
"Kenapa mereka diam-diam saling bertatapan? Apa pria itu yang menjadi tunangan rahasianya Aza selama ini yang dikatakan oleh Abang Daniel yah?' Hesti ikut membatin mengingat perkataan dari kekasihnya itu.
Hesti dan Daniel abangnya Aza menjalin hubungan sudah hampir tiga tahun lebih itu. Mereka juga sudah merencanakan pernikahan jika Hesty sudah lulus kuliahnya.
"Apa sih hubungannya dia dengan Aza dan juga kenapa dia tahu kesukaannya Aza, Saya pun baru tahu itu kemarin dari Mamanyya Aza Tante Fauziah," batinnya Arlan dengan tatapan menyelidik penuh arti ke arah Sultan.
Aza menatap tidak percaya ke arah Sultan yang sangat tahu makanan favoritnya. Tanpa banyak pikir lagi dia menyantap makanan yang ada di depannya terlebih dahulu menyingkirkan gado-gado yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh Arlan khusus untuknya.
Mie instan rasa soto ayam yang masih mengepul asapnya dengan topping bakso, telur sebutir serta sayur sawi dengan daun bawang serta bawang goreng menjadi pelengkapnya.
Aza menikmati makanan itu seakan-akan dia berada di dalam rumahnya sendiri. Sultan sangat yakin jika perempuan yang di depannya itu adalah istrinya tercinta yang menghilang saat berobat ke Ibu Kota Jakarta.
Beeppp..
Hpnya yang tergeletak di atas meja makan bergetar. Sultan mengambil hpnya secepatnya lalu membuka aplikasi chattingnya.
Tatapan penuh tanda tanya, dari empat orang yang berada di sekitarnya sama sekali tidak dihiraukannya.
Sultan tersenyum penuh arti saat mengetahui dan membaca isi pesan chat dari Anggara sahabat sekaligus calon adik iparnya merangkap jadi asisten pribadinya itu.
"Aku sangat yakin jika dia adalah istriku, aku tidak akan ijinkan siapa pria yang berusaha untuk mendekati dan menyentuh secuil pun kulitnya," gumam Sultan dengan tatapannya tertuju pada Aza yang masih setia dengan sendoknya yang menyuapi mulutnya.
Semua mata melotot saat Aza meraih mangkok yang ke-dua. Mery dan yang lainnya terperangah terkejut bukan main melihat nafsu makannya Aza yang hampir menghabiskan mie instan yang kedua.
"Ya elah… ini orang makan doyang apa kelaparan sih?" Cicitnya Lili yang masih mampu di dengar oleh ke-lima yang lainnya.
__ADS_1
Aza yang mendengar perkataan dari Lili hanya menatap ke arahnya dengan senyum tipisnya.
"Aku baru tahu kalau Aza menyukai mie yang seperti ini," lirih Hesti.
Hesty pun memanggil pelayan kantin yang bersiap untuk memesan makanan yang seperti yang dimakan oleh Aza. Dia sampai menelan salivanya melihat betapa lezat dan nikmat mie instan tersebut dengan sajian yang begitu lengkap dan apik di dalam wadah mangkuk.
"Mbak sini dong," panggilnya Hesty yang sudah tidak mampu menahan godaan dari kelezatan makanan itu.
Yang lain pun ternyata penasaran dengan rasa nikmat yang menggugah selera mereka.
"Ada apa Mbak, apa masih ada yang ingin dipesan?" Mbak itu berucap sambil mengambil buku catatan serta pulpennya yang sudah bersiap untuk mencatat pesanan mereka.
Mery langsung menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut yang mendahului Hesty.
"Kami juga pesan mie seperti itu yang dinikmati teman kami," ujarnya dengan menunjuk ke arah Aza yang bersemangat untuk menghabiskan dua mangkuk mie.
Dia segera berjalan meninggalkan meja mereka. Sedangkan Aza sama sekali tidak terusik dari perbincangan mereka sedikit pun.
Hingga suara sendawa yang meluncur begitu saja dari bibirnya Aza mampu membuat mengalihkan perhatiannya mereka kembali.
Aza hanya cengengesan sembari tersenyum ke arah yang memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan tersusun dengan rapi.
"Senikmat dan selezat itu kah makanan yang kamu makan sampai-sampai dua mangkuk habis tak bersisa sedikit pun?" Tanyanya Lili dengan wajah yang masih terheran-heran.
Lili dan yang lainnya terperangah dan terkejut dan tidak menyangka jika Aza yang cantik ayu nan jelita dengan tutur katanya yang penuh kelembutan ternyata hobi makan mie instan sampai dua mangkuk.
__ADS_1
"Aku harus secepatnya mungkin untuk mendekati keluarganya jika tidak aku bisa kalah star dan akan ditikung oleh pria lain," Sultan membatin tapi senyuman smirknya selalu ia nampakkan hanya untuk Aza seorang.
"Maaf sedari dulu, aku memang sangat suka makan mie instan seperti ini dan sering sekali diberikan oleh seseorang kalau tiba-tiba lapar," jelasnya Aza dengan senyuman khasnya yang membuat meleleh hati Abang Sultan dan Arlan.
"Kalau seperti ini, aku harus segera meminta tolong kepada papa untuk melamar Aza sebelum ada pria lain yang mendahuluiku," batin Arlan raut wajahnya yang berubah serius dengan sedikit guratan kecemasan sekaligus ketakutan yang muncul dalam waktu yang bersamaan.
Berselang beberapa saat, pesanan mereka kembali datang. Semua mata keempat orang itu berbinar bahagia seketika itu melihat pesanan makanan mereka yang sudah tersaji di depan matanya.
"Lezat," puji Lili.
"Wow sepertinya sangat enak," timpal Mery.
"So jussi dan pastinya nyami yang mengenyangkan perut," terang Hesty yang memuji makanan tersebut.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Pelakor Pilihan...
...3. Cinta CEO Pesakitan...
...4. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak all Readers...
__ADS_1
i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...