak membutuhkan perhatian figur seorang Ayah malah anak anakku mendapatkannya dari pria lain.


Tapi tetap bagaimana pun aku tidak boleh membandingkannya dengan mantan suamiku karena bagaimanapun dia tetap ayah kandungnya,darah yang mengalir didalam tubuh kedua anakku tetap darah Mas Adrian.jadi Apapun keadaanya aku tidak boleh membandingkannya,apalagi sampai berharap lebih pada sosok Pria lain yang baru saja kukenal,meski dia sangat baik dan perhatian padaku dan juga kedua anakku,tetap saja aku harus tau posisi dan statusku sekarang.


" Yuk Sayang Kita turun udah sampai." Ujarku ketika mobil Mas Damar sudah sampai didepan pintu Gerbang sekolah.


" Aku antar sampai kedalam ya bulan." tawarnya


" Emm jangan mas." Tolakku cepat namun segera ku ralat supaya Mas damar tidak tersinggung,aku hanya tak ingin menimbulkan Fitnah tentang kedekatan kami,apalagi aku baru saja Bercerai,rasanya tidak etis jika dipandang Oleh ibu ibu yang menemani Anak anaknya di sekolah,maklum lah Ibu ibu jaman sekarang seperti apa


" Emm maksudku nggak usah mas,mas tunggu disini saja ya,aku cuma sebentar kok nganterin Kyla masuk kedalam kelasnya." Ucapku dengan Ragu


" Okelah aku paham maksudmu bulan,ya sudah kalau gitu aku tunggu dimobil ya." Jawabnya penuh pengertian meski dari raut wajahnya agak terlihat kecewa namun dia tetap tersenyum


" Makasih Mas udah mau mengerti maksudku."


" Iya bulan." Tuturnya lembut.


" Ayo Kyla pamit sama Om dokter dulu." Seruku pada Kyla


" Kyla Sekolah dulu ya Om dokter.Dadah Om dokter." pamit Putriku sambil menyalami Mas damar sambil melambaikan tangan keluar dari mobil bersamaku


" Dadah kyla sayang." Balasnya sambil melambaikan tangan juga


Tak butuh beberapa lama aku pun kembali masuk kedalam mobil setelah mengantarkan Kyla masuk ke kelas.


" Udah?" tanyanya saat aku Baru duduk dikursi depan sampingnya


" Udah mas,makasih." Jawabku.dia pun melempar senyum lalu kembali Menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya kembali.

__ADS_1


Diperjalanan kami sama sama saling diam beberapa saat,sebelum akhirnya Mas Damar membuka topik pembicaraan .


" Bulan boleh aku tanya sesuatu.?" Tanya Mas Damar sekilas menoleh kearahku lalu kembali fokus menyetir lagi


" Iya mas mau tanya Apa?" aku pun sedikit gelanggapan karena tersadar dari lamunanku.


" Apa benar berita kebakaran yang saya dengar dari kabar online,bahwa Sebuah Rumah yang ada didekat komplek rumahmu dulu itu...." ucapnya menggantung


" Benar mas, Itu Rumahku." Jawabku


" Astagfirullahaldzim,lantas bagaimana keadaan penghuninya?" tanyanya antusias


" Mas Adrian mengalami Luka bakar yang cukup parah mas,dan dia kini dalam Perawatan intensif."Ujarku


" Lalu bagaimana dengan yang lain.?" tanyanya lagi


" Yang Lainnya selamat meski Harus mengalami Luka luka kecil dan Trauma." jawabku


" Astagfirullah,aku turut menyesal dan Prihatin atas kejadian ini." Ucapnya


" Iya Mas Makasih."


" Emm apa itu Rumah yang Rencananya akan dibagi Dua denganmu?maaf kalau aku sedikit lancang bulan." tanyanya lagi


" Nggak Apa Apa kok mas,itu memang kenyataanya,aku sadar sekuat apapun aku berusaha memperjuangkan Harta kalau memang bukan Rejeki kita ya,pasti tidak akan dapat mas aku belajar banyak Hal dalam kejadian ini jika memang Bukan Rejekinya mungkin sia sia saja walau sudah mengejarnya,Aku yakin Allah pasti menyimpan hikmah dibalik ini semua." Ucapku sambil menerawang jauh sana


" Kamu ikhlaskan saja Ya bulan,Insyallah suatu Saat Allah akan Menggantinya jauh lebih baik dari ini." Ujarnya sambil mengulurkan tangan kirinya menepuk punggung tanganku.


" Amin ,Mudah mudahan saja ya Mas.cuma Yang sedang aku fikirkan saat ini adalah bagaimana caranya Ayahnya Kyla bisa selamat dan segera sembuh,meskipun Aku sudah tidak punya hubungan Apa Apa lagi,tapi....."


