Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 79. Azahrah, Siapa??


__ADS_3

Apa yang mereka lakukan berdua menjadi pusat tontonan dari beberapa mahasiswi yang kebetulan melewati jalan itu dan berada di sana.


Tangan kanannya memegang pinggangnya Aza sedangkan tangannya Aza menggantung bebas di udara.


Pandangan mata keduanya saling beradu. Hembusan nafas keduanya saling tabrakan. Jarak keduanya cukup dekat karena pria itu sedari tadi semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhnya Aza.


"Azalina!!" Gumamnya orang itu.


Aza terdiam mematung dan hanya mampu memandangi wajah tampan pria yang ada di depannya. Aza terkesima melihat orang yang sedari tadi memeluk pinggangnya dengan erat. Hingga sapaan dari orang lain mampu mengalihkan perhatian mereka.


"Azzahrah," teriak orang itu.


Aza segera melepaskan pegangan tangannya pria yang menolongnya itu. Wajahnya merona memerah setelah mengetahui, jika hampir seluruh orang yang berada di sana menonton apa yang mereka lakukan.


Aza menundukkan kepalanya apa lagi ketika mata mereka saling bersirobot satu sama lain.


"Aza kamu tidak apa-apa kan?" Pria yang berteriak memanggil namanya Aza adalah pria yang sedari dahulu gencar mendekatinya.


Pria itu menaruh hati pada Aza tetapi, Aza sama sekali tidak pernah membalas atau pun menggubrisnya karena Aza tidak pernah sedikit ada hati dengan pria itu. Baginya Aza Arlan adalah temannya sekaligus sahabat dari kakaknya Daniel.


"Ehh aku gak apa-apa kok Abang," jawabnya yang memeriksa kondisi tubuhnya sendiri Padahal tidak terjadi sesuatu kepadanya.


"Abang datang ingin mengajak kamu makan siang di kantin, apa kamu mau temani Abang makan?" Arlan menatap tajam ke arah Sultan yang hanya terdiam menyaksikan interaksi mereka.


Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum smirk saja.


"Azzahrah namanya, tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan Azalina istriku, tapi kalau Azalina tidak mungkin dia tidak mengenaliku," Sultan membatin.


"Kalian bertiga juga mau gabung dengan kami atau selamanya ingin jadi patung di situ?" Sarkas Arlan yang tidak menyukai ketiga sahabatnya Aza memandang Sultan dengan tatapan memuja dan mendamba.


Aza hanya tersenyum melihat tingkah laku dari teman kelasnya itu. Dia pun berjalan ke arah temannya lalu menepuk salah satu pundak mereka.

__ADS_1


Pukkk…..


Mery yang kebetulan ditepuk pundaknya tersentak kaget karena lamunannya buyar seketika saat berfantasi liar melihat wajah dan bentuk tubuhnya Sultan yang seksi dan berotot pastinya.


"Ma-af a-ku ta-di…" perkataannya Mery terpotong karena tangannya sudah ditarik oleh Aza untuk menyusul yang lainnya.


Aza sesaat menoleh ke arah Sultan yang hanya terdiam mematung di tempatnya. Sultan langsung tersenyum manis ke arah Aza. Dia tersenyum agar memberikan kesan pertama yang bagus untuk Zahra saat itu juga.


"Aku akan mencari tahu siapa kamu, karena hati ini mengatakan kalau kamu adalah istriku jika itu benar adanya aku tidak akan biarkan pria manapun menyentuh tubuhmu," cicitnya Sultan lalu berjalan meninggalkan tempat itu.


Kedatangan Sultan ke Kampus itu adalah bertujuan ingin berbicara dengan beberapa petinggi Kampus. Karena Sultan termasuk salah satu penyumbang dan pemegang saham tertinggi di Kampus swasta itu. Kampus tersebut masuk lima besar terbaik se Indonesia.


Sultan segera berjalan ke ruangan khusus pemilik kampus. Dia masih kepikiran dengan sosok gadis yang sangat mirip dengan istrinya yang sudah lebih dari beberapa bulan yang lalu menghilang dan sampai detik itu juga belum ditemukan keberadaannya.


