
Setelah beberapa jam menunggu,akhirnya dokter berhasil menangani bapak,dan syukur alhamdulilah akhirnya bapak bisa melewati massa kritisnya dan berhasil diselamatkan,walaupun untuk saat ini bapak masih belum bisa dijenguk karena baru saja dipindahkan diruang inap.
" Bagaimana kondisi bapakku.?" Sengaja kutekan kata bapakku,namun nampak sekali raut wajah mas damar terlihat tenang,dan malah menebar senyuman hangat pada kami,terlebih pada ibu,dia sangat pintar sekali menampilkan wajah simpatiknya sama seperti dulu seolah seperti manusia yang berhati sok seperti malaikat
" Alhmdulilah kondisi bapak saat ini sudah mulai stabil,karena telah berhasil melewati masa kritisnya." Jawabnya sambil tersenyum,membuatku ingin muntah rasanya
" Syukur alhamdulilah." ujar ibu yang terlihat bisa bernafas lega,begitupun denganku
" Lalu apa sekarang kami bisa melihat bisa menjenguk beliau.?" Sahut Aqlan yang dari tadi hanya diam kini mulai angkat bicara
Mas Damar pun mengalihkan pandangannya kearah aqlan yang berdiri disampingku sambil menggandeng tangan Kyla dan saga
" Untuk saat ini masih belum bisa,karena kondiai bapak yang saja pulih,serta belum sadar karena efek obat bius,tunggu dua atau tiga jam baru beliau siuman." Jawab mas damar dengan lugas dan tersenyum samar,namun ekspresi wajahnya tak terbaca
" Baiklah kalau begitu kami akan menunggunya disini." jawab Aqlan,lalu beralih menatapku." mbak bulan sama ibu tunggu disini sebentar ya,saya cari makan dan minuman dulu." pamitnya
" Iya Aqlan makasih ya." ucapku tersenyum pada aqlan dan aqlan pun membalas dengan anggukan kepala padaku
" nawarin makan nggak sekalian ngajak ke tempatnya,pasti nyarinya diwarteg tuh." cibir Mas damar dengan suara setengah berbisik namun aku masih bisa mendengarnya
" Memang kenapa kalau nyarinya di warteg,toh juga beli,bukan ngutang ataupun nyuri." Sahutku dengan kesal mendengar kata katanya yang pedas ,dan merendahkan itu
" Ya kan lebih terjamin gizinya langsung ngajak kw tempatnya kan,ke Resto,cafe,atau tempat makan saung yang sudah berlebel punya nama,lebih jelas kualitas dan aman dikonsumsi juga kan." Celetuk mas damar yang ingin sekali ku remat mulutnya
" Kamu pikir mau cari pasangan hidup harus detail bobot bibit bebetnya,heran deh,bahkan yang udah jelas bibit bobotnya aja terkadang kualitas prilakunya aja masih bobrok kan." Ucapku dengan kesal sambil memberi sindiran padanya
Terlihat raut wajah mas damar menegang dan tidak suka atas perkataanku,sedangkan Aqlan langsung buru buru menghentikan perdebatan kami.
" Ehemm mbak bulan pak damar,lebih baik kalian tidak perlu saling berdebat ,apalagi ditengah situasi kondisi pak mahfudz saat,ini apalagi didelan ibu dan juga anak anak." Ujar Aqlan memperingatkan kami
" Kau tahu apa soal,-----" ucap mas damar sambol menatap tajam pada Aqlan
" Sudah sudah kalian jangan bertengkar,bapak lagi sakit." pekik ibu dengan lirih
" Maaf bu." ujar aku ,mas damar dan aqlan bersamaan.
" Kalau begitu saya permisi dulu..." ucap Aqlan sambil berlalu pamit meninggalkan kami,dan kini hanya tinggal menyisakan aku,ibu,mas damar dan anak anak.
"Lebih baik kamu ajak ibu duduk dulu diruanganku bulan,sambil menunggu Bapak sudah bisa dipindah di ruang inap dan bisa dijenguk." ujar mas damar
"Nggak perlu! kami tunggu disini saja." jawabku dengan ketus
" Tapi kasihan ibu dan anak anak bulan."
" nggak usah maksa.!" Tegasku
Terlihat mas damar menghela nafas." baiklah kalau begitu aku akan temani kalian disini."
