
Adinda adiknya Anjas yang diam-diam mendengar pertengkaran dan keributan antara Bapak dan ibunya tidak berani muncul di hadapan mereka berdua.
Ia hanya bersembunyi dibalik pintu kamarnya. Saking takutnya hingga tubuhnya tadi sempat gemetaran, karena ini yang pertama kalinya melihat kedua orang tuanya berdebat.
"Ibu, harus sabar kalau Ibu seperti ini terus siapa yang akan membantu Abang," bujuk Adinda anak bungsunya pak Ardi.
Pak Ardi meninggalkan istrinya yang terduduk di atas lantai dengan kesedihan dan penyesalannya yang mendalam.
"Ya Allah…. Apa salahku hingga putraku jadi seperti ini? Apa aku terlalu memanjakannya dan tidak teliti melihat dengan siapa dia bergaul? Aku sangat tahu siapa putraku jadi mustahil jika tidak ada orang yang merecoki pikirannya sehingga dia berbuat nekat," sesalnya yang sangat menyayangkan putranya bertindak bodoh dan gegabah.
Adinda membantu Ibunya berdiri dari posisi terduduk di depan pintu masuk rumahnya.
"Adinda telpon segera Pak Anton untuk segera ke sini, Ibu ingin bicara ada yang penting yang ingin Ibu bicarakan dengan beliau," perintah Ibunya lalu berjalan ke arah kursi yang ada di dalam ruangan tamunya.
"Baik Bu," sahut putrinya yang meninggalkan dia lalu berjalan ke arah kamarnya.
Adinda mempercepat langkahnya karena tidak mau membuat ibunya menunggu terlalu lama.
"Ya Allah… sabarkan lah ibuku dan berikanlah kami jalan keluar yang terbaik dari permasalahan tersebut," gumam Adinda yang berdoa untuk kebaikan dan keselamatan keluarganya.
Ibu Melati mengambil hp dari tangan putrinya. Dia maju mendekati anaknya karena tidak ingin menunda lebih lama lagi rencananya. Ia ingin meminta tolong kepada Pak Anton untuk mengetahui dan menyetujui apa sebenarnya yang telah terjadi.
Alasan dibalik kejadian yang mencoreng dan mempermalukan nama baiknya dan keluarga besarnya. Dia sangat malu dengan ulah putranya itu.
"Baiklah Pak, saya tunggu informasi selanjutnya dari bapak, kalau bisa dan tolong usahakan hari ini juga infonya sudah aku dapatkan," pintanya kepada Pak Anton.
Pak Anton adalah pria yang cukup disegani di daerah itu. Hanya sekali perkataannya semua orang akan tunduk padanya.
Dengan alasan itu pula lah Ibu Melati percaya kalau pak Anton bisa membantunya mencari informasi dan bukti yang berkaitan dengan penyerangan dan percobaan tindak pelecehan terhadap Azalina calon mantan menantunya yang sudah dia anggap anaknya sendiri.
__ADS_1
Bu Melati baru bisa bernafas lega setelah berbicara dengan Pak Anton. Ada sedikit perasaan lega dan plong setelah mengutarakan keresahannya beberapa saat lalu.
"Adinda bersiaplah Nak, kita akan membesuk Azalina terlebih dahulu di rumah sakit lalu kita ke kantor polisi melihat kondisi Abangmu," jelas Bu Melati kepada putrinya itu.
Adinda hanya menganggukkan kepalanya lalu segera berjalan tergesa-gesa ke arah kamar pribadinya. Ibu Melati terduduk kembali ke atas kursinya. Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Bulir cairan bening itu tanpa aba-aba langsung mengalir begitu saja.
"Semoga saja Aza bisa dan bersedia memaafkan Anjas atas perlakuan kasarnya yang telah melukai hati nurani dan fisiknya Aza," lirihnya yang masih menangis tersedu-sedu di tempatnya.
Pak Ardi dan beberapa orang warga masyarakat yang kebetulan ingin ikut bersamanya melihat kondisi dan keadaan terakhir dari Azalina.
Azalina yang sejak semalam masih seperti orang yang ketakutan dan sesekali menjerit keras. Santi tidak pernah meninggalkan Azalina. Riswan dan Santi sedih melihat kondisi dari Azalina yang selama ini sangat baik padanya.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lebar dan masuklah beberapa tetangganya yang telah mendengar berita kejadian tersebut.
Mereka terenyuh dan sedih melihat ada beberapa anggota tubuhnya Azalina yang terluka. Hingga sesekali Aza meringis menahan sakitnya luka yang dideritanya itu.
Ibu Mina dan lainnya satu persatu memeluk tubuh dari Aza secara bergantian.
"Iya Aza, kamu tidak sendirian nak,ada kami yang akan selalu membantu dan menjagamu selama di rumah sakit, jadi kamu tidak perlu khawatir," timpal Ibu Kartika yang air matanya menetes saking sedihnya melihat Aza.
"Kalau menurut Saya, tidak boleh diberikan hukuman yang ringan terhadap pelakunya," sahut Pak Yono suaminya Bu Mina.
"Betul apa yang dikatakan bapak,saya sangat geram dan marah melihat kebiadaban dan perlakuannya terhadap Aza yang sama sekali tidak bersalah dan tidak punya dosa sedikit pun kepada pelakunya tapi dengan teganya bertindak seperti seekor binatang saja," umpat Ibu Tijah yang marah dengan mengumpat otak dari pelakunya.
Ibu Melati yang mendengar langsung dari perkataan beberapa warga masyarakat sangat sedih dan tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi.
Adinda segera memegang lengan ibunya untuk berusaha menenangkan dan memberikan dorongan untuk sabar dan tabah setelah mendengar beberapa argumentasi dari emak-emak tetangganya Aza.
"Ya Allah… sabarkan dan kuatkan lah hatiku untuk menerima segala cercaan dan caci maki serta gibah dari orang lain," cicitnya.
__ADS_1
Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia berpura-pura tidak mendengar perkataan dari orang-orang tersebut yang sangat mampu membuat hatinya hancur berkeping-keping dan sedih. Seakan-akan jatuh kedalam kubangan lumpur hitam saja.
Ibu Melati segera mendudukkan tubuhnya di atas ranjang tempat Azalina berada. Dia mengelus punggung dari Aza penuh dengan kasih sayang dan kehangatan.
Tapi, apa yang dilakukannya ternyata membuat Azalina bereaksi dengan mendorong tubuhnya Ibu Melati lalu beringsut mengjauh hingga tubuhnya bersandar ke sandaran bangkar rumah sakit.
"Pergi!!! Aku tidak ingin melihatmu ada di sini," pekik Aza lalu menunjuk ke arah Ibu Melati.
"Jangan dekati aku!!!" Teriak Azalina lagi.
...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Cinta Yang Tulus...
...4. Diantara Dua Pilihan...
...5. Cinta dan Benci...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
...8. Pelakor Pilihan...
...9. Aku hanya sekedar baby sitter...
__ADS_1
...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....
...I love you all Readers…...