Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 39. Kepulangan Bunda Sultan


__ADS_3

Kondisi lingkungan rumah yang kumuh, sanitasi, ventilasi yang sangat minim serta sekitar area rumah itu yang sangat kotor, sampah ada di mana-mana. Hal itu yang memperparah kondisi kesehatan Ibu Hamidah. Hal tersebut semakin membuat Sultan semakin marah dan murka terhadap perbuatan dan kejahatan dari Martin.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bisa bernafas lega dan bebas berkeliaran Martin, aku akan membuat kamu hancur hingga kematian akan enggan menjemputmu!!" Umpatnya yang sudah berjanji akan membalas semua akibat dari kejahatan Martin dan Selena.


Beberapa saat kemudian, setelah diperiksa oleh Dokter Anggara mereka segera bersiap dan meninggalkan rumah itu untuk berangkat menuju Ibu Kota.


"Kita tidak boleh menunda lagi Sultan, kondisi Bunda sangat berbahaya!!" Ujarnya Anggara.


"Baik, bawa Bunda ke dalam mobil kita akan segera pulang ke Jakarta, hubungi orang-orangmu untuk menyiapkan jet pribadi, kita akan naik pesawat pulang ke Ibu Kota," perintah Sultan yang menatap ke arah Anggara berdiri.


"Baik," jawabnya singkat lalu segera berjalan ke arah mobilnya untuk mengambil hpnya.


"Bagaimana dengan barang-barang kami kak?" Tanya Sherly yang mengemas barang-barangnya.


"Tidak perlu khawatirkan masalah barang-barangmu, ambil saja yang penting, yang tidak penting tinggalkan saja di sini," jawabnya lalu mulai menyalakan mesin mobilnya setelah Bundanya dirasa sudah berbaring dengan baik di dalam mobil.


Rombongan mereka meninggalkan perkampungan kumuh itu yang beberapa bulan terakhir ini menjadi tempat tinggal, berlindung dari Bunda dan adiknya dari kejaran Martin beserta antek-anteknya itu.


Wajahnya Sultan masih merah padam, guratan amarah masih tetap terus membayanginya. Dia sesekali mengumpat kejahatan dan perbuatannya Martin kepada keluarganya.


"Aku terlalu bodoh selama ini yang dengan mudahnya mereka membohongiku!!" Umpatnya lalu memukul setir mobilnya.


Sherly yang duduk di kursi penumpang sedikit merasa takut dan was-was melihat sikap dan kemarahan saudara satu-satunya itu. Dia lalu memegang punggung tangan kakaknya itu.

__ADS_1


"Abang!!! ingat istighfar kita lagi di jalan, jangan luapkan amarahnya jika sedang nyetir mobil, aku takut," ujarnya yang sedikit mulai khawatir melihat emosi kakaknya.


Untung saja Sultan segera menyadari apa yang telah dilakukannya dia sangat menyesali karena amarahnya telah menguasai seluruh tubuh dan pikirannya.


"Astaugfirullah, maaf," lirihnya yang menyesal karena telah terpengaruh oleh sesuatu yang tidak baik.


Perjalanan mereka tidak terlalu makan banyak waktu, karena pulangnya mereka memakai jet pribadi agar perjalanannya cepat dan tidak ada kendala apapun itu. Sultan selalu berada disampingnya Nyonya Hamidah ibundanya tercinta. Dia sedari tadi Setelah berada di dalam pesawat,selalu berada di dekatnya ibu Hamidah mencium punggung tangan ibundanya.


"Bunda harus segera sembuh dan sehat kembali, agar bunda bisa melihat menantu bunda yang sangat cantik," tuturnya Sultan disela tangisnya.


Ibu Hamidah yang mendengar penuturan anak sulungnya segera menolehkan wajahnya ke arah anaknya berada.


"Apa benar yang kamu katakan Nak?" Tanyanya yang sudah senang mendengar penjelasan dari anaknya.


"Syukur Alhamdulillah Nak, Bunda sangat bersyukur karena kamu telah menemukan gadis yang kamu cintai, Bunda berdoa semoga Pernikahannya awet, langgeng hingga kalian kakek nenek, amin," tutur Bu Hamidah dengan senyuman bahagianya mendengar putranya telah menikah.


"Sultan yakin dengan sangat, jika Bunda bertemu dengannya pasti akan menyukainya karena dia gadis yang baik hati,lugu, polos,cantik," jelasnya sambil mengingat wajah sang istri.


"Kalau gitu bunda mau segera dan secepatnya sembuh agar kamu bisa ke kampungnya untuk jemput Azalina ke Ibu Kota," terang ibu Hamidah lagi.


Sultan sangat bahagia dan bersyukur karena ibundanya tidak mempermasalahkan sedikit pun tentang apa saja yang ada pada Azalina, baik dari segi latar belakangnya, sifat, karakter, usianya. Bu Hamidah jadi termotivasi untuk segera lekas sembuh dan sehat seperti sedia kala.


Itulah keluarga Sultan yang tidak pernah memandang seseorang dari bibit, bebet dan bobotnya. Bagi mereka yang paling penting adalah anggota keluarganya bisa bahagia dunia akhirat itu sudah cukup.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya putraku bisa terlepas dari jeratan dan bayang-bayang Selena, aku akan sangat berterima kasih kepada Aza istrinya anakku jika kelak kami dipertemukan," batinnya Ibu Hamidah yang raut wajahnya sudah berbinar kesenangan sudah tidak nampak seperti awal mereka bertemu.


Ibu Hamidah sudah memikirkan banyak hal tentang pesta pernikahan putranya jika sudah menjemput istrinya. Karena Bu Hamidah sangat yakin dan tahu jika mereka pasti menikah dulu dengan suasana yang sangat sederhana, walaupun kenyataannya waktu itu tidak seperti dugaan yang dipikirkannya.


...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Cinta Yang Tulus...


...4. Diantara Dua Pilihan...


...5. Cinta dan Benci...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...


...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....


...I love you all Readers......

__ADS_1


__ADS_2