Aku pun menoleh kearahnya yang lagi tengah fokus mengemudi,disaat bersamaan dia pun menoleh kearahku,sehingga pandangan kami bertemu,lalu beberapa detik dia menatap lekat lekat mataku dengan Sorot mata penuh makna,lalu menyentuh punggung tanganku lebih Erat lagi.lalu tersenyum.


" Aku selalu merasa kagum melihat ketulusan dan kebaikanmu Bulan." Ujarnya dengan tatapan penuh Arti


" Ma makasih atas perhatiannya mas." Jawabku setengah gugup sambil ku tarik tanganku tanganku kembali dari genggamnanya.aku pun segera menghindarinya dalam situasi Yang aku merasa tidak nyaman seperti ini.


Rasanya aku Kurang nyaman dan terlalu terburu buru jika aku membuka hati dan menerima kedekatan dari pria lain.sedangkan Status massa Iddahku belum genap Tiga bulan,rasanya kurang Etis dan Kurang Adab saja diriku ini.


" Kenapa bulan?" Tanyanya sedikit Heran melihat gelagatku yang sedikit Gelanggapan


" Nggak A Apa Apa Mas." jawabku sedikit Gugup


" Maaf Ya kalau sudah Buat kamu nggak nyaman." Ujarnya disertai senyum tipis dan aku hanya menjawab Dengan Anggukan kepala.lalu dia kembali melanjutkan Fokus menyetir mobilnya.


Drttt Drrrt Drrrt


Tiba tiba saja Ponselku Bergetar dari dalam Tasku,aku pun merogoh ponselku dari dalam tas,dan ternyata ads satu panggilan masuk dari Nomor yang baru.


" Hallo ini Siapa?" Tanyaku pada telpon Diseberang sana


" Hallo mbak bulan,Assalamualaikum mbk Ini saya Aqlan Mbak, saya keponakannya Haji Qashim yang tadi pagi Menghubungi mbak." ujarnya dari seberang sana,lalu aku pun kembali menatap layar ponselku yang masih tertera hanya nomor saja.ternyata aku lupa menyimpan nomornya sekaligus menanyakan namanya.karena kurasa Tidak Terlalu penting juga


" Oh ya maaf saya lupa,emm ada apa?" tanyaku sedikit canggung sedangkan Dokter Damar sesekali melirik memperhatikanku.


" Pak Adrian saat ini sedang Kritis Mbak,Sekarang Demam Tinggi juga Kejang kejang Mbak." ucapnya dari seberang dengan nada gugup


" Astagrfirullah Mas Adrian Kritis.."Pekikku dan membuat Mas damar menoleh kearahku." Apa kamu sudah memanggil dokter dan juga Istrinya.?" Sambungku lagi


Tutttttttt


Tanpa Mendengar kelanjutan Omongan Pemuda itu tadi,aku pun dengan Cepat mematikan sambungan telpon secara sepihak.Jantungku seakan Ikut berpacu lebih kencang mendengar penuturan dari pemuda tadi.aku pun sangat panik mendengar keadaan Mas Adrian santri itu.


Kini Perasaanku menjadi Gelisah dan Gugup.Mas Damar yang melihat dengan gelagatku mulai Paham dengan perasaan situasiku saat ini.


" Apa kita akan menjenguknya sekarang?" tanyanya


" Enggak perlu mas,aku tidak mau nanti istrinya marah." Jawabku pelan sambil menggeleng lemah dan menyandarkan kepalaku di kursi mobil


Dia pun Tersenyum sekilas,lalu langsung memutar balik mobilnya kearah berlawanan.aku yang langsung menyadari hal itupun langsung sedikit terkejut dan menegakan kepalaku sambil menoleh kearahnya.


" Lhoh mas kenapa?kita mau kemana mas.?" tanyaku sedikit bingung


" Ke rumah sakit.Tempat Adrian dirawat." Jawabnya sambil mengulas senyum tipisnya


" Nggak perlu mas." Tolakku


" Kegelisahanmu menunjukan Sebaliknya bulan."


" Enggak kok mas,nggak perlu." Sanggahku cepat


" Aku paham dengan perasaanmu bulan,untuk itu aku akan mengantarkanmu kesana." jawabnya


" Tapi mas kumohon biarkan aku move on darinya mas,aku sudah berpisah darinya." Ucapku sambil menatapnya lekat lekat.


Mas Damar pun menoleh dan balik menatapku." Tapi disaat situasi seperti Ini adrian sangat membutuhkanmu bulan." Jawabnya


" Tapi Dia punya istri mas." ucapku menegaskan


" Istrinya sudah jelas tidak bisa membahagiakannya."


" Dari mana kamu tahu mas.?"


