
Hari ini aku dan salah satu karyawanku berniat untuk pergi belanja bareng,mengingat bahan baku kue semuanya sudah sisa sedikit.aku bersama Ririn pergi belanja ke supermarket diantar oleh supir ku pak tarjo.
Tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi pun sudah sampai.
" Pelan pelan bu,mari saya bantu." ujar ririn membantuku yang sibuk berusaha berdiri yang sedikit susah payah karena perutku yang sudah mulai buncit di usia kandungan trimester ke tiga ini.
" Iya makasih rin."
Aku pun yang berdiri pelan pelan dan dibantu ririn pun kini perlahan membuka pintu mobil,setelah kami keluar dari dalak mobil kami pun bergegas masuk kedalam supermarket tersebut,sedangkan pak tarjo menunggu kami di parkiran.
setelah sampainya di dalam toko,aku dan ririn dengan cekatan memilih milik produk bahan bahan belanjaan kami,seperti tepung telur aneka bahan baku kue lainnya,dan juga membeli beberapa kebutuhan dapur yang lain.
Setelah troli belanjaan kami sudah penuh,aku dan ririn bergegas menuju kasir dan akan melakukan transaksi pembayaran.
Aku yang merasa sedikit lelah dan kecapekan memilih menunggu tak jauh dari meja kasir,dan menyuruh Ririn untuk antri dikasir,dan memberi sejumlah uang pada ririn,karena aku sedang ingin duduk.setelah menemukan tempat duduk yang membuatku merasa sedikit mengurangi pegal pegal dikakiku,aku memilih berdiri sejenak dan berjalan jalan kecil sambil mengawasi ririn yang tengah melakukan transaksi di kasir.
Brukk
" Eh....."
Tanpa ku duga tiba tiba saja ada seorang anak kecil lari lari hingga menabrak tubuhku dan hampir saja aku kehilangan keseimbangan tubuhku dan jatuh ke lantai kalau tidak tangan kokoh milik yang entah siapa berhasil menahan tubuhku.
" Bulan.."
Deg
Aku yang tiba tiba saja mengenali siapa pemilik suara itu pun,perlahan mengangkat wajahku untuk melihat siapa orang yang tengah menahan tubuhku supaya tak jatuh tersungkur di lantai.
" Mas damar." pekikku pelan dan terdengar lirih.
Aku terkejut bukan main ternyata orang yang kini menolongku adalah,sosok yang mati matian yang ku hindari selama ini,kenapa aku harus bertemu dia kembali dengan keadaan perutku yang sudah menyembul buncit seperti ini,padahal terakhir bertemu dengannya aku mengatakan akan menggugurkan kandunganku calon anaknya,supaya tak mengganggu kehidupanku kembali,dan sekarang kenapa aku harus bertemu dengannya kembali dalam keadaan masih hamil besar anaknya.
" Kamu baik baik saja.?" tanyanya sambil melirik kearah perut buncitku,spontan aku langsung menegakan tubuhku dan menghindarinya
" Aku nggak apa apa." kataku menahan gugup dan segera melangkah pergi meninggalkan dia yang masih berdiri menatapku
" bulan tunggu." panggilnya,namun aku tetap tak menghiraukannya dan melangkah buru buru,namun tenagaku yang mulai terbatas kini mampu dikejar oleh mas damar,dan dia pun mencekal lenganku
" Apaan sih mas,lepain.!" aku berontak saat dia berhasil mencekal lenganku
" Bulan,aku ingin bicara sama kamu sebentar."
" Nggak bisa aku sibuk.!" Aku berusaha menghempas tangannya namun tangan kokohnya terlalu kuat sehingga aku merasa sedikit kesakitan oleh cengkramannya
" Ayo aku ikut aku."
" Aku nggak mau." tolakku,dan tanpa basa basi tiba tiba mas damar mengangkat tubuhku,membuatku terkejut dan kelimpungan bukan main
" jangan macam macam kamu mas!" hardiku sambil terus memberontak dalan gendongannya,kakiku pun ku ayun ayunkan supaya dia kuwalahan dan menurunkanku.
Dia pun tak mengindahkan ucapanku dan terus menggendongku membawaku ke kursi yang ku buat duduk tadi.