" Nggak perlu,lebih baik kamu pergi dari hadapan kami mas.!" Ucapku menahan kesal
" Nggak,aku akan tetap nungguin kalian disini." Mas damar tetep saja keukeh pada keinginannya yang semakin membuatku ilfil dan muak,cari muka sekali dia
" nggak usah sok baik dan cari muka kamu ma,sekarang kamu bukan bagian dari keluarga kami." ujarku dengan tegas
" Siapa bilang,apa kamu lupa kalau anak yang sedang kamu kandung itu adalah anak ku,darah dagingku." ucapnya diiringi dengan tersenyum licik penuh kemenangan
Aku pun memberengut kesal." Sudah ku tegaskan bahwa nanti aku akan menggugurkannya."jawabku berbohong
__ADS_1
" Jangan macam macam kamu bulan." ucapnya terdengar lembut namun penuh penekanan
" Sudah sudah kalian kenapa ribut lagi."Seru ibu melerai perdebatan kami,ibu pun beralih menatap mas damar." Ibu sudah tau semuanya dari cerita bulan nak damar,jujur ibu dan bapak sangat shock mendengar kalian bercerai,dan nak damar menikah lagi." kata ibu yang langsung tak bisa menahan isak tangisnya
" Bu nggak usah nangis ." desisku tak suka,aku mati matian menegarkan hatiku didepannya tapi ibu malah sebaliknya,tapi wajar aku tetap memakluminya,bagaimanapun ibu adalah seorang wanita nalurinya seorang ibu yang mendapati kemalangan kehidupan anaknya mungkin tak bisa lagi membendung kesedihannya
" Saya bisa jelasin perkara masalahnya semua sama ibu dan bapak." Mas damar mencoba mengajak ibu bicara namun ibu menggeleng
" Tidak perlu nak damar,Bulan sudah memberi tahu kami kalau kalian sudah resmi bercerai,dan itu sudah cukup bagi kami." ucap ibu
" Tapi bu,"
" Lebih baik nak damar tinggal kan kami,tidak baik jika ada yang melihat kalian berdua disini,apalagi istri baru nak damar sedang hamil,takut nanti salah paham."
" Istri saya tidak ada disini bu." ujar mas damar dengan wajah gusar
" Saya mengerti nak damar,tapi tolong hargai perasaan bulan anak ibu saat ini."pinta ibu dengan suara lirih yang ku tahu sebenarnya perasaan ibu sendiri
" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." jawab mas damar lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kami.
Kini aku dan ibu saling memeluk sambil mendekap tubuh saga dan kyla untuk saling menguatkan satu sama lain.
" Maafkan bulan bu,yang kembali lagi membuat ibu dan bapak kecewa,maaf maaf." ucapku dengan lirih dan tak bisa membendung lagi air mataku yang jatuh leleran dipipiku
"Sudahlah nduk,semuanya sudah takdir dan kehendak Allah,kita harus tetap ikhlas menerimanya dengan lapang dada." ucap ibu
" Iya bu.."
" Yang terpenting sekarang kamu harus fokus pada kehidupan anak anakmu,dan juga calon bayi yang kamu kandung." ujar ibu
" iya bu,mulai sekarang bulan akan menata hidup bulan lagi,bulan hanya akan fokus pada anak anak,bulan akan cari kerja untuk bisa menghidupi anak anak bulan." kataku dengan penuh keyakinan
" Tidak lah bu,aku tadi hanya berbohong saja supaya mas damar tidak terus mengusik dan mengganggu kehidupanku dan anak anak."
" Alhamdulilah syukurlah kalau begitu,ibu lega dengarnya,apapun yang terjadi jangan sampai kamu melakukan hal yang dilarang agama nduk,anak itu titipan,tiap anak punya rejeki sendiri sendiri."ujar ibu
" Iya bu bulan paham." Jawabku
____________
Tak terasa sudah satu 6 bulan perceraianku dari mas damar,kini usia kehamilanku sudah menginjak tujuh bulan.setelah bapak sadar waktu itu dan dinyatakan sembuh ,alhamdulilah beliau pelan pelan mengerti dan menerima keadaanku,aku pun dilarang bapak untuk bekerja karena kondisiku yang tengah hamil.
Bapak pun Menjual Sebagian petak pekarangan sawahnnya dan memberikan uangnya padaku sebagai modal buka toko aneka macam kue,mulai kue basah,kering,bakery,kue tart,masakan tumpeng buat hajatan,cemilan,dan lain lain.dan alhmdulilah Semua laku dipasaran,dan berkembang sangat pesat.hingga aku dan ibu kuwalahan menerima pesanan,akhirnya kami pun merekrut dua orang sebagai karyawan di toko kami.( Syakyla & Sagara Cake).
