Perusak Rumah Tanggaku

Perusak Rumah Tanggaku
Tidak bisa diselamatkan


__ADS_3

Aku Terperanjat saat menoleh kebelakang,saat mendapati siapa yang jatuh dari tangga,kedua bola mataku membola saat melihat wanita yang tak lain adalah Zahra tengah mengerang kesakitan di lantai dengan Penuh darah segar yang keluar dari Gamis berwarna Kuning miliknya.


Ternyata Mas Adrian Terlambat meraih tangan Zahra,hingga tak sengaja terlepas dan jatuh dari tangga lalu terbentur ke lantai dengan keras.


" Astagfirullah Ya Allah Zahra." Pekiku yang seketika ikut panik melihat keadaan Mantan maduku itu.


" Tolong mas Aukhhhh sakit.aduhh perutku akhhh." Teriaknya mengerang kesakitan,sedangkan Mas Adrian masih berdiri mematung diatas tangga,mungkin karena syok melihat istrinya jatuh dilantai membuat kesadaranya menurun.


Zahra Tersungkur keras lalu jatuh dari ubin tangga dan ambruk dilantai,sehingga mengeluarkan Cairan kental berwarna merah pekat dan kental yang merembes dari tangga sampai lantai.hal itu membuatku terkesiap melihatnya.


" Ya Allah Mas Adrian,tolong istrimu mas." aku berteriak kembali yang langsung membangunkan kesadaran Mas Adrian,dengan langkah blingsatan dia langsung lari tergopoh gopoh menghampiri istrinya.


sedangkan Aku,aku bingung Harus berbuat apa,ingin sekali aku mendekat dan menolongnya namun aku takut jika orang orang disekitar salah paham dan mengira aku yang mendorong Istrinya mas Adrian lantaran rasa cemburu,maka dari itu aku masih terdiam dan membisu sambil menatap Zahra dengan penuh kecemasan.


" Mbak bulan tolong aku." Ratapnya memintaku dengan wajah Memelas sambil menggigit bibjr bawahnya menahan kesakitan dan mencengkram ujung baju gamisnya serta perutnya


Jujur,melihatnya menjerit kesakitan membuatku bingung dan tidak tau apa yang harus aku lakukan.Lalu Mas Adrian dengan sigap mengangkat tubuh Zahra lalu membopongnya dengan wajah panik.


" Bulan Tolong panggilkan taxi." Pintannya


" i iya mas Bentar." Jawabku gugup dan langsung meraih ponselku dari dalam tasku.


Entah mungkin sial atau apa ya,tiba tiba baterai ponselku lowbat,aku pun bingung dan bergegas keluar mencari taxi atau grab,namun lagi lagi Kesialan menimpa ,ternyata tak satupun mobil taxi atau atau grab tidak ada yang mangkal atau lewat sekalipun.entahlah ini mungkin kebetulan atau apa,yang jelas aku ikut panik hingga kemudian aku sadar kalau aku ternyata membawa mobilku sendiri.mungkin karena panik aku sampai lupa.


Segera kulangkahkan kakiku ke parkiran untuk mengambil mobilku.setelah itu aku kembali Ke lobbi tempat dimana Zahra terjatuh tadi.


"Mas,Aku bawa mobil mas." Seruku sambil mendekat kearah Mas Adrian yang tengah menggendong Zahra yang lagi meringis kesakitan.


" kalau begitu tolong Antarkan kami ke rumah sakit Bulan." Ujar Mas Adrian dengan Nafas Terengah Engah.


" Ayo cepat mas."


Kami pun Melangkahkan kaki cepat keluar dari Tempat pengadilan tersebut,aku yang sudah memarkirkan mobilku didepan pintu keluar pun membantu Mas Adrian membawa Zahra masuk kedalam mobil di bagian belakang,disusul dengan dia yang juga ikut masuk,lalu meletakan kepalanya dipangkuannya.sedangkan aku dengan Langkah blingsatan mengambil alih duduk dikursi kemudi.


Lalu ku tekan pedal gas dengan Cepat,sehingga menimbulkan suara Gesekan dengan tanah dan dencitan ban mobil dengan keras.lalu melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran tempat pengadilan itu.


"Aduh mas,Sakit ouhhhhhhh akkkkh." Wanita berhijab hitam itu merintih,meringis dan menangis kesakitan.


" Tahan Zahra Sebentar lagi kita sampai." Ucap mas Adrian dengan Nada suara bergetar karena panik


" A aku ta takut terjadi sesuatu sa sama ba bayi ki kita mas ,akkhh sakit." Rancaunya dan memekik kesakitan


" Tenanglah Zahra,bayi kita pasti baik baik saja,tenang ya sebentar lagi kita sampai." Bujuk Mas Adrian sambil membenahi Anak Rambut yang menyembul keluar dari Jilbab Istrinya,terlihat menutupi wajah Zahra dengan Keringat dingin yang sudah membasahi wajah cantiknya.


