Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter 21. Bibit Pelakor


__ADS_3

Satu minggu kemudian, Dokter Anggara sudah memberikan ijin kepada Raja untuk segera pulang dan hanya berobat jalan saja. Dengan penuh perhatian Azalina membantu Raja ke atas kursi roda.


"Hati-hati yah Bang," ucap Azalina.


Raja hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari istrinya yang sudah dinikahi hampir tiga minggu itu.


"Abang apa sudah nyaman duduk seperti ini?" Tanyanya yang memeriksa posisi duduknya Raja.


"Alhamdulillah sudah baik kok," jawabnya.


Azalina pun mendorong kursi rodanya Raja hingga ke bagian depan rumah sakit. Azalina sudah memesan sebelumnya bentor yang akan mengantar Raja hingga ke rumahnya.


"Maaf yah bang, harus nunggu lama, soalnya aku ngurus surat-surat kepulangan suamiku dulu," ucap Azalina saat sudah berada di depan tukang becak motor.


Bapak bentor itu segera bangun dari duduknya,lalu berjalan ke arah depan untuk membersihkan kursi penumpangnya sambil menjawab,"Ohh tidak apa-apa kok Aza, Bapak juga baru nyampe semenit yang lalu,"


"Abang pulangnya sama Bapak Rizal saja yah, aku bawa sepeda soalnya kalau gak dipake pulang, jadi susah kalau harus kembali ke sini lagi," ujarnya lalu mengangkat sedikit tubuhnya Raja untuk naik ke atas bentor.


Karena Pak Rizal terlambat membantu, Azalina terjatuh ke atas tubuhnya Raja yang kembali terduduk di kursi rodanya. Tangannya Aza tanpa sengaja menekan dadanya Raja sedangkan bibirnya yang mungil dan tipis itu menyentuh bibir seksi dan kenyal milik Raja. Mata mereka saling memandang satu sama lainnya. Mereka sama-sama tidak berkedip dan tidak menyangka gara-gara injakan kakinya pada batu yang tidak sengaja dia injak membuat kakinya tergelincir hingga tubuhnya yang berusaha mengangkat Raja tidak seimbang.


Mereka berada dalam posisi itu hingga beberapa saat lamanya. Pak Rizal yang melihat sama sekali tidak ingin mengganggu aktifitas yang mereka lakukan. Baginya itu hal wajar bagi dua pasang pengantin baru. Beliau hanya tersenyum menanggapi apa yang mereka lakukan. Suara intrupsi dari seseorang mampu membuat mereka memutuskan apa yang telanjur terjadi.


"Apa Abang Raja sudah mau pulang?"tanyanya dengan senyuman termanisnya di hadapan Raja.


"Iya, Alhamdulillah Dokter sudah mengijinkan aku untuk pulang karena katanya sudah sehat dari sebelumnya," jawabnya lagi dengan wajah santai.

__ADS_1


Perempuan itu melihat ke arah bentor yang terparkir di depannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Azalina dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


"Kalau Abang tidak keberatan, biarkan Winda saja yang antarin Abang hingga ke depan rumahnya," tutur Winda yang terus memaksa menawarkan bantuannya.


Raja menatap ke arah Azalina yang hanya terdiam saja tanpa ada reaksi yang bagaimana darinya. Dia terdiam dan menatap ke arah mereka berdua. Raja yang melihat tidak ada tanggapan apa pun dari Azalina.


"Baiklah, kalau kamu tidak keberatan," tutur Raja.


"Maaf yah Pak, kebetulan teman saya ini tidak jadi naik bentor bapak, ini ada sedikit uang sebagai ganti rugi Bapak yang sudah capek-capek tapi dibatalkan," ujarnya Winda sambil mengulurkan tangannya ke arah Pak Rizal.


Pak Rizal malahan sangat bersyukur dan berterima kasih karena uang yang diberikan oleh Winda lebih banyak dari ongkosnya yang disepakati oleh dia dan Aza tadi pagi.


