
Ku temui Pemilik kost kost'an lalu menceritakan niat kedatanganku kemari untuk menyewa salah satu Rumah kontrakan miliknya.
Awalnya pemilik Rumah kontrakan itu agak Ragu,terlebih lagi Aku datang membawa kedua Anakku dan kesini juga membawa mobil.namun setelah ku tunjukan kartu identitas,dan menceritakan Sebagian Alasan kenapa Aku mengontrak,akhirnya dia mau memberikan Satu rumah kontrakan kecil yang Hanya Berukuran 5×7 meter itu.
" Silahkan mbak bulan,maaf tempatnya Agak kecil dan masih kosong." katanya sambil membuka pintu Rumah kontrakan itu.
Ku edarkan pandanganku sambil menggandeng tangan Kyla dan menggendong Saga dan masuk kedalam Rumah tersebut.ada ruang Kecil yang Hanya disekat oleh Gorden tipis sedang didalamnya Ada Kamar mandi dan dapur mini,dan dipojokan ruangan terdapat Sebuah kasur lengkap dengan Bantal dan gulingnya.
" Ini sudah lebih cukup bu,makasih ya bu besok saya bayar ya hari ini saya belum ambil uang soalnya." Kataku
" Iya nggak masalah mbak bulan,kalau begitu saya permisi dulu." Ujarnya lalu pamit pergi
Kumasukan Koperku dan Kuajak Kedua Anakku untuk Istirahat.setidaknya untuk sementara waktu Aku akan berlindung ditempat ini,lagian Jarak Lokasi Rumah sakit dan tempat ini juga tidak terlalu jauh dan kebetulan searah.jadi Aku tidak perlu khawatir jika nanti aku sibuk,aku bisa menitipkan Kyla dan saga pada Kakek neneknya.
Keesokan Harinya Aku dan kedua Anakku pergi ke toko Emas untuk menjual Gelang pemberian ibu,yang dia pinjamkan padaku untuk sementara waktu buat membayar uang sewa kontrakan dan
membeli Kebutuhan Makanan kami sehari hari
Beruntungnya Gelang tersebut Agak tebal dan beratnya Kurang lebih lima graman lebih,jadi laku Agak lumayan dan bisa ku gunakan untuk membayar sewa kontrakan dan mencukupi kebutuhan kami dan Bulan ini bisa membayar uang sekolah Kyla,beruntung saga belum sekolah jadi Aku tidak terlalu kerepotan dalam masalah keuangan saat ini,untuk bulan depan mungkin Aku sudah bisa mengandalkan Gaji dari pekerjaanku sekaligus mencicil mengembalikan Gelang ibu
Kadang terbesit Dalam benakku kenapa Aku begitu bodoh meninggalkan suamiku yang pasti masih mau menafkahi hanya untuk tinggal di kontrakan Petakan sempit dan pengap ini.
jawabanya Ketenangan Jiwa tak bisa di beli dengan Harta Apapun itu.
Sesampainnya dirumah ku temui Bu Kost dan menyerahkan Uang sebesar satu juta lima ratus,sebagai uang muka membayar biaya sewa rumah kontrakan itu selama dua bulan,sisanya Akan Aku cicil setelah Mendapat gaji dari pekerjaanku.
Ku lirik Dompetku yang Hanya sisa Uang 500 Ribu,sedangkan Aku harus punya bekal Untuk biaya hidup satu bulan ke depan.
mungkin Allah sedang mengujiku,mengajarkanku Arti sebuah kesabaran Dan Harus belajar lebih bersyukur ,dimana dulu aku punya hidup yang bahagia dan sempurna rumah yang indah,Anak dan suami yang manis dan begitu sempurna,tabungan yang cukup lumayan ,perhiasan banyak dan Kehidupan kami penuh dengan canda tawa dan penuh kehangatan.dan itu semua sudah lenyap begitu saja.
Semenjak Aku Keluar dari rumah,dan bapak juga sakit,aku pun menjual beberapa perhiasannku hingga ludes untuk menyokong biaya perawatan bapak selama dua minggu lebih di rumah sakit.kalung ,gelang dan cincin Kawinpun terpaksa ku jual hingga BPKB mobil juga ikut ku gadaikan hingga sudah Tidak tersisa apapun lagi.
" Ya Allah bantu Aku untuk menjalani semua ini dengan kedua Anakku."
" Kyla,kamu main disini dulu ya nak,jaga Adek ,bunda mau beli peralatan masak dulu sebentar." Ucapku pada Putri sulung untuk menjaga Adiknya yang kini sedang tertidur pulas ditempat tidur.
Putri sulungku itu tidak manja dan menuruti perkataanku." Iya bunda."