" Buktinya saja dia selalu mengejarmu dan berusaha mendapatkanmu kembali kan,padahal Zahra juga tak kalah cantik dan mudanya." Jawabnya yang sukses langsung membuatku Membisu


Aku hanya bisa diam dan menelan Ludah mendengar Ucapan Dokter Damar karena memang kenyataanya begitu,selain Cantik zahra juga lebih muda dariku


" Kok cemberur gitu mukanya,jangan marah dong." Ujar Dokter Damar sambil tertawa kecil


" E enggak kok siapa juga yang marah." Jawabku gugup


" Yang bener.?"


" Beneranlah."


" Hmm kirain Cemburu." Celetuk Dokter Damar pelan sambil tersenyum jenaka kearahku,sedangkan aku berusaha menampilkan wajah biasa biasa saja .


Tak lama kemudian kami pun sudah tiba diRumah sakit,kami pun segera bergegas menuju Ruang mas Adrian dirawat.seperti biasa ada beberapa pemuda Santri telah menunggu didepan pintu ruangan mas Adrian.termasuk Aqlan pemuda yang menelponku tadi.aku pun menghampiri Dari salah satu mereka dan melihat keadaan Mas Adrian dibalik jendela Kaca,terlihat Mas Adrian sudah tertidur kembali.


"Bagaimana keadaanya .?" tanyaku pada salah satu pemuda bernama Aqlan itu


" Alhamdulilah udah agak stabil mbak,Meskipun tadi sempat muntah muntah dan kejang kejang." Jawabnya yang langsung bisa membuatku sedikit bernafas lega

__ADS_1


" Mungkin itu Suatu bentuk Respon tubuhnya dari rasa sakit dan Obat.benar kan dokter?" tanyaku pada Mas Damar


" Bisa jadi begitu,tapi Tetap Harus melakukan pemeriksaan lebih dalam lagi untuk mengetahui penyebabnya." Ujar Dokter Damar


" Lalu apa dia sekarang sudah makan.?" tanyaku pada pemuda bernama Aqlan


" Belum mbak." Jawabnya


Aku dan Dokter Damar tercengan dan saling melempar pandangan satu sama lain


" Tapi tetap saja pasien Harus diberi Asupan makanan." kata Dokter Damar


" Tapi Pak adrian tetap tidak mau makan mbak."


" Zahra dimana?"


" Tadi sempat datang sebentar lalu pergi lagi,karena keadaan mbak Zahra yang masih belum stabil dan harus rawat jalan mbak." Jawab Aqlan


" Aku pesankan Makanan dulu ya bulan." Ujar Dokter Damar


" Bagaimana baik nya aja mas,aku bingung sekali saat ini." Jawabku dengan Raut wajah Bingung


" Bentar ya."


aku kembali Menatap Aqlan saat Mas Damar merogoh ponselnya menghubungi gerai makanan terdekat.dan terlihat masih menunggu panggilanya diangkat.


" Apa pihak rumah sakit tidak menyediakan makanan khusus untuknya.?" tanyaku memastikan


" Sudah mbak tapi tetap saja pak adrian tidak mau menyentuhnya sama sekali."


Jujur saat ini aku gundah dan bingung,haruskah aku yang merawatnya saat ini,sedangkan dia masih punya istri,tidak tidak aku langsung menyusul mas Damar yang tengah menelpon dan segerw ku tahan sebelum berhasil memesan makanan.


" Mas Damar tunggu." Cegahku dan mas damar langsung menoleh kearahku


" Kenapa bulan.?" dia mengurungkan niatnya menelpon


" Kayaknya kamu nggak perlu pesen makanan deh mas,kita pergi sekarang saja." ucapku dengan ekspresi resah


" Lhoh kamu mau pergi?" Mas Damar balik menatapku


" Aku rasa tidak baik jika kita terlalu lama lama disini mas,nanti akan menimbulkan kesalahpahaman." aku segera ingin mengajak nya pergi


" kesalapahaman bagaimana maksudmu?Aku yakin Zahra tidak akan cemburu karena ada aku disini bulan." jawabnya sambil tersenyum semakin membuatku salah tingkah


" Iya aku tau mas,tapi Kebersamaan kita nantinya akan menimbulkan Fitnah dan isu tidak sedap,akan ada mata dan mulut jahat bertebaran dimana mana." Jawabku penuh gelisah


Dia pun menarik sudut bibirnya keatas sambil tersenyum menggodaku." Emm apa ini artinya kamu sedang mengkhawatirkan tentangku?" tanyanya penuh dengan senyum jenakanya.


" Ishh Apaan sih kamu mas.nggak lucu." Aku merajuk dan menggelengkan kepalaku cepat sedangkan dia masih saja Mengulas senyum jenakanya


" Tuh tuh kelihatan dari wajahmu yang udah merah merona melebihi blush on." Bisiknya pelan sambil terkekeh melihatku semakin salah tingkah


" Ya Ampun mas udah." Kataku sambil membulatkan mata supaya dia berhenti menggodaku.karena ini bukan waktu yang tepat.


