
Ayam berkokok milik tetangga sudah berkokok saling bersahutan, angin yang bertiup cukup kencang pagi itu membuat air bergelombang tinggi. Deburan ombak yang menerpa bibir pantai membuat suara khas dipagi itu.
Daun pohon kelapa melambai-lambai seakan-akan memanggil semua orang yang masih terlelap dalam tidurnya untuk segera bangun dan kembali untuk menjalankan aktifitasnya.
Sudah hampir sebulan ini, Azalina tidak pernah kembali bekerja di tempat pelelangan ikan seperti hari biasanya. Hal itu dikarenakan masalah yang mengharuskannya untuk berhenti beberapa hari, apa lagi setelah dirinya akan menikah.
Azalina agak enggan untuk bangun dari tidurnya karena cuaca pagi itu sangat dingin, dia kembali menyelimuti dirinya di dalam sarungnya setelah melaksanakan shalat subuh tadi.
"Kenapa setiap hari cuacanya semakin dingin saja yah, apa karena sudah berada di penghujung bulan juli," ucapnya sambil melihat ke arah langit-langit rumahnya yang terbuat dari plastik itu.
"Apa ini jalan yang terbaik aku lakukan adalah menikahi pria yang sama sekali aku tidak cintai? Sedangkan di dalam hatiku masih ada nama seseorang yang entah sampai kapan namanya bertahta merajai perasaanku?" Azalina kembali teringat pada masa indahnya bersama dengan mantan kekasihnya yaitu Anjas anak dari Pak Ardi selaku kepala Desa.
Lamunannya buyar seketika saat pintunya tiba-tiba diketuk oleh seseorang dari arah luar. Awalnya dia tidak ingin menggubris dan peduli dengan ketukan tersebut. Tapi, semakin lama ketukan di pintunya semakin menjadi saja.
"Azalina, bangun Nak, apa kamu lupa kalau hari ini adalah hari akad nikahmu?" Ucap orang yang berada di depan pintu.
"Sepertinya itu paman Heru, dari suaranya sudah mengatakan hal tersebut," ucapnya lalu menyibak selimut dan sarungnya lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah gontainya.
"Aza bangun Nak, gak baik kalau terlalu lama tidur apa lagi hari ini kamu akan menikah," jelasnya Pak Heru.
"Tunggu Paman, Aza akan membuka pintunya," teriaknya dari dalam rumahnya.
Pintu sudah terbuka lebar, masuklah Pak Heru lalu duduk di kursinya Aza yang semua kayunya sudah hampir lapuk itu bahkan warna catnya saja sudah pudar hingga tidak bisa dikenali warnanya.
"Sini duduk di sampingnya Paman," ucapnya dengan menepuk pelan kursi yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Azalina segera menuruti perintah dari pamannya. Kemudian duduk dan menatap Pamannya sembari menunggu kira-kira apa yang akan disampaikan oleh pamannya tersebut. Pak Heru mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru ke atas meja. Azalina yang melihat benda itu tidak mengerti dengan apa isi dan maksud Pamannya memperlihatkan ke hadapannya.
"Aza, ini adalah kotak perhiasan emas peninggalan ibumu Nak, Paman sudah cukup lama menyimpannya sesuai dengan amanah dari ibumu 10 tahun lalu dan hari ini adalah waktu yang paling tepat untuk Paman berikan kepadamu," terang Pak Heru.
Azalina segera mengambil kotak tersebut lalu membukanya hingga matanya berkilauan terkena paparan cahaya dari cincin itu yang kebetulan terkena cahaya sinar matahari kala itu yang melalui celah jendelanya. Azalina takjub melihat cincin emas yang bertahtakan permata Ruby yang sangat kecil.
"Ini adalah cincin kawin pernikahan ibumu sewaktu mereka menikah, dan sebelum meninggal dunia ibumu berpesan dan memberikan amanah kepada Paman untuk menyimpannya sementara waktu dan akan memberikan cincin ini kepadamu saat kamu akan menikah dan hari ini adalah hari kamu akan menikah," jelas Pak Heru dengan panjang lebar.
Azalina terharu mendengar perkataan dari pamannya, air matanya menetes membasahi pipinya saking rindunya dia dengan mendiang almarhumah ibunya.
"Kamu akan memulai hidup baru, Paman berharap dan meminta tolong sama kamu tolong lupakan masa lalu dan jangan pernah mengungkit apa pun yang telah terjadi diantara kalian," ucap Pamannya.