" Jangan Kemana mana ya sayang,bunda cuma sebentar." Ujarku lagi sambil mencium keningnya lalu Beranjak keluar dari kamar.
setelah itu aku menemui ibu kost sebentar dan ku titipkan Kyla dan saga pada ibu kost untuk mengawasi Kedua Anakku sebentar.
Ku kendarai mobilku menuju Rumah,dan selang bebarapa menit mobilku sudah berhenti didepan pintu Gerbang Rumah Impian kami dulu.
setelah aku turun dari ku buka pintu gerbang itu,dan memperhatikan keadaan sekitar.bunyi gesekan pintu gerbang ditambah kondisi Halaman Rumah yang dipenuhi dedaunan kering hingga membuat suasana sedikit berbeda dan terkesan sedikit Horor.
" Mbak Bulan..." tiba tiba saja Zahra sudah berada didepanku saat aku baru saja Akan masuk kedalam Rumah,dia menatapku dengan tatapan yang sulit ku baca
Aku mengacuhkannya tanpa menjawab sapaanya,lalu kulangkahkan kaki untuk tetap masuk kedalam Rumah,ku lepas Alas kakiku di pintu Utama dan betapa terkejutnya aku melihat pemandangan isi Rumah ini.aku terbelalak melihat Isi Rumah ini yang terlihat sangat menyedihkan.
Lantai Sangat kotor,bahkan Terasa sangat Lengket di kaki.debu debu Seperti Abon kering menutupi Perabotan Rumah,bantal bantal sofa berhamburan tidak karuan,taplak meja yang tergeletak begitu saja tanpa ada yang memungut dan membenahi Diatas meja.sungguh sangat Ironis melihat isi Rumah sudah seperti kapal pecah.
Aku menghela nafas kasar,dan langsung menuju Dapur untuk mengambil beberapa Alat masak yang kubeli dengan memakai uangku sendiri.sedangkan Zahra terus mengekoriku dari belakang dengan Wajah yang sangat tidak nyaman,namun Aku tetap mengacuhkannya.
Ku edarkan pandanganku menyusuri Keadaan Dapurku yang Terkesan sangat menyedihkan itu,
meja yang terbuat dari marmer,kompor canggih keluaran terbaru itu nyaris tidak terlihat karena sangking banyaknya debu yang menempel.
sampah sampah bekas bungkusan makanan pun Berserakan disekitarnya,aku hanya mampu mengelus dada melihat keadaan Dapur impianku yang sangat memprihatinku itu.
Zahra masih berdiri mematung di belakangku sambil meremas ujung jarinya sambil terus menatapku penuh Malu.
" Ada apa.?" Tanyaku sedikit Heran melihat tingkahnya yang Merasa Aneh bagiku.
" Itu Anu mbak,untung mbak Bulan datang,sebenarnya mas Adrian lagi sakit." Cicitnya dengan Raut wajah khawatir.
Hah?sakit,sakit Apa dia?
__ADS_1
Aku bergumam dan Sebisa mungkin menampilkan wajah biasa Pada Gadis yang menjadi maduku itu.
" Kenapa dia.?"
" Demam tinggi dan menggigil mbak." Jawabnya dengan suara Lirih
" Yaudah kamu Rawat aja dia,beri makan dan kasih Obat." Ucapku singkat dan sedikit ketus,aku tidak boleh Goyah dengan Drama mereka berdua pikirku.
"Sudah mbak,tapi Mas Adrian tetap keukeh nggak mau makan apapun dan minum obat,sedangkan Demamnya makin tinggi." Jawabnya dengan suara bergetar dan mimik wajah penuh ke khawatiran.
" Mungkin Cuma masuk Angin saja,justru kamu harus berusaha membujuknya." Gumamku singkat dan bersikap dingin.
" Mbak tunggu." Cegahnya
" Apa lagi.?" Aku menghentikan langkahku yang hendak keluar dari dapur dan memutar bola mataku jengah
" ummm kata mas Adrian.." ucapnya menggantung sambil menggigit bibir bawahnya."Cuma mbak bulan yang bisa merawat Mas Adrian." Cicitnya sedikit pelan dengan Wajah menunduk
" Oh ya?memangnya suamiku bilang begitu.?" Ujarku sambil menyunggingkan Bibirku menatap wajah pias Maduku
" Be benar mbak." Jawabnya dengan gugup
" Tapi sayangnya sekarang dia juga suamimu,jadi Kali ini kau yang Harus merawatnya." Ucapku dengan Nada Acuu dan penuh Sindiran,aku pun terus mengemasi Barang barangku yang kuanggap penting kedalam Box Plastik besar.
