Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 26. Tidak Mungkin


__ADS_3

Tok.. Tokk.. Tokk..


Suara ketukan pintu itu semakin tidak sabar saja. Seolah-olah orang yang mengetuk pintu itu dikejar oleh sesuatu. Semakin lama suara ketukannya semakin besar pula.


Suara ketukan pintu itu membuyarkan kegiatan mereka berdua. Azalina menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Suaminya. Sedangkan Raja sedikit mengerang kesal karena kegiatannya terpaksa terhenti disaat di puncaknya. Raja mengecup puncak kepala istrinya sebelum meninggalkannya di dalam dapur.


"Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?" Keluhnya yang sedikit marah karena ketukan orang itu sangat mengganggu.


Raja berjalan ke arah pintu depan, sambil terus ngedumel tidak jelas. Azalina yang mendengar keluh suaminya hanya bisa tersenyum malu-malu. Raja memutar knop pintu lalu memutar kunci yang tergantung di pintu itu. Pintu itu terbuka hanya sebagian saja, karena sudah malam. Raja menatap dingin kepada siapa orang yang bertamu malam itu.


Raja terdiam dan memperhatikan orang itu dari ujung rambut hingga ujung kaki,"Pria ini siapa? Aku baru melihatnya, dan jika dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang di sini?" Raja membatin dan terus menelisik pria muda yang berdiri tegak di depannya.


"Assalamualaikum, maaf Abang apa Aza ada?"tanyanya sembari mengedarkan pandangannya ke arah dalam rumahnya.


"Maaf Anda siapa dan ada urusan apa mencari Aza?"tanyanya Raja yang tidak mengerti dan tidak mengetahui siapa pria muda ini


Pria itu baru ingin menjawab pertanyaan dari Raja, ujung matanya melihat Azalina yang berjalan ke arah mereka. Senyuman pria itu langsung mengembang dikala pujaan hatinya telah muncul di hadapannya.


"Abang Anjas," cicit Azalina yang bahagia melihat kedatangan Anjas di rumahnya.


Anjas langsung berjalan ke arah dalam tanpa permisi pada Raja yang berdiri di ambang pintu. Bahkan Anjas menyenggol sedikit lengannya Raja tanpa ada niat untuk berbasa-basi meminta maaf padanya. Raja hanya terdiam tanpa kata melihat reaksi keduanya.


Anjas segera memeluk tubuhnya Azalina dengan erat," Azalina sayang, Abang sangat merindukan dirimu, Abang pulang ke kampung hanya untuk melihatmu, bahkan Abang langsung ke sini dari Ibu Kota tanpa pulang ke rumah lebih dulu," tuturnya dengan pelukannya yang erat di tubuhnya Azalina.


Azalina membalas pelukan dari Anjas seperti yang dilakukan oleh Anjas padanya. Wajahnya sumringah bahagia karena pria yang sudah satu tahun lebih itu tidak dilihatnya. Azalina melupakan keberadaan Raja di dalam rumah itu saking bahagianya bisa melihat kekasihnya yang dari kota.


"Azalina, Abang sangat merindukanmu, Abang tidak tenang di Kota jika tidak mendengar kabar darimu, demi cita-cita dan masa depan kita, Abang rela kuliah dan tinggal jauh darimu," ucapnya Anjas yang sudah meneteskan air matanya.


"Aza juga sangat merindukan Abang, Aza pun sangat mencintai Abang Anjas," balasnya yang ikut menangis dalam pelukan Anjas.


Jederr… keder…


Raja yang mendengar perkataan dari Aza membuatnya menatap ke arah Aza yang sama sekali tidak mengingat dan peduli padanya jika dia ada di dalam rumah itu. Raut wajahnya Raja berubah masam, tangannya tiba-tiba mengepal kuat hingga matanya sudah memerah.


"Dia pria yang selama ini disayanginya, pria yang selalu membuatnya melamun dan meneteskan air matanya, mungkin kehadiranku di antara mereka tidak pantas dan menjadi orang ketiga diantara mereka, apa lah artinya aku di dalam hidupnya sedangkan pria itu adalah kekasih sekaligus tunangannya," lirih Raja yang masih tak bergeming di tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Aza, sisa satu tahun aku di Jakarta, setelah semuanya selesai pasti aku akan kembali dan datang melamarmu, aku sudah tidak sabar Aza untuk menjadikanmu istriku," ujarnya Anjas dengan menggebu saking bahagianya melihat tunangannya baik-baik saja.


