
Tak lama kemudian,Mobil yang ku tumpangi sudah sampai dipekarangan Rumah kedua orabg tuaku.Ternyata Putri sulung Si kyla masih belum tidur,diapun bersama bapak menungguku didepan teras Rumah.aku pun segera keluar dari mobil sedangkan Kyla langsung berlari kearahku untuk menyambutku.
" Bunda dari mana aja?kok pulangnya malem sekali bun.?" tanya Kyla
" Tadi bunda ada Urusan penting sayang." jawabku dengan lembut karena aku harus berusaha menampilkan wajah baik baik saja didepan orang orang yang aku sayangi.
"tapi tumben sekali malem begini bun pulangnya." tutur Kyla dengan wajah sedikit cemberut
"Iya sayang,maafin bunda ya sayang.lain kali bunda gak bakal pulang malam lagi." balasku memcoba menghibur.
" Lhoh sudah pulang toh nduk.?" saut ibu dari belakang.
" Iya bu." jawabku sambil masuk kedalam rumah dan menggendong Kyla yang sedari tadi merengek padaku.
" Kok tumben sampek malam nduk?ibu khawatir dari tadi telpon nggak diangkat.semuanya baik baik saja kan nduk?urusanmu dipengadilan juga sudah beres kan nduk.?" ibu kembali memberondong pertanyaan karena terlihat sangat cemas menunggu kepulanganku.
" Astagfirullah maaf bu,hp bulan tadi lowbat pas dipengadilan tadi,dan belum sempat ngecas." jawabku
" Yasudah nggak apa apa,ibu cuma khawatir aja.tapi urusanmu sudah beres semua kan nduk?"
" Alhamdulilah bu sudah." aku menjawab dengan nada lesu dan wajah yang terlihat lelah.
Aku pun segera mengajak Kyla untuk masuk kedalam kamarnya,lalu aku menemaninya sebentar sampai dia tertidur.setelah itu akupun keluar dan menemui ibu di ruang tamu,karena aku juga sekalian mau mandi karena merasa badanku lengket semua.
" Kamu kenapa nduk,kelihatannya wajahmu lesu sekali ?" tanya ibu yang ketika melihatku baru keluar dari kamar.
" Nggak apa apa buk,cuma hari sedikit membuat kepalaku sedikit pusing."
" Sudahlah Nduk,ikhlaskan semua,kamu harus bisa mengikhlaskan mantan suamimu,mungkin ini sudah adalah sudah ketentuan dari Allah Nduk." ujar ibu menasehatiku sambil duduk di sampingku dan membelai lembut Rambutku yang sudah ku buka hijabku.
" Bukan itu masalahnya bu,tapi Hari ini benar benar hari yang melelahkan untuk bulan,sekaligus hari penuh kejutan untukku bu." jawabku dengan nada lirih
"Penuh kejutan bagaimana nduk maksudmu?" tanya ibu mulai penasaran
" emm itu bu soal Zahra ." jawabku menggantung
" memangnya kenapa dia nduk?"
ibu yang mulai penasaran pun dan terus mendesakku untuk menceritakan apa yang telah terjadi.Sehingga aku pun menceritakan awal mulai dipengadilan tadi,tentang kejadian yang menimpa Zahra dan Awal mula pertemuan dengan Orang tua mantan adik maduku itu.
"Ya begitulah bu ,kurang lebih kejadiannya." ujarku sambil menghela nafas pelan.
" owalah nduk nduk,kamu yang sabar ya,semoga Allah memberimu jalan yang terbaik untukmu.semoga kebaikanmu menolongnya mendapat pahala dari Allah." Ujar ibu
" Iya bu,insyallah Bulan ikhlas,bulan akan berusaha sabar dan menerimanya ini dengan hati lapang,meski ucapan dan sikap mereka sudah menyakiti perasaan bulan." jawabku
" Astagfirullahaldzim sabar ya nduk,ibu yakin suatu saat kamu dan anak anakmu akan menemukan kebahagian." ucap ibu sambil mengelus punggungku
" iya bu,makasih banyak ya bu atas dukungan ibu selama ini,ibu selalu menerima kekurangan anakmu ini." ucapku dengan lirih
" kalau itu sudah pasti nduk,memang siapa lagi yang bisa mengerti keadaanmu kalau bukan ibu,lah wong kamu anak ibu dan bapak satu satunya." jawab ibu
" Sekali lagi bulan terimaksih banyak sama ibu." ucapku sambil memeluk ibu menumpahkan segala rasa lelah yang sedari tadi menghampiriku
" Mulai sekarang kamu harus bisa bangkit dari massa lalumu nduk,sambut hari esok dengan penuh semangat dan lebih baik lagi,kamu harus lebih semangat lagi menyongsong hari yang lebih baik lagi demi kedua anak anakmu nduk." ucap ibu sambil menenangkanku
" Iya bu."
