
"Dokter!! Bagaimana dengan kondisi Bunda?" Tanyanya yang sangat tidak bisa bersabar ya sedari tadi mondar mandir di depan pintu UGD malahan sudah mengganggu aktivitas dan pekerjaan dari suster.
Dokter itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Sultan," Alhamdulillah, kondisi dari Nyonya Hamidah sudah membaik, tadi sempat kritis tapi untungnya kalian secepatnya membawa pasien ke RS, jadi kami dengan semua tim sudah berusaha yang terbaik," jelas Pak Dokter yang tidak lain adalah Papinya Anggara pemilik rumah sakit itu sendiri.
"Alhamdulillah, Makasih banyak Om atas bantuannya, tanpa bantuan om aku tidak tahu bagaimana dengan nasib Bunda," balasnya Sultan yang sudah bisa bernafas lega.
"Sama-sama, dan ini sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai dokter, jadi kamu tidak perlu sungkan seperti itu, pesan Om jaga baik-baik bundamu, dan jangan berikan beban pikiran usahakan buat dia bahagia dengan selalu tersenyum, karena kami orang tua menginginkan kebahagiaan kalian," terang dokter Hambali Papinya Anggara sambil menepuk pundaknya Sultan.
Anggara hanya terdiam di tempatnya tanpa berniat untuk ikut andil dalam pembicaraan mereka. Sherly segera meraih tangan calon mertuanya itu lalu mencium punggung tangannya.
"Bagaimana kabarmu nak? Om sama tante sangat merindukanmu," tanyanya di hadapan Sherly.
"Alhamdulillah om, seperti yang om lihat," jawab Sherly dibarengi dengan senyuman termanisnya.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, om berharap ada seseorang yang akan jujur nantinya dan lebih cepat tanggap setelah kepulanganmu, agar dia tidak kena tikung dari pria lain," tuturnya dengan senyuman penuh artinya ke arah Anggara putra tunggalnya itu.
__ADS_1
Sherly hanya melongok tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Pak Hambali tersebut. Anggara hanya membalas tatapan Papinya tanpa senyuman atau perkataan apa pun yang meluncur dari bibirnya.
"Bundamu sepertinya sudah dipindahkan ke dalam ruangan perawatan, segera lah ke sana, Anggara ikut papi ada yang perlu papi bicarakan berdua denganmu," ucap Pak Hambali lalu berjalan meninggalkan mereka yang semuanya masing-masing memperlihatkan raut wajah yang berbeda-beda.
Sultan hanya tersenyum licik ke arah Anggara sedangkan Anggara terdiam terpaku dalam kebisuannya. Entah apa yang dipikirkannya saat itu juga. Apakah sibuk memikirkan perkataan dari Papinya ataukah sibuk memikirkan rencana kedepannya tentang kepastian hubungannya dengan Sherly yang sepertinya sudah diketahui oleh kedua orang tuanya itu.
"Sultan, aku ikut papi dulu nanti kalau sudah selesai baru aku nyusul kalian," tuturnya lalu menatap intens ke arah Sherly yang spontan menundukkan kepalanya karena wajahnya merah merona diperhatikan terus seperti itu oleh pria yang mampu merebut hatinya.
"Ok,kami tunggu kedatanganmu untuk melamar ,eh maaf salah ucap," gurau Sultan dengan senyuman khasnya.
"Sherly, Abang pamit dulu insya Allah Abang akan menemuimu setelah urusan Abang kelar dengan Papi," cicitnya di telinga Sherly saat mereka berpapasan karena Angga tidak ingin Sultan ataupun orang lain mendengar perkataannya barusan.
"Tunggu aku Aza sedikit lagi urusanku akan beres di ibu kota barulah Abang akan menjemputmu," lirihnya yang mampu didengar oleh Sherly yang berjalan tapi pikirannya tertuju pada perkataan dari Pak Hambali sehingga dia sama sekali tidak menanggapi perkataan lirih Abangnya.
"Ya Allah.. apa Abang Anggara akan dijodohkan dengan perempuan lain? Kalau begitu bagaimana dengan nasibku?" Tanyanya pada dirinya sendiri yang berjalan seperti mayat hidup saja.
__ADS_1
...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Cinta Yang Tulus...
...4. Diantara Dua Pilihan...
...5. Cinta dan Benci...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
__ADS_1
...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....
...I love you all Readers......