Derr… derrr…


Perkataan dari Anjas membuat hatinya hancur seakan-akan ada ribuan jarum yang menusuknya hingga berdarah-darah. Penuturan dari Anjas bagaikan sembilu yang tajam menusuk jantungnya. Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Ia segera menghapusnya agar tidak ada orang yang melihat kehancurannya saat itu.


"Mungkin besok setelah aku antar buka rekening aku akan pergi dari sini untuk selamanya," cicitnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah luar rumah.


Dia berjalan menapaki pasir putih yang bersih itu. Deburan ombak dan semilirnya angin malam tak menyurutkan langkahnya saat itu juga. Aza yang melihat kepergian Raja barulah membuat dirinya tersadar dari apa yang dilakukannya.


"Aku tidak boleh seperti ini, aku sudah menikah dengan pria lain dan tak sepantasnya aku memeluk pria lain di depan mata suamiku," Aza segera melepas pelukannya dari tubuh Anjas.


Anjas yang merasakan jika Aza berontak dan segera melerai pelukannya sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika Aza akan secepat itu melepaskan pelukannya.


"Maaf Abang, ini tidak boleh terjadi, maaf seharusnya apa yang barusan kita lakukan tidak sepantasnya Abang, aku…," ucapan Aza menggantung karena tidak tahu harus berbicara apa dan menyampaikannya dengan bagaimana pula.


"Apa dan kenapa kamu meski meminta maaf padaku Aza? Biasanya jika Abang pulang dari kota pasti seperti ini yang kita lakukan, jadi dimana letak kesalahannya?" Tanyanya Anjas dengan wajah kebingungan.


Tiba-tiba lidahnya keluh seketika, dia tidak mampu untuk berbicara jujur di depan Anjas yang notabene adalah kekasih sekaligus tunangannya itu.


"A-ku su-dah…." Perkataannya Azalina lagi-lagi tertahan di ujung lidahnya.


Aza mundur beberapa langkah kebelakang," maaf Abang aku sudah menikah," tuturnya dengan menundukkan kepalanya.


Gluduk… Gleduk…


Bagaikan petir di siang bolong, kejujuran Azalina kekasihnya itu membuatnya tidak percaya dan terkejut.


"Hahahaha, itu tidak mungkin Aza!! Jangan bergurau denganku," balasnya dengan terus tertawa sambil menggoyang tubuhnya Azalina saking tidak percayanya.


"Tapi itulah kenyataannya Abang, aku sudah menikah dua bulan yang lalu, dan pria yang membukakan pintu untuk Abang adalah suamiku," jelasnya disertai dengan deraian air matanya.


"Tidak mungkin!!! Pasti kamu prank Abang kan Aza? Ini pasti kamu sengaja melakukan hal itu hanya untuk menguji tingkat kesabaran dan kesetianku kan Aza?" Tanyanya dengan memegang kedua bahunya Aza.


"Maafkan Aza Abang, Aza sama sekali tidak bohong atau apa pun itu, itulah kenyataan yang telah terjadi," jawabnya dengan air matanya yang sedari tadi ikut menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


Azalina sangat tidak ingin jujur di hadapan Anjas, karena hatinya sangat sedih melihat raut wajahnya Anjas yang drastis berubah sendu. Anjas tersungkur di atas lantai mendengar kejujuran dari perempuan yang sangat dicintainya itu. Anjas terus meratapi nasibnya yang telah gagal memiliki perempuan yang sangat dicintainya itu dan hanya dia wanita yang ada di dalam hidupnya hingga detik itu.


Biarlah aku pergi


Jangan lagi kau tangisi


Semoga pilihanmu


Yang terbaik untukmu


Memang berat bagiku


Berpisah denganmu


Tapi harus kurelakan


Cinta tak bisa dipaksakan


Mungkin kau bukan cinta sejatiku


Mungkin kau bukan belahan jiwaku


Yang diturunkan tuhan untuk menjadi Pendamping hidupku


Mungkin kau bukan cinta sejatiku


Mungkin kau bukan belahan jiwaku


Yang diturunkan tuhan untuk menjadi Pendamping hidupku


Dengan berat bagiku berpisah denganmu Tapi harus kurelakan


Cinta tak bisa dipaksakan


Mungkin kau bukan cinta sejatiku

__ADS_1


Mungkin kau bukan belahan jiwaku


Yang diperlukan tuhan tuk menjadi Pendamping hidupku


__ADS_2