Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 96. Menantu?


__ADS_3

"Maaf Pak, numpang tanya apa ini rumahnya Bu Hamidah?" Tanyanya dengan ramah ke arah Bapak yang berumur kira-kira sama dengan Papanya itu.


Bapak itu segera berjalan ke arah Aza," boleh, dan benar sekali ini rumahnya Bu Hamidah."


"Suruh langsung masuk ke dalam saja Pak Tarno!" perintah seseorang dari arah belakang Aza.


Aza yang mendengar suara teriakan Pria tersebut refleks menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya saat melihat siapa sosok orang itu.


"Sultan!" Cicitnya Aza.


Aza terkejut sekaligus heran dan tidak menyangka jika Sultan juga ada di rumahnya Bu Hamidah.


"Apa yang dia lakukan di sini, adalah hubungan apa dia dengan Bunda? Apa jangan-jangan dia anaknya bunda yang pernah dia katakan padaku tempo hari yah?" Aza membatin dengan segala macam pertanyaan yang muncul di dalam benak dan pikirannya.


Sultan berjalan ke arah Aza yang tiba-tiba terdiam dan mematung di tempatnya. Sultan hanya menyunggingkan senyumnya yang sudah mengetahui jika Aza pasti tidak menduga dengan keberadaannya.


"Ya Allah… entah perasaan apa ini yang langsung hadir di dalam hatiku saat bertatapan dengan mata elangnya Sultan? Serasa aku sangat akrab dengan tatapan matanya yang begitu tajam menusuk hingga ke dalam dada," Aza kembali membatin.


"Aku yakin kamu sudah bertanya-tanya tentang siapa aku sebenarnya di dalam hatimu, tapi aku akan semakin membuat kamu penasaran agar secepatnya menyadari dan ingatanmu kembali normal seperti dulu lagi, aku sangat merindukan pelukan dari tangan dan jemari lentikmu istriku," gumam Sultan yang semakin dekat dengan tempatnya Aza yang membeku seperti patung manekin saja.


Pak Tarno segera menyingkir dan kembali ke tempatnya semula untuk kembali berjaga di pos security. Dia tidak memiliki kapasitas untuk mendengarkan percakapan antara majikan dan tamunya.


Raja sudah berdiri di depan Aza dengan jarak yang hanya sedikit saja. Sekitar satu meter saja jarak yang memisahkan mereka berdua.


"Kau sudah ditunggu beberapa menit yang lalu sama bunda," ujarnya Sultan yang memberitahukan kalau kedatangannya sedari tadi sudah ditunggu-tunggu oleh sang pemilik rumah yang megah dan elit itu.

__ADS_1


Aza tanpa membalas perkataan dari Sultan dengan wajah kebingungan hanya terdiam dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah tanpa menunggu reaksi ataupun perkataan dari Sultan lagi.


Hanya sepersekian detik saja Aza menginjakkan kakinya di dalam ruangan itu, adzan dzuhur pun sudah berkumandang dari toa masjid terdekat dari kompleks perumahan elit tersebut.


"Alhamdulillah sudah masuk waktu sholat," ucap Aza yang tersenyum bahagia.


Bu Hamidah yang sudah menyadari dan mengetahui kedatangan dari menantunya segera berjalan ke arah pintu depan untuk menyambut kedatangan menantunya itu. Dia berjalan tergopoh-gopoh saking antusiasnya dan bahagianya atas kedatangan Aza.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… menantuku datang berkunjung ke rumahku, semoga semua ini awal yang bagus untuk kemajuan penyembuhan penyakit amnesianya yang sudah hampir setahun dideritanya," harap Bu Hamidah.


"Apa kamu ingin langsung masuk ambil air wudhu atau bertemu dengan bunda lebih dulu?" Tanyanya Raja yang menyarankan dua pilihan kepada Aza yang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dari Bu Hamidah.


"Ya Allah… kenapa bunda lama banget munculnya, padahal aku sangat grogi dan tidak percaya diri berhadapan dan berduaan saja dengannya," Aza membatin tapi sikapnya selalu salah tingkah jika diperhatikan oleh Sultan.


Bu Hamidah tersenyum bahagia ketika melihat mereka berdua yang berdiri berdampingan berjalan ke arah mushola yang ada di dalam rumahnya itu.


"Aku sudah sangat tidak sabar melihat mereka bersatu ya Allah… bukalah pikiran dan ingatannya Aza yang sudah tertutupi oleh trauma yang dialaminya selama ini, aku sangat kasihan melihat putraku yang harus hidup terpisah dari istrinya," sebait harapan dan doa tulus dari seorang ibu untuk anak-anaknya.


Sultan dan Zahra yang melihat kedatangan Bu Hamidah segera berjalan dan menghampiri perempuan yang masih terlihat cantik, segar bugar di usia senjanya.


"Assalamualaikum Bunda," sapanya Aza lalu meraih tangan kanannya Bu Hamidah untuk dia cium punggung tangan itu.


"Waalaikum salam menantunya Bunda," balasnya Bu Hamidah dengan lugas dan tersenyum penuh kebahagiaan.


Aza yang mendengar dengan jelas perkataan dari mulutnya Bu Hamidah terkejut dan shock. Ia tidak mungkin salah dengar saja.

__ADS_1


"Menantu!" Beo Aza.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2