Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 10. Keputusan Azalina


__ADS_3

Wajahnya Anjas terbayang-bayang di pelupuk ujung matanya. Dia kembali teringat saat di hadapan pamannya, Anjas berani melamarnya dan melingkarkan cincin tunangan di jari manisnya. Air matanya perlahan menetes tanpa aba-aba dia refleks menghapus jejak air matanya diam-diam, ia tidak ingin ada yang melihat kesedihan dan dukanya.


"Maafkan aku Abang, semua ini aku lakukan demi ketenangan masyarakat yang sudah mengira aku gadis yang tidak baik, semoga Abang menerima kenyataan ini dan menghargai keputusanku."


"Bagaimana Nak Aza, apa kamu bersedia menikah dengan Raja?" Tanyanya Ibu Mina lagi.


Azalina tidak mungkin menolak keinginan yang telah masyarakat putuskan. Bersedia atau tidak pernikahan mereka akan tetap berlangsung. Tidak mungkin Aza juga bisa mundur. Dengan membaca basmalah Azalina memantapkan hatinya untuk menerima pinangan dari pria yang dikenalnya dalam sebuah musibah.


"Azalina apa kamu siap menjadi istrinya Raja?" tanya Pak Ardi.


Azalina menatap sendu Pak Ardi selaku kepala Desa dan mantan calon mertuanya itu, dia masih berharap ada keajaiban yang membuat mereka gagal menikah sehingga sesekali menatap ke arah pintu.


"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan, apa aku harus menikah dengan Raja sedangkan hati ini masih utuh untuk Abang Anjas."


Raja memperhatikan raut wajahnya Azalina, "sepertinya gadis itu memikirkan sesuatu dan sulit untuk menerima pernikahan kami."


Semua mata tertuju pada Azalina dan menunggu kapan dia akan membuka mulutnya dan setuju mengatakan iya. Semua berharap agar Azalina tidak terlalu lama mengambil keputusan.


"Bagaimana Nak Azalina apa sudah ada jawabannya?" Tanya Ibu Mina yang mengerti dengan apa yang terjadi pada Azalina.


Mereka sudah mengetahui jika Azalina adalah calon istrinya Anjas putra dari kepala desa mereka. Dan sejujurnya mereka sempat shock dan tidak percaya jika Azalina berbuat hal yang tidak senonoh dengan pria lain.


"Aza ber-sedia un-tuk me-ni-kah dengan Mas Ra-ja," ucap Azalina dengan sedikit tergagap disertai dengan air matanya yang menetes membasahi pipinya tapi buru-buru dia menghapusnya.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah, Azalina sudah menerima lamarannya Raja, jadi dua hari kedepan mereka akan menikah di tempat ini juga kebetulan Raja masih butuh perawatan yang intensif dari dokter," jelas Pak Ardi yang tidak ingin memungkiri jika hatinya sedih dan kecewa jika Azalina akan menikah dengan pria lain bukan putranya sendiri.


"Kamu tidak perlu merisaukan semua persiapannya, kami sudah mengaturnya dan kamu hanya tinggal persiapkan dirimu untuk jadi istrinya Raja," ucap ibu Rita sekaligus tetangganya juga.


Azalina hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan mereka. Dia hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kebaikannya. Raja sedari tadi memperhatikan gerak gerik dari Azalina calon istrinya yang terpaut delapan tahun dengannya.


Setelah mereka sepakat jam delapan pagi adalah akad nikahnya dan selanjutnya ada acara kecil-kecilan yang akan mereka lakukan nanti jika selesai acaranya. Masyarakat bersatu padu membantu untuk menyukseskan akad nikahnya. Mulai hari itu, Sudah banyak para warga masyarakat yang membawa beberapa kebutuhan pokok sembako ke rumahnya Azalina. Seperti itulah kebiasaan dan tradisi yang turun temurun di kalangan masyarakat.


Azalina tidak langsung pulang ke rumahnya, dia minta untuk menjaga Raja di RS. Karena hari ini Suster yang sering bertugas untuk menjaganya berhalangan hadir dikarenakan ada sesuatu urusan pribadi yang sangat mendesak. Azalina sedari tadi hanya duduk terdiam dan melamun.


Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi ini yang pertama kali baginya berduaan dengan seorang pria di dalam suatu ruangan. Awalnya Aza menentang dan menolak permintaan tersebut untuk menjaga Raja dan menginap di rumah sakit dalam satu kamar tanpa ada ikatan dan hubungan pernikahan.