" Tolonglah mbak lihat dia sebentar."pintanya penuh memohon
" Nggak bisa,aku harus buru buru pergi.!" Cetusku
" Ayolah mbak kumohon." pintanya lagi dengan wajah memelas dan mengatupkan kedua tangannya
Ku hela nafas panjang,dan langsung melangkahkan kakiku pergi menuju kamar Mas Adriam dimana dia terbaring lemas Disana,sedangkan Zahra mengekoriku dari belakang.
Ceklek
" Kamu kenapa mas.?" Tanyaku sambil berdiri di sisi Ranjang Tempat tidurnya
" A aku sakit Bulan." Ujarnya dengan Suara Lirih dan Parau.dia mengulurkan tangannya supaya bisa meraih tanganku dan supaya aku lebih mendekat lagi ke arahnya.
" Sudah minum obat.?" Tanyaku dingin dan masih tidak bergeming dari tempatku yang mengabaikan seruannya karena aku tetap tak menghampirinya
Dia menggeleng Lemah." A aku be belum makan." Jawabnya dengan Lirih dan tatapan mata sendunya
" Astagfirullahaldzim." Pekikku
Tanpa pikir panjang aku pun langsung keluar kamar dan kembali kedapur dan mengabaikan Zahra yang terus mengekoriku dibelakang.
Dengan Cekatan Aku pun langsung mengambil panci yang terlihat bersih dan langsung membuatkan Bubur juga wedang Jahe Hangat untuknya,sedangkan Zahra terus memperhatikanku dengan seksama dari belakang.
" Mas Adrian tidak bisa makan sembarang dan telat makan, Asam lambungnya Bisa naik dan bisa menyebabkan dia mual dan sakit." Gerutuku
" Tapi Dia nggak mau makan mbak." Dia mengadu padaku
" Buatkan dia bubur dengan kentang dan labu,serta wedang jahe hangat dengan madu." Kataku sedikit tak rama menahan kesal
" Maaf mbak tapi aku nggak bisa masak itu,bahkan Aku bingung harus berbuat apa saat mas Adrian menggigil."Ucapnya dengan Raut wajah sedih dan Mata berkaca kaca,aku hanya bisa menggelengkan kepala dan berjalan melewatinya
Aku pun kembali masuk kedalam Kamarnya,sambil membawa Nampan berisi semangkok bubur dan segelas wedang Jahe,lalu ku letakkan diatas nakas di sisi samping tempat tidurnya.
Saat aku hendak beranjak pergi,tiba tiba saja Mas Adrian menarik tanganku dan mencekalnya dengan Kuat
" Bulan,tolong jangan Pergi." Pintanya dengan Suara Lirih
" Tapi maaf mas,aku Sudah nggak bisa tinggal dirumah ini lagi." Jawabku dengan Hati yang sudah tidak karuan karena sebenarnya jauh didalam lubuk hatiku aku merasa Iba dengan keadaanya yang sekarang
Suamiku menatap kedua mataku dengan sangat dalam dengan tatapan mata sendunya,kedua mata sayunya Tiba tiba berkaca kaca Dan mengembun dan Tiba tiba perlahan buliran bening sudah menggenangi kedua sudut matanya.
" A aku menyesal Bulan..." Ucapnya lirih." Ternyata aku tidak bahagia tanpa kamu,aku tidak baik baik saja."Gumamnya dan terus menatap lekat lekat manik mataku.dia pun langsung menangis layaknya seorang Anak kecil yang mengadu pada ibunya
__ADS_1
Ku lirik Zahra menatap kami di daun pintu dengan Raut wajah Terpaku dan mematung.
" Mas,sekarang Ada Istrimu jadi jangan begini,aku yakin dia akan melayanimu dengan baik." Ucapku
sambil melirik Zahra Lewat ekor mataku
" Tapi kau juga masih istriku bulan." Jawabnya menyela
" Maaf,tapi aku tetap tidak bisa bergabung disini bersama kalian." Balasku dengan Wajah datar sambil menarik tanganku terlepas dari cekalan mas Adrian
" Tapi ini Rumahmu Bulan,aku membutuhkanmu." dia masih Keukeh pada pendiriannya.
" Aku tau itu,tapi maaf mas aku tetap tidak bisa.semahal apapun Harta itu,namun tetap tidak bisa mengembalikan Kepingan Hati yang sudah terlanjur Terluka." jawabku dan itu mampu membuat Mas Adrian Terdiam dan menatap lekat Padaku.