" Oh tidak mas,perutku kram sekali aku me merasa a ada yang ingin ke keluar da dari rahimku mas,Astagfirullah akhhh sakit."


Wanita itu kembali merancau hebat,membuatku tambah panik begitupun dengan suaminya yang terlihat Gusar menenangkan istrinya.


" Zahra kenapa mas.?" Tanyaku sambil tetap fokus menyetir.


" Entahlah bulan,tolong cepat sedikit ya." Pintanya dengan wajah gusar


" Ini sudah Ngebut mas,tapi jalanan macet,dan ini lagi lampu merah." jawabku sambil terus menekan klakson mobil berharap Segera lampu hijau.

__ADS_1


" Tolong A aku mas,ra rasanya A aku mau ma mati mas,akhhhh."


" Istighfar Zahra,tahan sayang sebentar lagi kita sampai ,tahan ya...." Ucapnya dengan berusaha menenangkan meski dia panik,sampai akhirnya aku mendengar kata sayang keluar dari bibirnya membuat Ada rasa sedikit ngilu menyelinap di hatiku,namun segera kutepis Rasa itu jauh jauh,sekarang ini Aku sudah tidak berhak mempunyai Rasa cemburu itu lagi.


" Akhhhhh Mas." Zahra kembali Berteriak lalu kemudian tak sadarkan diri.


Ku lirik dari kaca spion Zahra sudah menutup matanya,sedangkan Mas Adrian tengah menangisi istrinya tersebut sambil mengecupi kening istrinya dan berusaha membangunkan istrinya supaya segera membuka matanya kembali.Aku kembali terpaku melihat Adegan tersebut,entahlah Rasanya rasa sesak itu kembali menyelusup,ketakutanku kembali menyeruak akan suatu Hal yang tidak bisa ku prediksi.entahlah rasanya perasaanku sekarang campur aduk.


" Astagfirullah,firasat buruk apa ini Ya Rabb." Gumamku membatin sambil terus memacu kendaraanku ketika lampu merah sudah berganti lampu hijau.


Tak lama kemudian,mobil yang kami tumpangi sudah sampai Di pelataran Rumah sakit.akupun langsung memarkirkan didepan UGD Rumah sakit.


lalu bergegas keluar dari mobilku untuk memanggil petugas rumah sakit untuk membantu mengeluarkan zahra dari dalam mobil.


" Suster tolong suster ."


" Ada Apa bu.?" Tanya perawat tersebut dengan ikut panik


" Bantu saudara saya." ujarku


" Mari bu."


Suster tersebut memanggil satu temannya yang tak lain perawat Laki laki sambil mendorong brankar menuju kearah mobilku.


Kami berempat pun menarik dan mengeluarkan Zahra dari dalam mobil.lalu menaikannya keatas brankar dan mendorongnya menuju Ruang Tindakan.


Sementara tak lama kemudian Dokterpun memeriksa sebentar lalu beralih meminta penjelasan mas Adrian tentang kejadian kronologisnya sambil menunggu dokter kandungan datang.


" Mbakkk........" Dia melirik kearahku lalu mengulurkan tangannya,aku pun segera mendekat dan meraih uluran tangannya dengan wajah Cemas


" Ada Apa Zahra,sabar ya dokter kandungan akan segera datang,suster tadi sedang memanggilnya." ujarku membujuknya dengan debaran jantungku yang ikut berdegub kencang.


" A Ak aku berdosa pa padamu mbak.ma maafkan ak aku." Ucapnya dengan terbata bata dan nafasnya pun terlihat sesak


Perawat pun dengan sigap mendekat lalu memasangkan selang oksigen dihidungnya,aku pun segera meminta mas Adrian untuk menghubungi keluargannya.


" Cepat hubungi Ayahnya mas." Pintaku pada Mas Adrian


" Iya Bulan,aku tinggal sebentar ya." Jawabnya sambil keluar dari Ruangan untuk menghubungi orang tuanya,dan supaya orang tuanya tidak mendengar suara jeritan putrinya yang terus mengalami pendarahan.


Tak lama kemudian,dokter Kandungan pun datang Ke ruang Tindakan.


" Mana Suaminya.?" Tanya dokter tersebut sambil memeriksa Zahra


" keluar sebentar Dok." Seruku


" Pasian Harus Segera Dioprasi dan diangkat janinnya,karena sudah tidak menunjukan tanda tanda kehidupan.sedangkan Ibunya semakin mengalami pendarahan,jika terlambat maka bisa bisa kita kehilangan nyawa keduanya."


" Astagfirullahaldzim,maksud dokter.?" tuturku terkesiap


" Salah satu diantara mereka sudah tidak bisa diselamatkan mbak." Ujarnya


" Ya Allah benarkah itu dok?" Aku kembali tercengang mendengar penuturan dokter

__ADS_1


" Keadaan ibunga mulai Lemas mbak,sebaiknya Izinkan kami untuk segera mengambil tindakan,dan salah satu keluarga pasien harua menandatangani surat persetujuan Oprasi ini." Ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas dan bulpen di tangannya.


