Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 11. Kedatangan Paman


__ADS_3

Raja yang diperlakukan seperti itu sama sekali tidak mencegahnya hanya terdiam dan menatap ke arah wajahnya Azalina yang semakin dipandang semakin rasa penasarannya timbul di dalam hatinya. Dia diam-diam mengagumi perempuan pesisir itu. Semakin dia memandang semakin ada rasa yang tidak bisa digambarkan.


Azalina sama sekali tidak mengetahui jika dia diperhatikan dengan seksama. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai calon istrinya yang diamanahkan untuk menjaganya hingga pagi hari nanti.


Azalina berjalan ke arah kursi panjang, lalu mulai membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga terlelap dan berkelana dalam mimpinya yang indah.


Raja yang pun ikut tertidur pulas karena pemulihannya butuh istirahat yang cukup agar segera meninggalkan rumah sakit. Dia sudah sedikit bosan terus berada di sana, hanya tembok bercat putih, dokter dan perawat yang bergantian serta bau obat yang menjadi temannya selama satu bulan terakhir ini.


Mentari pagi sudah muncul di ufuk timur, warnanya yang terang menyinari seluruh alam semesta. Ayam berkokok pertanda pagi menjelang. Azalina mengerjapkan matanya berulang-ulang kali karena menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


"Alhamdulillah, sudah pagi rupanya, untung lagi datang bulan jadi tidak apa-apa lambat bangun," ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya.


Dia segera bangun dari tidurnya lalu berjalan ke arah kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti karena ada benda yang melilit di kakinya. Aza segera melihat ke arah ke bawah kakinya dan terkejut melihat benda itu. Dia pun meraih benda yang tergeletak memanjang di atas lantai.


"Ini kan selimut yang aku pakaikan di tubuhnya semalam, kok bisa ada sama saya yah?" Tanyanya yang menatap bergantian ke arah selimut dan Raja yang masih tertidur.


"Tapi, tidak mungkin dia yang melakukannya, kan kakinya juga masih sakit dan lebih tidak mungkin dan tidak masuk akal jika selimutnya yang berjalan ke atas tubuhku." Azlina berulang kali menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya yang kebingungan dengan keberadaan selimut tersebut.


"Aku tidak mungkin bertanya kepadanya langsung, walaupun aku penasaran ingin mengetahui hal itu."


Raja yang sudah terbangun sedari tadi pura-pura tertidur tapi sesekali matanya melirik ke arah Aza dan memperhatikan apa yang dilakukannya. Dia diam-diam tersenyum tipis melihat kelakuan dari Aza yang seperti anak kecil saja.

__ADS_1


Tidak berselang lama, pintu pun diketuk oleh seseorang dari arah luar. Aza yang baru saja keluar dari kamar mandi buru-buru berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut yang diketuk oleh seseorang.


"Paman," ujarnya saat pintu sudah terbuka lebar.


Azalina tanpa aba-aba memeluk tubuh pamannya dengan erat dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Pak Heru membalas pelukan keponakan satu-satunya itu.


"Kamu harus sabar Nak, mungkin seperti ini lah jalan hidup yang harus kamu lalui, Paman yakin kalau itu yang terbaik untuk kamu dengan pria itu," balas Pak Heru sambil menunjuk ke arah Raja.


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja Nak, kebetulan paman bawa makanan untuk kamu dengan Raja, pasti kalian belum makan pagi kan?" Ujarnya sambil menunjuk ke arah rantang makanan yang berisi beraneka macam masakan.


"Paman selalu tahu apa yang Aza butuhkan, maafkan Aza yah paman, sudah membuat Paman repot-repot harus mengantarkan makanan segala untuk kami," terang Azalina yang menggandeng tangan pamannya ke arah kursi.


"Aza tolong ambilkan piring beserta sendoknya lalu isi makanan ke atas piring sepertinya Raja akan minum obat dan harus makan terlebih dahulu," perintah Pak Heru.


Dengan telaten Azalina, menaruh beberapa makanan yang sesuai dengan yang ada di dalam rantang tersebut. pak Heru yang melihat anak dari adik perempuannya itu tersenyum melihat wajah Azalina yang nampak sangat serius.


"Kalau sudah terisi beberapa makanan kamu sana bawa ke Raja, tapi kamu yang harus bantu karena setahu Paman Raja belum bisa memegang lama sendok," tutur Pak Heru.


"Baik Paman, ini semua Bibi yang buat yah Paman?"tanya Aza saat meraih sendok makan.


"Ini titipan dari Ibu Mina katanya dia masak khusus untuk kamu dan Raja calon manten," jawabnya yang membuat Azalina tersedak dengan salivanya sendiri.

__ADS_1


Uhuk… uhuk…


"Minum dulu Aza, makanya jangan biasakan cicipi makanan sambil berbicara kan gini jadinya,"ungkap Pamannya lalu menyodorkan segelas air putih ke dalam tangannya Aza.


Raja ingin segera bangkit dari tidurnya saat melihat kondisi Aza yang terbaik tapi buru-buru dia segera mengurungkan niatnya itu.


"Sudah kuduga tidak mungkin mak lampir yang buat ini semua, mana mau dia repot-repot dan pasti bakal berpikiran uangnya akan habis!!" Azalina tersenyum miris ke arah pamannya yang mengetahui kenyataannya sesuai dengan pikirannya.


"Kamu bantu nak Raja untuk makan, dan mulai hari ini kamu harus belajar untuk membantu menyiapkan makanan untuk Raja, apalagi Raja masih sakit," terang Pak Heru.


Azalina sedikit grogi dan salah tingkah karena seumur hidupnya belum pernah menyuapi orang yang sakit. Raja yang melihat Azalina membawa piring ke arahnya segera menggerakkan badannya walaupun sedikit kesulitan dan hanya tangannya yang bisa bergerak di matanya Azalina.


Azalina segera membantu Raja untuk bersandar dengan posisi yang baik dengan mengatur letak ranjang yang ada di samping bangkar tersebut.


"Apa sudah nyaman kalau seperti ini Abang?"tanya Azalina dengan lembut saat membantu Raja untuk bersandar.


Raja menatap wajahnya Azalina yang bersinar terang layaknya mentari di pagi hari itu dan kedua bola matanya sebening embun pagi. Raja mengagumi indahnya ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Dengan senyuman tipisnya yang tersungging dan tidak mampu orang lain lihat saking tipisnya.


Azalina mengupas udang tumis serta menyendok sayur asem beserta nasinya kedalam sendok lalu menyodorkan ke dalam mulutnya Raja. Dengan tangannya yang sedikit gemetaran. Raja dengan patuh langsung membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengunyah makanannya dengan pelan.


"Semoga kalian bahagia dan langgeng sampai kakek nenek, Paman bahagia jika melihat kalian nantinya bersanding di pelaminan dan menurut Paman Raja adalah pria yang baik dan cocok untukmu." Batin Pak Heru yang melihat interaksi mereka.

__ADS_1


Raja bersyukur karena mendapatkan gadis yang perhatian padanya dan baik hati walaupun mereka akan menikah tanpa adanya cinta dan kasih sayang dari keduanya.


"Ya Allah… kalau gadis kecil ini yang akan menjadi pendampingku hingga tutup usiaku maka dekatkanlah dia padaku ya Allah… dan satukanlah kami di dalam hubungan halal yang Engkau ridhoi."


__ADS_2