Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 13. Memilih Gaun


__ADS_3

Ada dua lembar gaun pengantin satu warna gold dan satunya lagi warna putih gading. Ibu Jannah menaruh pakaian itu ke atas meja.


"Bagaimana kalau kamu coba satu persatu dulu dari duanya baru kita bantu kamu untuk memilihnya yang paling bagus untukmu," ujar ibu Jannah.


Aza hanya menganggukkan kepalanya dan tidak ingin membantah penjelasan dari Ibu Jannah karena menurut Aza pasti apa yang sudah diputuskan dan dipilihkan untukku adalah yang terbaik. Azalina segera masuk ke dalam kamar untuk mencoba satu persatu dari gaun pengantin tersebut.


"Ya elah, gimana caranya memakai pakaian ini?"tanyanya dengan kebingungan sendiri.


Azalina ingin meminta tolong tapi cukup malu, tidak bertanya takut juga untuk merusaknya. Azalina sudah membolak-balik gaun warna putih itu di tangannya tapi, masih saja belum menemukan caranya untuk memasukkan ke dalam tubuhnya.


"Kancing resletingnya ada di mana yah? Apa ini?" Aza segera membuka sedikit kain tipis yang berada di dalam renda itu dan ternyata apa yang dilakukannya berhasil juga.


"Syukur Alhamdulillah, ternyata disini tempat resletingnya toh," ucapnya lalu segera mulai membukanya.


Dengan penuh kehati-hatian dan sangat pelan, dia memakai gaun pengantin itu. Aza segera berjalan ke arah lemari yang kebetulan ada cermin besarnya yang melekat di balik pintunya. Gaun itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, bahkan ukurannya seperti dia lah yang khusus diberikan oleh desainernya. Padahal mereka sama sekali tidak mengetahui ukuran tubuhnya Aza.


"Apa ini aku? mungkin cermin ini salah kasih gambar bayangan yah, aku tidak mungkin secantik ini lagian ini hanya baru kali ini aku memakainya," terangnya dengan memutar bolak balik tubuhnya dan berputar-putar hingga gaun itu mengembang dengan sempurna.


Azalina berjalan ke arah luar dengan langkah yang sangat lambat tapi sedikit kesusahan. Karena ujung gaun pengantin itu cukup panjang dan menjuntai ke belakang.


"Ya kenapa juga bentuknya panjang begini, bikin susah saja,apa penjahitnya itu sengaja buat pakaian yang buat orang kesusahan," ucapnya dengan sedikit kesal sambil mengangkat ujung gaunnya tersebut.

__ADS_1


Perhatian semua orang tertuju pada Azalina yang mengangkat gaunnya. Mereka pangling melihat penampilan Aza yang sudah berbalut gaun pengantin walaupun tanpa polesan make up. Ibu-ibu dan emak-emak semua pandangannya tertuju pada sosok Aza yang berjalan tertatih dan berjinjit saking tidak terbiasanya dan tidak pernah sekalipun memakai gaun apa pun.


Ibu Mina segera mendekati Aza sembari mengelus rambutnya yang panjang itu lalu berkata, "Nak kamu sangat cantik, wajahmu sangat mirip dengan almarhumah mendiang ibumu," ucapnya dengan air matanya yang sudah menetes membasahi pipinya.


"Serius Bu, kalau saya cantik memakai pakaian ini? Atau jangan-jangan Ibu Mina hanya menghibur saya saja," ucapnya dengan tidak percaya.


"Aza kamu itu sedari dulu sudah cantik tanpa memakai make up dan pakaian mahal pun sudah cantik nak, Ibumu cantik jadi pasti anaknya juga cantik, iya kan ibu-ibu?" Tuturnya Ibu Linda yang meminta persetujuan dari yang lainnya sesuai dengan kenyataannya.