" Tapi dok suami saya tadi,emmm maksud saya suami saudara saya tadi keluar sebentar dok." Aku meralat kembali ucapanku yang tiba tiba nyeleneh itu membuatku malu dan canggung seketika saat dokter tersebut mengeryitkan dahinya


" Maksud ibu?"


" Emmm itu dok."


" Ya sudah Mendingan mbak saja yang menandatangi surat persetujuan ini,kita sudah tidak punya waktu lama lagi." pintanya dan kuangguki dengan kepala tanpa pikir panjang.


" Baik dok." Aku pun langsung meraih kertas tersebut dan menandatanginnya." Terimakasih dok." sambungku sambil menyerahkan kembali kertas tersebut ke susternya.


Kembali Ku raih dan ku genggam tangan Zahra.


terlihat sekali wajanya sangat pucat.


Sampai di titik ini,entah kenapa Rasa Sebal dan Benciku mendadak menghilang seakan Redup seketika,melihat wajah putihnya memucat kini yang timbul rasa Iba dan kasihan menatapnya.


" Mbak bulan."Lirihnya dengan suara memelan dan kelopak matanya sudah mulai redup dan memejam lagi.


Tak lama kemudian dokterpun kembali menyuruh perawat untuk segera mendorong brankar untuk masuk kedalam Ruangan Oprasi,sedangkan Tangan Zahra masih menggenggam Erat tanganku ,sehingga mau tidak mau aku juga ikut mendorong brankar tersebut kearah ruang oprasi.


" Maaf mbaknya bisa tunggu diluar saja ya dan tidak perlu ikut masuk.didoakan saja diluar." kata dokter kandungan tersebut sambil menepuk pundakku.


" Baik dokter." Kataku,namun Zahra kembali menggeleng lemah dan membuka matanya kembali.seolah Tak ingin melepaskan tanganku dari genggamannya,seolah berharap aku ikut menemaninya masuk kedalam dan melindunginya.


Hingga Akhirnya tangan kami saling terpisah diiringi dengan Brankar tersebut masuk kedalam ruangan oprasi dan pintu pun langsung tertutup.tapi sayup sayup aku masih mendengar suara Zahra terus bergumam memanggil namaku.


******


Kembali ku lihat telapak tanganku yang beberapa menit tadi Digenggam oleh mantan maduku,terlihat ada bekas noda darah zahra yang kini sudah mulai mengering ditanganku.aku menyadari bahwa dia saat kini sedang melawan maut.disana dia sedang merasakan sakit yang amat luar biasa,entahlah aku bingung menyebutnya apa ini...yang jelas tidak mungkin aku menyebutnya sebuah balasan untuknya,karena ini terlalu kejam untuknya jika aku menyebutnya dengan Hal itu.


Saat ini dia sedang berjuang melawan maut,belum lagi dia harus menerima kenyataan kehilangan bayinya.entahlah aku tak tahu harus berkata apalagi,sungguh ini sangat diluar dugaanku.


Akupun berfikir sejenak jika pernikahan poligami yang dilakukan mas adrian,bukan sepenuhnya kesalahan wanita itu.jika seandainya suamiku dari awal menolak dan tidak memberi ruang pada wanita itu,mungkin dia tidak akan jatuh cinta pada suamiku dan nasibnya berakhir tragis seperti ini.niat hati ingin mengambil pahala dan mengejar surga,malah sebaliknya perlahan amal baiknya tergerus dengan sikap angkuh dan keegoisan masing masing.


Ku senderkan kepalaku,dan duduk dikursi tunggu sambil memejamkan mata,rasa tegang yang tengah menyelimutiku seakan membuat kepalaku ikut berdenyut denyut sakit dan berputar putar.


tak lama kemudian Mas Adrian pun datang menghampiriku dan ikut duduk disebelahku.


" Bulan.Maafkan Aku." Ucapnya dengan suara lirih saat duduk disebelahku,sedangkan aku masih tetap memejamkan mata dan tidak menanggapi ucapannya.


" Sungguh Aku benar benar tidak sanggup rasanya menjalani semuanya ini sendirian bulan." Suara serak dan lirihnya kini disertai dengan isak tangisnya.


Ku buka mataku lalu kulirik pria yang kini duduk disebelahku sedang meratapi nasibnya,pria yang beberapa jam lalu sudah berstatus menjadi mantan suamiku iku kini sedang menangis meratapi kepiluannya.


" Aku terlalu banyak dosa padamu bulan,Maaf." Lirihnya kembali dengan wajah penuh penyesalan.


" Ya Allah Ya Robb tolong Kuatkan hatiku.dan luaskan Kesabaranku atas semuanya ini." Batinku dalam Hati.


_Bersambung_


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2