
Raja kembali dibuat terpesona dengan penampilan Azalina dalam balutan pakaian selutut berwarna peach blossom itu. Dia sangat cocok dengan pakaian tersebut.
"Cantik dan sangat seksi, kenapa kamu mampu membuat dadaku berdebar kencang."
Raja mengagumi penampilan dari Azalina yang sangat cantik dan terkesan ayu dan natural tanpa ada polesan make up-nya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan dibuat terpesona dengan penampilan barunya Azalina.
"Dia sangat cantik bahkan melebihi kecantikan dari wanita ular itu," gumamnya yang membuat Azalina menolehkan kepalanya ke arah Raja yang sedari tadi tidak berkedip dan terus menatapnya.
"Maaf, Abang tadi ngomong apa? Aza kurang dengar," tuturnya dengan penuh kelembutan.
Raja salah tingkah dibuatnya karena kepergok diam-diam mengagumi Istrinya sendiri, "eehh tidak apa-apa kok, Abang hanya mencoba mengingat apa namanya makanan yang kamu suapkan untukku," kilahnya yang tidak ingin Aza mengetahui yang sebenarnya.
"Ooohh gitu," timpal Aza dengan sedikit membentuk bibirnya seperti o sehingga seperti sedikit memonyongkan bibirnya ke arah Raja.
Raja yang melihat hal itu, hampir saja hilang kendali dan ingin segera menerkam tubuh Azalina, untung saja dia segera cepat tersadar dari apa yang dilakukannya itu.
Azalina membantu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya Raja hingga makanan itu tak bersisa sedikit pun. Aza merasa bersyukur karena selama dia datang ke rumah sakit, Raja sama sekali tidak pernah menolak makanan apa saja yang diberikan untuknya, bahkan Raja tidak segan untuk menghabiskan seluruh makanannya hingga tandas tak bersisa.
"Abang minum obat dulu, baru istirahat, semoga Abang segera sehat dan pulih kembali seperti sedia kala," ujarnya yang sangat berharap bisa melihat Raja bisa sembuh total seperti dahulu.
"Kenapa dia berkata seperti itu? Apa dia merasa kerepotan dan terbebani mengurusku dan merawat tubuhku yang cacat ini," Raja menatap dalam matanya Aza.
Aza yang ditatap seperti itu terdiam dan terpaku, padahal obat dan gelas yang berisi air putih sudah berada di dalam genggamannya tepatnya di depan Raja. Aza hanya membalas tatapannya Raja dengan seulas senyumannya yang mampu kembali menggetarkan hatinya Raja. Ia spontan memegang bagian dadanya. Azalina yang melihat hal itu, segera menyimpan gelas dan obat itu di atas meja nakas ranjangnya.
"Abang, apa yang terjadi? Apa ada yang sakit?" Tanyanya yang ketakutan karena melihat Raja yang tiba-tiba memegangi dadanya.
Raja yang diperhatikan seperti itu terus melanjutkan aksinya untuk mengetes dan melihat sejauh mana Aza perduli padanya.
__ADS_1
"Tidak tahu kenapa, dadaku tiba-tiba berdetak sangat kencang dan hal ini baru terjadi padaku," terangnya dengan mimik wajahnya yang seperti orang meringis kesakitan.
Aza sudah ketakutan melihat kondisi dari Raja. Dia sudah berfikiran yang macam-macam melihat Raja yang memegang dadanya. Dia segera bertindak dan berjalan ke arah ranjang, " Abang tunggu di sini yah, aku akan segera memanggil Dokter untuk segera memeriksa kondisi dari Abang," ucapnya lalu berjalan dengan tergesa-gesa ke arah luar.
Raja yang melihat Aza sudah tidak kelihatan segera tertawa terbahak-bahak dan menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar hingga keluar.
"Ternyata anak itu sangat lugu dan polos, tapi entah kenapa kepolosannya itu mampu membuatku untuk selalu ingin mengujinya dengan berbagai tes," tanyanya yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Aza yang terus berlari ke arah ruangan dokter yang selama ini menangani kondisi suaminya. Nafasnya memburu dan ngos-ngosan, dia memegang ujung tembok untuk mengatur ritme nafasnya agar jika dia berbicara dengan dokter dia bisa berbicara lancar tidak tersengal-sengal.
Tol.. tok.. tok..
"Dokter!! Dokter!!" Teriaknya dengan tangannya yang terus mengetuk pintu itu.
Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan keluarlah seorang dokter yang masih sangat muda dengan perawakan yang tinggi tegap, bulu mata yang lentik, bibir seksi yang merona memerah, hidung mancung, rahang atas yang tegas, dagu lancip. Aza sempat terkesima dan tidak berkedip melihat dokter muda spesialis tulang yang berasal dari Ibu Kota Jakarta itu.
"Halo, Maaf Mbak ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dok Anggara yang mengibaskan tangannya tepat di wajahnya Aza berulang kali.
"Eeehhh Maaf Dok, anu anu itu Abang, eehh maksudnya Abang Raja tiba-tiba mengeluh kesakitan dibagian dadanya, tolong periksa dia Dokter," ucap Aza yang sedikit gagap dan grogi karena ketahuan diam-diam mengagumi Dokter tampan itu.
"Maksudnya suamimu yang sakit dibagian dadanya?" Tanya dokter Anggara yang menekankan kata suami.
"Itu maksudnya saya dokter, ayok kita segera ke sana," ujarnya sembari menarik tangannya dokter Anggara.
Aza sama sekali tidak menyadari apa yang sudah diperbuatnya, saking grogi bercampur dengan khawatir dengan kondisi suaminya sehingga dia sama sekali melupakan tingkahnya yang membuat mereka menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang mendatangi rumah sakit. Anggara sama sekali tidak mencegahnya hanya tersenyum simpul menanggapi tatapan menyelidik dari orang-orang yang berpapasan dengannya.
Pintu itu terbuka Raja segera memperbaiki posisi duduknya. Matanya melihat tangannya Aza yang berpegangan dengan Anggara sahabatnya itu. Dia tidak menyukai dengan apa yang mereka lakukan. Hingga tatapan matanya yang tajam langsung mengarah ke arah Anggara. Sedangkan dokter tampan itu yang mengetahui jika Raja terkesan cemburu melihat kedekatannya dengan Azalina semakin berakting di depan Raja untuk melihat sejauh mana sudah rasa sayangnya Raja.
__ADS_1
Aza yang yang melihat raut wajah suaminya yang tidak seperti biasanya keheranan dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia melupakan jika tangannya sedari tadi menggenggam tangannya dokter Anggara. Raja segera berpura-pura terbatuk-batuk agar Azalina segera tersadar dari perbuatannya. Raja tidak ingin memperlihatkan secara gamang kecemburuannya dan ketidak sukaannya terhadap mereka.
Aza spontan melepas tangannya dan segera berjalan ke arah meja nakas untuk mengambil air putih yang sedari tadi terisi penuh di dalam gelas.
"Abang, ayo diminum airnya, untuk membantu mengurangi batuknya," ujar Aza yang membantu Raja untuk minum.
"Dasar, secepat itu hatinya berpaling dari wanita ular mantan tunangannya." Tatapan matanya Dokter Anggara menyiratkan bahwa dirinya ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku dari Raja.
"Makasih," ucapnya singkat saat sudah meminum airnya…"bagaimana dengan kondisi Abang Sekarang?? Maaf Aza perginya cukup lama,karena dokternya buka pintunya lama banget," terang Azalina dengan tampang lugunya yang masih tidak sadar dengan kelakuannya sendiri.
"Aku sudah baikan kok, setelah meminum obat," jawabnya dengan wajah datarnya.
Dokter Anggara tersenyum licik ke arah Raja. Mereka saling bertatapan dan tidak ingin saling menurunkan ego mereka.
"Maaf Mbak tadi bilangnya sama saya, kalau suaminya Mbak sakit, kalau boleh tahu bagian apanya yang sakit?"tanyanya Dokter Anggara yang mengambil perlengkapan kedokterannya.
"Tadi sih ngeluh katanya bagian dadanya yang sakit Dokter, tapi aku kurang paham dada yang mananya," ungkap Azalina dengan wajahnya yang kebingungan.
"Kalau gitu bapak baring, Saya akan segera memeriksa kondisi dari suami Mbak," terangnya lalu menatap tajam ke Raja.
"Aza boleh Abang minta tolong sama kamu?" Tanyanya yang mengalihkan perhatiannya ke arah Aza yang setia berdiri sedari tadi.
"Abang mau minta tolong apa?" Tanyanya yang menatap ke arah Raja.
"Tolong beliin Abang permen di kantin rumah sakit," ujarnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke tangannya Aza.
Aza tanpa banyak tanya segera berjalan memenuhi permintaan dari suaminya itu dengan senyuman manis yang ditujukan untuk Raja.
__ADS_1