"Memang betul apa yang dikatakan oleh ibu Linda, saya saja yang baru lihat kamu sudah sangat yakin jika kelak nanti suamimu tidak akan berpaling darimu apapun yang terjadi hingga kalian kakek nenek," terang ibu Jannah dengan senyuman ramahnya.


"Amin ya rabbal alamin," semua ibu-ibu mengaminkan perkataan dari ibu Jannah.


Mereka pernah melewati Ibu kota kabupaten dan melalui sebuah toko pakaian pengantin dari situ mereka sudah membayangkan dan merencanakan jika kelak mereka menikah akan memakai gaun pengantin yang berwarna putih seperti yang dipakainya sekarang. Dia pun menolak untuk memakai pakaian ini dan lebih memilih pakaian pengantin yang berwarna gold.


"Ibu, saya lebih memilih pakaian yang berwarna gold sepertinya lebih cantik dan cocok saya pakai," terangnya dengan wajahnya yang berubah sendu.


Ibu Jannah dan ibu Mina saling berpandangan dan tidak mengerti dengan perubahan raut wajahnya Aza yang tiba-tiba sedih tidak seperti tadi yang sangat sumringah dan bahagia saat mendapatkan banyak pujian dari orang-orang. Aza kemudian mendudukkan tubuhnya saat dari melepas pakaian pengantin yang sempat dia coba tadi.


"Kalau itu yang menurut Nak Aza yang paling terbaik dan kamu sukai baiklah besok pagi kamu akan memakai gaun itu dan ingat besok jam enam pagi, kamu sudah siap untuk di makeup sama orang dari salon Ibu," ucap Ibu Jannah.


"Kalau begitu kita makan malam dahulu Bu Jannah, tidak baik pulang dengan perut yang kosong dan kelaparan," terangnya ibu Linda dengan menggandeng tangannya Ibu Jannah.

__ADS_1


"Alhamdulillah ternyata kedatanganku disambut hangat dan sangat baik di sini, kalau gitu kita semua ke meja makan untuk menikmati masakan dari para ibu-ibu," ajak ibu Jannah.


"Aza ayo kita makan malam Nak, ingat besok kamu akan menikah dan butuh istirahat yang cukup dan makanan yang sehat pula," sahut ibu Nani.


"Benar sekali yang dikatakan oleh Ibu Nani, apalagi malamnya adalah malam pertama mereka untuk belah duren,"timpal Ibu Linda.


"Kalian ini, apa sudah melupakan kalau Raja itu masih sakit jadi mungkin belah durennya tertunda dulu," balas Ibu Mina dengan tersenyum kearah Aza yang wajahnya sudah memerah menahan rasa malunya seperti kepiting rebus saja.


Aza menundukkan kepalanya dan salah tingkah karena ibu-ibu sudah membahas masalah malam pertama segala yang jauh dari ekspektasinya dan di dalam benak dan pikirannya.


"Apa jangan-jangan Aza belum mengetahui masalah belah duren? Kalau gitu Ibu Mina dan yang lainnya bisa membantu Aza untuk menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir, agar Aza tidak salah jalan dan kalah dari suaminya nanti," tutur ibu Nani.


"Emangnya orang yang belah duren itu bisa salah jalan yah Bu?" Tanyanya Aza dengan wajahnya yang polos itu dan menatap bingung ke arah Bibi Nani.


Semua yang mendengar pertanyaan dari Aza tertawa terbahak-bahak. Aza yang ditertawakan malah tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan emak-emak rempong itu.


"Apa ada yang salah dengan perkataan ku yah? Tanya balik lagi Aza yang semakin membuat suasana semakin ramai dan gaduh.


"Sudah bahas itunya, mari makan dulu, sepertinya saya kelaparan setelah tertawa," Ibu Linda ikut menambahi perkataan dari yang lainnya.


Aza semakin dibuat penasaran dan menatap mereka dengan wajah yang keheranan. Aza wajar bersikap seperti itu mengingat usianya yang masih muda dan selama ini minim pemahaman lebih lagi pengalaman.

__ADS_1


__ADS_2