
Bu Hana sedih sekaligus malu karena ternyata pelaku yang sebenarnya adalah anak dari saudara tertuanya sendiri.
"Bibi tidak boleh seperti ini, namanya manusia pasti akan merasakan dan mengalami dan kemungkinan besar akan berada dititik terendah dalam hidup seseorang, jadi bibi tidak boleh banyak pikiran dan terbebani akibat dari ulah Ridho yang penting yang perlu bibi lakukan do'akan mereka agar segera tersadar dari kesalahannya," tutur Raja dengan penuh wibawa dan bijaksana.
"Syukur Alhamdulillah kalau gitu Nak,kami sangat senang dan bahagia mendengarnya," timpal Pak Anton.
"Raja sangat bijaksana dan dewasa dalam menghadapi ujian dan kemelut rumah tangganya, Paman sangat bangga padamu dan ternyata Paman tidak salah pilih dan keputusan Paman untuk menikahkan kalian adalah pilihannya paman yang paling terbaik dalam hidupnya paman," ungkap Pak Heru.
Raja hanya membalasnya dengan senyuman saja. Dia segera meminta ijin dan berpamitan untuk pulang ke Jakarta. Beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu berpelukkan dan menjabat tangannya Raja.
Mereka sangat bersyukur dan bahagia karena apa yang mereka takutkan dan khawatirkan tidak menjadi kenyataan hanya sekedar isapan jempol belaka.
Beberapa saat kemudian, Raja sudah bertolak dari kampung mereka akan menuju Ibu Kota Jakarta. Dia tidak sabar untuk melakukan pencarian terhadap istrinya yang menghilang sewaktu dibawa berobat ke kota besar.
"Aku sangat kecewa terhadap Anjas tapi, itu bukan sepenuhnya kesalahan Anjas, lagian aku juga ikut turut andil yang menyebabkan hal itu terjadi karena ada tidak mengajak istriku ke Ibu Kota bersamaku waktu itu," gumamnya Raja.
Mobilnya melaju dengan pesat di atas jalan beraspal setelah keluar dari perkampungan dengan jalan yang di kanan kiri berlubang.
Pak Ardi selaku kepala Desa sangat antusias dan bahagia menunggu janjinya Raja terealisasi setelah Azalina ditemukan keberadaannya.
"Saya sangat bersyukur karena Azalina mendapatkan suami yang baik dan sangat bijaksana serta kaya dan pastinya wajahnya sangat tampan," lirihnya Pak Ardi ketika mobil yang dipakai oleh Raja sudah tidak nampak kelihatan dari pasangannya.
"Ya Allah… semoga Raja segera bertemu dengan istrinya, aku kasihan melihat mereka yang sudah lama berpisah, jika aku ada waktu luang aku akan mencari tahu siapa sosok pria yang sangat mirip dengan bapakmu Aza," Pak Heru membatin.
Beberapa orang yang kebetulan berada di rumahnya Pak kepala desa segera pamit undur diri setelah Raja meninggalkan kampung tempat tinggalnya mereka.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah, Azalina sangat beruntung memiliki seorang suami yang sangat baik, pengertian, bijaksana dan tentunya kaya," cicitnya Bu Mina.
Sultan segera menelpon nomor hpnya Anggara lalu mengabarkan kepada sahabatnya itu untuk segera memerintahkan untuk mencari Istrinya bagaimana pun caranya.
"Assalamualaikum," sapanya Sultan saat sambungan teleponnya terhubung.
"Waalaikum salam, bagaimana dengan perkembangan disana dan kira-kira kapan kamu akan pulang ke Jakarta?" Tanyanya Anggara sambil mengutak-atik laptopnya.
"Azalina tidak ada di kampung,dia menghilang saat di bawah ke Ibu Kota untuk berobat hingga sekarang mereka dan pihak kepolisian belum berhasil menemukan sedikit pun tanda-tanda dari keberadaannya Aza" ungkap Sultan.
Azalina adalah wanita yang paling dia sayangi, kasihi, dan cintai setelah bundanya Bu Hamidah.
"Kenapa bisa terjadi seperti itu? Tolong jelaskan Sul apa saja penyebab menghilangnya Aza?" Tanyanya Anggara yang langsung menghentikan pekerjaannya setelah sedikit terkejut dengan perkataan dari Sultan yang mengatakan bahwa Aza menghilang.
"Panjang ceritanya Angga, insya Allah nanti sampai di Jakarta aku akan bicarakan semuanya awal mula hingga Aza menghilang yang penting sekarang kamu ke kantor polisi lalu perintahkan anak buah terbaikmu untuk mencari keberadaannya Aza hingga ditemukan bagaimana pun caranya," terang Sultan yang sangat berharap apa yang dia usahakan bisa berhasil dengan sukses.
"Aku tutup dulu soalnya aku sudah di jalan ni mau pulang ke Jakarta," tuturnya Sultan.
"Hati-hati, aku akan secepatnya melaksanakan tugas dari kamu, waalaikumsalam," ucapnya dokter ganteng yang sementara waktu bekerja sebagai asisten Pribadinya Sultan.
Sultan mulai menambah kecepatan laju mobilnya. Dia tidak sabar ingin segera sampai di Jakarta dan mencari keberadaan Istrinya yang paling dia sayangi.
"Ya Allah… jaga dan lindungilah istriku dimana pun dia berada," batinnya Sultan.
Sedangkan di dalam sebuah ruangan terdengar suara bariton seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan anak perempuannya.
__ADS_1
"Sayang bagaimana dengan proses pengobatan kamu dan juga perkuliahan kamu?" Tanyanya Pak Daniel yang sesekali menyesap kopinya yang masih mengepul asapnya yang menandakan masih hangat dan baru selesai diseduh.
"Alhamdulillah semuanya lancar Pa, insya Allah tidak sampai empat bulan lagi ujian skripsinya," jawabnya Azahrah di depan papanya.
Sedangkan mama dan Abangnya hanya terdiam dan memperhatikan mereka yang sedang berbicara.
"Apa kamu sudah siap membantu Abang kamu di Perusahaan?" Tanyanya yang menatap ke arah putrinya dengan tatapan yang penuh harap.
Aza menatap ke arah Abangnya itu dengan wajah seriusnya. Aza kurang percaya diri jika harus terjun langsung membantu kakaknya untuk bekerja.
"Apa yang kamu rasakan Aza? Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan sama kakak?" Tanyanya Farhan yang melihat ada sesuatu yang mengganjal pikiran adik bungsunya itu.
"Entah kenapa perasaanku akhir-akhir ini serasa ada seseorang yang ingin bertemu denganku tapi entah siapa orangnya, Aza tidak tahu dan tidak mengerti dan juga Aza tidak percaya diri dengan kemampuan yang Aza miliki Abang," pungkasnya Azzahrah.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
...1. Pesona Perawan...
...2. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...3. Pelakor Pilihan...
...4. Cinta CEO Pesakitan...
...5. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
__ADS_1
Makasih banyak all Readers...
i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...