Semua anak buah terbaiknya, detektif serta pihak kepolisian mencari keberadaannya tapi, hingga detik itu juga belum diketahui apa masih hidup atau tidak.


"Seingat aku, Aza itu memiliki tanda lahir di tengah punggungnya kalau dia memiliki tanda itu pasti ia jelas-jelas adalah sebuah milikku seorang," lirihnya Sultan.


"Ehhh maaf aku tidak bicara apa-apa kok Pak, silahkan dilanjutkan pembahasannya," ujarnya Sultan yang tersenyum tipis.


Meeting yang mereka lakukan cukup berjalan alot. Mereka mencari kesepakatan bersama hingga mereka memutuskan untuk terus bekerja sama hingga 10 tahun kedepan.


Sedangkan di dalam kantin kampus, semua perempuan itu bergantian menghayalkan sosok pria yang cukup ganteng dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis. Kulit putih mulus khas Indonesia pribumi. Hidung yang tidak terlalu mancung seiras dengan bentuk dan kontur wajahnya.


"Lili kalau menurut kamu pria yang menolong Aza tadi ganteng gak?" Mery menatap ke arah Lili yang duduk di depan kursinya.


Lili memainkan sedotan minumannya sembari mengingat kembali kejadian itu terutama dengan wajahnya Sultan.


"Kalau menurut aku sih 98% hampir sempurna," balasnya dengan tersenyum bahagia jika mengingat kejadian itu yang terjadi beberapa menit yang lalu.


"Betul sekali apa yang kamu katakan Lili, aku pun berpikiran seperti itu,bahkan jika dibandingkan dengan cowok tertampan yang ada di Indonesia,ia yang paling ganteng menurut Aku," terangnya Hesti yang ikut bergabung dengan pembahasan teman satu gengnya.

__ADS_1


Arlan yang mendengar berbagai pujian yang dilayangkan oleh ketiga perempuan itu membuat telinganya panas mendidih dan raut wajahnya yang sudah memerah menahan rasa marahnya.


"Kalian terlalu memuji, bagiku semua yang ada padanya kelihatan biasa-biasa saja, gak ada yang lebih dan istimewa dari pria itu," cerca Arlan yang sangat tidak menyukai jika mereka memuja Sultan.


"Wajarlah kamu ngomong gitu,karena kamu itu pria sama-sama pakai tongkat, coba kamu adalah perempuan pasti akan mengatakan hal yang sama dengan perkataan kami," timpal Mery lagi dengan sedikit bergurau.


"Betul sekali perkataanmu itu, dan sepertinya bakal akan ada yang punya saingan yang cukup berat dan seimbang," pungkasnya Hesti sembari menatap ke arahnya Arlan yang menikmati makanannya.


Yang lain mengiyakan penjelasannya Hesti lalu bersamaan mengalihkan pandangannya ke arah Arlan. Lalu mereka sama-sama tersenyum menanggapi candaan dari Hesty.


Sedang Aza menyantap makanannya tetapi, pikirannya tertuju pada Pria yang menolongnya. Dia merasa mengenal pria itu dan sangat dekat tapi, dia tidak ingat kapan dia mengenali penolongnya.


"Ya Allah... kenapa ada rasa rindu yang sangat saat menatap ke dalam kedua bola matanya," Aza membatin sambil mengaduk makanannya yang sama sekali belum menyentuh sedikit pun juga.


Arlan yang melirik ke gadis yang selama ini dia diam-diam sukai terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu membuatnya sedikit kesal dan cemburu.


"Kenapa aku merasa Aza tertarik pada pria yang menolongnya tadi? tapi, moga saja itu hanya feeling dan perasaan aku semata tidak bakal jadi kenyataan," Arlan ikut membatin seketika itu.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Pelakor Pilihan...


...3. Cinta CEO Pesakitan...


...4. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak all Readers...


i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...

__ADS_1


__ADS_2