"Aza hanya kamu yang bisa membantu ibu untuk merawat dan menjaga Raja, karena putra ibu yang setiap hari membantu suster menjaganya harus ke kota untuk mendaftar sekolahnya," ucap Ibu Mina dengan menggenggam tangan Azalina.


"Iya, kami sangat mengerti dan memaklumi kekhawatiranmu itu, tapi kamu tidak perlu takut karena kami yang akan bertanggung jawab terhadap hal ini, lagian Raja tidak mungkin bisa melakukan hal itu padamu karena kakinya masih sakit," jelas ibu Rita.


"Maaf, apa Abang butuh sesuatu?" Tanya Azalina yang sudah berdiri di sampingnya.


"Aku butuh minum, apa boleh kamu ambilkan untukku?" Tanya Raja dengan penuh harap.


Azalina tidak menjawab atau pun membalas perkataannya Raja, dia langsung bergerak cepat untuk menuang air putih ke dalam sebuah gelas yang sudah tersedia diatas meja nakas. Ia mengisi air putih ke dalamnya lalu memberikan gelas itu ke hadapan Raja.


"Ini gelasnya Abang, silahkan diminum," ujarnya sambil memberikan gelas putih ke dalam genggaman tangannya Raja.

__ADS_1


Raja tersenyum ke arah Azalina lalu mengucap," makasih banyak atas air putihnya."


Raja meminum air putih itu hingga isinya tandas tak bersisa dengan suara tegukannya yang kedengaran hingga ke telinganya Azalina.


"Sama-sama Abang," Jawabnya singkat.


Raja kembali memberikan gelas kosong tersebut ke arah Azalina. Dengan sigap


Azalina segera menyimpan gelas itu ke tempatnya semula. Hingga menjelang malam mereka masih terdiam tanpa ada yang membuka percakapan mereka. Azalina duduk di kursi sedangkan pikirannya melanglang buana entah kemana. Raja diam-diam mengagumi wajah ayu nan alami milik Azalina.


"Gadis ini sepertinya cantik juga jika dipoles make up, dan mengalahkan kecantikan wanita ular itu."


Tengah malam pun datang, suasana rumah sakit mulai sepi. Berbeda halnya disaat sore hari atau masih terang. Hanya sesekali suara bangkar yang didorong oleh beberapa perawat yang terdengar dan mengisi keheningan malam itu. Azalina perlahan sudah mengantuk dan mulai membaringkan tubuhnya di atas kursi panjang.


"Andai saja aku tahu bakal nginap di sini, pasti akan bawa sarung atau selimut, kenapa malam ini cuacanya sangat dingin?" Tanyanya sambil melipat kakinya agar tidak kedinginan.


Azalina melupakan jika ruangan itu terpasang mesin pendingin ruangan yang membuat cuacanya sangatlah dingin. Raja tidak mempermasalahkan hal itu karena sudah terbiasa hidup dengan ac bahkan jika tidak ada ac, dia akan kesulitan untuk tidur.


Raja yang tidak sengaja melihat hal tersebut langsung berseru,"di dalam lemari ada selimut sama sarung, mungkin kamu bisa memakainya."


Azalina tanpa banyak tanya dan protes langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan ke lemari. Kebetulan ada sebuah lemari di dalam ruangan perawatan Raja khusus untuk menyimpan beberapa barangnya. Azlina menatap ke arah Raja yang ternyata tidak memakai selimut di tubuhnya, hanya memakai pakaian pasien saja.


Azalina hanya mengambil sarung saja lalu berjalan ke arah Ranjangnya Raja lalu menyelimuti sebagian tubuhnya Raja. Menurutnya Raja akan kedinginan jika terus dalam keadaan yang tidak memakai selimut atau sarung saja.

__ADS_1


Raja yang diperlakukan seperti itu sama sekali tidak mencegahnya hanya terdiam dan menatap ke arah wajahnya Azalina yang semakin dipandang semakin rasa penasarannya timbul di dalam hatinya. Dia diam-diam mengagumi perempuan pesisir itu. Semakin dia memandang semakin ada rasa yang tidak bisa digambarkan.


Azalina sama sekali tidak mengetahui jika dia diperhatikan dengan seksama. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai calon istrinya yang diamanahkan tugas untuk menjaganya hingga pagi hari.


__ADS_2