Aku pun berbalik menghampiri Aqlan memberitahunya jika aku harus segera pergi.


namun aku tetap berpesan padanya untuk tetap memberitahu perkembangan Mas adrian.setelah itu kami pun pamit meninggalkan ruangan mas Adrian.


" Kau tahu bulan,aku sangat suka sekali membuat wajahmu malu malu dengan pipi merona mu,aku tidak tahan jika tidak menggodamu." Ujarnya disertai tertawa kecil saat kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit


" Karena apa coba iseng kayak gitu." Jawabku sambil menyebikan bibir


" Ya karena aku aja melihatnya." Jawabnya dengan asal membuat wajahku semakin cemberut


aku pun meliriknya saja sambil menggelengkan kepala,sedangkam dia masih saja menyebarkan senyumnya disepanjang perjalanan kami.namun ketika kami berada dipintu keluar,tiba tiba saja kami berdua berpapasan dengan Zahra Beserta Rombongan Khadimahnya.


Langkah kami pun saling terhenti dan saling menatap satu sama lain.


" Lhoh kamu disini juga mbak.?" tanya Zahra dengan wajah memicing Curiga,namun Mas Damar langsung menyautnya.


" Iya kebetulan tadi bertemu, dan sekalian saja aku ajak kemari." Dusta Mas Damar tak ingin Zahra mencurigaiku


" Oh begitu aku kira..." ucapnya setengah menyunggingkan bibirnya


" Kamu kira apa?" Tanya mas damar


" Sudahlah lupakan.emm tampaknya kalian ini terlihat semakin kompak ya,kemana mana selalu berdua,tidak ingin berjauhan satu sama lain.?" ujar Zahra dengan Senyum setengah sinis kepadaku


" Ya mau bagaimana lagi,seharusnya kan begitu,sebagai seorang pria yang baik sudah sepatutnya kan selalu menjaga calon istrinya." ujar Mas Damar yang langsung sukses membuatku terkejut sekaligus melongo begitu sebaliknya Zahra pun Tak kalah terkejutnya dari.


" A Apa calon istri.?" Pekik Zahra terperangah


" Iya calon istri."Jawab Mas Damar dengan enteng" itu sudah menjadi kewajibanku menemani dan mengantarnya kemana mana,benarkan bulan?" dia melempar senyum kearahku sambil melemper leher belakangnya karena sedikit salah tingkah


aku pun menyenggol lengan Mas Damar sambil memberi kedipan mata tanda meminta jawaban apa dari maksudnya.


" Beneran Lhoh,selepas Bulan dari Massa iddahnya aku akan segera langsung melamarnya,aku tidak akan membuang waktuku untuk memiliki wanita sebaik bulan,katakan pada ayah ibumu ya kami pasti akan mengundangnya." Jawaban dari mas Adrian langsung sukses membuat kami melongo hebat.


Terlihat Wajah Zahra langsung merah,aku yakin dia pasti sangat murka,terbukti nafasnya terlihat naik turun dan menatap tajam kearahku dan dokter damar secara bergantian


" Kalau begitu kami permisi ya." Pamitnya pada Zahra." Ayo bulan kita pergi." Ucapnya lagi sambil mengapit tangan di lengan kekarnya.sambil melewati Zahra yang masih terperangah tak Percaya dan melongo melihat kepergian kami.


*****


" Kamu tadi apa apaan sih mas,kenapa harus berkata seperti itu.?" Aku memberondong pertanyaan ketika kami sudah berada didalam mobil.


" Ya mengerjainya dan juga menyelamatkan Harga dirimu bulan." Ujar Mas Damar dengan santai sambil melempar senyum padaku


" Ya Tapi kan nggak Harus bilang Calon Istr-----"


" Ssstttt.Biarin aja,siapa tahu Allah Mendengar lalu mengabulkanya,kan Tidak ada halangan buatku untuk mendekati wanita yang tidak ada pemiliknya." Jawabnya dengan santai sambil menaik turunkan alis tebalnya sambil tersenyum hangat padaku.


" Ya Allah Pria ini selalu bikin aku jadi semakin salah tingkah." gumamku dan Mas Damar pum langsung melesakatkan mobilnya..


_Bersambung_


Jangan lupa kasih dukungannya ya,supaya Othornya lebih semangat lagi Upnya.


mungkin beberapa hari kedepan upnya agak telat telat terus soalnya banyak urusan didunia nyata.mohon dimaklumi Yak.dan aku juga udah panjangin di bab ini.


Semoga suka

__ADS_1


happy Reading


__ADS_2