" Keterlaluan kamu mas,kamu pikir aku wanita apa.!" aku tetap memarahinya dan terus memakinya,namun bukannya dia balik marah,malah terus menatapku sambil menebar senyum nya yang semakin membuatku muak
" Tenang bulan,kendalikan emosimu,sangat tidak baik buat kesehatan anak kita." ucapnya penuh percaya diri,membuatku seketika langsung melotot
" Siapa bilang anak kita,dia anakku bukan anakmu mas." jawabku dengan ketus,namun dia malah terkekeh
" Sudahlah bulan jangan terus membohongiku,aku yakin bayi yang ada dalam kandunganmu itu anakku anak kita." ucapnya dengan santai
__ADS_1
" Percaya diri sekali kamu mas,dia..." aku nampak berfikir sejenak
" Dia benar calon anakku kan." sahutnya yang semakin membuatku semakin kesal
" Bukan,dia anakku dan juga suamiku." jawabku asal berbohong
" Suami? maksudmu.?" terlihat wajah mas damar sedikit terkejut mendengar aku menyebut kata suami
" Aku sudah bersuami lagi mas,dan tolong berhenti menggangguku lagi." ucapku penuh penekanan
" Hahaha kamu jangan membodohiku bulan,kamu fikir aku bisa kamu tipu?" ucapnya
" terserah kamu percaya atau tidak,yang jelas aku sudah tidak sudi kembali berurusan denganmu mas." jawabku dengan tegas
" tapi mau tidak mau akan tetap berurusan denganku karena aku yakin,kalau bayi yang kamu kandung saat ini adalah calon anakku bulan." ujarnya tetap bersikukuh
" Sudah ku katakan aku sudah bersuami lagi mas,dan bayi ini anak dari suamiku.!" ucapku tak kalah tegas meski berbohong
" Kamu pikir aku tidak bisa mengira ngira kehamilanmu?pada waktu kita bercerai kamu sudah mengandung beberapa bulan calon anakku,dan masa iya hanya tidak bertemu dalam kurun waktu tujuh bulan lebih kamu sudah kembali menikah dan hamil sebesar ini,kamu jangan membodohiku bulan aku ini seorang dokter apa kamu lupa.?" Seru mas damar yang terdengar dengan nafas memburu." aku yakin usia kandunganmu sekarang sudah menginjak sembilan bulan." sambungnya lagi
" terserah katamu mas,yang jelas anak yang ada dalam kandunganmu ini bukan anakmu ingat itu.!" Sentakku dan aku berusaha bangkit dari tepat duduku dan berdiri." minggir awas kamu mas aku mau pulang."
" Oke kalau begitu mana suamimu,kenapa dia malah membiarkanmu belanja sendiri .?" tanyanya
" Dia....sibuk kerja.!" jawabku sekenanya
" Alasan klasik." ujarnya sambil tersenyum miring
" udahlah mas berhenti mencampuri urusan pribadiku,urus saja rumah tanggamu jangan terus mengusiku ." seru ku setengah berteriak,muak sekali rasanya jika harus berdebat dengannya
" Kalau begitu biar aku yang antar kamu pulang." ujarnya
" Nggak perlu aku bisa pul.-----"
Terlihat perut clarissa pun sama buncitnya sepertiku namun karena tubuhnya tinggi dan semampai jadi perut buncitnya tak terlalu kelihatan besar sepertiku,dia pun menghampiri kami yang tengah bersitegang.aku pun langsung mengibaskan tangan mas damar yang tadi berusaha menggenggamku.
" dasar wanita munafik,tidak tau diri,sudah jadi mantan istri masih aja cari kesempatan buat ngrayu suami orang,dasar pelakor." Cetusnya yang langsung menyambar kami,mendengar ucapannya yang sengaja dia kencangkan dan mengundang beberapa orang lain melihat ke arah kami membuat darahku mendidih dan emosi
" Jangan sembarangan ya kamu,kamu sadar nggak tuduhan pelakor itu seharusnya layak untuk kamu bukan buatku." ucapku penuh emosi
mendengar suaraku setengah berteriak membuat ririn lari tergopoh gopoh menghampiriku setelah selesai melakukan transaksi dikasir dan menitipkan barang belanjaan kami di tempat penitipan barang.
" bu bulan ada apa.?" tanya ririn dengan wajah panik melihat wajahku yang terlihat marah serta nafasku memburu
" Bilangin sama majikanmu,jangan ganggu suami orang sembarangan." sahut clarissa
" tutup mulutmu ya siapa yang mengganggu suamimu,justru suamimu yang menggangguku.!" hardiku
" Alah alasan,dasar pelakor murahan." seru clarissa dan mulai berani mendorongku namun dengan sigap mas damar menahan tubuhku dengan cara kembali mendekapku
" Clarissa cukup!, jangan keterlaluan kamu.!" bentak mas damar
"Oh jadi kamu lebih belain wanita pelakor berhijab ini hah!?" Sembur clarissa
" siapa yang pelakor,bulan bukan pelakor!" teriak mas damar yang juga marah pada istrinya itu
" kalau bukan pelakor apa namanya,hah wanita gatel gitu maksudmu?"