" Jika hari ini kamu merasa gagal,percayalah bahwa ada Hari esok yang akan siap menyambut kebahagianmu bersama anak anak demi masa depan kalian.ibu yakin dan doakan suatu saat kamu akan menjadi wanita yang paling bahagia dan beruntung di dunia ini nduk,kamu hanya perlu belajar ikhlas dan bersabar."
" Iya Bu Amin."
********
Drrrrtt Drrrttt
terdengar suara ponselku bergetar diatas nakas.aku yang sedikit masih ngantuk sambil mengerjabkan kedua mataku ,tanganku mulai terulur meraih ponsel tersebut.
( Assalamualaikum,selamat pagi .semoga Hari ini menjadi hari yang penuh dengan keindahan dan keceriaan untukmu.) Pesan dari Dokter Damar yang ditambah dengan emoji gambar Love dan bunga mawar .
Mataku yang tadinya masih menyipit pun kini menjadi terbuka lebar,tanpa sadar sudut bibirku tertarik keatas.benar benat Dokter muda ini semakin membuat wajahku bersemu merah pintar sekali dia menggombal di waktu yang masih sepagi ini.
(Walaikumsalam pak Dokter,Amin terimakasih atas ucapan dan Doannya Dok.) Aku pun mulai membalas pesannya
(Formal sekali ya hem,tapi yasudahlah tidak masalah,aku hanya ingin kasih tau kamu jika hari ini aku akan menjemputmu kerumah,kita akan berangkat kerja bareng)
tak lama kemudian satu balasan pesan dari dokter Damar pun masuk lagi,hal itu langsung sukses membuatku membulatkan kedua mataku
(Aduh Dok nggak usah ya,nanti saya merepotkan dokter.Aku berangkat sendiri aja ya)balasku
( Nggak merepotkan kok,rumah kita kan searah,lagian aku juga tiba tiba rindu sama calon Anak anak) balasannya dan Ditambahi dengan Emoji Senyum
(Hadeh,searah dari mananya dong,Rumah kita nggak searah lhoh dan lumayan jauh Juga)
__ADS_1
( Apapun akan aku lakukan Demi wanita seindah Rembulan, akan ku buat jalan yang tidak searah itu menjadi searah,bahkan jika harus memotong jarak yang jauh sampai membentang lautan pun akan aku lakukan untukmu.)
Hahaha Tertawa ngakak melihat pesan Dokter muda yang usianya terpaut Diatasku dua tahun itu,sungguh benar benar membuatku senam wajah dipagi hari ini.
( Dokter ini bisa Aja nebarin Gombalan Maut dipagi buta ini.)aku mencoba menetralkan suasana membalas pesannya.
Drrrttt Drrrtt
tanpa basa basi lagi Dokter muda itu langsung menelponku,aku pun sedikit gelanggapan dan beranjak dari tempat tidur untuk sedikit menjauh mengangkat telponnya
" Hallo." Sapaku pelan
" Assalamualaikum bulan"
" walaikumsalam Dok.iya kenapa?" tanyaku
" Aku hanya ingin memastikan,sampai kapan kamu akan memberikan Respon tentang Harapanku ke kamu bulan.?" ujarnya dari seberang sana
Hening
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan padanya,aku pun juga tau maksudnya,tapi aku tidak ingin terlalu cepat buru buru karena aku pun juga baru saja bercerai.Hatiku juga masih belum sembuh dan masih ada bekas luka hati yang menganga dari Mas Adrian,disamping itu aku juga mau menghindari dari Fitnah karena Saat ini aku juga masih dalam massa Iddah pasca bercerai dari Mantan suamiku.
" Emmm mas sebaiknya kita bicarakan hal ini lain kali saja ya,mas juga tau sendiri kan kalau tiga bulan ke depan status saya masih dalam masa iddah itu artinya aku menjadi wanita yang masih terikat aturan agama" jawabku
" Iya bulan maafkanku karena sudah lancang menanyakan hal ini ke kamu,aku sangat menghargai itu." ucapnya
" Terimakasih mas." jawabku
" Sama sama bulan,dan perlu kamu tau ,aku Hanya ingin menjadi Orang pertama yang selalu ada untukmu" Balasnya
" Ya sudah aku tutup ya telponnya,aku mau siap siap dulu,aku berangkat sendiri saja." jawabku
" Iya bulan sampai ketemu nanti ya,hati hati kalau berangkat."
" iya Mas Makasih, Assalamualaikum."
" Walaikumsalam bulan."
Dan Sambungan telpon pun terputus.jujur Aku pun terharu akan kebaikan dan perhatiannya,tapi Aku harua bisa menempatkan diri untuk tau batas batasannya.
