
Bu Hamidah mengistirahatkan tubuhnya karena cukup lelah menunggu putranya yang tidak kunjung tiba di rumahnya.
Sedang Sultan yang dinanti kedatangannya oleh bundanya, telah berhasil mengambil alih kembali semua aset terpenting dan semua saham tertinggi di Perusahaannya yang pernah diakuisisi oleh Martin dan Selena.
"Alhamdulillah semuanya berjalan sesuai dengan rencana," tuturnya sambil memutar kursinya menghadap ke arah jendela yang ada di samping kanannya.
"Aku turut bahagia dengan keberhasilanmu Brotha, semoga apa yang kita lakukan akan membawa kebahagiaan dan perubahan di dalam keluarga khususnya dan terutama Perusahaanmu," timpal Anggara yang ikut duduk di depan meja kerjanya Sultan dengan menyilangkan kakinya.
"Anggara! Aku mohon selama aku di kampung tolong awasi Perusahaan karena feeling aku masih ada antek-anteknya Martin yang bekerja di Perusahaan kita tapi, aku belum menemukannya tapi aku yakin dengan sangat itu ada," jelasnya lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil beberapa berkas penting.
Anggara memperhatikan kemana langkah kakinya dan apa yang dilakukan oleh Sultan tanpa berkedip.
"Ini beberapa berkas penting yang aku temukan di kediamannya Martin dan tolong di periksa apa benar ini milik Bunda atau bukan?" Tanyanya Sultan sambil mengarahkan berkas tersebut ke arahnya Anggara.
"Apa masih ada yang lainnya sebelum aku pergi ke rumahnya Pak Lehman Martapura untuk mengecek kebenarannya?" Tanya Anggara.
"Tidak ada semua aset milikku dan milik keluargaku sudah berada di dalam genggamanku," jawabnya Sultan.
"Oke kalau gitu aku pamit dulu, sudah jam 11 malam soalnya, kamu juga besok subuh akan berangkat jadi pulanglah untuk beristirahat masalah di sini kamu tidak perlu merisaukan, aku yang akan tangani selama kamu belum pulang," terang Anggara sebelum berdiri dari duduknya untuk ke arah luar pintu.
Sultan tersenyum melihat kepergian sahabatnya itu dia pun meraih bingkai Figura foto yang ada di atas mejanya. Sebuah foto yang berisi dua orang yang dibalut dengan pakaian pengantin yang sangat cocok ditubuh mereka masing-masing padahal waktu itu mereka menikah secara kilat dan instans tanpa persiapan khusus dan itu dilaksanakan di kampung pelosok jauh dari perkotaan.
"Aza tunggu Abang sayang, Abang akan segera menjemputmu, semoga kamu bisa bersabar sedikit lagi untuk menunggu kepulanganku," tuturnya Sultan sembari mencium fotonya Aza lalu tersenyum penuh kebahagiaan.
Keesokan paginya, Sultan bergegas menuju Bandara. Dia akan bertolak ke kampungnya Aza. Dari raut wajahnya sudah nampak sangat jelas jika kebahagiaan itu selalu terpancar dari wajahnya jika, mengingat wajahnya Aza yang selalu tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1
"Azalina Abang akan datang, Bersiaplah," ucap Sultan lalu mencari nomor hpnya Aza dia ingin mengabari kepulangannya agar di jemput.
Tapi, tiba-tiba Sultan mengurungkan niatnya dan mematikan kembali tombol layar hpnya.
"Sebaiknya aku berikan Aza kejutan saja biar dia terkejut dan bahagia melihat kedatanganku, aku ingin melihatnya berlari kedalam pelukanku," gumamnya lalu berjalan kedalam kamarnya.
Sultan dia ingin berbaring mengistirahatkan tubuhnya yang baru beberapa jam lamanya dia tertidur, saking bahagianya akan bertemu dengan istrinya yang hampir enam bulan dia tidak temui.
Karena kesibukannya mengurus ulah perbuatan tindak kejahatannya Martin, kesehatan bundanya dan juga Perusahaannya hingga melupakan untuk menghubungi nomor hp Istrinya.
Hanya dalam hitungan menit saja, pesawat pribadi miliknya sudah mendarat dengan selamat di Bandara.
"Syukur Alhamdulillah Azalina… Abang pulang!!!" Teriaknya saat menuruni tangga pesawat.
Di wajahnya semakin terpancar raut bahagia dan tidak sabar ingin bertemu dengan kekasih pujaan hatinya sekaligus wanita halalnya.
Senyumnya sangat sumringah saking tidak sabarannya ibu Hamidah,"aku yakin Sultan pasti akan terkejut dan tidak menyangka jika dia melihat foto berhasil diam-diam aku ambil itu," lirihnya Bunda Hamidah yang berjalan menaiki undakan tangga menuju kamar anak sulungnya.
Tapi senyumnya langsung pudar, ketika mengetahui kamar putranya kosong dan sudah bersih dari aktifitas seseorang.
"Apa Sultan tidak pulang semalam yah?" Guman Bu Hamidah yang wajahnya nampak rasa kecewa untuk kedua kalinya itu.
Sherly yang kebetulan berjalan ke arah luar kamarnya tanpa sengaja melihat ibunya keluar dari dalam kamar kakaknya.
"Bunda cari Abang?" Tanyanya langsung karena dia yakin kalau bundanya mencari keberadaan abangnya itu.
__ADS_1
Bu Hamidah melirik terlebih dahulu ke arah anak perempuannya lalu menjawab pertanyaan dari Sherly anak gadisnya," iya Bunda ingin berbicara sesuatu hal yang sangat penting tapi, Abangmu tidak ada di kamarnya padahal baru jam 6 pagi lewat nih."
Sherly berjalan mendekati bundanya," Abang berangkat ke pulau S Bun, katanya mau jemput kakak ipar gitu," jawabnya Sherly.
"Alhamdulillah kalau Abangmu itu secepatnya menjemput istrinya karena bunda juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," sahut Bundanya.
"Semoga saja mereka bertemu dan secepatnya pulang Bun," terang Sherly yang sangat berharap kakak iparnya dibawah ke Jakarta.
"Amin ya rabbal alamin," sahut Bu Hamidah.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
...1. Pesona Perawan...
...2. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...3. Pelakor Pilihan...
...4. Cinta CEO Pesakitan...
...5. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak all Readers...
i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...
__ADS_1
Jangan pernah bosan yah dengan karya recehannya Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang...