
Raja menarik Aza kedalam pelukannya dan memeluk erat tubuh istrinya. Raja sangat mengerti dengan apa yang terjadi di dalam hatinya Aza. Jika harus menikah dan memutuskan untuk berumah tangga dengan orang lain yang sama sekali tidak dicintai.
"Menangislah,jika itu yang mampu membuatmu lega dan merasa tenang," terang Raja senantiasa mengelus rambut panjang bergelombang yang kecoklatan milik istrinya.
Aza semakin mengeraskan suara tangisannya di dalam pelukannya Raja. Dia sangat merasa bersalah dan berdosa dengan apa yang melanda hatinya.
"Maaf Abang," hanya kata itu yang meluncur dari bibir seksinya Aza.
Raja dan Aza sama-sama sudah pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Bahkan mereka sama-sama sudah siap melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu ke pelaminan. Tapi, kondisi dan sejarah mereka berbeda satu sama lain. Raja yang dikhianati oleh sahabat baiknya sekaligus asisten pribadinya dan tunangannya sendiri.
Sedangkan Aza yang dengan berat hati harus terpaksa menghianati janji mereka yang sudah bertunangan dengan Anjas anak sulung dari Kepala Desa Du kampungnya.
"Aza minta maaf Abang, seharusnya ini tidak boleh terjadi," tuturnya yang sesekali mengusap air matanya yang membasahi pipinya itu.
"Abang sangat mengerti dengan apa yang kamu rasakan, Abang minta sama kamu jangan sekali-kali menjadikan beban pikiran pernikahan kita ini, tapi jadikanlah ladang pahala untuk meraih tangan ridhonya Allah SWT," jelas Raja dengan panjang lebar.
Azalina sedikit tenang dan lega mendengar nasehat dan masukan dari Raja suaminya. Aza bersyukur karena menikahi pria yang dewasa yang terpaut beberapa tahun dengannya yang mampu memberikan saran dan masukan tanpa menggurui dan memvonis kesalahan dan kekurangannya itu.
"Abang hanya meminta sama kamu, mari kita jalani pernikahan ini dengan apa adanya, jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi istri yang baik dan sempurna, Abang hanya meminta padamu untuk menerima segala kekurangan Abang dan aku tidak akan memaksamu untuk melupakan semua kenangan yang pernah kamu jalani dengan pria sebelum aku," terang Raja panjang lebar.
__ADS_1
Raja segera melerai pelukannya dari tubuh seksi nan indah milik istrinya. Lalu memegang ujung dagu milik Azalina hingga mereka berhadapan dan saling bertatapan satu sama lainnya. Raja mengikis jarak mereka hingga hidung mancung nan bangir khas hidung pribumi itu saling bersentuhan hingga bergesekan
Deru nafas mereka saling bertabrakan dan perlahan dengan pasti Raja semakin menepis jarak mereka. Raja yang terhipnotis oleh mata indah sebening embun pagi hari itu milik Azalina. Raja melupakan semua perkataannya barusan dan prinsipnya di awal mereka menikah, jika dia tidak akan sedikit pun menyentuh tubuhnya Azalina sedikit pun hingga Aza sendiri yang memintanya.
Hanya tersisa sedikit pun gerakan yang akan dilakukan oleh Raja hingga mereka akan berciuman, tapi baru saja Raja memegang tengkuknya Aza, pintu ruangan kamar perawatannya oleh seseorang dari arah luar.
Raja segera melepaskan pegangan tangannya di tengkuknya leher Aza, lalu dia berbaring dengan tidak lupa memperbaiki penampilannya serta posisi bantalnya. Apa yang dilakukan oleh Raja tidak berbeda dengan Azalina. Dia segera berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, hingga rambutnya pun dia perbaiki ikatannya yang hanya asal cepol saja. Anak rambutnya ada yang terurai dan menjuntai mengenai wajahnya.
"Abang, Aza bukain pintunya dulu, sepertinya itu mungkin perawat yang bawa obatnya Abang," terangnya dengan wajahnya memerah seperti layaknya buah tomat saja.
Raja hanya menganggukkan kepalanya ke arah Azalina yang sudah berjalan meninggalkannya ke arah pintu masuk.
Raja tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Raja kebingungan dengan apa yang barusan dia lakukan, hampir saja mencicipi manisnya bibir seksinya Azalina. Walaupun apa yang dia lakukan sah saja dan tidak masalah, tapi hubungan mereka hanya sebatas menikah karena adanya insiden yang memaksa mereka untuk segera menikah.
Pintu itu terbuka lebar, Azalina tersenyum ke arah orang yang sedari tadi mengetuk pintu itu. Ibu Lina dan kakak sepupunya itu sama sekali tidak tersenyum membalas senyuman dari Aza. Dia langsung nyelonong masuk tanpa aba-aba dan mengucap salam apa pun itu. Azalina hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bibinya yang sedikit pun tidak ada sopan santunnya dan etika bertamunya.
"Ada apakah gerangan yang membuat Nyonya Besar Lina datang berkunjung ke ruangan Perawatan suamiku?" Tanya yang sedikit sarkas ke arahnya Ibu Lina.
"Enak yah hidup loh sekarang, setelah menikah sudah melupakan semua pekerjaanmu selama ini yang hanya jadi kurir ikan," ungkap Ibu Lina dengan angkuhnya sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
Sedangkan Anjani sedari tadi memandang penuh takjub dan terpikat melihat wajah dan tampangnya Raja,"jika dibandingkan dengan Abang Anjas, dia lebih macho, tampan dan cakep tapi, sayangnya dia pria lumpuh dan penyakitan." Tatapan matanya yang genit memandang ke arah Raja.
Raja sama sekali tidak menggubris pandangan matanya Anjani, malahan dia mengalihkan dan membuang muka Ir arah tembok. Raja hanya terdiam melihat interaksi mereka tanpa ada niat untuk ikut campur. Dis hanya menjadi penonton setia saja, kecuali Aza tidak bisa meladeni dan membalas mereka barulah dia turun tangan.
"Oooh jadi hanya alasan ini yang membuat kalian harus repot-repot datang ke Rumah Sakit yang bau obat dan kotor ini," terang Aza yang mengingatkan perkataan mereka sendiri yang mengatakan jika RS adalah tempat yang kotor dan menjijikkan.
"Kamu ternyata sudah berubah menjadi perempuan yang liar, apakah ini pengaruh dari pria itu?" Tunjuk Anjani ke arah Raja.
Azalina segera menurunkan tangannya Anjani yang sudah lancang dan berani menunjuk ke arah Raja suaminya yang tidak tahu apa-apa.
"Kalau hanya seperti ini tujuan kalian untuk datang ke sini sepertinya hanya untuk membuang waktu saja yang tidak berguna sama sekali," tutur Azalina yang tidak kalah garangnya.
"Kami kesini hanya akan menyampaikan jika, tidak lama lah lagi Anjas mantan tunanganmu itu akan kembali dari kota dan saya akan menjodohkan Anjani dengan Anjas, jadi Bibi harap kamu merestui niat baik kami ini," jelas Ibu Lina panjang lebar.
Raut wajah Azalina langsung berubah drastis setelah mendengar penjelasan dari bibinya. Aza sangat sedih mendengar kenyataan itu. Pria yang selama ini menjadi kekasih sekaligus tunangannya akan menikah dengan kakak sepupunya sendiri. Raja sedari tadi memperhatikan perubahan mimik wajahnya Azalina dari tempatnya.
"Ya Allah... pasti itu tidak mungkin terjadi, Abang Anjas masih mencintaiku." langkahnya sedikit goyah ke arah belakang.
ibu Lina dan putrinya tersenyum licik dan penuh kemenangan melihat kondisi Azalina yang berhasil mereka provokasi.
__ADS_1
Bagi yang belum mengupdate aplikasi NT atau MT yang terbaru yuk di update dulu Kakak ke versi terbarunya, agar dukungan kalian menjadi tambahan viewer untuk novel recehku.