
Azalina yang baru saja melaksanakan shalat Magrib kembali duduk di ujung dipannya dalam keadaan masih memakai mukena nya dan meraih hpnya. Dia membuka galeri fotonya. Ia melihat-lihat koleksi foto mereka bersama saat berada di Pantai, saat mereka makan bersama hingga mereka pernah berfoto dan berpelukan saat melihat indahnya sunset suatu sore kala itu.
"Abang, Aza sangat merindukanmu, mungkin Aza selama ini banyak salah dan kekurangannya selama jadi istrimu, Maafkanlah Aza yah Abang," lirihnya sambil mencium satu persatu fotonya Raja yang ada di dalam galeri foto-fotonya.
Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Aza sangat merindukan sosok pria yang sudah mengikat ikrar janji bersamanya. Pria yang beberapa bulan ini menjadi temannya sekaligus sahabat tempat dia berbagi.
"Semoga Abang Raja selalu dalam lindungan Allah SWT, dan pekerjaannya dilancarkan, hatinya selalu dijaga hanya untukku," ucapnya yang sama sekali tidak menyadari apa yang barusan meluncur dari bibirnya.
Azalina hanya berbicara mengikuti kata hatinya. Tanpa banyak pikir, dia dipikir Pria yang masih bertahta dalam hatinya adalah Anjas mantan pacar sekaligus tunangannya itu dan apa yang dia rasakan terhadap Raja karena hanya sebatas perasaan suami istri semata saja.
Sultan tak jemu dan bosan-bosannya memandangi foto Istrinya. Sesekali guratan kebahagiaan muncul di wajahnya ketika kembali mengingat beberapa moments penting dalam hidupnya selama menikahi Azalina gadis kampung yang bekerja sebagai nelayan pengantar ikan.
Kepolosan, keluguan, kebaikan serta keramahan tutur katanya Azalina mampu membuatnya melupakan wanita ular berbisa mantan tunangannya itu.
"Abang pasti akan datang menjemputmu, jadi Abang mohon bersabarlah sayang, istriku, gadis kampung ku yang mempesona," gumam Sultan lalu segera mematikan layar HPnya ketika melihat sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya setelah dibukakan pintu oleh Sultan.
"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya yang sudah berdiri di hadapan orang nomor satu di Perusahaan tempat dia bekerja.
"Aku akan kirim beberapa foto ke nomormu dan tolong kamu cetak foto itu dan pilih beberapa gambar yang cocok untuk di simpan di atas mejaku dan yang digantung di dalam kamar pribadiku," terangnya sembari mengirim file foto ke dalam nomornya Firman sang sekretaris barunya.
Beeppp…
Firrman segera membuka kunci layar HPnya setelah ada suara pesan yang masuk ke dalam hpnya tersebut.
"Ingat, hasilnya harus bagus dan aku tunggu besok pagi sudah ada di atas meja dan di rumahku," ujarnya lalu meraih jasnya yang tergantung di samping kursi kebesarannya itu.
"Aku mau lihat kemampuanmu sesuai yang dikatakan oleh Anggara," tuturnya sambil menepuk pundak dari Firman.
Firman yang diperlakukan seperti itu oleh atasannya hanya tersenyum tipis dan berdiri di tempatnya.
"Aku akan membuktikan kepada Anda bahwa aku layak jadi asisten sekaligus sekretaris Tuan dan tidak akan pernah membuat Tuan kecewa dan menyesal dengan keputusannya Dokter Anggara," balasnya sebelum Sultan meraih handel pintu.
__ADS_1
Sultan menolehkan kepalanya ke arah Firman yang balas menatapnya," Aku suka dengan perkataanmu, semoga saja kenyataannya seperti itu dan aku harap secepatnya kamu buktikan semua perkataanmu itu, jangan asal bicara saja," Sultan melangkahkan kakinya menuju ke arah luar setelah membalas perkataan dari asisten pribadinya itu.
"Anda akan memuji kemampuan dan skill yang aku punya," lirihnya dengan smirk khasnya yang terbilang dingin.
Sultan segera menelpon nomor hpnya Anggara untuk bertanya perihal tentang informasi terakhir yang dia dapatkan mengenai Sherly adiknya dan bundanya itu.