"Makasih banyak Mbak, saya sangat bersyukur atas ongkosnya, padahal tidak jadi dipakai bentornya" terang Pak Rizal dengan sumringah.


"Sama-sama Pak, itu tidak seberapa kok, malahan aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah menerima pembatalannya," jelas Winda.


"Abang, karena ada Mbak Winda yang membantu Abang, kalau begitu aku pulang duluan, assalamu alaikum," Aza meninggalkan mereka lalu berjalan ke arah tempat parkiran sepedanya.


Raja terus memandangi ke arah Aza yang perlahan sudah semakin menjauh dari tempat mereka berada. Winda tidak sengaja melihat hal itu dan segera masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah sakit menuju rumahnya Aza yang berada di pesisir pantai.


"Abang dengan Aza itu saudara yah?" Tanya Winda yang membuka percakapan diantara mereka yang sedari tadi hanya diam membisu.


"Bukan," jawabnya dengan singkat tapi pandangan matanya tertuju pada seorang perempuan yang mengayuh sepedanya di bawah paparan sinar matahari siang itu.


"Kalau bukan berarti temannya Abang yah," tanyanya lagi dengan sesekali melihat ke arah Raja lewat kaca spion mobilnya.

__ADS_1


"Bukan juga," ucapnya Raja.


"Kalau bukan temannya, berarti pacarnya Abang dong," ucapnya dengan penuh selidik.


"Bukan juga," jawabnya lagi.


Winda menatap dengan penuh minat dan takjub ke arah Raja, "Kalau gini, aku ada kesempatan untuk mendekati Abang Raja dong, kesempatan emas akhirnya datang juga."


Hingga perkataan singkat dari Raja langsung menghentikan khayalannya yang sudah terbang tinggi jauh ke dunia mimpi indahnya.


"Dia adalah istriku," terang Aza.


Penjelasan dari Raja membuat Winda langsung merem mendadak. Saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar. Kejujuran dari Raja membuat dokter muda dan cantik itu menghentikan laju mobilnya dengan tiba-tiba. Winda segera menolehkan kepalanya ke arah Raja dengan tatapan matanya yang membulat sempurna seperti orang yang melorot hingga seakan-akan bola matanya ingin terlepas dari lubang matanya.


Raja yang melihat ekspresi terkejut dari Winda hanya bisa tersenyum tipis menanggapi keterkejutan dari Winda. Raja sudah mengetahui jika Winda sejak pertama kali mereka bertemu sudah ada maksud yang terselubung dibalik kebaikan dan perhatiannya.


"Maaf ada masalah dengan semua itu?" Tanya Raja dengan wajah dinginnya.


Winda yang mendengar perkataan dari Raja langsung salah tingkah dan memperbaiki duduknya dibalik kemudi mobilnya.


"Maaf, saya tidak menyangka jika gadis kampung itu istrinya Abang, aku kira dia adik sepupunya Abang yang ditugaskan untuk menjaga Abang selama di rawat di RS," ungkap Winda dengan gamblangnya.


Raja sama sekali tidak ingin menimpali perkataan dari Winda, Raja ingin melihat sejauh mana Winda menjelekkan dan merendahkan Istrinya. Sedangkan orang yang menjadi topik pembicaraan mereka sedang asyik menikmati acara bersepedanya siang hari yang terik itu.


"Abang, apa dijodohkan dengan gadis kampungan itu? Karena menurut Winda Abang sama sekali tidak mencintainya," ucapnya sambil melajukan kembali mobilnya ke arah jalan menuju rumahnya Aza.

__ADS_1


"Raja terdiam berarti apa yang aku katakan barusan adalah benar adanya, aku harus tambah memanasi keadaan agar Raja membenci istrinya hingga mereka bercerai." Tatapan matanya tajam dengan seringai licik terbit di wajahnya.


__ADS_2