Azalina masih saja menangis tersedu-sedu mengingat kedua orang tuanya. Bapaknya pun meninggal saat dia masih berusia balita sedangkan ibunya ketika umurnya berusia 10 tahun lebih. Kenangan demi kenangan terlintas di dalam benaknya.
Azalina mengulurkan jari manisnya ke hadapan Pamannya tapi langsung dicegah oleh Pak Heru,"jangan jari yang itu Nak, karena itu khusus untuk calon suamimu nantinya jika kalian sudah menikah."
Azalina segera menaikkan tangan kanannya karena tadi dilarang oleh pak Heru.
"Ini baru cocok Nak, dan Paman harap apapun yang terjadi tolong cincin ini dijaga dengan baik," ucapnya.
Azalina terus memandangi jarinya yang tersematkan sebuah cincin yang sangat cantik.
Pak Heru membatin dan menatap iba ke arah keponakan satu-satunya yang dia miliki "Maafkan Paman Nak, paman belum bisa jujur tentang bapakmu karena Paman belum yakin dengan apa yang Paman lihat beberapa hari yang lalu saat berada di kota."
"Cantik yah Paman cincinnya,"puji Azalina lalu memperhatikan dengan seksama cincin itu.
__ADS_1
"Sudah nanti saja kamu pandangi dan puji terus cincinmu, sudah hampir Jam 7 pagi, sana mandi dan jangan terlalu lama, orangnya Ibu Jannah sudah datang di rumahnya Bu Mina menunggu kedatanganmu untuk di Make up," perintahnya dan mulai beranjak dari tempat duduknya semula.
"Baik Paman, perintah segera dilaksanakan," ucapnya dengan cengengesan.
"Paman akan kembali ke kota dan menyelidiki semuanya sesuai dengan apa yang Paman lihat, kalau itu benar Lukman berarti dia belum meninggal saat kecelakaan maut itu." Pak Heru menerawang jauh saat terakhir melihat adik iparnya saat kapal yang mereka pakai mencari ikan tenggelam dan tubuhnya Lukman ikut hanyut di dalam laut dan mayatnya hingga detik ini tidak ditemukan.
Azalina bergegas ke kamar mandi dan segera membersihkan seluruh tubuhnya dengan perlengkapan mandi yang kemarin diberikan khusus oleh Ibu Jannah sebagai kado pernikahannya.
"Shamponya wangi banget yah, lembut saat diusapkan diatas kepalanya hingga menyeluruh ke ujung rambut," ujarnya yang memuji shampo tersebut.
Azalina tak henti-hentinya memuji pemberian ibu Jannah untuknya. Dia sangat bahagia karena mendapatkan sesuatu yang sangat berguna dalam hidupnya itu dengan cuma-cuma.
Beberapa saat kemudian, Azlina sudah berada di depan orang yang telah siap dan menunggunya sedari tadi untuk memoles dan mempercantik penampilan dan wajahnya. Beberapa saat kemudian, Azalina sudah didandani dan memakai gaun pengantin warna gold. Gaun itu terpasang dengan cantik di tubuhnya dengan begitu pasnya. Hingga lekukan tubuhnya begitu terpampang jelas hingga membuatnya semakin cantik dan seksi.
Semua orang memuji kecantikan dari Azalina yang sudah tampil berbeda dari biasanya dan sangat cantik itu. Tidak satupun dari ibu-ibu yang memenuhi rumahnya Ibu Mina yang tidak memuji kecantikan dari Azalina. Hanya ibu Lina seorang yang memperlihatkan wajah tidak sukanya di hadapan orang-orang. Tetapi, satupun dari mereka tidak ada yang peduli dengan hal tersebut saat itu.
"Azalina sangat cantik bahkan kecantikannya mengalahkan princess Syahrini loh saat dia menikah," ucap Ibu Linda yang sangat pangling melihat penampilan Azalina.
"iya benar apa yang ibu katakan, Aza sangat cantik dan bagaikan mutiara yang berada di laut terdalam yang tersembunyi dan tidak tersentuh oleh siapa pun dan apa pun itu," timpal ibu Norma yang kebetulan juga hadir ingin menyaksikan pernikahan mereka.
"Sudah-sudah memujinya,apa pakaian yang akan dipakai oleh nak Raja sudah dikirim ke rumah sakit?" Tanya Ibu Jannah.
"Alhamdulillah semua persiapan di RS sudah selesai dan hanya menunggu rombongan dari sini," sahut Ibu Mina lagi.
Azalina yang mendengar perkataan dan berbagai pujian yang dilayangkan kepadanya membuatnya tersipu malu dan wajahnya memerah menahan rasa malunya tersebut.
__ADS_1