"Anggara, dimana tempat terakhir kamu melihat bunda?" Tanyanya sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Seperti info terakhir yang aku dapatkan, katanya mereka berada di sekitar pinggiran kota Jakarta di jalan XX," jawab Anggara yang sudah berjalan ke arah alamat yang dia dapatkan dari anak buahnya.
"Oke, aku akan menuju ke sana, kita ketemu di sana saja," ucapnya dengan tersenyum bahagia karena telah berhasil menemukan titik terang keberadaan dari Bunda dan adiknya.
"Hati-hati," ujarnya lalu mematikan sambungan teleponnya.
Anggara sangat bahagia karena setelah beberapa bulan lamanya,dia akan kembali bertemu dengan kekasih backstreeknya yang sudah terjalin hampir empat tahun lamanya tanpa ada yang mengetahui hal itu.
"Tunggu aku Sherly, Abang akan datang menjemput kalian," ujarnya dengan senyuman sumringahnya kemudian menambah kecepatan mobilnya.
Mobil hitam dengan tipe keluaran terbaru tahun ini dari pabrikan terkemuka di dunia yaitu dengan logo seekor kuda jingkrak melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi membelah jalanan ibu kota Indonesia. Sultan tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT karena orang suruhannya serta detektif yang dia pekerjakan dan tugaskan untuk mencari keberadaan dari Sherly dan bundanya telah menuai keberhasilan.
"Setelah aku menemukan keluargaku, tunggulah Martin aku akan membalas semua pengkhianatan dan perbuatanmu ini," ucapnya dengan nada suara yang cukup tegas dan amarahnya mulai membuncah di dadanya.
Anggara menelpon beberapa orang anak buahnya untuk mengikutinya dari belakang. Dia berjaga-jaga dari banyaknya kemungkinan besar yang bisa terjadi. Jika sesuai dengan apa yang diinfokan oleh anak buahnya jika Sherly tinggal di tempat itu beberapa bulan terakhir untuk bersembunyi dari kejaran anak buahnya Martin. Mereka berhasil selamat dari kejaran dan rencana pembunuhan.
Jam di dinding terus berdentang mengikuti alur waktu yang ada. Azalina bangkit dari duduknya lalu ia menyiapkan makanan untuk makan malamnya. Untuk malam ini dia harus kembali terbiasa dan membiasakan dirinya untuk makan seorang diri. Tanpa ada yang menemaninya.
Biasanya meja makan minimalis itu dihiasi dengan canda tawa dari mereka berdua. Tapi, malam ini suasananya terasa sangat sunyi. Aza hanya ditemani oleh seekor kucing peliharaan Raja disisinya.
"Mimi, Abang mungkin sudah makan yah, kira-kira Abang makan apa malam ini?" Tanyanya sembari melemparkan ke dalam tempat makan Mimi seekor ikan bawal goreng.
Meong…. Meong..
__ADS_1
Seakan-akan Mimi mengerti dengan apa yang dipertanyakan oleh Azalina terhadapnya. Mimi menatap Azalina dengan tatapan matanya yang tajam dan bersinar.
Azalina segera menyelesaikan makannya dan kembali teringat bayang-bayang saat Sultan suaminya mencium bibirnya. Dan itu pengalaman pertama kalinya mereka berciuman selama kurang lebih enam bulan sudah menjadi sepasang suami istri.
Semburat merah tercipta di ke dua pipinya yang chubby itu. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika bayangan ciuman mereka yang begitu mesra dan penuh dengan irama dalam balutan kasih sayang.
"Abang, entah kenapa aku merindukan sentuhanmu di sini," cicitnya sambil mengelus bibirnya sendiri yang seakan-akan rasa ciuman hangat dari Raja masih terasa dan membekas.
Hingga lamunannya kembali buyar setelah ketukan pintu di depan rumahnya terdengar dengan cukup nyaring bunyinya. Ketukan berkali-kali itu yang sangat tidak sabaran terpaksa Azalina menyudahi imajinasi dan khayalannya bersama Raja.
Syukur Alhamdulillah makasih banyak atas dukungannya dan bagi Readers yang telah mampir membaca novel recehanku.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Cinta Yang Tulus
Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Benci
Bertahan Dalam Penantian
Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
__ADS_1