Memang benar kata ibu dan bapak bilang,rejeki jodoh maut itu rahasia Allah,kita sebagai hambanya hanya bisa menjalankannya karena Takdir kehidupan seseorang sudah ditakdirkan,dan semua Anak adalah titipan dan tiap anak membawa rejeki sendiri sendiri,dan Alhamdulilah semenjak pertemuanku dengan mas damar dirumah sakit,itu menjadi pertemuan terakhirku,karena setelah itu kami sekeluarga memutuskan pindah keluar kota,supaya bisa bebas menata kehidupan kami.dan tentunya semua itu tidak terlepas dari bantuan Aqlan
" Selamat datang di Syakyla & Sagara Cake." Seruku menyambut dan menjamu para pelanggam toko kami
" Terimakasih atas penjamuannya bumil cantik." Seru Seorang pemuda tampan yang usianya lebih muda dariku itu,siapa lagi kalau bukan Aqlan
"Ishhh bisa aja kamu." Ucapku sedangkan Aqlan masih tetap tersenyum menggoda padaku
" Roman romannya wajah mbak bulan semakin bahagia nih,terlihat sekali pancaran aura wajahnya semakin bersinar seperti rembulan." Ucap Aqlan sambil tersenyum menggoda padaku,hal itu sudah menjadi makanan sehari hari yang biasa ku dengar,karena aku menganggapnya hanya bahan candaan saja,dan Aqlan tentu saja tak keberatan dan mempermasalahkan
" Wah semakin hari semakin pintar ya lan,kamu ngegombal,pasti udah banyak tuh ciwi ciwi yan klepek klepek sama rayuan mautmu." Seruku sambil membuka toples isi kuker yang kusuguhkan padanya
" Ya Alhamdulilah mbak sampai saat ini belum ada satu pun yang nyantol." jawabnya sambil terkekeh
__ADS_1
" Dasar kamunya aja yang pilih pilih." cetusku
"Bukan milih mbak,tapi belum ada aja yang pas." jawabnya sambil tersenyum penuh arti
" Alah bisa aja kamu."
" Emm gimana kondisi kandunganmu mbak,baik baik saja kah?"
" Alhmdulilah keadaan semuanya kandunganku sehat." jawabku sambil tersenyum
"Syukurlah kalau begitu,emm kalau bapak sama ibu, anak anak keadaanya gimana,kayaknya hampir sebulan aku nggak mampir kesini?" tanyanya sambil mengunyah kukerkui
"Alhmdulilah semuanya sehat,makanya kamu jangan terlalu sibuk kerja terus sampek lupa cari calon pendamping."
" Hehehe,aku sibuk karena mempersiapkan buat masa depan mbak,memantaskan diri,nanti kalau semuanya sudah siap,pasti nanti jodoh juga datang sendiri mbak." Jawabnya
Aku pun manggut manggut mendengarnya,iya juga sih semua pria kalau udah mapan bakal tinggal tunjuk aja soal cari pasangan,tapi kalau pendapatkau Aqlan itu sudah cukup matang dlam soal mencari pendamping hidup,dari segi usia,finansial juga sudah pas.tapi entahlah terserah dia,aku juga gak berhak ngatur ngatur hidup orang,aku sadar diri hidupku sendiri aja belum tentu benar,bahkan di usiaku yang belum usia kepala tiga pun sudah menjadi janda dua kali.miris sekali bukan.tapi ya sudahlah semua sudah terjadi dan memang jalan takdirku memang seperti ini,yang terpenting sekarang aku harus bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya,demi kedua orang tuaku dan juga masa depan anak anakku.
" Gimana mbak tokonya Rame.?" tanya Aqla yang membuyarkan lamunanku
" Banget."
" Duh manja banget." Ucapnya sambil meledek
" Dih apaan sih,siapa juga yang manja." Cetusku dengan bibir mencebik Sedangkan Aqlan tertawa puas melihatku momonyongkan bibirku
________
" Bulan..."
" Mas Adrian..." kataku lirih sambil melihat kearah dimana sosok pria dengan tubuh tegap memakai pakaian serba putih,dia mas adrian mantan auami pertamaku
" Bulan ayo sini kejar anak kita."
" Mas damar." Kataku lirih sambil melihat Sosok pria tampan yang tak lain adalah mas damar mantan suamiku juga,terlihat dia sedang mendorong stroller bayi kearah Jurang yang sangat dalam
Saat kakiku akan mendekati mas damar,tiba tiba mas adrian menahanku
" Bulan berhenti."pinta mas adrian
" Ayo bulan cepat sini,anak kita nangis." Seru mas damar dan seketika aku mendengar tangisan bayi di balik stroler itu
" Jangan bulan." seru mas adrian
" Ayo bulan cepat." Seru mas damar
" Bulan."
" Bulan."
" Argggggghhhh tidak...." Teriaku dan seketika aku langsung sadar dari mimpi buruk itu
" Astagfirullah ternyata mimpi." ucapku sambil mengatur nafas ku yang memburu dan mengusap wajahku dengan kasar,lalu ku elus perutku yang sudah membuncit.
" Semoga hanya mimpi saja,Bunda akan selalu menjagamu nak.." ucapku sambil mengelus perutku,setelah itu aku pun turun dari tempat tidurku lalu kekamar mandi membersihkan dir dan mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud.
Note: Maaf ya othor upnya lama buaaaaanget.tolong dimaklumin ya,karena kesibukan dunia nyata othor yang begitu menyita waktu othor.
__ADS_1
_bersambung_
Happy reading