
Azalina menantikan pesan chat dari suaminya yang mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat di Jakarta. Dia menekuk lututnya dan tidak terasa tubuhnya bergetar menahan air matanya yang menetes membasahi pipinya.
"Ya Allah… kenapa hati ini tidak tenang dan serasa kepergiannya Raja adalah untuk selamanya."
Tak bosan-bosannya dia terus memandangi layar hpnya, tapi hingga adzan magrib berkumandang dari toa Masjid pun, hpnya masih seperti sebelumnya.
"Sudahlah, mungkin Abang Raja sibuk dengan pekerjaannya," lirihnya dengan pasrah.
Azalina segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dalam rumahnya. Tapi, baru ingin mengunci rapat kenop pintu belakang rumahnya, hpnya bergetar disertai dengan dering kecil. Azalina yang penasaran dan antusias serta sangat berharap agar pesan itu dari suaminya.
Senyumannya memudar, wajahnya sendu, keningnya mengerut dan alisnya saling bertautan keheranan setelah membaca isi pesan yang ternyata notif Bank swasta yang kemarin dia datangi. Di dalam pesan itu bertuliskan nominal sejumlah uang yang cukup besar membuatnya melototkan matanya saking tidak percayanya dengan sejumlah uang yang masuk ke dalam rekeningnya.
"50 juta!!! Siapa yang mengirim uang yang sangat banyak ke dalam rekeningku?" Tanyanya yang kebingungan.
"Apa mungkin ini kiriman dari Abang sebagai modal usaha warungku yah?" Tanyanya lagi yang mengira uang itu dikirim oleh Raja sebagai modal usahanya.
Azalina kembali teringat tentang perkataannya Raja tempo hari yang mengatakan jika dia kalau sudah kembali bekerja di Jakarta akan mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya dan modal usaha untuk menambah isi dari warungnya.
"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak Abang," ucapnya dengan penuh syukur karena sudah dikirimkan uang yang cukup banyak bahkan sangat banyak bagi Azalina selama hidupnya.
Azalina segera menyalakan semua lampu di dalam rumahnya lalu bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya. Wajahnya terus menerus berseri-seri dengan apa yang telah dilakukan oleh Raja untuknya.
Raja yang sore itu langsung menuju ke Perusahaannya membuat semua mata melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka tidak menduga jika, pemimpin mereka yang selama ini dirumorkan menghilang dalam kecelakaan maut, tiba-tiba datang tanpa ada kabar apapun sebelumnya.
Mereka ingin berbisik-bisik dan bergibah tetapi itu tidak mungkin mereka lakukan, jika berani masa depan mereka menjadi taruhannya. Sehingga mereka hanya mampu hanya saling berpandangan dan keheranan dengan suasana yang tercipta di dalam perusahaan tersebut.
Kedatangannya disambut dengan suka cita oleh sebagian besar anak buah kepercayaannya yang selalu setia berada di bawah naungannya.
"Anggara pecat karyawan yang tidak memiliki etos kerja dan dedikasi yang tinggi pada Perusahaanku," ucapnya dengan tegas dan tidak ingin terbantahkan.
__ADS_1
"Baik, segera dilaksanakan," jawab Anggara.
Dokter Anggara segera melaksanakan sesuai dengan perintah dan arahan dari Sultan. Mereka yang ketahuan sekongkol dengan Martin segera diamankan dan dikumpulkan di hadapannya di dalam ruangannya.
Sedangkan yang bermalas-malasan hanya mendapatkan surat peringatan sp terakhir dan mereka masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan yang benar-benar bekerja dengan sungguh-sungguh, mereka mendapatkan bonus serta promosi kenaikan pangkat. Kedatangan Sultan kembali setelah hampir enam bulan menghilang sampai ke telinganya Martin.
"Apa!!! Itu tidak mungkin, pasti kalian salah lihat," tanyanya yang langsung berdiri di atas kunjungan tubuhnya Selena setelah mendengar kabar jika Sultan masih hidup dan telah kembali.
Selena yang sedang menikmati indahnya nikmat surga dunia yang sudah di puncaknya terpaksa mengerang kesal karena kegiatannya terganggu.
