
"Kamu memang selalu bisa diandalkan, aku sangat senang bisa bekerja sama denganmu," puji Anjas disertai dengan tawa renyahnya yang sangat bahagia karena mengira apa yang dia inginkan sudah dijalankan oleh Ridho.
"Untung saja Putri kekasihku itu segera mengatakan kalau anak dari Pak camat juga menginginkan Anjas menjadi miliknya, jadi kami bisa memanfaatkan uang mereka," batinnya yang masih setia berdiri di balik jendela rumah kosong yang berhadapan langsung dengan Rumahnya Azalina.
Ridho segera mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Putri yang mengabarkan bahwa malam nanti Anjas akan melangsungkan niat jahatnya. Diakhiri dengan seulas senyum penuh kemunafikan diperlihatkan oleh Ridho di hadapan Anjas.
"Ingat sebelum jam 11 malam kamu sudah ada di sini menungguku dan berjaga untuk melihat situasi di sekitar sini, aku pulang dulu dan ini uang yang aku janjikan dulu," tutur Anjas sambil menyerahkan sebuah amplop putih yang berisi beberapa lembar uang kertas merah.
Ridho segera mengambil amplop tersebut tanpa ragu dan tergesa-gesa saking bahagianya.
"Makasih banyak Bosku, kamu memang yang selalu yang terbaik lah dan aku janji apa yang Bos inginkan nanti malam akan berjalan sesuai dengan rencananya bos, jadi tidak perlu khawatir bos tentang nanti malam," jawabnya yang menyanjung Ridho dibarengi dengan tawa kegirangan saking bahagianya .
Anjas menepuk pundaknya Ridho asisten kepercayaannya lalu berjalan meninggalkan rumah kosong yang selama ini mereka jadikan basecamp setiap kali menguntit dan mengawasi semua gerak gerik dari Azalina selama ini setelah dia menikah.
Bahkan Anjas sangat bahagia saat mengetahui jika, Azalina sama sekali belum pernah berhubungan intim sekalipun dengan Raja suaminya itu.
"Malam ini aku harus jadi orang pertama yang mencicipi tubuhmu, aku tidak akan pernah mengijinkan pria manapun menyentuhmu hanya aku yang pantas," pekiknya saat mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
"Maafkan Aku yang tidak akan pernah membiarkan rencanamu itu berhasil, Aku ingin merasakan semua uang dari kalian berdua, aku bisa pakai uang ini sebagai modal untuk menikahi putri kekasihku," tuturnya disaat Anjas sudah meninggalkan tempat mereka berada sebelumnya.
Azalina yang sedari tadi mendendangkan lagu-lagu islami sama sekali tidak memikirkan dan mendapatkan firasat tentang rencana busuk mereka.
"Assalamu alaikum Azalina," ucap salam ibu Laila dengan Ibu Mina yang datang ke tokonya.
Azalina tersenyum kearah kedua emak-emak itu sambil melirik sepintas ke arah mereka.
"Waalaikumsalam Bu," jawabnya singkat sembari tersenyum yang tangannya masih setia memeriksa tanggal kadaluarsa barang dagangannya itu seperti yang sering dilakukan oleh Raja dulu sebelum berangkat ke Ibu Kota.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah, daganganmu semakin ramai didatangi pembeli Aza," tutur Ibu Laila yang melihat-lihat seluruh isi dari tokonya Aza.
"Alhamdulillah Bu, ini semua berkat kiriman modal dari Abang Raja," jawabnya dengan ramah.
"Alhamdulillah Aza kalau Raja mengirimkan kamu uang, karena memang seperti itu lah hak dan tanggung jawabnya sebagai suami dan kepala keluarga yang bertindak sebagai kepala rumah tangga," timpal Ibu Mina yang bahagia melihat Aza.
"Pembelinya juga semakin hari semakin banyak yang berdatangan, mereka suka berbelanja sama kamu Aza karena kamu melayani mereka dengan sepenuh hati dan harga barang-barang yang kamu jual terbilang murah dibandingkan toko lainnya," sahut ibu Laila.
Azalina hanya tersenyum menanggapi pujian mereka," silahkan lihat-lihat dulu mungkin ada yang ibu-ibu inginkan?" Tanyanya dengan wajahnya yang ramah dan selalu menyunggingkan senyuman manis kepada pembelinya.
"Makasih banyak Aza," jawab Bu Mina.
Beberapa saat kemudian, pembeli pun semakin bertambah banyak jumlahnya. Bahkan banyak warga masyarakat yang dari desa sebelah berdatangan ke tokonya Aza yang diberi nama Toko RajaZa gabungan dari kedua nama pemilik toko tersebut.
Selain itu keramahan dan kecantikan Aza yang menjadi nilai plus dari toko kelontongnya. Bahkan di tempat Aza, orang-orang bisa melakukan pinjaman jika ada penduduk yang kebetulan berbelanja, tapi uangnya tidak cukup maka Aza akan memberikan kelonggaran untuk berhutang dan yang mereka sukai karena Aza sama sekali tidak pernah hutang piutang tersebut.
Dengan hal seperti itu, semua orang yang mengenal Aza merasa sangat terbantu dan bahagia karena ada orang yang berbaik hati untuk membantu mereka, walaupun hanya meminjam saja.
"Berapa semua total belanjaan kami Aza?" Tanya Ibu Mina yang menyodorkan beberapa barang hasil pilihannya yang ada di dalam keranjang belanja yang berwarna kuning itu.
"Tunggu yah Bu, Aza akan menghitung semua totalnya," jawab Aza dengan wajah yang mulai serius menghitung semua harga tersebut.
"Ibu juga Aza, tambah hutang Ibu yang Minggu lalu yah," terang ibu Laila.
"Baik ibu cantik," balas Aza yang bercanda dengan ibu-ibu langganannya.
Toko Aza bukan hanya khusus untuk pembeli eceran saja dan satu Minggu yang lalu dia sudah membuka tokonya untuk melayani yang grosir. Sehingga setiap hari semakin banyak pembeli baru yang berdatangan untuk berbelanja di Tokonya itu.
__ADS_1
Azalina pun mulai mempekerjakan dua orang untuk membantunya dalam mengelola usaha kecil-kecilannya tersebut. Mereka berdua adalah teman SD-nya dulu yang kebetulan mereka sendiri yang menawarkan bantuannya untuk dipekerjakan oleh Aza di tokonya tersebut.
"Nikmatilah semuanya sebelum aku dan ibu melaksanakan rencana kami untuk menghancurkan kesombongan dan usahamu itu, agar kamu diusir dari kampung," cicitnya sembari tersenyum licik yang terus memandangi ke Aza.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Cinta Yang Tulus
Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Benci
Bertahan Dalam Penantian
Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
I love you all Readers...
__ADS_1