*******
Di Rumah Sakit Kusuma Bangsa
Seperti biasanya aku pun sudah kembali menjalani aktivitasku seperti biasannya,aku saat ini tengah sibuk membungkus dan menyiapkan beberapa makanan untuk pasien.namun tak lama kemudian aku dikagetkan dengan kemunculan kepada pria pemilik wajah teduh tersebut,siapa lagi kalau bukan Dokter Damar.
" Hai juga dok,apa yang Mas Damar lakukan disini?" tanya sedikit terkejut dan melirik tanda Only Staf yang terpampang di pintu masuk.
" Maaf bulan sudah mengagetkanmu." jawabnya dengan wajah kikuk
" Terus dokter mau apa datang ke sini dok.?" tanyaku memicing
" Hehehe Habisnya aku nggak bisa menahan diri untuk tidak datang menemuimu disini bulan." Ucapnya disertai dengan ulasan ciri khasnya
" Nanti kerjaan dokter bisa terbengkalai lhoh hanya karena gara gara nemui aku disini.ucapku setengah berbisik,sambil menghampirinya dan mendorongnya keluar dari Ruanganku,supaya teman teman kerja tidak melihat kita hanya berdja saja.
" Ampun bulan jangan Usir aku lah." ucapnya sambil senyum menggoda
" aduh dokter mau apa sih,ini masih jam kerja dok." Ucapku setengah panik
" Ini Lihat." Ucapnya sambil mengeluarkan secarik kertas dan menggambarkan dua titik yang agak berjauhan
Aku yang melihat tingkahnya pun mengeryit heran." aduh apaan sih dok,aku mau kerja nih."
"Ssttttt sabar dulu bulan.nih lihat." Ucapnya sambil melipat lipat kertas tersebut
" Ibaratnya Kertas ini adalah kita,dan kamu tau itu apa artinya.?"
" Apa memangnya.?" tanyaku sedikit penasaran
" Artinya itu aku ingin melipat jarak dan Rintangan yang melintang diantara kita,supaya suatu saat nanti Aku bisa memilikimu,dan aku pastikan itu Harus bulan." Ucapnya dengan Lugas dan Tegas disertai tatapan Yang tulus menatap lamat lamat Iris mataku
Deg
Jantungku seketika mulai berdegub kencang tidak karuan mendengar penuturannya,Aku pun mulai gugup membuat Tangangku dipenuhi keringat dingin.
" Ma maksud Dokter.?" tanyaku terbata bata karena gugup ditatapnya terus
" Aku Menyukaimu Bulan." Jawabnya diiringi dengan tangannya terulur menyentuh pipiku dan mengusapnya lembut,membuat ku terbelalak dan Seketika hilang kesadaranku.setelah seperkian detik diapun langsung pergi begitu saja.sontak membuar kesadaranku kembali.
" Astagfirullahaldzim,perasaan apa ini,tidak aku tidak boleh terburu buru.bisa saja kan tadi Dia hanya Bercanda,aku tidak boleh menanggapinya dengan serius...." Aku pun menekan dadaku sendiri dan menepis bayangan dari dokter tamlan itu sambil menahan debaran jantungku yang cara kerjanya lebih cepat dibanding sebelumnya.
***
__ADS_1
Tak Terasa Akhirnya sudah pukul Lima sore,dan Itu tandannya Jam kerja ku sudah selesai.aku pun bersiap siap untuk pulang setelah membereskan pekerjaan semuanya.
" Selamat sore Bulan." Sapaan suara itu terdengar sedikit mengejutkanmu,membuat Aku semakin gugup dan dadaku tiba tiba berdesir tak menentu.
" So Sore juga Dok." balas sapaku sedikit Gugup
" Mau temenin aku makan nggak,katanya ada warung Penyet yang enak sekali didekat sini." Tawarnya
" Emm sebaiknya lain kali aja ya dok." jawabku segan
" Memangnya kenapa?tapi aku maksa Lhoh." ucapnya sambil menggandeng tanganku.
aku pun dengan cepat melepaskan genggaman tangannya."ma maaf dok,tapi Hari ini ibu lagi kurang sehat,dan aku harus segera pulang untuk memasak buat makan malam." jawabku
" Oke yasudah kalau begitu ijinkan aku membelikan obat untuk ibumu,sekalian nanti kamu beli makanan aja biar nggak capek capek harus memasak,kasian juga anak anak jika harus menunggu."
" ta tapi dok. ini terlalu merepotkan." ucapku sedikit tertegun.
" Udah nggak apa apa,nggak ngerepotin kok." jawabnya enteng." aku ngikutin kamu dari belakang ya,kamu bawa mobil kan?"
" I iya dok."
Diapun tersenyum lalu langsung berlalu terlebih dahulu,sementara aku berjalan mengekorinya dari belakang.