Selena merangkak ke arah Martin berada, lalu memeluk tubuhnya Martin yang polos itu dari belakang. Dia mengelus punggung polos itu dengan sentuhan yang begitu sensual dan mendayu hingga membuat pikiran Martin buyar seketika itu.
Martin menarik tubuh istri sirinya itu ke hadapannya lalu menciumi seluruh tubuh polosnya Selena hingga membuat apa yang tertidur pulas kembali bangkit dari istirahatnya sejenak itu. Martin melupakan mematikan sambungan teleponnya, hingga apa yang mereka lakukan terdengar hingga ke telinga anak buahnya.
"Dasar mesum, kenapa juga bos tidak mematikan terlebih dahulu telponnya lalu lanjut dengan kegiatan panasnya," umpat anak buahnya yang berada di balik telpon.
"Si Bos sedang berada di atas perut wanitanya," jawabnya dengan kesal lalu berjalan meninggalkan antek-anteknya yang melongo tidak percaya dengan penjelasannya.
"Apa yang terjadi sayang?" Tanyanya Selena yang barusan selesai menuntaskan hasrat mereka yang sempat terganggu sehingga tertunda beberapa menit.
"Tunanganmu ternyata masih hidup, belum mati," jawabnya dengan wajahnya yang sedikit ada guratan kekhawatiran sambil tangannya memainkan aset terpenting istri sirinya dengan memelintir lembut puncak gunung terindah di puncak Himalaya.
"Itu tidak mungkin!!" Ucapnya yang langsung bangkit dari tidurnya yang sedang memeluk tubuh Martin.
"Aku saja tidak percaya dengan kabar itu, tapi seperti itulah kenyataannya," balasnya Martin yang menarik kembali tangan Selena agar berbaring kembali di sampingnya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sayang?" Tanyanya dengan wajahnya yang serius tapi tangannya memainkan tiang bendera milik Martin yang sudah kembali tegak berdiri.
"Kita lakukan sesuai rencana B seperti yang pernah aku jelaskan padamu dulu, dan lakukan dengan sangat hati-hati dan penuh sandiwara agar orang-orang bersimpati padamu," terangnya yang sudah mengungkung tubuh Selena dibawahnya.
__ADS_1
Kegiatan mereka kembali berlanjut hingga berbagai penetrasi ganda dan gaya yang berbeda-beda yang sudah tidak terhitung jumlahnya dan macamnya mereka lakukan untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan yang tiada terkira.
Sultan tanpa ampun memberikan hukuman dan ganjaran bagi yang telah melanggar aturan yang sudah dibuatnya selama ini. Dia tidak memberikan maaf dan mentolerir bagi siapa saja yang tidak mengindahkan peringatannya.
Senja di ufuk barat telah kembali ke peraduannya digantikan oleh sang Dewi Malam. Sultan masih berada di dalam ruangannya. Dia terus memandangi foto Pernikahannya bersama dengan istrinya yang perlahan sudah mulai mengisi relung hatinya yang paling terdalam.
"Aza baru sehari Abang tidak melihatmu, tapi rasanya seakan-akan sudah sebulan, Aza Abang sudah mulai mencintaimu tapi Abang sangat kecewa saat kau memeluk tubuh pria lain di depan kedua mataku," gumamnya yang sesekali mencium fotonya Aza yang berada di dalam HPnya.
Azalina yang baru saja melaksanakan shalat Magrib kembali duduk di ujung dipannya dalam keadaan masih memakai mukena nya dan meraih hpnya. Dia membuka galeri fotonya. Ia melihat-lihat koleksi foto mereka bersama saat berada di Pantai, saat mereka makan bersama hingga mereka pernah berfoto dan berpelukan saat melihat indahnya sunset suatu sore kala itu.
"Abang, Aza sangat merindukanmu, mungkin Aza selama ini banyak salah dan kekurangannya selama jadi istrimu, Maafkanlah Aza yah Abang," lirihnya sambil mencium satu persatu fotonya Raja yang ada di dalam galeri foto-fotonya.
...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Cinta Yang Tulus...
...4. Diantara Dua Pilihan...
...5. Cinta dan Benci...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
Makasih banyak Yang sudah mampir meluangkan waktunya.
__ADS_1