
"Alhamdulillah, akhirnya putraku bisa terlepas dari jeratan dan bayang-bayang Selena, aku akan sangat berterima kasih kepada Aza istrinya anakku jika kelak kami dipertemukan," batinnya Ibu Hamidah yang raut wajahnya sudah berbinar kesenangan sudah tidak nampak seperti awal mereka bertemu.
Ibu Hamidah sudah memikirkan banyak hal tentang pesta pernikahan putranya jika sudah menjemput istrinya. Karena Bu Hamidah sangat yakin dan tahu jika mereka pasti menikah dulu dengan suasana yang sangat sederhana, walaupun kenyataannya waktu itu tidak seperti dugaan yang dipikirkannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di Bandara internasional Soekarno-Hatta. Tim medis dan dokter yang diperintahkan oleh Anggara sudah stand by sedari tadi, menunggu kedatangan dan kepulangan mereka.
"Ayo cepat bawa Bunda ke Rumah Sakitmu Anggara, aku tidak ingin mendengar perkataan jika pelayanan atau pun peralatan medis di sana kurang memadai, jika tidak aku akan memindahkan Bunda ke RS lain," ultimatum Sultan dengan raut wajahnya yang sangat serius dan tidak ingin terbantahkan.
Bu Hamidah memegang tangannya Sultan," insya Allah Bunda akan segera sembuh total seperti dahulu lagi, setelah mendengar kamu sudah menikah, karena Bunda sangat berharap Bunda bisa segera menimang cucu dari kalian berdua," ujarnya Ibu Hamidah yang sangat berharap apa yang diinginkannya bisa dikabulkan dan di penuhi oleh Sultan.
Glek… Gluk…
__ADS_1
Sultan langsung teringat dengan apa yang terjadi sebenarnya, jika dia belum pernah berhubungan intim dengan Istrinya.
"Gimana caranya kami bisa segera punya anak, padahal kami hanya baru melakukan sekedar ciuman saja tidak ada yang lebih istimewa dari itu," lirihnya Sultan yang tidak mampu didengar oleh yang lain.
"Ya Allah.. lindungilah pernikahan putraku dan berikanlah dia kebahagiaan, cukup sudah dia menderita dan tersiksa dengan cinta yang dilandasi kebohongan dan tipu muslihat seseorang, aku memohon dan meminta padamu ya Allah!" Sebait doa dipanjatkan oleh Bu Hamidah untuk putra kebanggaannya itu.
Mereka sudah tiba di lobby rumah sakit. Ibu Hamidah segera di bawah langsung ke dalam UGD RS karena kondisi kesehatannya yang cukup memprihatinkan. Dokter terbaik yang dimiliki di rumah sakit tersebut, segera turun tangan untuk menangani ibu Hamidah
"Ya Allah… aku mohon bantulah dokter untuk menyembuhkan penyakitnya bunda, aku tidak tega setiap hari melihat tersiksa dengan penyakit yang telah beberapa bulan belakangan ini menggerogoti tubuhnya," Sherly menangis tersedu-sedu saat melihat beberapa dokter mengelilingi bundanya di dalam ruangan UGD itu.
"Ya Allah.. aku memang anak yang belum bisa membalas jasa-jasa dan kebaikan bunda, hingga sampai kapanpun aku tidak bakalan bisa membalas ketulusan bunda saat mengandung, melahirkan dan merawat kami putra putrinya," Sultan tak segan meneteskan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Bunda Hamidah orang yang baik ya Allah… berikanlah waktu usia yang panjang untuk melihat anak-anaknya bahagia, bunda Hamidah sedikit pun tidak bersalah, ini semua terjadi karena ketamakan dan keegoisan dari Martin dan Selena," Angga juga tidak hentinya mendoakan orang tua dari kekasihnya dan juga sahabatnya itu.
Beberapa jam kemudian, dokter telah memeriksa dan menangani penyakitnya Ibu Hamidah. Mereka sangat berharap kesembuhan dari Ibu Hamidah. Tim dokter sudah mengupayakan dan melakukan prosedur kesehatan yang paling terbaik yang mereka miliki di Rumah Sakit Harapan.
Sultan segera menghampiri Dokter dan beberapa perawat yang berjalan ke arah luar ruangan UGD. Sultan sudah tidak sabar ingin mendengar dan mengetahui dari kondisi terakhir kesehatan bundanya.
"Dokter!! Bagaimana dengan kondisi Bunda?" Tanyanya yang sangat tidak bisa bersabar ya sedari tadi mondar mandir di depan pintu UGD malahan sudah mengganggu aktivitas dan pekerjaan dari suster.
Dokter itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Sultan," Alhamdulillah, kondisi dari Nyonya Hamidah sudah membaik, tadi sempat kritis tapi untungnya kalian secepatnya membawa pasien ke RS, jadi kami dengan semua tim sudah berusaha yang terbaik," jelas Pak Dokter yang tidak lain adalah Papinya Anggara pemilik rumah sakit itu sendiri.
"Alhamdulillah, Makasih banyak Om atas bantuannya, tanpa bantuan om aku tidak tahu bagaimana dengan nasib Bunda," balasnya Sultan yang sudah bisa bernafas lega.
__ADS_1