
Beberapa orang yang kebetulan ada di sana, segera mengantar Aza dan Anjas ke rumah sakit. Kabar tersebut membuat gempar masyarakat kampung.
Banyak desas desus yang berkembang, tapi Sartika dan Ibu Lina merasa sangat dirugikan dan ditipu mentah-mentah oleh Putri dan Ridho.
"Aku tidak akan melepaskan kalian, kembalikan uangku!!!" Teriak Sartika lalu melempar gelas dan piring yang ada di atas meja makan.
Prang.. prang…
"Sampai kapan pun aku akan mencari kalian hingga ke dalam lubang semut pun, Putri… Ridho semoga kalian segera mampus.. dasar brengsek!!" murka Sartika.
Pranggg..
Lemparan demi lemparan dilakukannya untuk menyalurkan rasa amarahnya. Hingga barang-barang yang bisa dia pegang dan mudah dia jangkau sudah terlempar ke tembok.
Hingga pecahan barang-barang tersebut berhamburan memenuhi ruangan yang awalnya sangat rapi, bersih dan mewah. Kamar itu sudah berubah bentuk hingga isinya tidak seperti semula.
Sumpah serapah dan kata-kata umpatan yang sangat kasar sudah dikeluarkan oleh Sartika, agar perasaannya bisa tenang.
"Semoga saja mereka tidak menyebut atau menyimpan bukti yang akan nantinya menyudutkan aku, kalau sampai hal itu terjadi habis dan tamatlah riwayat hidupku, pasti Papa akan menghancurkan kehidupanku," gerutu Sartika.
Dia segera mengganti pakaiannya lalu berjalan ke arah luar. Dia ingin memeriksa dan mengamati lokasi kejadian. Ia ingin memastikan apa ada bukti yang mereka tinggalkan yang menunjuk ke arah otak pelaku kejadian tersebut.
Azalina segera dibawa ke rumah sakit, karena hampir seluruh tubuhnya mendapatkan luka akibat pukulan dari Anjas.
"Ya Allah… itu tidak mungkin!!!" pekik Ibu Melati ibunya Anjas setelah mendengar kabar dari salah satu warga masyarakat yang melihat dan menyaksikan langsung kejadian tersebut.
"Seperti itulah kenyataannya Ibu, Anjas ingin melecehkan Azalina, tapi Aza terus memberontak dan melawannya dan untungnya ada pemuda yang melihat kejadian tersebut hingga Aza bisa diselamatkan dari kejadian tersebut," terang Pak Doni dengan panjang lebar yang sedikit segan mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Betapa geramnya Pak Ardi setelah mendengar perbuatan dan kelakukan bejaknya terhadap mantan tunangannya itu.
"Aku yakin semua ini bukan lah keinginan Anjas, Ibu yakin ada yang memprovokasi dan mengadu domba agar putraku bertindak diluar batas dan kendalinya," sanggah Ibu Melati dengan wajahnya yang sangat sedih dan menyayangkan kejadian tersebut.
"Apa pun alasannya, Bapak tidak akan diam dan membiarkan Aza diperlakukan tidak adil dan dizolimi oleh orang lain, Bapaknya Aza sudah menitipkan amanah kepada Bapak untuk menjaganya selalu," tuturnya Pak Ardi.
"Bapak!! Apa maksud dari perkataannya bapak? Apa bapak akan tega menghukum Anjas putra kita satu-satunya itu?" Tanyanya Bu Melati yang sudah menarik tangannya Pak Ardi yang akan berjalan ke arah pintu.
"Bapak tidak akan memandang siapa pun yang berbuat kejahatan, Bapak tidak akan pandang bulu, walaupun itu adalah anak kandung aku sendiri," gertak Pak Ardi dengan suara tegas dan lantang.
Sedangkan Pak Doni yang kebetulan ada di dalam sana hanya menjadi pendengar saja tanpa niat untuk menimpali perkataan dan perdebatan mereka. Pak Doni hanya menunduk tak berani untuk menatap dan melihat langsung kejadian tersebut.
"Pak Doni!! ayo kita segera ke kantor Polisi aku ingin melihat anak tidak tahu diri itu," geram Pak Ardi dengan perilaku anak pertamanya itu.
"Baik Pak Desa," jawab Pak Doni yang sudah mengikuti langkah kemana perginya Pak Ardi.
"Tidak!!!" Teriakannya di pagi buta itu cukup membuat beberapa tetangganya keheranan dengan apa yang terjadi.
Ibu Melati menangis meraung-raung saking tidak percayanya jika anaknya yang penurut, sopan dan ramah bisa kalap dan lupa diri hingga nekat bertindak di luar batas kesabaran seseorang.
"Anjas, kenapa kamu tega melakukan hal ini nak, tidak seperti ini caranya jika kalian tidak berjodoh nak, cinta itu tidak bisa dipaksakan," ratap Ibu Melati yang sangat tidak ingin mempercayai apa yang telah terjadi.
Ibu Melati terduduk di atas lantai rumahnya, tepatnya di depan pintu rumahnya yang masih terbuka lebar sepeninggal suaminya yang selaku kepala Desa di kampung itu.
"Anjas kamu sudah mencoreng nama baik bapak sama Ibu nak, apa salah kami, apa kami tidak baik dalam mendidik dan membesarkanmu?" Sesalnya yang menangisi nasib malang putranya.
Adinda adiknya Anjas yang diam-diam mendengar pertengkaran dan keributan antara Bapak dan ibunya tidak berani muncul di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
Ia hanya bersembunyi dibalik pintu kamarnya. Saking takutnya hingga tubuhnya tadi sempat gemetaran, karena ini yang pertama kalinya melihat kedua orang tuanya berdebat.
"Ibu, harus sabar kalau Ibu seperti ini terus siapa yang akan membantu Abang," bujuk Adinda anak bungsunya pak Ardi sembari memeluk tubuh ibunya yang sedari tadi menangis.
...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Cinta Yang Tulus...
...4. Diantara Dua Pilihan...
...5. Cinta dan Benci...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
...8. Pelakor Pilihan...
...9. Aku hanya sekedar baby sitter...
...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....
...I love you all Readers…...
__ADS_1