" Ya Tuhan Dasar dokter ini,nggak tau apa kalau aku tuh gugup terus kalau dekat sama dia." Batinku
Mobil kami pun secara beriringan membelah jalanan ibu kota disore hari yang mulai senja,pertama mobil Mas Damar pun berhenti Diresto cepat saji dan membawa beberapa bungkus kardus makanan yang dia tenteng didalam kantong plastik,lalu menyerahkannya padaku,aku pun menerimanya dengan sungkan,meski awalnya kutolak tapi dia tetap memaksa,dan akhirnya aku pun menerima kantong plastik makanan tersebut.
Tak lama kemudian mobil Mas Damar pun berhenti disebuah Apotik,lagi lagi dia masuk kedalam sendiri ,tak lama kemudian dia pun kembali keluar dari apotik itu sambil menenteng kantong kecil yang kuyakini berisi obat obatan buat ibu
" Ini Aku tolong kasih Obat vitamin dan penambah tenaga buat ibumu ya."Ujarnya menghampiriku sambil menyodorkan kantong plastik tersebut.
" Terimakasih banyak dok,tapi kenapa dokter sangat baik dan perhatian padaku.?" tanyaku dengan wajah ragu ragu
Dia pun mendekatkan wajahnya kearahku dari jendela mobilku,sontak membuatku mundur dan berusaha menghindarinya.
" Semuanya ku lakukan karena Aku menyukaimu bulan,aku pun berharap jika kamu mau membalas perasaaku." Jawabnya dengan tatapan Serius yang mampu menghujam jantungku.
" Ta tapi dok...." ucapannya menggantung ke udara,tak kala dia menyunggingkan senyum sambil mengusap lembut pipiku sekilas setelah itu dia pun berlalu tanpa menunggu jawaban dariku.
" Dasar Pria itu,pintar sekali dia membuat Jantungku dag dig dug gak karuan begini." Gumamku sedikit mendumel.
Aku tau dengan sikapnya seperti ini aku harus menanggapinya dengan bagaimana,apa rasa yang aku rasakan bahagia atau entahlah,yang jelas aku masih belum bisa untuk membuka hati lagi untuk pria lain.entahlah sampai kapan.meski aku tidak bisa memungkiri jika perlakuannya padaku yang seperti ini membuat hatiku sedikit menghangat.
*******
" Assalamualaikum bu." Sapaku sesampainya depan pintu rumah dan masuk kedalam lalu menyalami ibukku.
" Walaikumsalam bulan,kamu sudah pulang ?"
" Iya bu.oiya ini ada titipan dari Dokter Damar buat ibu." Ujarku mengulurkan kantong plastik berisi Obat
" Ibu lihat kau dekat sekali ya nduk sama dia.?" tanya ibu antusias
" Nggak juga kok bu,hanya sebatas teman saja."jawabku
" Bulan,ibu mau bicara sama kamu."
" Bicara apa bu?" tanyaku penasaran.
" Tadi siang ada seseorang yang datang kerumah,lalu mengatakan jika ibu harus menjaga sikap anak ibu.orang itu jjuga mengatakan jika kamu sudah berbuat kelewatan bulan." ucap ibu dengan cemas
" Lhoh memangnya siapa bu yang ngomong?"
" itu lhoh nduk,tadi itu ada beberapa pemuda dengan berpenampilan rapi datang kerumah dan sedikit memberi ancaman,mereka bilang jika kamu sebagai mantan istrinya Adrian tidak boleh terlebih dulu berdekatan dengan Laki laki manapun sebelum benar benar terlepas dari Adrian nduk" ucap ibu panjang lebar
" Oh ya benarkah itu bu.?" tanyaku memastikan
" Iya bulan mereka juga berkata seperti ini' sebaiknya mbak bulan jangan malu maluin keluarga mantan suami dan lebih menjaga marwah mbak bulan.begitu katanya." Terang ibu
" Memangnya Mas adrian punya nama baik?sejak kapan?heran sekali aku bu,lagian Kami juga sudah bercerai punya hak apa dia berani mengaturku,
apa yang mereka inginkan bu,kenapa mereka masih memata matai bulan" Desisku menahan Emosi
" Entahlah nduk tapi ibu sangar khawatir sama kamu." Ucap ibu dengan raut kekhawatiran
" Ibu percaya ya sama bulan,kalau bulan tidak berbuat apa apa bu,bulan juga masih ingat batasannya bu." Jawabku meyakinkan ibu
" Tapi Orang jahat bisa saja menebar fitnah yang keji padamu nduk,kamu harus Hati hati ya nduk,ibu khawatir." ujar ibu dengan raut wajah kecemasan
" Iya bu insyallah Bulan akan baik baik saja,yasudah ibu jangan fikirkan lagi ya." Ujarku menenangkan dan mendapat anggukan kepala dari ibu
" Ya Allah tolong lindungilah kekuargaku dimanapun berada.Amin."
__ADS_1
_Bersambung_
Happy reading