Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 16. Terpesona


__ADS_3

Wajah Azalina sedari tadi tersipu memerah, saking malunya hingga hidung dan telinganya ikut memerah menahan rasa grogi dan salah tingkah. Raja langsung mencium pucuk kepalanya Azalina dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Azalina pun langsung meraih tangannya Raja lalu mencium punggung tangan pria yang baru beberapa menit yang lalu menjadi suaminya itu.


Pak Heru meneteskan air matanya saking terharunya melihat anak gadis dari adiknya itu menikah dan memulai hidup barunya bersama dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya.


Azalina sungkem pada semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut dan memohon doa dan restu. Raja yang hanya bisa terdiam dan duduk di ranjangnya, sehingga orang-orang lah yang berdatangan ke arahnya.


"Selamat yah, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah," ucap Bu Mina dengan setulus hati yang ikut menangis tersedu-sedu mengingat Aza yang hanya gadis yatim piatu saat masih kecil dulu.


"Ibu sangat bahagia melihat kamu menikah nak, andai ibumu masih hidup, beliau pasti sangat bahagia melihatmu bersanding dengan pria yang baik," timpal Ibu Norma.


"Kamu pantas untuk bahagia nak, maka raihlah pundi-pundi pahala melalui pernikahan kalian, dan Ibu yakin suamimu adalah orang yang baik dan bertanggung jawab," ibu Linda ikut menambahi perkataan dari ibu-ibu sebelumnya.


Ibu Jannah memegang tangannya Azalina sembari berkata,"kamu anak baik pasti mendapatkan jodoh yang baik pula, dan ingat sekarang suamimu adalah prioritas utama dalam hidupmu, sekarang surga kamu berada dibawah naungan suamimu, jadilah istri yang selalu berada disampingnya Raja yang siap melalui segala macam cobaan yang datang mendera hubungan kalian."


Azalina hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan berjanji untuk siap menjalankan amanah sesuai dari ibu-ibu ucapkan.


"Aza sangat bahagia karena ibu-ibu selalu ada bersama Aza menjalani kehidupan Aza yang penuh dengan cobaan, Aza sangat bersyukur karena..," tangis Aza pecah hingga tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Ibu Jannah memeluk tubuh Azalina dengan erat sambil mengelus pelan dan penuh kelembutan punggung sudah bergetar menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kami sangat yakin jika Raja nantinya akan mampu membahagiakan kamu Nak, Paman sangat yakin dan mempercayai hal itu," ujar pamannya yang memeluk tubuhnya Azlina.


Semua orang yang berada di dalam sana ikut larut dalam kesedihan. Mereka sedih karena Aza yang harus menikah tanpa didampingi oleh ke dua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Dan mereka juga bahagia karena Aza adalah gadis yang baik yang pantas untuk bahagia terlepas dari masalah yang membuatnya harus menikah diusianya yang belum genap dua puluh tahun.


"Selamat nak atas pernikahanmu, paman yakin Anjas akan mengerti dan menerima semua keputusan yang telah kamu pilih, jadi paman mohon jangan sekali-kali untuk mencemaskan atau pun merisaukan Anjas, karena sekarang hanya Raja yang pantas kamu pikirkan," jelas Pak Ardi saat Aza mencium punggung tangannya Pak Ardi.


Hanya ada dua orang yang berada di sana yang tidak bahagia yaitu Ibu Lina Bibinya serta sepupunya yaitu Dina Anggraini. Mereka sama sekali tidak memperlihatkan wajah bahagianya walaupun hanya sekedar basa-basi saja. Mereka orangnya yang picik dan jahat sedari dulu di dalam hidupnya Azalina.


Mereka melanjutkan acara makan-makan dengan makanan yang mereka sudah persiapkan sedari tadi. Suasana semakin akrab dengan penuh kebersamaan. Tawa bahagia memenuhi ruangan tersebut hingga sore hari. Beberapa saat kemudian, satu persatu mereka berpamitan untuk pulang karena mereka sudah terlalu lama berada di rumah sakit dan takut jika mengganggu kenyamanan istirahat dari para Pasien.


"Aza pakaian ganti kamu ada di dalam tas ini, dan kamu mulai detik ini harus menjaga dan selalu bersama dengan Nak Raja hingga Raja sudah diijinkan pulang oleh Dokter," terang Ibu Mina.


"Kami hanya meminta agar kamu selalu bahagia apa pun yang terjadi,"ujar Ibu Jannah.


"Makasih banyak Bu," ucap Azalina saat mengantar mereka hingga ke depan pintu.


Berselang beberapa lama, tinggallah hanya mereka berdua di dalam ruangan itu. Aza berjalan ke ranjang dan meminta ijin untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


"Abang, Aza pamit dulu mau ganti pakaian, Abang tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar? Mau ganti pakaian dulu, gak enak gerak dengan pakaian seperti ini," terangnya dengan memutar-mutar tubuhnya di depan Raja.

__ADS_1


Apa yang dilakukan oleh Azalina sama sekali tidak menyadari, jika hal tersebut membuat Raja terpukau dan terkesima melihat tingkah lakunya Aza.


"Gadis kampung tapi, dia sangat cantik dan cukup dewasa dibandingkan dengan usianya yang masih muda." Raja menatap penuh takjub ke arah Aza yang sudah tidak kelihatan lagi karena pintu kamar mandi sudah tertutup.


Raja sudah perlahan mulai mengagumi Aza sebagai istrinya. Bahkan Raja sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Aza dan sebagai penyelamat hidupnya. Andai saja subuh itu,Aza tidak menolongnya mungkin dia sudah meninggal dunia.


Aza membuka resleting tas pakaiannya dan mengambil secara acak isi dari dalamnya. Dia mengambil beberapa lembar potong pakaian. Dia mengangkat pakaian tersebut ke depan matanya dan tidak menyangka jika isinya sama sekali tidak dikenalinya dengan kata lain, pakaian itu bukan pakaian yang biasa dia pakai selama ini.


"Ini kan bukan bajuku? Lagian modelnya cantik-cantik dan bagus-bagus, mereknya masih ada lagi, apa ini hadiah dari Ibu Jannah?"tanyanya yang kebingungan dengan semua baju dan celana serta rok yang ada di dalam tas tersebut.


"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku," ujarnya dibarengi dengan tetesan air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya saking bahagianya mendapatkan perlakuan yang baik dari orang-orang, tetangga dan keluarganya.


Azalina kembali kesulitan untuk memakai pakaian tersebut, karena seumur hidupnya belum pernah memakai dan membeli baju dengan model dan harga yang cukup mahal menurutnya. Azalina asal mencepol rambut panjang bergelombangnya yang sedikit kecokelatan itu.


Pakaian itu sangat pas melekat di tubuhnya. Hingga mampu merubah gadis kampung tersebut walaupun hanya tersisa sedikit make up-nya bekas dari sewaktu dia menikah tadi pagi. Azalina berjalan ke arah ranjangnya Raja yang sedang membaca beberapa buku bisnis yang sengaja dia minta dibelikan oleh Pak Ardi saat ke kabupaten kemarin. Pandangannya teralihkan saat Azalina bertanya padanya.


"Abang, apa sudah lapar? Kalau sudah lapar aku akan ambilkan makanan," tanyanya dengan meraih makanan yang ada di dalam rantang.


Raja kembali dibuat terpesona dengan penampilan Azalina dalam balutan pakaian selutut berwarna peach blossom itu. Dia sangat cocok dengan pakaian tersebut.

__ADS_1


"Cantik dan sangat seksi, kenapa kamu mampu membuat dadaku berdebar kencang."


__ADS_2