Plakkkkk
__ADS_1
Tiba tiba saja tangan mas damar sudah mendarat di pipi mulus milik istrinya,aku pun segera melepaskan diri dan menghindar dari dekapan mantan suamiku itu,dan menghampiri ririn yang berdiri tak jauh dariku
" kamu benar benar keterlaluan dam,kamu tega nampar aku demi belain mantan istrimu yang kegatelan ini." Cetus clarissa yang semakin menjadi jadi
" Tutup mulutmu,sekali lagi kamu menghina bulan aku tidak akan segan segan untuk menceraikanmu sekarang juga." ancan mas damar
" Oh begitu,kamu berani ceraiin aku? kamu yakin bakal siap kehilangan semuanya hah?" tantang Clarissa yang semakin membuatku tak mengerti dengan arah perdebatan mereka
" Jangan coba coba balik mengancamku.!" Ujar mas damar
" Oke ,kalau begitu stop kamu mikirin mantan istrimu yang munafik ,stop ngejar ngejar dia dam." Seru clarissa yang sedikit membuatku terkejut
Dan tanpa di duga tiba tiba saja clarissa mendadak kesakitan,terlihat ada darah yang mengalir dan merembes di kakinya yang hanya memakai baju mini dress.
" Aukkkkk sakit." pekik clarissa
" clarissa kau kenapa?" tanya mas damar dengan wajah sedikit panik
namun saat mas damar akan mendekat kearah clarissa,tiba tiba saja ada sebuah troli besar yang bermuatan penuh dengan barang berjalan sendiri ke arah clarissa,sontak membuat semua orang menjerit termasuk mas damar.
" Mas damar awas." pekikku saat troli besar itu mulai mendekat
" Clarissa." teriak mas damar yang langsung berlari mendekap tubuh istrinya yang sama sama jatuh ke lantai bersamanya,namun karena roda trolli bermuatan barang banyak itu mungkin rusak,hingga kecelakaan kecil itu tak dapat dihindari
Brukkk
brukkk
bruukk
" Akhhhhhhhh.." pekik mas damar dan clarissa bersamaan yang tubuhnya sudah tertimpa tumpukan barang barang yang jatuh dari troli.dan tanpa diduga kaki mas damar pun sepertinya terkilir karena terjepit roda troli
" Mas damar." seruku." cepat rin minta bantuan security." ucapku lagi
" baik bu."
" Akhhh sakit bulan." pekik mas damar,sedangkan ku lihat istrinya sudah tergeletak dengan tak sadarkan diri,dan terlihat darah segar terus mengucur di bawah kakinya
" Bertahan dulu ya mas." pintaku dan tak lama kemudian beberapa pegawai dan security berbondong bondong menghampiri kami,lalu mengangkat beberapa barang yang lumayan cukup berat karena terbungkus dengan dus dus besar yang menimpa kedua tubuh pasutri itu..
" Sekali lagi maafkan atas keteledoran para pegewai kami pak,kami benar benar minta maaf." ujar salah seorang pria memakai kemeja warna putih yang merupakan manager toko tersebut.
"Kalau terjadi apa apa sama istri dan calon anak saya,kalian akan saya tuntut." tuding mas damar dengan intonasi marah.
" Sudah mas,lebih baik kamu bawa istrimu ke rumah sakit,lihat istrimu mengeluarkan banyak darah." ujarku yang aku pun merasa ikutan panik
Tanpa pikir panjang lagi mas damar pun mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi ke rumah sakit.
Kini hanya aku dan ririn yang masih tergugu dengan kejadian tadi.
" Bu anda baik baik saja.?" tanya ririn yang ikut khawatir karena melihatku beberapa kali mengambil nafas dari dalam
" Iya rin aku baik baik saja." jawabku yang sebenarnya sedang menahan kram di area bawah perut buncitku." kejadian tadi tidak usah di ceritakan ke bapak sama ibu ya rin." sambungku lagi dan ririn menjawab dengan anggukan kepala
" Baik bu."
" Ya sudah sekarang ayo kita pulang,kamu telpon mang tarjo supaya segera ambil barang belanjaan kita."
" Iya bu."
__ADS_1
_Bersambung_
happy reading