
Anggara menarik tubuhnya Sherly dan kedalam pelukannya lalu memeluknya cukup erat.
"Makasih banyak sayang, kalau kamu bisa masak dengan enak dan lezat untuk papi dan mami, mereka akan memberikan lampu hijau dan tidak perlu main sembunyi segala dan yang paling penting kita akan segera menikah," teriak Anggara saat menyebut kata terakhirnya.
Sherly yang mendengar penjelasan dari Anggara sangat bahagia. Dia tidak menyangka, jika belajar memasak dengan bundanya dan beberapa emak-emak tetangganya sewaktu tinggal di perkampungan membawa berkah tersendiri untuk kehidupan dan masa depannya.
Anggara dan Sherly bahagia setelah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tuanya Anggara. Sultan dan Bu Hamidah sangat bahagia mendengar kabar tersebut.
Mereka tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada keluarganya. Senyuman selalu terpatri diwajah Bu Hamidah yang membuat kondisi kesehatannya cepat berangsur membaik dari sedia kala.
Dua Minggu kemudian, jauh dari rumah sakit tempat Sultan dan keluarganya berada. Sore itu Azalina sedang merapikan beberapa barang dagangannya. Sambil melantunkan shalawat seperti yang biasa dia lakukan setiap harinya.
"Syukur Alhamdulillah makasih banyak ya Allah… atas resky yang Engkau berikan, toko kelontongku semakin hari semakin ramai pembelinya juga barang-barang yang ada juga semakin lengkap, ini semua berkat Abang Raja yang sudah dua kali mengirimkan uang belanja yang sangat cukup banyak ke nomor rekeningku," gumamnya Aza.
Apa yang dilakukannya sedari tadi, ternyata diperhatikan oleh seseorang. Orang itu tidak lain adalah mantan kekasih sekaligus mantan tunangannya.
Anjas seharusnya sudah kembali ke ibu kota untuk melanjutkan kuliahnya, tapi dia tidak mengindahkan peringatan, perintah dari orang tuanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang ke Ibu Kota sebelum aku menikmati tubuhnya Azalina, aku akan membuat Aza hamil anakku," lirihnya dengan seringai liciknya.
"Bagaimana rencana kita selajutnya bos?" Tanya pria yang kebetulan berada di sampingnya sedari tadi.
"Nanti malam adalah waktu yang tepat, aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi," jawabnya yang tersenyum jahat.
"Pria naif, aku tidak akan membiarkan rencanamu sukses karena nanti malam semua warga akan datang menggerebek kalian dan saya ingin kalian berdua diusir dari kampung kita," batinnya Ridho.
Ridho adalah pria yang selama ini selalu menjadi penguntit Aza yang ditugaskan oleh Anjas dengan tidak gratis tentunya.
"Apa obat yang sudah aku minta sama kamu sudah kamu beli?" Tanya Anjas yang melirik sekilas ke arah Ridho.
"Kamu memang selalu bisa diandalkan, aku sangat senang bisa bekerja sama denganmu," puji Anjas disertai dengan tawa renyahnya yang sangat bahagia karena mengira apa yang dia inginkan sudah dijalankan oleh Ridho.
"Untung saja Putri kekasihku itu segera mengatakan kalau anak dari Pak camat juga menginginkan Anjas menjadi miliknya, jadi kami bisa memanfaatkan uang mereka," batinnya yang masih setia berdiri di balik jendela rumah kosong yang berhadapan langsung dengan Rumahnya Azalina.
Ridho segera mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Putri yang mengabarkan bahwa malam nanti Anjas akan melangsungkan niat jahatnya. Diakhiri dengan seulas senyum penuh kemunafikan diperlihatkan oleh Ridho di hadapan Anjas.
__ADS_1
...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Cinta Yang Tulus...
...4. Diantara Dua Pilihan...
...5. Cinta dan Benci...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....
__ADS_1
I love you all Readers...