Tanpa pikir panjang lagi,aku langsung meraih mangkuk berisi bubur tadi lalu mengaduknya,ku suapkan bubur itu kedalam mulutnya dan dia menerima Suapanku dengan terus menatapku Lekat lekat,perlahan dia kembali menitikan Air matanya kembali,hal itu membuat dadaku kembali bergemuruh sedang kedua mataku terasa panas dan perlahan ikut mengembun.
sebisa mungkin Aku menahan Rasa sakit yang ada didalam hati ini,mengapa semua harus berakhir dengan jalan seperti ini.
Setelah selesai menyuapinya,aku pun bergegas mengambil kotak obat yang Aku simpan dilaci Kamar yang biasa Aku simpan.lalu ku berikan obat itu padanya, setelah selesai minum obat aku pun kembali menyimpan Kotak obat itu kembali ketempat semula.
Dia pun ku bantu untuk berbaring kembali,lalu Ku suruh untuk istirahat kembali,ku tutupi Kembali tubunya Dengan Selimut,dia terus menatapku dengan Lembut namun aku tetap mengabaikannya,aku hanya menjalankan peranku Sebagai seorang Istri yang sedang merawat suaminya saat sedang sakit,mungkin Ini Terakhir kalinya aku bisa melakukan ini sebelum Akhirnya nanti aku akan memutuskan minta pisah darinya.
Aku pun kembali keluar kamar dan menuju ke dapur untuk mengambil barang barangku yang sudah ku kemas tadi.namun lagi lagi Aku terbelalak saat melihat Kamar mandi yang tak jauh dari dapur penuh dengan kotoran sampah yang berserakan disana,terlihat sampah sudah Menggunung hingga hampir menutup Lantai kamar mandi.apalagi tempatnya kan lembap pasti menjadi sarang nyamui disana.
" Subhanallah bagaimana bisa Rumah ini sekarang sudah menjadi sarang penyakit." Gumamku dan menghela nafas kasar
" Zahra."
Dia pun menghampiriku dengan wajah menunduk malu
" Kamu benar benar tidak ada waktu untuk membersihkan semua ini.?" tanyaku sambil menunjuk Sampah sampah disudut Ruangan
" Bi Biasanya Mas Adrian yang menolongku untuk membersihkan semua ini mbak." Ucapnya dan sukses membuat kedua mataku hampir melotot
" Astagfirullah Zahra,terus Apa fungsimu sebagai seorang istri.?"
" Kata Abiku,beberapa hari lagi Akan ada pembantu datang ke rumah ini mbak." Cicitnya
" Ya Allah Zahra." Desahku Menahan Amarah yang hampir saja memuncak
" maaf mbak."
Aku pun menghela nafas panjang untuk tidak terpancing ke bawa Emosi.
" Baiklah kalau begitu,tapi kamu harus tetap ingat Zahra,peranmu sebagai istri tetap tidak bisa diambil alih Oleh pembantu." Ucapku memberi wejangan
" Tapi Aku nggak bisa mbak." Jawabnya dan sukses membuat Emosiku hampir meledak
" Astagfirullah ya Allah mas,dosa apa kamu."Gumamku lalu langsung berlalu meninggalkan Maduku itu
Ku ambil box plastil yang sudah ku kemas tadi,aku pun langsung melangkahkan kaki menuju pintu depan,namun tiba tiba saja Mas Adrian keluar kamar dan dengan langkah tergopoh gopoh mengejarku
" Bulan,ku mohon jangan pergi,kembalilah padaku,aku sangat merindukan Anak Anak." Ucapnya sambil Berlari kearah dan langsung mendekap tubuhku dan belakang
Tubuhku serasa Kaku,namun Aku tetap tidak boleh lulus begitu saja meski hatiku saat ini sangat lemah dan tidak tega meninggalkannya,namun Aku tetap tidak bisa melakukkanya,perlahan kulepas Dekapannya dan sedikit meronta hingga Aku bisa Terlepas darinya
" Maaf mas tapi Aku tetap tidak bisa,aku harus pergi." Ucapku Dengan Suara sedikit bergetar karena Mas Adrian terus menatapku dengan tatapan mengiba
" Bulan kumohon beri Aku kesempatan sekali lagi." pintanya dengan lirih
" Maaf mas sepertinya Aku harus memikirkan ulang untuk melanjutkan Hubungan ini,maaf Aku harus pergi,jaga dirimu baik baik." Ucapku lalu berlalu meninggalkannya yang masih berdiri mematung disana.
Maafkan Aku mas,kali ini Aku harus benar benar sedikit Tega denganmu.
_Bersambung_
Happy Reading semoga suka
__ADS_1
Maaf Baru Bisa Up lagi,karena Akhir akhir ini Othor Sibuk sekali di dunia nyata Othor.maaf yak maaf banget 🙏🙏🙏🙏